Share

11 Setelah Wawancara (1)

Author’s POV

Naomi memegang dadanya yang masih berdegub dengan kencang. Ia bersyukur dirinya tidak menunjukkan kegugupannya ketika ia wawancara tadi. Namun ia juga tidak menyangka jika dirinya bisa sepercaya diri itu begitu ia menjawab beberapa pertanyaan yang di lontarkan untuknya.

Saat ini gadis itu mulai masuk ke dalam lift kosong yang baru saja terbuka di hadapannya. Gedung ini memiliki lantai setinggi 20 lantai dan saat ini ia tengah berada di lantai 14. Naomi memasuki lift kosong tersebut dan memencet tombol lantai dasar.

Gadis itu menghela nafasnya dengan berat. Ia ingin sekali sensasi gugup ini cepat berakhir. Ia mengatur pernafasannya dan mulai menutup matanya,

"Yang penting aku sudah berikan yang terbaik," batinnya, ditambah dengan senyuman yang menenangkan jiwanya.

Ting!

Lift terbuka dan beberapa orang masuk ke dalamnya. Gadis itu mulai menggeserkan dirinya begitu segerombolan orang masuk. Dan tidak lama kemudian saat list tersebut terbuka lagi, semuanya keluar di lantai dasar, begitu juga dengan gadis itu.

Ia berjalan keluar gedung, berniat untuk pulang ke rumahnya. Gadis itu berhenti sejenak, menoleh untuk melihat gedung yang menjulang tinggi, sembari berpikir bagaimana senangnya dia jika dirinya bisa bergabung di perusahaan raksasa tersebut.

Naomi menundukkan kepalanya sebelum ia berbalik dan berjalan mencari bus untuk ia pulang. Setelah sekian lama ia menunggu, akhirnya sebuah bus berhenti di hadapannya dan ia naik ke bus tersebut. Jarak dari rumahnya menuju kantor kira-kira memakan waktu hingga 45 menit.

Sepanjang perjalanan, gadis itu menyenderkan kepalanya di kaca dan menatap jalanan melalui kaca tersebut. Ia teringat dengan kejadian yang terjadi hampir dua minggu yang lalu. Naomi sama sekali tidak mempunyai uang untuk membayar hutang sang ayah yang tenggang waktunya tinggal dua minggu lagi.

Ia menghela nafas, rasanya berat sekali. Beruntung beberapa hari ini dagangan sang ayah habis terjual. Hanya saja, bergantung dengan jualan sang ayah juga tidak cukup untuk membayar hutang tersebut.

Apa yang harus ia lakukan?

Lagi dan lagi pemikiran untuk menjual diri terlintas di benaknya. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, berharap pemikiran seperti itu segera pergi darinya. Naomi tidak habis pikir, ia benar-benar menginjak harga dirinya sendiri.

“Berpikirlah, Naomi!” pekiknya dalam hati. Sesudah ia lama berpikir, ia teringat dengan sang kakak yang selalu membantunya,

“Apa aku pinjam uang saja ke kak Seira?”

Lagi lagi ia menggeleng. Ia tidak mungkin meminjam uang dalam bentuk ratusan juta seperti itu kepada sang kakak. Apa ia harus bersujud lagi untuk meminta keringanan kepada orang-orang tersebut? Ia tidak keberatan jika cara itu berhasil.

Ia terus bergumul dengan pikirannya hingga pada akhirnya bus yang ia tumpangi, sampai ke halte yang berada di dekat rumahnya. Ia buru-buru turun sebelum pintu tertutup karena ia baru sadar jika orang-orang lainnya juga sudah turun.

Setelah ia turun, ia mulai menyebrang dan berjalan pulang ke rumahnya. Suasana rumah sangatlah sunyi karena sang ayah tengah berjualan diluar sana. Gadis itu meletakkan tasnya dan membanting tubuhnya di kasurnya. Hari ini sangat melelahkan sekali, ia hampir saja telat datang interview karena semalam dia tidak bisa tidur karena terus membayangkan wawancara yang akan datang kepadanya,

Gadis itu merentangkan tangannya dan mengerang lelah. Darimana ia bisa dapatkan uang ratusan juta dalam waktu 2 minggu?

Ia menghela nafas, memikirkan dirinya yang harus mempersiapkan diri jika hari dimana pria plontos itu datang. Sudah pasti, ia akan berlutut kepada pria itu seperti yang biasa ia lakukan kepada rentenir lainnya.

Gadis itu beranjak dari kasurnya begitu ia mengetahui sang ayah sudah pulang. Dengan cepat, ia membuka pintu dan menyambut sang ayah yang tengah meletakkan gerobak tersebut di tempatnya.

"Cepat banget pulangnya, yah... Mbak Lina borong lagi ya?"

"Kali ini bukan bu Lina lagi. Bu Lina beberapa hari ini tidak terlihat. Malah ada seorang pria yang borong dagangan ayah beberapa hari ini,"

"Begitu... Tapi tidak apalah, yah... Yang penting dagangan ayah habis," ujar gadis itu sembari membantu sang ayah yang tengah mengambil beberapa perkakas untuknya cuci nantinya. Namun perkakas itu tidak lama gadis itu pegang karena sang ayah mengambilnya kembali dari tangannya,

"Sudah... Kamu istirahat saja..." ujarnya, membuat gadis itu menggeleng,

"Gak apa kali, yah... Cuman bantu begini gak akan bikin aku drop kali," ujarnya sembari mengambil wadah yang sudah kosong tersebut.

"Oh ya, bagaimana dengan wawancaramu tadi? Apa berhasil?"

Gadis itu tersenyum sumringah, "Kisi-kisi ayah benar. Aku benar-benar ditanya seperti yang ayah prediksikan,"

"Benarkah?"

Gadis itu mengangguk,

Selama beberapa hari, Benny membantu anak gadisnya untuk bersikap serta membocorkan pertanyaan-pertanyaan yang biasanya ditanyakan saat wawancara. Ini tidak mengherankan karena pria itu juga pernah mewawancarai beberapa pekerja baru saat ia masih memiliki perusahaan dulunya.

"Jadi kapan akan diumumkan hasilnya?" tanya Benny penasaran.

"Umm... Katanya sih minggu-minggu ini. Mungkin Jumat, supaya aku bisa kerja Senin nya,"

"Ayah harap kamu diterima,"

"Amin! Aku berharap sih diterima yah!" ujar gadis itu dengan cepat.

Benny tersenyum melihat sang anak yang terlihat sangat senang dan semangat seperti itu. Ia harap ia bisa melihat senyuman sang anak terus seperti ini.

****

Sedari tadi Alex tidak bisa berhenti memikirkan apa yang menjadi hasil dari wawancara dari Naomi.

Ia tidak terlalu fokus dengan isi rapat yang sudah diselenggarakan tadi. Seakan sudah tau hal ini akan terjadi, dia meminta Darius untuk mencatat point-point penting mengenai hasil rapat yang memakan waktu hingga 2 jam tersebut.

Ia ingin sekali kembali ke Jakarta untuk mengetahui hasil dari keputusan Adrian dan Seira.

Saat ini ia tengah berada di penginapan. Lusa adalah waktunya untuk pulang dan ia bersumpah akan menanyakan langsung kepada Adrian dan Seira mengenai keputusan mereka.

Pria itu mengambil ponselnya dan melihat kontak yang bernamakan Naomi. Ia menahan keinginannya untuk menelepon gadis itu karena ia ingin dirinya menjadi sebuah kejutan yang istimewa jika gadis itu benar-benar diterima di perusahaannya. Tapi kali ini ia ingin sekali mendengar suara gadis itu,

Ia memutuskan untuk menelepon gadis itu dan tidak lama kemudian gadis itu mengangkatnya,

"Halo?" kata Naomi disebrang sana,

Pria itu hanya diam, merekam suara gadis itu yang ia rindukan setiap harinya.

"Halo?"

Ia masih diam, bahkan setelah gadis itu mematikan teleponnya karena berpikiran jika panggilan tersebut adalah panggilan iseng.

Ia mengambil nafasnya dan menghentikan rekaman tersebut.

Alex sangat merindukan suara tersebut, bahkan ia menjadikan rekaman tersebut sebagai ringtone ponselnya. Ia harus menekan kerinduannya sembari melihat keputusan yang akan diambil Adrian dan Seira. Jika gadis itu tidak diterima di perusahaannya, maka ia harus memikirkan hal yang lebih ekstra bagaimana caranya untuk mendapatkan gadis itu kembali.

Tapi jika gadis itu benar-benar diterima, sudah dipastikan takdir mempertemukan mereka kembali.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status