Don't Stop Me Now
Don't Stop Me Now
Author: Aprilliask
Rotbaq

GRUKGUK! GRUKGUK!

Aku mengelus perutku sembari melihat tukang roti bakar di seberang sana. Ciri khas gerobaknya yang berwarna putih, body mulus, dan glowing membuatku terpana ingin segera menepuk pundak si penjual roti dan bilang, “Mang, keju ya dua!”

Lalu si Amang menyahut, “Siap, Neng!”

Melihat tangan si Amang yang sudah berkeriput sedang memarut keju hingga gravitasi bumi membuat butir-butir parutan keju tadi tertabut diatas roti yang telah diolesi mentega, jatuh begitu tak beraturan, namun sangat estetis, tiba-tiba ada suara lembut terdengar dekat sekali dengan telingaku.

Punten, Neng!”

Aku langsung menoleh ke arahnya. Lelaki yang berseragam sama dengan ku begitu terlihat keren, ku tebak tingginya sekitar 170 cm. Kita saling tatap beberapa detik sebelum akhirnya sadar kalau pesanan roti bakar ku hanya khayalan semata.

“Iya maaf.” ucapku sambil bergeser dua langkah.

“Kamu temenku ya?” tanyanya.

“Kamu juga temenku kan?”

“Iya emang?” tampaknya dia keheranan. Apa karena pertanyaanku?

Aku yang mendengar pertanyaan sekaligus tatapannya yang melihatku penuh dengan tandatanya malah membuatku bertanya pada diri sendiri. Iya apa tidak kalau dia adalah temanku.

Aku memutuskan diam dan menunduk menelan ludah.

“Dir!” Suara seruan dari jauh memanggil lelaki yang ada didepanku.

Orang itu berlari menghampiri lelaki ini, bajunya sama seperti ku. Sepertinya kita memang satu sekolah. Tapi apa lelaki yang ini juga adalah teman ku? Ingin bertanya, namun takut jawabannya seperti tadi.

“Dir, aku nebeng lagi, ya?”

“Ah, sia mah hayoh we!

“Besok motor ku udah selesai di service, Dir.”

“Oke! Tapi masih hujan, tunggu reda deh.”

“Nunggu reda atau nunggu ini?” Lelaki yang tadi teriak, menunjuk ku.

“Cakep juga, Dir.” Lanjutnya.

Karena aku merasa risih, akhirnya aku mulai melangkah berlari kecil menerobos hujan demi menghampiri si Amang roti bakar. Tetapi, langkah ku tidak sendiri. Mereka mengikutiku dari belakang dengan gaya berjalan anak-anak gaul, padahal kalau sedang hujan lebih enak berlari. Ya, meskipun tetap akan basah juga.

“Eh, Takdir!” sapa si Amang roti bakar.

“Mang, keju ya tiga” ucapnya.

“Siap! Ieu saha, Dir?” si Amang mulai menanyakan ku, tetapi lelaki yang disapa dengan sebutan Takdir ini hanya merespon dengan mengangkat kedua halisnya. Aku semakin bingung harus bersikap bagaimana. Bahkan aku belum tahu mereka temanku atau bukan.

“Mang, ini tuh gebetannya Takdir. Cakep kan?”

“Oh, Takdir teh akhirnya atuh suka sama perempuan juga” jawab si Amang roti bakar.

“Apaan, Mang. Si Thawaf emang kalau bikin gossip cepet nyebarnya.”

Aku bisa menyimpulkan lelaki yang berbisik punten itu namanya Takdir dan temannya bernama Thawaf. Sepertinya mereka bukan teman ku. Hanya saja satu sekolah mungkin. Dari seragam yang dipakai lelaki bernama Thawaf ini terlihat sedikit pudar.

“Neng, cicing wae atuh? Barusuh lain?” tanya si Amang roti bakar.

“Ini, Mang. Dingin” jawab ku singkat.

“Wii.. kode tuh, Dir” goda lelaki bernama Thawaf.

Aku segera duduk di kursi dekat si Amang roti bakar, karena roti bakarnya sudah selesai. Terlihat lezat dan benar saja, setelah aku menggigitnya itu terasa keju yang sedikit meleleh karena panasnya panggangan, rotinya yang empuk, dan satu lagi ditambah hujan dan sore yang menenangkan ini mampu membuat si roti bakar berperan penting hari ini untuk mengganjal perut ku yang sudah bunyi berkali-kali.

“Enak, Neng?” tanya si Amang.

“Enak, Mang. Udah lama jualan disini?” tanya ku basa-basi biar ada teman ngobrol saja.

“Udah atuh, Neng. Berarti, Neng baru masuk ya disekolah ini teh?”

“Iya. Jadi belum hafal sama muka temen-temen kelas, Mang. Karena, si Akang yang namanya Takdir itu nanya. Ya aku kira kita sekelas.” Jelasku biar tidak ada kesalahpahaman.

Mereka bertiga menganggukan kepala tandanya mengerti. Ya, aku anggap begitu.

“Kelas berapa kau?” tanya lelaki yang bernama Thawaf.

“Kelas 11” jawab ku sambil mengunyah roti bakar terenak yang pernah aku coba.

“Kita ini kelas 12. Kamu baik-baik sama kita ya. Kita ini punya geng.”

“Eh, kalian teh harusnya melindungi si Neng ini bisi diganggu sama kakak kelas yang lain.” Si Amang roti bakar balas menasehati mereka. Lagi pula aku juga anak baik-baik disini, malah dilihat dari mereka berdua, aku lebih baik dari mereka.

“Udah reda tuh, berangkat ayo!” ajak Kak Takdir yang saat itu segera membayar roti bakar yang sudah kita santap habis.

“eh, Kak Takdir! Makasih ya Rotbaqnya.”

“Rotbaq? Apaan?” tanya Kak Thawaf yang kebingungan.

“Roti Bakar, hehe”

“Aduh, kau ini. Tak usah disingkat-singkat. Nambah beban pikiran aja”

“Tapi bagus tuh, jadi kita bisa panggil Amang Rotbaq” lanjut Kak Thawaf.

Mulai hari ini aku panggil mereka Kakak, karena keduanya adalah kakak kelas ku. Kak Takdir yang tampan dan tinggi. Kak Thawaf adalah temannya Kak Takdir, jelas Kak Takdir si kakak kelas yang tampan dan tinggi. Mereka berjalan sambil bergurau menuju tempat parkiran yang tidak jauh dari tempat si Amang jualan. Nah, iya. Si Amang juga sekarang aku panggil Amang Rotbaq artinya Amang Roti Bakar.

“Mang, aku mau 3 ya, rasa keju” pesanku.

“Emang gak kenyang kitu, Neng?”

“Buat dirumah, Mang. Soalnya roti bakar Amang enak banget”

“Si Neng bisa wae”

Kita tertawa, lalu berbincang banyak hal sembari si Amang menyiapkan pesananku. Si Amang ini ternyata orang Sunda, makanya kalau sedang berbicara selalu ada kosa kata Bahasa Sundanya, seperti teh, oge, kitu, atuh, dan lain-lain. Senang sekali hari ini bertemu lelaki tampan dan juga bisa akrab sama si Amang Rotbaq yang pandai membuat tertawa.

“Nih, Neng!”

“Yaudah, Mang. Sampai ketemu lagi. Aku pulang, dadah. Assalamualaikum..”

“Eh, Neng!” teriak si Amang, karena aku keburu berlari.

“Iya, Mang?!” jawab ku tidak kalah kencang dengan lari ku.

“Namanya siapa?”

“Kiblat, Mang!”

“Hah?!”

“Kiblat!”

Aku berlari sampai bertemu angkot dan naik, setidaknya aku tidak akan terjebak hujan lagi. Dan dari kaca angkot yang gelap, aku lihat si Amang Rotbaq menatap ke arah kiblat, mencari apa yang aku maksud.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status