Chapter 8

Dalam rasa gelisahku, ada bahagia yang membuncah. Namun, degup jantung yang agak kurang ajar ini membuatku berat untuk melangkah. Senang melihat ibuku menaruh perhatian dan rasa khwatirnya padaku, membuat aku berpikir bahwa sebenarnya dia begitu mencintaiku. Namun, ingatan buruk yang membuatku terluka begitu dalam dan harus pergi meninggalkan duniaku yang sesungguhnya, membuat kecewa itu hinggap lagi. Apakah harus ada penyesalan dahulu untuk membuat seseorang sadar akan kesalahannya?

Aku mengatur napas cukup dalam, menggantungkan cemas di ujung jariku ketika kembali nama itu muncul di layar ponsel Ester. Hatiku yang telah terjahit sempurna dan baru saja terlepas dari perban yang mengikatnya kuat, kini seolah-olah tergores kembali. Suara retakannya terdengar begitu jelas di telingaku yang cukup tajam. Sakit, tapi tidak berdarah.

"Halo, Bu," sapa Ester ramah saat menerima panggilan tersebut.

Ester menjauhkan ponsel dari telinga, kemudian mengaktifkan loud speakernya agar suara penelepon yang ada di seberang sana cukup nyaring untuk kudengar. Alih-alih membiarkanku untuk tetap tenang pada kenyataan yang mengatakan bahwa pelarianku masih kurang panjang.

"Halo, Ester …, apa Luna ada sama kamu?"

Aku mencengkeram lengan Ester cukup kuat, memaksa jariku menancapkan kukunya yang tajam dan belum sempat kurapikan pada kulit tipis Ester. Bukannya aku tidak mau menyapanya atau sekadar mendengarnya memanggil namaku langsung, kemudian menceritakan keluhannya selama tidak ada aku di sekitar hidupnya. Aku menggeleng perlahan, memberi kode keras pada Ester melalui pelototan mata beserta tanganku yang masih bertindak kejam padanya, membuat ia meringis tertahan.

Memahami maksudku, Ester pun menghela napas sebelum menjawab pertanyaan wanita yang telah melahirkanku tersebut. "Enggak, Bu. Mbak Luna di rumah. Aku lagi ada di luar. Kenapa?"

Ester memang pandai berbohong rupanya. Tidak salah aku selalu menjadikannya tameng untuk bisa menghindari hal-hal yang tidak kusukai. Termasuk ucapan ibuku.

"Tolong bilang ke dia, Ibu kangen. Udah setahun lebih dia enggak pulang, bahkan telepon ke Ibu."

Ester menatapku, menunjukkan raut datar yang sudah sangat sering ia tampakkan padaku ketika ia marah. "Iya, Bu. Nanti Ester sampaikan kalau udah sampai rumah."

"Luna enggak pernah mau angkat telepon dan balas pesan ibu. Bahkan kepikiran pulang pun enggak. Dia tuh sebenarnya masih sayang apa enggak sih sama ibunya? Kenapa malah lari," cecar wanita itu cepat. Nadanya terkesan penuh tekanan emosi yang kuat. "Dia enggak mikir apa kalau yang ditinggal di sini mikirin dia terus? Kalau punya masalah itu diselesaikan, bukan kabur. Ibu pusing sama sikap dia yang kekanakan begitu."

Aku terdiam, membatu. Telingaku berusaha mencerna ucapan yang dilontarkan wanita itu dengan telak. Bahkan, Ester pun sudah mengepalkan tangannya dengan erat. Aku tahu dia sangat emosi.

Setan dalam kepalaku tergelak, mencolek gemas pada nadiku yang rasa nyerinya menjalar tepat ke jantung.

"KAN!" sahutnya kencang, seolah telingaku sudah korselet akibat mendengar suara maya yang tampak nyata. "Apa kubilang?"

Aku memejamkan mata sejenak, menahan gejolak ingin berteriak akibat marah. Aku memohon pada diriku sendiri agar bisa menahan amarah, tidak berteriak dan bertengkar dengan setan-setan itu.

"Mungkin Mbak Luna butuh waktu, Bu. Kejadian itu enggak mudah buat dia hadapi. Jadi ibu jangan khawatir. Aku di sini jagain dia, kok."

"Ibu paham, Ter, tapi di sini masalahnya semakin menumpuk kalau Luna enggak pulang dan nyelesaiin semuanya. Dia itu butuh waktu buat apa lagi, sih? Dia enggak mau minta maaf? Ibu tiap hari berantem sama Ayahnya karena dianggap belain luna yang udah enggak tahu diri itu."

Lihat? Ucapan ibuku seolah-olah akulah yang salah atas segala problema yang mendera keluarga kami. Selama dua puluh lima tahun, keluargaku terkesan dingin dan begitu jauh dari jangkauan. Aku yang berusaha untuk selalu membuat semua hal terasa mudah untuk dilakukan dan dijalani hanya dianggap sebagai beban yang ceroboh. Aku tahu, bahkan sangat paham dengan kondisi gila yang menerpa keluargaku. Bagaimana aku bisa tetap bertahan dengan semua cemoohan itu? Lagipula pria itu bukan ayahku! Dia hanyalah orang asing yang kebetulan singgah dalam daftar nama keluarga kami secara sah.

"Berkali-kali Ibu nasehatin dia tapi enggak pernah didengar. Terakhir kali kami bicara, dia malah mencoba buat bunuh diri. Apa itu benar, Ter? Dia kira dia aja yang punya masalah? Ibu juga. Bahkan di saat paling terpuruk Ibu ketika Luna masih kecil aja Ibu enggak berusaha mengakhiri hidup.

"Bilang sama Mbakmu itu biar enggak cetek pikirannya. Ibadah, jangan cuma kerja terus yang diurusin."

Tanpa sadar air mataku menetes. Perlahan … hingga pada kalimat terakhirnya, aliran kecil itu berhasil menganak sungai. Ester yang menatap ke arahku dengan nanar pun kini hnya bisa menghela napas.

"Iya, Bu. Nanti Ester sampaikan ke Mbak Luna," sahut Ester cepat sembari berusaha mengatur napasnya yang memburu penuh emosi.

Telepon ia matikan setelah Ibu mengucapkan salam dan terima kasih, kemudian Ester menatapku dengan wajah pias penuh empati. Gemetarku datang, rasa pusing dan sesak berlomba untuk menjebol pertahanan emosiku. Jantungku rasanya ingin meledak akibat tekanan keras yang menindih bak cadas. Sesaat aku oleng hingga hampir ambruk di pangkuan Ester yang sedang bersila. Namun, tangan kokoh itu berhasil menangkap tubuhku dan menyandarkannya di sofa. Ia beranjak pergi tanpa aku sempat memperhatikan arahnya. Namun, ia kembali dengan air dalam mug keramik dan menyerahkannya kepadaku. Terasa hangat menyentuh pori-pori kulitku yang kini terasa membeku. Refleks aku segera meminumnya dengan agak terburu-buru hingga tandas.

Kerja terus yang kupikirkan? Batinku terkekeh dalam perih. Nyatanya setan dalam kepalaku benar-benar sudah menyeretku untuk merobek kantung amarah di kerongkonganku.

Ester membiarkanku diam beberapa saat sembari membantuku mengatur napas. Ia dengan sabar mengusapi punggungku yang kembang kempis diterpa panik yang luar biasa ganas. Tidak ada Kenan di sini, jadi ia berusaba mati-matian mengembalikan kesadaranku.

"Udah mendingan?"

Aku mengangguk ketika sesak berkurang. Ester berpindah duduk di depanku, lalu diam menunggu hingga aku mampu … atau setidaknya mau berbicara barang sepatah kata saja.

Aku menatap lelaki itu nanar sebelum menyadari kernyitan di matanya kian menyipit. Aku yang tidak tahan ingin meluap pun memegangi dadaku kuat-kuat sebelum berkata, "See? Selalu seperti itu, 'kan? Dia mengharapkanku pulang dan menolongnya, tapi ucapannya sama sekali bikin aku muak sama niatku buat berbakti. Apa seperti itu hukum wajar menjadi orang tua?"

Ester mendengkus melihat kemarahanku. "Mbak, udah. Kita bisa bicarain ini tanpa pakai urat."

"Gimana enggak pakai urat, Ter? Kamu dengar sendiri kan dia nyalahin aku lagi? Apa tadi dia bilang? Kerja mulu yang diurusin? Gimana aku enggak mati-matian nyiksa diri sama kerjaan kalo dia sendiri menuntut materi balas budi, Ter? Sejak menikah sama laki-laki itu ibuku enggak lagi mengenalku."

"Tapi percuma juga Mbak tantrum begini. Ibu enggak akan dengar yang ada Mbak sendiri yang rugi."

Helaan napasku kembali tertiup, menguarkan karbon dioksida ke udara dan melebur bersama atmosfer.

"Aku ngerti, Ter. Tapi, kamu sendiri dengar, 'kan? Dia bahkan enggak mau terlihat membelaku dan lebih memilih melindungi suami bejatnya itu. Di sini aku korbannya loh, Ter. Tapi, kenapa seolah-olah aku yang dituduh jadi pendusta?"

Ester terdiam. Ia menatapku dalam penuh rasa iba. Aku mengerti dia begitu sakit saat melihat sahabatnya terpuruk. Aku tahu dia begitu menderita saat aku bercerita padanya bahwa aku mengalami kejadian traumatis yang membuatku takut untuk percaya pada semua orang sebelas tahun yang lalu.

"Dia pengen aku pulang, tapi menyiksa mentalku saat aku di hadapannya. Aku lelah tersiksa sendirian, Ter. Aku lelah berjuang sendirian."

Air mataku kembali tumpah membasahi bukan hanya pipi dan pakaianku, tetapi juga selimut yang kugunakan untuk bergelung sejak di pantai tadi.

"Aku hanya ingin menjernihkan pikiran dan menyembuhkan traumaku, Ter. Apa itu salah?"

Kembali, Ester menarikku ke dalam dekapannya, memelukku erat dengan elusan kecil di punggungku.

"Mbak bisa meluapkan semua kemarahan Mbak di sini. Enggak ada yang bakal dengar kecuali aku, kok."

Tangisanku semakin keras tatkala elusan di punggungku berubah menjadi cengkeraman kuat yang membuat cardigan yang kupakai kusut seketika.

"Enggak ada hal mudah yang bisa dijalani manusia secara cuma-cuma, Mbak. Aku yakin Mbak bisa ngadepin semua ini, mengingat selama dua puluh lima tahun kita bersama, aku enggak pernah ngeliat mbak benar-benar menyerah meski mulut mbak terus menerus bilang capek.

"Semesta itu baik kalau kita mau baik, Mbak. Karena ujian akan lebih berat saat kita semakin dekat dengan kebahagiaan."

Tangisanku masih gamang, memperdengarkan dengungan dan isakan yang masih mengganggu telinga. Pelukanku mengendur seiring rasa lemas yang mendera, memaksa Ester harus sigap menerima kepanikan lebih saat mendapatiku kesulitan bernapas. Namun, beruntungnya ketika Ester mencoba untuk menelentangkan tubuhku dan menyangganya dengan bantal, suara telepon kembali berdering. Sebuah panggilan video dari Kenan. Buru-buru Ester menerimanya dan langsung mengarahkan kameranya kepadaku.

Samar-samar aku masih bisa mendengar percakapan mereka meski tidak terlalu jelas isinya. Nada khawatir dari suara Kenan yang menatap langsung kondisiku yang masih lemas kini menjadi pemacu untuk kekuatanku. Dengan sedikit memaksa, aku berusaha mengembalikan kesadaranku meski pada akhirnya gagal seberapa kali pun aku mencoba.

Dan saat Ester masih mencoba menyadarkanku dengan cubitan-cubitan pada lenganku yang kini terasa kebas, hanya kegagalan yang ia dapatkan. Hingga benar-benar aku mendapatkan senyap.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status