Eternal Love #10 Maaf

"Cia, daddy minta maaf ya. Daddy udah bentak kamu nuduh kamu tanpa daddy tau yang sebenarnya, tapi apa yang daddy lakukan saat itu daddy... daddy melihat kondisi Aurora yang berdarah dan melihatmu yang memegang pisau dan kedua tanganmu penuh darah, dalam kondisi panik daddy... menurutmu apa yang ada pikiran semua orang saat melihat Aurora terluka dan kamu memegang pisau pasti semua berpikiran bahwa kamu pelakunya, maaf... sungguh daddy minta maaf sayang, daddy sudah berpikir yang tidak tidak padamu,” Sesal Jashon, air matanya tak berhenti mengalir, melihat putrinya mengabaikannya dan bahkan tak mau memandangnya.

"Apa daddy pikir aku sanggup melakukannya, apa kalian semua berpikir aku bisa melukai saudaraku sendiri?" bentaknya, sudah cukup dia menanggung kesedihannya sendiri, rasa kecewanya sendiri.

"Sebenarnya yang membuatku terluka adalah kalian yang tidak mempercayaiku, apa aku begitu buruk dimata kalian, apa aku pernah melakukan kejahatan hingga kalian berpikir aku sanggup melakukannya?" tanya Allicia mulai mengemukakan apa yang dirasakannya selama ini. Seakan beban besar yang menghimpitnya terasa berkurang.

"Dulu saat daddy membentakku karena daddy berpikir aku yang merusak mainan Aurora hanya karena mainan Aurora ada padaku, daddy bahkan tidak mendengar kata-kataku, seorang pembunuh saja diberi hak untuk membela diri tapi aku, kalian bahkan tidak bertanya saat Aurora terluka dan langsung menuduhku hanya karena aku memegang pisau yang sudah melukai Aurora, dan tidak ada yang perduli aku terluka atau tidak, kalian semua meninggalkan aku dengan tatapan penuh tuduhan padaku, satu satunya yang mau memelukku dan bertanya keadaanku hanya Papa, seorang yang tidak ada hubungan darah denganku, sedang keluargaku  dengan teganya menghancurkan hatiku, bahkan sampai sekarang aku masih mimpi buruk dan Papa yang selalu menenangkanku, kemana kalian saat aku butuh dihibur, kemana kalian saat aku butuh dipeluk, kemana?" jeritnya, bukan hanya dirinya saja yang menangis semuanya ikut menangis mendengar perkataanku bahkan daddy pria kuatpun kulihat ikut menangis. Tapi aku tak perduli.

"Maafkan daddy sayang, daddy salah, kamu boleh hukum daddy apapun, tapi tolong jangan benci daddy,” ujar Jashon penuh kesedihan. Dia sadar kesalahannya kepada Cia sudah terlalu banyak.

"Kak Austin juga minta maaf, tolong kasih kakak kesempatan buat menebus kesalahan kakak sayang,” ujar kak Austin sambil berjalan mendekatiku duduk dilengan kursi yang kutempati, dengan ragu dia mencoba memelukku, saat aku membiarkannya, dia semakin mengeratkan pelukannya

"Maaf, maaf,” gumamnya sambil mengecupi rambutku

"Mommy juga minta maaf sayang, mommy gagal jadi mommy yang baik buat anak mommy, maaf,” kata mommy ikut duduk di lengan kursi satunya dan memelukku juga, dikecupinya wajahku yang penuh air mata, dihapusnya air mataku, hal yang sama juga kulakukan padanya.

Daddy juga melangkah kearah belakangku merengkuh kami bertiga dalam pelukannya.

Seperti dikomando ketiga saudaraku yang lain duduk bersimpuh didepanku.

"Maafkan kak daffa ya sayang,” Kak daffa menggenggam tangan kananku, membawanya kepipinyakannya.

"Kak Bella juga minta maaf ya Cia, sungguh kakak menyesal, karena tidak ada saat kamu butuh kakak, maaf,” Kak Bella meraih tangan kiriku melakukan hal yang sama seperti kak Daffa.

"Kakak yang salah Cia, maaf selama ini kakak hanya bisa diam saat semua orang menyalahkanmu, kakak terpaksa, kak Angel mengancamku, maafkan kakak ya,” ucap kak Rora terbata karena terganggu oleh isakannya pilu, kulihat wajah yang serupa denganku itu sendu, kami kembar tapi baru kali ini  dia bicara padaku setelah sekian lama.

"Ah aku juga pingin dipeluk!" seru papa dengan muka konyolnya.

"Sini Daffa peluk,” ujar kak Daffa langsung berhambur kearah Papa Aby

"Aku juga,” teriak kak Bella

"Ah...sesak, Daffa kau memelukku terlalu erat, ya ampun!"Teriak papa Aby, kontan membuat kami semua tertawa.

"Habisnya Daffa kan kangen,” sahut kak Daffa

Suara tawa memenuhi ruang keluarga

"Kapan kita balik hm?" bisik kak Austin ditelingaku

"Aku suka disini,” jawabku singkat.

"Kalau gitu aku juga mau tinggal disini, bolehkan dad?" tanya Austin

"Tentu, daddy juga punya apartemen disini,” sahut Daddy

"Asyik!!" seru semua kakakku.

"Terus sekolah sama kuliah kakak gimana?" tanyaku bingung, bagaimana mereka dengan mudahnya pingin pindah kesini.

“Gampaang,” teriak mereka bareng. Ish...mereka memang deh...

"Kan bisa minta transfer, disini juga keren,” jawab kak Austin enteng.

"Ayo kakak anter sekalian mau urus pindahan sekolah kakak,” kata kak Austin menyadarkanku akan sesuatu

"Sekolah... mampus telat!" pekikku kelabakan.

"Kamu nggak usah khawatir tadi Papa udah ijinin kamu datang telat,” sahut Papa menenangkanku.

"Ah...Papa my hero,” pekikku senang.

"Mom dad aku berangkat dulu ya,” pamitku sambil mencium pipi mommy dan daddy dan menyalim tangan mereka bergantian. Mereka nampak kaget dengan reaksiku, tapi mereka mengulum senyum bahagia.

"Kak aku boleh ikut ya, dad aku mau sekolah ditempat Cia boleh?" tanya kak Aurora penuh harap.

"Boleh, hatihati bawa mobilnya Austin, eh emang kamu tau jalan?" tanya daddy

"Enggak tau tapi kan ada gps, Mobilnya kan canggih, gampang mah itu,” jawab Kak Austin enteng.

“Nggak pa-pa kok dad, aku ngerti jalannya,” seruku

"Kami pergi dulu,” pamit mereka bertiga.

Jashon memeluk Kanaya lembut, mereka saling tersenyum, semoga setelah ujian ini membuat mereka lebih bijak dalam menyikapi pertumbuhan anak anak mereka.

Mereka juga sangat berterima kasih pada Abymanyu yang sudah mau menemani dan menghibur Allicia mereka, sampai gadis itu tidak terlalu terluka. Mereka berjanji akan lebih bijak dalam menyikapi permasalahan anak-anak mereka.


>>Bersambung>>

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status