I'm On You
I'm On You
Author: Adri Austin
LAKI-LAKI MENYEBALKAN

Suara musik memecah gendang telinga. Pandangan mata terbatas akibat minimnya cahaya. Dua gadis cantik terlihat santai sambil menikmati Wine merah dengan permentasi sempurna yang berasal dari negeri Mode itu. 

"Tambah lagi, Ra?" Suara tinggi sopran minor nyaris bersahutan dengan bising musik memekik keramaian malam yang sempurna. Mona bergoyang seirama dengan ketukan nada sambil memegang gelas. 

"Gue udah nggak kuat," sahut Naura, yang mulai merasakan kepalanya pusing. Padahal dia baru saja meneguk setengah gelas. 

Akhir-akhir ini Naura memang sedang mengurangi alkohol. Dia bahkan berniat untuk meninggalkan barang haram itu dan nggak ingin lagi menyentuhnya. 

"Ah payah! Baru juga setengah botol. Tumbenan amat." 

Tidak puas karena penolakan lewat mulut, Mona meraih botol yang nganggur di atas meja lalu menuangkanya di gelas Naura. 

"Nggak ah. Kepala gue udah pusing," tolak Naura, saat perempuan berambut ikal itu menyodorkan gelas dan nyaris menumpahkannya di wajah Naura.   

"Ya elah, baru segini doang. Ayo lah, sebentar lagi bos dateng," desaknya.  

"Bos? Bos siapa?" Dahi Naura mengekerut. Yang ada di benaknya adalah sosok gendut berambut tipis dengan poni lurus ke depan. Siapa lagi kalau bukan si kang Jepp. Begitulah julukan kepada si pemilik perusahaan tempat Naura bekerja. 

Laki-laki se-usia papanya yang selalu genit dengan karyawan perempuan. Sudah bukan rahasia umum kalau pria separuh baya itu tukang kawin. Dan sebelumnya, beredar kabar kalau dia baru saja menikahi istri ke tiga yang merupakan sekretaris pribadinya. 

Awal diceritakan, Naura langsung nelen ludah. Nggak ngebayangin kalau setiap hari harus melayani dia. Sialnya, kerjaan Naura harus mempertemukan dirinya dengan kang Jepp. Karena Naura harus mengirim berkas-berkas ke meja yang mempunyai nama lengkap Jack Marc Sailendra itu, alias kang Jepp untuk meminta tanda-tangannya. 

Naura baru satu minggu bekerja di perusahaan Galeery Global Advertising sebagai disain kreator. Yang sebelumnya dia bekerja di perusahaan Digital Advertising, yang masih berada dalam bidang yang sama. Hanya saja dia harus memutuskan berhenti lantaran putus cinta. 

Memang harus. Karena pemilik perusahaan itu adalah laki-laki tampan yang sekarang sudah menjadi mantan pacar lantaran ketauan selingkuh sama sahabat dekat Naura sendiri. Menjijikan bukan? Kayak nggak ada perempuan lain aja sampai temen sendiri disikat, dumelnya. 

"Gila! gue cabut sekarang." Tangan Naura cepat mengambil tas tangan miliknya yang tergeletak di sofa.

"Weits, mau kemana?" cegah Mona. Cepat sekali tangannya menyambar bahu Naura, sehingga membuat tubuh Naura membelok seratus delapan puluh derajat. "Easy sayang. Malam masih panjang kan."

"Mon, gue kebelet. Bentar ya." Naura mencoba mengakali teman seruangannya itu. Dan gadis yang terkenal bawel itu juga nggak kalah pintar. Dia punya cara untuk memastikan kalau Naura nggak akan membodohinya. "Tas lu. Siniin," pintanya. 

"Tas, tas gue untuk apa?" 

"Lu cuma mau ke toilet kan? Ngapain bawa tas."

Dan sekarang giliran Naura yang kehabisan akal. Nggak ada pilihan selain diam, duduk manis dengan wajah masam. "Iya. Gue nggak kemana-mana," pasrahnya. 

"Gitu dong. Katanya mau ngelupain Vino," ledek Mona. Dia mencubit genit pipi Naura yang sudah berubah merah warnanya. 

Naura pasrah. Dia tahu betul apa yang terjadi selanjutnya setelah ini. Laki-laki maniak itu sudah lama mengincar dia. Sejak kaki Naura baru pertama kali menginjak lantai Galeery Advertising. Sisipan mata keranjang milik si tua bangka udah mengedar dari ujung kaki dan berhenti tepat di dua gundukan besar milik Naura yang menggelantung di dada. Untung aja Naura masih menahan emosinya kala itu, sebelum dia tahu kalau ternyata pria yang nyaris dia tampar adalah si pemilik perusahaan. 

"Mau kemana lagi?" tahan Mona. 

"Gue benaran mau ke toilet," sahutnya sinis. "Ini." Naura memberikan tas miliknya ke tangan Mona. "Lu pegang tas gue. Jagain baik-baik jangan sampe ilang, ngerti!" 

Mona tergelak. "Jangan lama-lama."

"Rese banget si Mona. Kalau bukan temen udah gue runyam-runyam mukanya. Ngapain ngundang si tua bangka itu ke sini." Sepanjang melangkah dia terus ngedumel. Dengan ekpresi kesal sambil meremas-remas tangan seperti mengeringkan baju yang basah selepas dicuci. Dan begitu sampai di depan pintu toilet, jalannya terhalangi dengan tubuh pria yang menutupi jalan. 

"Mas misi," ucapnya. Pria itu masih belum menghiraukan. 

"Mas, permisi. Saya mau lewat," suaranya sudah sedikit meninggi. Naura sudah mulai geram lantaran terbawa emosi dengan Mona.

Sama sekali pria itu tidak bergerak. Sehingga memancing singa betina meraung. "Mas! Minggir! Gue mau lewat!" ucap Naura yang sudah tak beraturan lagi nadanya, sambil menabrakan dirinya ke bahu pria itu. Rupanya, si pria juga sedang mengantri untuk masuk ke dalam toilet. Dan pantas saja dia tidak mendengar suara Naura yang sudah melengking, lantaran dia menggunakan headset. 

"Apa mbak nggak ngerti budaya antri?" ujarnya, masih dengan nada biasa. Namun sorot mata pria itu begitu tajam. Rupanya juga menawan. Naura sampai terkagum sejenak. Hingga dia sadar kalau harga dirinya sedang dipertaruhkan. 

Naura juga tau kalau di balik pintu ini masih ada pengguna lantaran pintunya masih tertutup. Dan pria itu berdiri persis di depannya. Tapi nggak wajar kalau laki-laki ikut mengantri di toilet cewek. Udah kayak bodyguard aja!

"Ini toilet perempuan!" Naura ngegas. Namun dia lupa kalau di Exotic Club, toiletnya bisa digunakan semua gender. Naura memang baru pertama kali ke sini. Karena sebelumnya dia nggak pernah masuk ke tempat yang nggak ada lampu dan bising kayak gini. Paling jauh dia hanya nongkrong di kafe yang ada live musiknya. Menikmati Milkshake vanila dengan cemilan kentang goreng. 

Bahkan dia baru kenal alkohol semenjak putus dari Vino dua bulan yang lalu. Sebelumnya, Naura hanyalah penggemar jus, milkshake dan susu.

Pandangan pemuda itu mendorong Naura untuk mengikuti pergerakan arahnya. Sontak Naura malu ketika melihat kalau di atas pintu toilet tertulis UNISEX alias bisa dipake laki-laki dan perempuan. 

Anjay! malu banget gue! batinnya. 

Bukan Naura namanya kalau nggak bisa membalikkan keadaan. Dia masih aja nggak terima kalau disalahkan. Apalagi kalau mengakui orang lain lebih unggul darinya, dia nggak akan sudi. 

"Ya tapi ngalah dong sama perempuan. Situ kan cowok," ujar Naura sinis. 

Pemuda itu geleng-geleng kepala. Dan kemudian, bola matanya memutar, seperti sedang mencari sesuatu. "Zack." Suaranya begitu lantang. Dan gegas saja laki-laki berseragam yang merupakan pegawai The Exotic Club itu menghampiri pemuda yang memanggilnya. 

"Iya pak," sahutnya, setelah berada di sebelah Naura. 

"Usir perempuan sinting ini!" perintahnya. Naura mendelik. Dia nanar mendengar suara bariton yang encer kayak bubur. 

"Eh sembarangan lo! lo pikir lo siapa ngusir-ngusir gue?" bentak Naura. Sampai kedua bola mata terbelalak lebar seperti mau lepas. 

"Baik pak." 

"Mbak silakan pergi dari sini!" usirnya dengan kasar. 

"Wah gila lu! Gue laporin sama bos lu, lho. Kalau lu udah berani ngusir pelanggannya," ancam Naura. 

"Maaf mbak. Silakan pergi dari sini." Niko, nama dari pegawai yang sudah memegang lengan Naura sudah memberikan peringatan ke dua. 

"Jangan kurang ajar ya!" Naura menghunuskan jari telunjuk ke wajah Niko sambil menatapnya tajam. 

Dan tiba-tiba saja kejadian jadi ramai. Dua petugas bar datang. 

"Mbak! Mau angkat kaki atau kami seret?" seru si kumis tebal berbadan gelap namun kekar. Naura yang hanya sendiri sudah mulai gemetar lantaran dikelilingi oleh empat laki-laki di depan pintu toilet. 

Wajah murka menatap laki-laki tampan yang bermasalah dengannya, sebelum Naura beranjak. "Awas lo ya!" kecam Naura. Namun hanya disahuti dengan senyuman tipis oleh pria itu. 

Singkatnya, Naura sudah kembali ke meja Mona. Dengan perasaan kesal dia mengambil tas miliknya. 

"Eh Ra. Lu mau kemana?" cegah Mona. 

"Lo tanya sama aja sama mereka ini." Naura menunjuk dua petugas keamanan bar yang mendadak jadi pengawal Naura. 

Mona tertatap bingung. "Ada apa dengan teman saya pak?" tanyanya.

"Teman anda sudah buat masalah dengan bos kami," sahut si kumis tebal. 

"Hah bos? Cuma karena si rese itu ngasih lo duit yang nggak seberapa udah lo anggep bos? Berapa yang dia kasih? Biar gue doubelin dari yang dia kasih ke lo," celetuk Naura jengkel. 

Kedua orang itu saling berpandangan lalu geleng-geleng kepala. "Dia nggak kasih kita uang. Tapi dia memang-." 

"Tuan Sam," sapa Mona, begitu melihat laki-laki yang baru saja bertengkar dengan Naura di depan pintu toilet. Sontak Naura tercengang sampai ke ubun-ubun. 

"Lo kenal sama dia?" tanya Naura sinis. 

"Ya dia bos yang gue bilang. Dia yang bos yang punya tempat ini," sahut Mona. 

Mendadak jantung Naura meredam. 

What the hell? Naura membeku. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status