Bicara
Bicara
Author: Titik Imaji
SATU

"Udah kali, Sell! Difoto aja catatannya, 'kan nanti juga bisa disalin di rumah," ucap gadis berjepit merah muda yang terlihat bingung dengan teman sebangkunya.

"Nggak mau! Ntar, kalau gue ngefoto papan tulis, ujung-ujungnya bakal jadi koleksi doang di galeri. No, no, no! Jadi, mending gue kelarin sekarang aja sekalian." Misell membalas dengan tatapan yang masih fokus ke papan tulis tanpa peduli hasil tulisannya.

"Nyatet, sih, nyatet, emang bisa kebaca kalau tulisannya naik turun gitu?" tanya Salsa yang semakin dibuat bingung.

Misell lantas mengalihkan pandangan ke buku catatannya, yang saat ini tulisannya sudah seperti sandi rumput. "Hah? Astaga, Salsa! Kenapa baru bilang?" Ia berteriak sampai murid lain yang masih ada di kelas memutar tubuh ke arahnya.

"Ya gimana mau bilang, kalau dari tadi sahabatku yang cantik ini nggak peduli sama sekelilingnya.”

Misell memasang wajah cemberutnya. "Ih, tetep ingetin dong, Sal! Terus ini gimana dong?"

"Nggak usah dicatet aja, kayak gue dong nggak pernah nyatet," kata Salsa dengan bangganya.

Misell adalah murid di kelas IPA-1 yang paling rajin, tak heran banyak anak kelasnya yang sering meminjam buku catatannya. Banyak yang heran juga, bagaimana bisa seorang Misell yang selalu pecicilan dan tidak bisa diam ini adalah murid yang rajin.

"Itu 'kan lo Salsa, pokoknya catetan gue nggak boleh sampai bolong! Gimana, nih?"

Salsa hanya menanggapi Misell dengan senyum miring dan berdiri dari tempat duduknya. "Bodo amat, wlee! Bang Adit udah jemput di depan. Gue pulang duluan, ya! Eh, atau mau nebeng?"

"Nggak deh, nanti gue pulang bareng the one and only .. Bian," balas Misell cengengesan.

"Dih, the one and only! Jadian aja kali!" Salsa berkata sambil melenggang pergi dan tak peduli dengan teriakan Misell.

"Udah gue bilang, kan, kalau gue nggak bakal pacaran sama Bian! Awas lo, ya!" teriak Misell tanpa peduli keadaan di sekelilingnya.

Tanpa Misell sadar, di waktu yang bersamaan juga, sosok laki-laki sedang berdiri di pintu sambil melihat ke arahnya. "Lagi ngomongin aku ya, Sell?" tanya laki-laki tersebut.

Bian dan Misell memang menggunakan aku-kamu sejak kecil. Bukan apa-apa, karena itu memang kebiasaan mereka sejak kecil. Justru, terlihat aneh jika mereka memakai sapaan lo-gue seperti yang lain.

"Dih, pede banget jadi orang!" jawab Misell tanpa mengalihkan pandangannya dari papan tulis.

Laki-laki itu, berjalan ke arah Misell, dan duduk di bangku kosong yang ada di sampingnya. "Sell?" panggil Bian tiba-tiba.

"Hmm?"

"Pulang yuk, laper nih," ajak Bian pada Misell.

"Bentar, ini dikit lagi selesai kok," kata Misell sembari menyalin catatannya secepat mungkin.

"Sell, cari pacar aja sana! Biar nggak ngerepotin aku terus," ucap Bian pada Misell.

Misell yang mendengar itu, langsung memutar tubuhnya ke arah Bian seraya menunjukkan senyum paksanya. "Bian, kalau mau ngajak ngobrol omong kosong nanti aja ya.”

Bian pun tersenyum dan menuruti kemauan Misell untuk diam, ia hanya menatap Misell yang sedang sibuk menyalin catatannya.

"Oke udah beres, akhirnya!" kata Misell sambil memainkan buku-buku jarinya.

"Eh, udah aku bilangin berapa kali, kalau kamu lagi capek, secapek apapun itu, jangan pernah ngelakuin ini, gak baik," kata Bian sambil meraih dan memisahkan tangan Misell supaya tidak melanjutkan kegiatannya itu.

"Oh iya, lupa. Emang temanku yang satu ini paling cocok masuk jurusan IPA."

Bian tersenyum mendengar perkataan Misell. "Hahaha, ya udah yuk pulang!" ajak Bian kemudian.

"Yuk! Cari makan dulu yuk, katanya kamu laper. Eh, tapi aku juga laper sih, hehe," kata Misell sembari menghadap ke Bian.

"Hahaha, dasar! Makanan mulu yang ada di otak," kata Bian sambil mengacak-acak rambut Misell, lalu kabur menuju parkiran.

"Ish, Bian! Ngeselin!" teriak Misell sambil berlari menyusul Bian.

*****

Hidup Bian tidak akan pernah lepas dari Misell. Jujur saja, hari ini sahabat sekelasnya akan nongkrong di tempat biasa. Namun, entah kenapa Bian lebih memilih pulang dan jalan bersama Misell daripada pergi dengan teman-temannya yang lain. Di atas motor dalam perjalanan, mereka selalu asyik membicarakan apapun, mulai dari hal kecil yang sebenarnya tidak terlalu penting.

"Bi, aku kemarin habis mimpi," kata Misell tiba-tiba.

"Bukannya hidup kamu memang selalu mimpi? Kan kamu selalu ngehalu nggak jelas," ejek Bian.

"Ih, jahat! Aku serius kali ini. Mimpi beneran, Bi."

"Mimpi tuh ng gak ada yang beneran Misell, adek aku juga tahu. Masa kamu kalah sama anak SD," jawab Bian dengan nada mengejek.

"Ya pokoknya, mimpiku itu berasa nyata. Mau tahu nggak, aku mimpi apa? Hehe," ucap Misell pada Bian.

"Nggak."

"Ih, ayo Bian. Tanya kenapa!" kata Misell memaksa sembari memukul punggung Bian.

"Mimpi apa Misell?" tanya Bian dengan nada yang lembut.

"Aku mimpi jadi gurita," jawab Misell dengan semangat.

"Hah? Gurita yang di laut itu? Ngaco, kan kamu nggak bisa renang."

"Ih, namanya aja mimpi. Cuma mimpi! Mimpi tuh nggak ada yang beneran Bian," kata Misell mengulang pernyataan Bian tadi.

Lelaki itu mengulum senyumnya. “Iya deh iya."

"Jadi, ceritanya malam itu, aku lagi liat onesie gemes bentuk gurita di online shop. Terus tiba-tiba, malamnya sampai kebawa mimpi dong. Kesel banget, bikin kepikiran sampai sekarang," Misell bercerita panjang lebar pada Bian.

Perkataan Misell itu, tidak berhasil menahan senyum Bian. “Ya ampun, Sell. Gemes banget, sih!” Pada akhirnya, senyum Bian berubah semakin lebar dan terlihat sangat bahagia. Misell melanjutkan bercerita tentang mimpinya semalam. Perjalanan pulang ini mereka habiskan dengan bercerita dan sesekali tertawa bersama karena ceritanya yang selalu tidak masuk akal.

*****

tbc~

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status