Bad Billionaire
Bad Billionaire
Author: Red Maira
Prolog

Empire State, Saat Musim Gugur Menjelang Musim Dingin...

Aku duduk di hadapan hidangan dingin yang muram, di sebuah restoran yang telah ditinggalkan pengunjungnya. Diluar, malam menurunkan hujan rintik-rintik yang membintik di jendela. Angin berembus, merembes ke dinding-dinding restoran, lalu mengendap sedalam beberapa kaki. Hawa dingin mengalir menusuk kedua tulang kakiku. Untuk kesekian kalinya dalam beberapa menit, aku merapatkan mantelku sampai tak bisa ditarik kemana-mana lagi. 

Entah sejak kapan aku sudah berada di restoran ini. Barangkali sudah selama malam ini mengalir atau sudah setua umur dunia. Mungkin sudah sepanjang lantunan piano disini yang mengiris-iris telingaku atau sebanyak obrolan tanpa nama yang bising di ruangan ini. Entahlah, waktu lenyap ketika aku harus menghitung jumlah detik yang terbuang untuk menunggu dirinya.

Ya, aku sedang menunggu seseorang. Dia, sesosok pria yang katanya akan segera tiba dua jam lalu. Ah, mungkin karena hujan ia jadi terlambat. Tetapi ponselnya tidak tersambung, pun teleponnya tidak terhubung. Ah, mungkin dia sedang rapat. Aku tahu penjualan akhir-akhir ini tengah meningkat. Sebagai seorang CEO, dia pasti menjadi super sibuk. Tapi aku telah merencanakan pertemuan ini sejak dua minggu lalu, dan dia sudah berjanji bahwa sesibuk apapun, ia akan datang. Lantas, apakah ia lupa?

Sebotol Muscat kutenggak. Aku tak ingin mabuk, tapi aku tak punya teman yang mau menemaniku membunuh waktu selain minuman itu. Sebentar, aku meminta pelayan memanaskan hidangan yang sudah dingin. Aku bertekad tidak mau memakannya kalau tidak bersama dirinya. Ini adalah makanan spesial. Dia bilang belum pernah mencoba ini. Oleh karena itu, malam ini aku ingin sekali melihat ekspresinya saat mencoba gigitan pertama. Aku ingin mengenangnya sebanyak dan sedetil aku dapat mengingatnya. Karena, jauh di lubuk hati, ada satu ketakutan yang selalu memancing kesedihanku; Bagaimana jika malam ini adalah malam terakhir aku bertemu dengannya?

Aku memejamkan mataku sebentar, lalu membukanya lagi. Tiga puluh menit berlalu sejak dua jam aku menghabiskan sebotol Muscat. Ia belum datang juga. Mataku mulai terasa berat, serbuan kantuk ini membebani kelopak mataku. Aku merogoh tas kulitku, mengambil beberapa butir pil anti depresan dan pil anti tidur. Aku menenggaknya bersamaan. Aku merasa aku akan gila, namun ini adalah momenku bersamanya. Aku harus terlihat segar dan bahagia. Sebentar, aku kembali menebalkan make up-ku.

***

Sungguh luar biasa apa yang bisa dilakukan seseorang ketika ia mulai jatuh cinta. Ia rela dibodohi, rela dibohongi, bahkan disakiti. Dan sungguh luar biasa apa yang bisa dilakukan seseorang untuk menghancurkan hatinya.

Aku masih menunggunya. Sampai pelayan restoran mendatangiku, mengatakan bahwa restoran yang dari tadi sepi ini mau tutup. Aku menggeleng.

"Dia belum datang," kataku. Untuk itu, aku membayar dua kali lipat semata-mata supaya aku bisa lebih lama menunggunya.

Aku mengirim pesan untuknya.

Athena          : "William"

Ceklis dua. Terkirim, tapi tidak dibaca.

Hatiku ngilu.

Athena           : "William, saya menunggu."

Ceklis dua lagi. Terkirim lagi, tapi tidak dibaca lagi.

Hatiku ngilu lagi.

***

"Saya tidak mau jadi pohon bambu. Saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin. Sebab hidup adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya. Tanpa kita bisa mengerti. Tanpa kita bisa menawar." Aku terbangun dari tidurku dengan gaung kata-kata William masih menggema di telingaku. Ah, padahal aku minum obat anti tidur tadi. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, aku masih di restoran. Hujan telah reda, menyisakan genangan becek di jalanan, dan kesunyian merambat seiring waktu yang berjalan lambat. Sebuah lampu taman di ujung jalan depan restoran, berdiri kesepian.

"Ini sudah jam dua malam, Nona," seorang pelayan terakhir mendatangiku. "Aku rasa dia tidak akan datang," lanjutnya.

"Tapi dia berjanji akan datang," jawabku, parau.

Aku melihat pantulan wajahku di cermin. Make up di wajahku telah memudar, menyisakan wajah polos yang sedikit berantakan. Pramusaji itu memandangku dengan prihatin dan sungguh, aku benci dipandangi begitu. Tetapi aku tak bisa menahannya lagi. Dingin ini membuatku beku. Piano tak berdenting lagi. Detik lenyap, lisut menuju pagi.

"Dia tidak datang." Hanya itu yang pramusaji katakan sebelum akhirnya membereskan meja makanku.

"Buang saja," kataku, mengarah kepada hidangan dingin yang muram, yang telah dipanaskan berkali-kali. Pramusaji itu mengangguk. Ia mengangkut piring-piring, mengangkut dua gelas piala, sendok dan garpu, seperti mengangkut seluruh harapanku.

"Dia tidak datang," batinku, akhirnya mencoba berdamai dengan realita. Sekuat tenaga aku menahan air mataku, berusaha untuk tidak menangis. Sebaris kalimat tanya dari sahabatku, Rita, kembali menggelayut di pikiranku. Apakah seseorang yang mencintai kita akan kembali? Waktu ditanya begitu, aku tak mampu menjawab. Bibirku kelu. Tidak ada apapun yang keluar dari mulutku selain uap putih musim dingin.

Namun sekarang, setelah pengalaman pahit ini, aku tahu jawabannya.

Apakah seseorang yang mencintai kita akan kembali?

Sayang, seseorang yang mencintai kita tidak akan pergi.

Ini bukan kata-kata bijak. Ini adalah kenyataan. Hatiku berdesir. Mataku berkaca-kaca. Mulutku mati rasa. Aku mencapai batas dimana duniaku jatuh. Seperti gedung yang runtuh ke tanah dan yang bisa aku lakukan hanyalah memandang keruntuhan itu. Diam, tanpa suara, dan kesepian yang dalam mencekamku.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status