Share

120 JUTA DIBAYAR LUNAS

Kimmy masih berada di dalam rumah sakit. Memikirkan cara bagaimana mendapatkan uang 120 juta dalam waktu satu hari. Atau nyawa Mommynya akan menjadi taruhanya. 

Kimmy berkeringat basah. Wajahnya yang cantik nampak lusuh seperti kurang darah. Jelas saja. Karena semalaman dia belum tidur. Dan juga polesan make up nya pun sudah luntur. 

Dia sudah mendapatkan pinjaman alat pengisi daya untuk baterai hp-nya. Sambil menunggu itu terisi penuh, dia mensortir satu per satu nomer-nomer pelanggan yang ada di dalam phone book. Ya, berharap ada salah-satu pelanggan yang mau memakai jasanya. Dan uang yang dia dapatkan bisa membayar biaya pengobatan Mommynya. Walaupun dia tahu, biaya itu sangatlah besar. Bahkan tidur dengan dua pria dalam satu hari saja belum bisa mencapai setengahnya. 

Seketika itu, terlintas di benaknya wajah seorang pria tua. "Papi ... Aku rindu," ucap Kimmy lirih. Mata Kimmy mulai berkaca-kaca. 

Sudah tiga jam Kimmy masih menunggu kabar dari dokter yang menangani Anna dengan hati penuh kecemasan. 

"Nona, Kim," panggil seorang suster bagian administrasi. Kimmy sudah bisa menebak apa yang ingin disampaikan oleh suster itu. 

"Iya, Sus. Aku lagi mengusahakan untuk mencari uangnya. Apa tindakanya tidak bisa dilakukan dulu? Aku pasti membayar semuanya Sus. Tolong lakukan yang terbaik untuk Nyonya Anna," pinta Kimmy memelas. 

Suster itu nampak kesal. "Tidak bisa, Nona. Peraturan di sini seperti itu. Pasien tidak akan ditindak lanjuti jika belum memberikan pembayaran minimal. Sudah bagus dokter memberikan tindakan pertama. Kalau di rumah sakit lain, mungkin pasien akan dibiarkan begitu saja sampai keluarga pasien melakukan pembayaran," ujar suster itu dengan ketus. 

Kimmy mengusap wajah. Dan dia membuang napas. Kimmy merasakan dadanya terasa berat. Karena beban yang dialaminya saat ini seperti menindih tubuhnya. Seperti sulit untuk bernapas. 

"Sus, kenapa dokter lama sekali di dalam ruang operasi?" 

"Nona ini bagaimana! Dokter menunggu Nona menyelesaikan biaya operasi. Kalau Nona Kim belum membayarnya, tim dokter tidak akan melakukan apa-apa. Setelah mereka selesai memberikan pertolongan pertama dua jam yang lalu," jawab suster itu dengan wajahnya yang tidak mengenakan. 

Kimmy berkerut kening. 

Ternyata mereka menungguku. Aku tidak punya cara lain. Aku harus menghubungi Robert. Dia satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Mommy, batin Kimmy. 

"Kasih aku waktu dua jam, Sus. Aku akan kembali dan melunasi semua pembayaranya," ucap Kimmy. Dan kemudian dia gegas beranjak dari ruang tunggu. 

Setelah Kimmy mengembalikan kabel cas hp milik keluarga pasien yang lain, dia mencari nomer Robert di phone book dalam hp nya. 

Kimmy berjalan sambil mengutak-atik hp nya tanpa memperhatikan sekitar. 

BRUAK! 

"Maaf, Nona. Saya tidak sengaja," ucap pria yang menabrak Kimmy—menyesali. 

Kimmy tidak menghiraukan pria itu. Dia memungut hp nya yang sudah berserakan karena terjatuh. Kimmy mendapatkan ponsel miliknya sudah hancur dan tidak bisa dihidupkan kembali. 

"Saya bersedia menggantikan dengan yang baru, Nona," kata pria itu. 

Kimmy menatap pria yang berwajah oriental itu dengan mata berkaca-kaca. Sehingga membuat pria tersebut salah tingkah. 

"Nona, Kim. Jangan lupa, dua jam lagi saya tunggu Nona di ruang administrasi. Jika Nona belum melunasi pembiayaan Nyonya Anna, maka dengan terpaksa kami akan menghentikan tindakan operasi pasien," ujar Suster itu mengingatkan dengan penuh penekanan. Nadanya mirip seperti sedang mengancam. 

Kimmy meninggalkan pria yang sudah membuat hp-nya itu rusak tanpa berkata apa pun. Dia merasa hidupnya seperti berada di dua alam. Tidak tahu dengan apa yang dilihat dan dirasakanya. Yang dia tahu, nyawa Mommynya berada di tanganya. 

Bahkan dia tidak menyadari kalau sedari tadi dia diamati oleh Piero yang baru saja keluar dari kamar rawat inap. Piero meminta bantuan suster untuk membawanya ke bagian administrasi. Karena dipikirnya, kalau biaya pengobatan atas dirinya harus segera diselesaikan. Namun, semua sudah ditangani oleh pihak asuransi secara otomatis. 

Anak mami! Apa yang kau lakukan di sana? ucap Piero dalam hati. 

"Pier," tegur Kenan. Dia baru saja tiba di rumah sakit ini dan bertemu dengan Piero di dekat loket admin. 

"Kau baru sampai, Ken?" balas Piero. 

Tubuh Piero sudah membaik. Bahkan sebenarnya untuk sekadar berjalan pun tidak perlu dibantu oleh suster. Namun, karena bentuk pelayanan dari rumah sakit ini yang menerapan peraturan seperti itu. Di mana para suster pembantu, wajib membantu pasien selama masih berada di rumah sakit. Cukup bagus untuk pasien yang memenuhi persyaratan. Namun tidak cukup bijak bagi pasien yang menunggak pembayaran. Seperti Mommy Kimmy yang nasibnya masih digantung karena belum melakukan pembayaran apa pun. 

"Bagaimana kau bisa sampai begini, Pier?" tanya Kenan perhatian. 

Pier nampaknya belum melepas pandanganya kepada Kimmy yang menuduk lesu di kursi besi dekat pintu masuk rumah sakit ini. Karena merasa diacuhkan, Kenan memperhatikan siapa yang sedang dilihat oleh sahabatnya itu. Yang sudah membuat Pier mengalihkan dirinya demi sesuatu. 

"Aku tidak sengaja menjatuhkan hp gadis itu. Tapi aku berniat ingin menggantinya. Tapi sepertinya dia tidak mau. Dia nampaknya sedang dalam masalah besar," seru Pier. 

"Halah masalah apa! Paling juga disuruh pulang oleh Maminya," cibir Pier menanggapi ucapan Kenan. 

"Kau tahu juga rupanya kalau Mami gadis itu harus menjalani operasi di rumah sakit ini?" celetuk Kenan. Dan itu membuat Pier berkerut kening. 

"Maksud kau?" tanya Pier penasaran. 

"Tadi, sewaktu aku menawarkan ganti rugi untuk hp nya yang rusak, suster di sini mengatakan kalau dia hanya punya waktu dua jam untuk membayar semua biaya operasi maminya. Atau tindakan tersebut tidak akan dilakukan, jika gadis itu tidak mampu membayarnya," terang Kenan. 

Pier menatap serius wajah Kenan. Dan kemudian, dia membalik tubuhnya. "Suster." Pier memanggil petugas medis bagian admin yang sedang sibuk menulis itu. 

"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" jawabnya. 

"Ada pasien atas nama Nona Kimmy, Sus?" 

"Sebentar saya lihat dulu, Tuan." Dan kemudian suster tersebut membuka daftar pasien dari layar monitornya. 

"Maaf, Tuan. Pasien atas nama Nona Kimmy tidak ada, Tuan. Ada yang bisa saya bantu lagi?" 

Jelas saja tidak ada, yang sakit bukan dia. Lantas siapa nama maminya? tanya Piero dalam hati. 

"Siapa pasien yang saat ini berada di ruang IGD dan dia belum mendapatkan tindakan lanjutan, Sus?" 

Suster itu melihat kembali layar monitor. 

"Cuma ada satu pasien, Tuan," jawab Suster itu. 

"Siapa?" tanya Pier serius. 

"Nyonya Anna, Tuan." 

tapi apa benar itu adalah maminya? batin Pier. 

"Suster yakin cuma ada satu pasien yang belum membayar biayanya?" Pier memastikan. 

"Betul, Tuan," jawab suster itu dengan sangat yakin. 

"Berapa total biayanya, Sus?" tanya Pier kembali. 

"120 juta, Tuan," jawabnya. 

"120 juta?" gumam Pier. "Biar saya yang mengurusnya, Sus. Segera lanjutkan operasi Nyonya Anna. Saya yang akan membayarnya," ujar Pier. Dan kemudian, Pier mengurus semua beban biaya wanita yang dia pun belum mengenalnya. 

"Pier, kau kenal siapa wanita itu?" tanya Kenan bingung.

"Sst. Sudahlah. Aku tahu apa yang aku lakukan," balas Pier. 

"Tapi, Pier. Nominalnya tidak sed-." 

Pier memotong ucapan Kenan dengan mengangkat jari telunjuknya. Menandakan kalau Kenan tidak perlu mengingatkan dia. 

"Sus, jika pasien atau keluarga pasien menanyakan persoalan siapa yang sudah membayarnya. Tolong jangan dikasih tahu," pesan Pier. Dia mengatakan dengan serius kepada suster bagian admin itu.  Dan suster itu pun menyetujui. 

Pier kembali membalik tubuhnya setelah menyelesaikan semua biaya pengobatan dan tindakan operasi untuk mami Kimmy. Tanpa sepengatahuan Kimmy. Dan di saat kedua matanya menatap ke arah di mana Kimmy berada sebelumnya, Pier tidak melihat gadis itu lagi. 

Kemana dia? tanya Pier dalam hati.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status