Chapter 1

Jangan memandang ke belakang. Mereka hanya akan membuatmu semakin membenci dirimu sendiri.

Dering alarm berbunyi sejak dua belas detik yang lalu. Namun, meski terusik, aku terlalu malas bergerak seinci pun untuk mematikan suara bisingnya.

Aku tidak ingat telah menyetel alarm pada ponselku semalam, atau mungkin aku tidak sengaja memencetnya tanpa kuketahui? Biasanya aku bisa sangat ceroboh saat memegangnya dalam kondisi tidak terkunci, sehingga jemariku menyentuh beberapa tombol tanpa kusadari. Pernah tanpa sengaja benda itu menelepon nomor polisi karena aku memutar-mutarnya saat bosan.

Sesuatu di atas perutku bergerak karena terusik. Ah, ya, aku hampir lupa jika semalam aku menginap di apartemen salah seorang 'teman'. Ya, teman untuk berbagi malam panas di ranjang yang sama, melampiskan hasrat yang entah datang dari mana. Hal gila yang benar-benar membuatku seolah-olah lupa akan seberapa besar karmanya.

Ia bergerak untuk lebih dekat. Dada bidangnya menindih perutku dan tangan kokoh itu terjulur untuk meraih ponsel yang enggan diam di atas nakas di samping tempat tidur.

"Udah kubilang, jangan nyetel alarm di hari minggu!" gerutuku. Aku merasa terusik dengan pergerakannya. Di saat kulit kami bergesekan langsung, itu membuat sesuatu dalam dadaku berdesir.

Dia terkekeh, kemudian kembali ke posisinya dan memeluk perutku yang masih betah untuk tidak mengenakan sehelai benang pun. "Maaf, tadinya aku ingin memasak sesuatu untukmu."

"Aku enggak bakalan sarapan sepagi ini. Biarin aku tidur beberapa jam lagi."

Dia semakin mengeratkan pelukannya, mengecup pundakku dan menarik selimut yang berantakan untuk menutupi bagian atas tubuh kami. "Gimana dengan sarapan di sini? Aku pengen makan kamu lagi."

Refleks, aku langsung membuka mata dan mendapatkan seratus persen kesadaran. Kantuk dan pusing yang kurasakan akibat terbangun dengan rasa kaget, kini sepenuhnya lenyap. Aku beranjak duduk dan menatapnya dengan wajah kesal. "Kamu gila, Kenan. Aku capek!"

Kenan hanya tersenyum, kemudian bergerak merentangkan lengannya lebar-lebar. Ia menepuk bahunya, memberi isyarat agar aku kembali tidur di sana. Aku pun menurut dan menyamankan diriku dengan sempurna.

Tangannya kembali memelukku, mengeratkan kedua tubuh kami dan saling melindungi dari pendingin ruangan yang meniupkan hawa menusuk. Dia sangat tahu, aku tidak suka dingin.

"Kalau aja kamu mau kunikahi, Luna. Setiap pagi lihat kamu bangun di sampingku dan bersikap semanis ini. Aku pasti bakal jadi orang yang paling bahagia di bumi."

"Kayak aku bakal siap aja untuk hal kayak gitu."

Seakan tidak peduli, Kenan masih berusaha membuatku nyaman berada di dekatnya. Dia adalah lelaki mesum yang bersedia meniduri wanita yang bukan istrinya, tetapi dia tidak seberengsek itu untuk berhubungan dengan orang selain aku. Setahuku, sejak setahun lalu saat kami saling mengenal, dia berusaha melamarku di setiap kesempatan. Namun, jawabanku masih tetap sama; "Enggak!"

"Aku paham, tapi apa kamu enggak berpikir kalau ini aku? Kenan. Bukan laki-laki kayak yang kamu takutin dan bikin kamu jadi makin—"

"Stop it, kenan! Jangan anggap seolah semuanya mudah buat aku."

Pada akhirnya, ia hanya menghela napas lelah. Kenan memang seperti itu, akan selalu mengalah terhadapku. Itu sebabnya aku betah berhubungan dengannya. Sejujurnya, aku juga mencintainya.

"Aku mencintaimu, Luna."

Aku tersenyum, wajahku terasa memanas. Mungkin dia akan melihat semburat kemerahan jika aku tidak segera menyembunyikannya dengan pura-pura kedinginan, lalu semakin mengeratkan pelukanku. Namun, pada akhirnya apa yang kulakukan malah membuat jantungnya berdetak semakin cepat. Aku mampu mendengarnya dengan jelas dalam posisi kami saat ini, membuat kami berdua berakhir dalam pergumulan panas karena sama-sama menahan gejolak yang timbul akibat perdebatan mengenai perasaan masing-masing.

Dia ... lelaki yang baik. Sungguh.

***

Aku berjalan menyusuri trotoar, melewati pertokoan yang cukup ramai di akhir pekan. Kota ini tidak terlalu besar, tetapi selalu macet. Mungkin, beberapa tahun ke depan keluhan mengenai polusi di daerah ini akan separah ibu kota, padahal kota tetangga dikenal sebagai wilayah yang paling bersih dan hijau.

Hari ini aku ingin menghabiskan waktuku di sekitar alun-alun. Mengistirahatkan diri dari kepenatan yang membelengguku beberapa bulan ini. Apa yang lebih kupusingkan dari sekadar perasaan gelisah karena kebangkrutan yang kualami? Studio penerbitanku terancam tutup pada akhir tahun ini dan aku menyerah untuk melanjutkan perjuanganku. Aku ingin istirahat.

Jika kupikir lagi, menikah dengan Kenan tidak buruk juga. Kebutuhan finansialku akan terjamin jika bersamanya. Ah, gila, aku matre sekali. Akan merasa sangat beruntung bila aku mendapatkan pria sesempurna itu secara utuh. Sayangnya, aku sendiri tidak tahu apa mauku.

Beberapa pesan yang masuk ke ponselku sengaja kuabaikan. Aku ingin tenang. Beberapa tahun terakhir aku nyaris tidak memiliki weekend, kecuali saat aku sakit dan itu membuatku seperti tidak memiliki kehidupan. Orang-orang biasa menyebutnya No Life.

Dering ponsel yang sama sekali tidak berhenti membuatku risih, jadi kuputuskan untuk membuka deretan pesan pada aplikasi SMS yang saat ini hampir tidak pernah kugunakan. Aku lebih suka menggunakan Whatsapp.

Terdapat beberapa pesan operator dan sebagian besar dari nomor-nomor para penipu bermodus punjaman online. Klasik. Namun, beberapa pesan teratas membuatku mematung sesaat. Nomor bernamakan 'Ibu' menjadi bagian pesan paling menakutkan untuk kuterima. Pasalnya, aku tidak ingin lagi berhubungan dengan mereka.

"Luna, kapan kamu pulang, Nak?"

"Luna, ibu kangen."

"Luna, gimana kabar kamu? Kamu makan dengan baik, 'kan? Apa bulan ini kamu bisa pulang?"

"Luna, angkat teleponnya! Ibu mau ngomong sama kamu."

Kututup dan kumatikan seketika ponselku, lalu memasukkannya ke dalam tas. Pesan seperti inilah yang membuatku benar-benar terpancing untuk mengingat hal yang tidak kuinginkan. Semuanya berhubungan dengan Ibuku. Semua, berawal dari keegoisannya yang ingin membahagiakan kami berdua tanpa pemikiran matang dan dewasa.

Aku tahu, mengatakan bahwa ibuku sendiri sangat bodoh dan kekanakan adalah ketidak-patutan yang sangat buruk. Namun, bagiku itu adalah ungkapan yang paling tepat untuk benar-benar terlepas dari hubungan yang kami miliki selain kata naif. Setidaknya, aku ingin namaku dihapus dalam daftar keluarga yang paling mengecewakan yang pernah ada.

Aku mengembuskan napas. Di bawah rindangnya pohon beralaskan kursi batu yang ditata melingkar di sudut taman kota, aku menatap lazuardi. Tampak cerah siang ini karena musim kemarau panjang belum usai. Ah, ini bulan september, seharusnya hujan hampir datang. Sayangnya, srenge masih sangat berambisi untuk membakar sisa-sisa kepedihan di planet ini.

Aku memejamkan mata sesaat, sebelum pada akhirnya aku menunduk dan menyembunyikan wajahku di antara lutut dan lipatan tangan. Aku ingin menangis ketika kilasan masa kecilku yang menyenangkan terburai kembali. Aku merindukan saat hidup berdua bersama nenekku kala Ibu masih jauh untuk merantau. Statusnya sebagai single parent tidak serta merta membuatku malu dan minder karena tidak memiliki ayah. Namun, semuanya sudah terlewat jauh dan tidak akan bisa kembali sekeras apa pun aku mencoba.

"Aku enggak mau pulang!"

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status