TUNTUTAN ATAU ANCAMAN

"Selamat pagi, Tuan Piero. Hari ini Tuan ada jadwal meeting dengan perusahaan Tuan Harits jam 10 pagi." Sasa—seketaris Piero, dia mengingatkan atasanya untuk rencana kerja hari ini sambil berjalan di belakang bosnya itu. 

"Letakan itu di sana," perintah Piero kepada seorang pelayan yang membawakan setumpuk dokumen. Piero baru saja duduk di kursi kebesaranya. 

Piero Alexander, seorang laki-laki muda yang terbilang sukses di usianya yang baru menginjak 30 tahun karena memiliki banyak perusahan. Namun dia dikenal dengan pembawaanya yang super dingin, jarang senyum dan tidak banyak bicara, membuat karyawan-karyawannya segan. 

Wajahnya yang tampan sangat banyak digilai oleh para wanita. Tapi Piero tidak pernah ditemui dirinya berkencan atau bercumbu dengan gadis-gadis manapun. Kehidupanya yang misterius membuat banyak orang penasaran denganya. 

"Ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan?" tanya Sasa yang masih berdiri di depan meja kerja Piero sambil mendekap beberapa dokumen. 

Piero menggerakan tanganya. Memerintahkan seketarisnya itu untuk meninggalkan dia. Menandakan kalau tugasnya sudah selesai. 

Piero meraih bingkai foto yang ada di dalam laci meja kerja. Lalu dia memandangi foto yang memuat gambar seorang gadis cantik yang tersenyum sambil bersandar di bahunya. 

"Kania, sudah lebih dari lima tahun kau meninggalkanku. Tapi aku belum bisa melupakanmu," gumam Piero. 

KRING—KRING! 

Telpon kantor di ruangan Piero berdering. 

"Pagi, Tuan. Ada Tuan Alleandro ingin bertemu dengan Tuan. Apa beliau saya izinkan masuk atau-." 

"Suruh dia masuk," potong Piero cepat. Dan kemudian dia menutup telponya. 

Beberapa menit kemudian, Alleandro sudah ada di ruangan Piero. 

"Selamat pagi, Tuan Piero," sapa Aleandro sambil menjulurkan tanganya. 

"Silakan duduk," kata Piero. 

"Jika kau hanya ingin meminta maaf untuk perempuan yang berulah di hotelku kemarin, kau buang-buang waktuku saja, Aleandro," tukas Piero. 

Aleandro mengerutkan dahinya. Seolah apa yang ditebak oleh Piero adalah benar. 

"Maafkan saya, Tuan. Begini Tuan. Maaf atas kelancangan saya. Tapi—. Keputusan untuk mengeluarkan gadis itu dari tempat kita saya rasa itu kesalahan, Tuan. Gadis itu mempunyai pelanggan yang sangat banyak. Dan hampir 80% omset yang kita dapat setiap harinya, karena kelihaian gadis itu, Tuan. Dia sangat pintar untuk menjual minuman kepada pelanggan. Bahkan, minuman yang selama ini hampir tidak pernah terjual, dia mampu menjualnya. Saya rasa, kita harus mempekerjakan dia kembali di The Exotic Club, Tuan," ujar Aleandro.

Piero menatap serius wajah Aleandro. "Kau mau menyuruhku menjilat ludahku sendiri!" ucap Piero penuh dengan penekanan. 

Aleandro memucat. Dia tidak berani menatap langsung mata Piero yang tajam. 

"Bu-Bukan, begitu, Tuan. Mak-Maksud-." 

"Saya tidak menginginkan perempuan itu. Kau bisa cari wanita lain di luar sana. Wanita seperti dia banyak. Paham!" Tegas Piero. 

"P-Paham, Tuan," jawab Aleandro. Dahinya sudah mulai berkeringat kecil. 

Piero mengusir pimpinan Club malam The Excotic itu secara halus dengan tanganya. Dan Aleandro tidak berani berkata apapun selain hengkang dari ruangan bosnya itu. 

"Berani kau mengatur aku, Aleandro?" gumam Piero kesal. 

Piero meraih telpon kantor dan menghubungi seketarisnya. "Sasa, kirim daily report Club The Excotic segera!" Piero memberikan perintah. 

"Baik, Tuan," balas Sasa dari seberang telpon. 

Piero mengusap wajahnya setelah dia menutup telpon sambil menunggu seketarisnya itu datang. 

"Permisi, Tuan. Ini daily report yang Tuan minta," kata Sasa setelah berada di ruangan Piero. Dia memberikan beberapa lembar kertas itu kepada Piero. 

"Ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan?" 

Seperti biasa, Piero hanya memberikan gerakan tangan untuk menjawab, "Tidak." Tapi kali ini, dia tidak menyuruh seketarisnya itu untuk pergi dari ruangan.  

Pencapaian club selama dua bulan terakhir sangat outstanding sekali. Berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Hmmm ... Benar juga. Minuman ini baru bisa terjual setelah perempuan itu ada, ucapnya dalam hati. Piero nampak berpikir setelah dia melihat nominal profit yang didapatkan di club The Exotic miliknya. 

Gadis itu memang menyebalkan. Tapi kalau aku mengembalikan dia bekerja di club itu, sama saja membuatku diriku malu. Tapi dia menguntungkan juga. Aku harus cari cara bagaimana membuat gadis itu kembali bekerja tanpa dia tahu aku yang membutuhkanya, gumam Piero dalam hati. 

"Jam berapa kita ada meeting dengan Tuan Harits?" Tanya Piero kepada Sasa. 

"Jam 10 pagi ini, Tuan," jawab Sasa. 

Piero melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganya. Di mana waktu sudah menunjukan tepat pukul 9 pagi. 

"Kita berangkat sekarang," kata Piero. Dan dia meraih tas kerjanya lalu keluar ruangan bersama dengan seketarisnya itu. 

***

Kimmy baru saja bangun dari tidurnya. Dia meraih gelas dan menuangkan air mineral ke dalam gelasnya itu lalu meminumnya. Kemudian dia mengikat rambutnya dengan karet. 

Kedua bola matanya terlihat seperti sedang mencari sesuatu. "Di mana Davina?" 

"Dav," panggil Kimmy dengan mengeraskan sedikit suaranya. 

Kimmy beranjak dari mini dapur menuju ruang tamu. Dia melihat sofanya kosong. "Kebiasaan. Pergi nggak bilang-bilang," gerutunya. 

Merasakan tubuhnya yang masih sedikit lelah, Kimmy berbaring di atas sofa sambil menonton tayangan televisi. Jemarinya menekan remote dan mengganti siaran berkali-kali. Hingga dia menemukan berita infotainment yang sedang mewawancarai seorang pria yang dikenalnya. 

"Piero?" Ucap Kimmy. Dan kemudian dia menopang tubuhnya untuk duduk di atas sofa. Kedua matanya mempertegas sosok pria yang ada di layar kaca itu. 

Kimmy melihat dengan seksama sebuah tayangan infotainment yang sedang membahas salah-satu pengusaha muda dan suskes di negeri ini. 

"Bagaimana bisa si sombong itu masuk menjadi icon pengusaha muda. Dia dinobatkan menjadi panutan anak-anak muda? Arogan begitu," komen Kimmy. 

"Ck. Tuh liat saja cara bicaranya egois sekali. Dia pikir cuma dia yang paling benar," decak Kimmy. 

Bersamaan dengan asiknya Kimmy mengomentari Piero yang sedang diwawancara oleh salah-satu tanyangan televisi nasional, ponselnya berdering. 

Kimmy beranjak menuju kamarnya untuk membuka siapa yang sudah menghubunginya lewat pesan singkat. 

'Tuan Piero ingin menuntut kau, Kim. Dia tersinggung atas ucapanmu di hotel tempo hari. Tapi Tuan Piero masih baik hati. Kau diberi kesempatan untuk bebas dari tuntutan asal kau bersedia memenuhi persyaratanya. Kalau kau menolak, Tuan Piero akan memenjarakanmu dengan tuntutan pencemaran nama baik. Ingat Kimmy, dia bukan orang sembarangan. Tuan Piero bisa melakukan apa saja yang dia mau. Sebaiknya kau cepat datang menemuiku.' 

Wajah Kimmy berubah ronanya, dia memucat. Setelah membaca pesan singkat dari Aleandro, mantan bos di tempatnya bekerja. 

"Menuntutku? Apa alasanya dia mau menuntutku?" Gumam Kimmy. 

"Dasar laki-laki pengecut. Dia hanya bisa menggunakan kekuasaanya untuk menindas orang lemah. Oke. Aku akan temui Aleandro. Aku juga mau tau apa persyaratan yang ditawarkanya itu." 

Kimmy bersiap untuk menemui Aleandro di kantornya. 

***

Kimmy sudah berada di ruangan Aleandro. Dia duduk dengan tenang sambil menunggu pria tua itu yang belum juga datang dari makan siangnya. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status