RINTIK HUJAN
RINTIK HUJAN
Author: Queen Lathi
Kepergian

Part 1

Aku Dara saat ini aku masih duduk di bangku kelaa dua SMA. Sekarang aku tengah tertundur miris di sudut kontrakan bersama Andi pacarku

"Sudah sayang tak akan terjadi apa-apa" bisik Andi di telingaku

"Aku takut yang, aku takut aku hamil dan ya ini tidak pantas kita masih sekolah!"rengekku

"Ayolah dara!, kamu gak usah cemas begitu aku mencintaimu dan aku akan selalu begitu, aku janji bakal tanggung jawab"ucap Andi merapikan seragamnya

" Kamu benar'kan sayang,?"

"benar!" tegasnya

"Ayo mari aku antar pulang!" di tengah rintik hujan yang tidak terlalu lebat Andi melajukan motornya mengantarku pulang

"Andi jika seandainya kamu tidak jodohku apa yang harus aku lakukan?"ucapku nyender di punggung dan berbisik ditelinga pria itu yang sedang mengendarai motor.

" Kamu jodohku dara itu pasti!"

"ya memang karna kamu perlakukan aku seperti istrimu!" gerutuku memanyunkan bibir Andin terkekeh melihat sungutku dari spion motor

"Kamu tenang aja gak akan ada yang pisahin kita! Aku akan jagain kamu selamanya!"tegasnya.

" Aku takut kehilangan kamu Andi bagimana kalo takdir memisahkan kita, kamu pergi meninggalkan aku"desisku memeluk pingganya erat

"Jikapun itu tetap terjadi itu berarti kamu wanita yang cukup kuat berdiri untuk sendiri!" tekannya.

"kamu ngomong apa sih yang, aku gak suka dengarnya Aku gak akan bisa hidup tanpa kamu" tegasku

"Baik lah tuan putri"

"Humm" dengusku mencubit pinggangnya, tak jauh didepan kami ada mobil truk melaju begutu cepat"

"Andi awas didepan ada gundukan pasir" motor Andi terlalu kencang untuk menghindari hingga roda depannya oleng membuat aku terpental ke tanah dan Andi motornya oleng ke tengah jalan dan disaat bersama'an mobil truck besar itu melaju dengan kencang.

Trakt.  

Motor besar itu ringset bersama Andi, Mobil Truck itu menyeret Andi Hingga 5 meter..

"ANDI..." teriakku histeris. Semua warga berdatangan, aku berlari mengejar dimana badan Andi ikut rinset bersama motornya

"Oh, tuhan.. ANDI" teriakku bersimpuh di tengah kerumunan orang, ditemani guyuran hujan yang datang semakin lebat. Air mataku bahkan lebih deras lagi melihat darah Andi mengalir terbawa air hujan.

"InI tidak mungkin!" lirihku dengan tatapan nanar

Seseorang yang tlah berjanji akan hidup bersama selamaku itu kini tlah remuk bersama hempasan mobil truck nan besar. Hatiku juga ikut remuk berkeping-keping. Cintaku sudah tak bernyawa lagi. ia meninggalkan Aku sendiri dengan benih cinta yang Andi tanam dalam rahimku, miris memang akunharus menjalani kehidupan pahit setelah kepergian Andi nantu

Kisahku tlah berakhir Andi menuju keabadian dengan tenang. Dia menitip kan benih cintanya di rahimku yang akan ku rawat sendiri.

Ini sudah dua minggu berlalu aku masih terdiam kaku di sudut kamar dengan tatapan nanar. Andi yang tlah berjanji akan bertanggung jawabpun tak punya kekuatan apa-apa untuk menempati janjinya takdir tuhan tak bisa di elakkan. Miris saat aku tak bisa menerima takdir ini dengan ikhlas.

"Sudah Dara, kamu tak boleh mengurung diri begini!"ucap ibuk menghampiriku. Wanita paruh baya itu membawa seragamku yang sudah di setrika itu kekamar. 

"Besok kamu harus sekolah Ini sudah lama, kamu jangan nambah libur lagi bisa-bisa kamu di keluarkan!' ujar ibukku lagi. Kembali aku menggumam kaku dengan tetesan air mata di pipi. Miris rasanya membayang kan wajah ibukku nanti saat tau aku tengah mengandung.

" Dara, sudah ibuk tidak suka kamu terus-terusan begini!"aku memilih bungkam

***

Sore itu aku beranjak kemakamnya ditengah kegundahanku rasa rindu dan kalud dalam hatiku tak tau kemana akan aku Adukan. Aku seorang diri sekarang.

"Andi aku bingung harus berbuat apa tanpa mu Ndi?"rengekku di nisan Andi.

" Apa yang harus aku perbuat?"kembali diri ini meringis sakit. Tak ada jawaban hanya siuran Angin mengelusku bergidik. Sempat aku memilih mengakhiri hidupku aku tak bisa bayangkan wajah ibuku menanggung malu dan nasib anakku nanti tanpa ayah.

"Aku akan akhiri hidupku tak ada pilihan lain" bisikku bergegas kencang pulang aku berlari-lari kecil hendak melancarkan niatku nanti dirumah

CIIIITS.  

bunyi mobil ngerem mendadak

Trakt

Tubuhku terpental dan aku pusing aku tak sadarkan diri, kembali aku sadar saat di ruangan rumah sakit Perlahan aku coba membuka mata samar-samar terdengar Dokter berbicara pada ibukku.

"Wanita ini tengah mengandung untung janinnya kuat! Kalo tidak dia bisa saja kehilangan janinnya"jelas pak dokter. Ibuku menghampiriku dengan tatapan Nanar.

" Dara kamu hamil?"lirih ibuk merintik-rintik kan air mata. Aku menggumam pilu sembari menahan tangisku.

"JAWAB IBUK DARA!' bentak nya dengan gugup aku berucap.

" Ma'af kan aku buk"rengekku.

"Kemana harga dirimu ha!" wanita itu melayangkan kepalannya kebadanku" dengan sigap Bima menangkis tangan ibuku. Pria yang mengandarai mobil itu sehingga membuatku berbaring dirumah sakit ini.

"Buk kasian, dia lagi sakit. Dan dia juga  hamil !"

"Coba katakan siapa yang menghamilimu?" hardik ibuk lagi. Aku masih bungkam menggumam semua ucapanku di lidah.

"Ayo katakan!"

"An-di" ucapku gemetar.

"Oh, tuhaaaan. Jadi itu sebabnya kamu bersedih berhari-hari atas kepergiannya. Bukannya kalian hanya berteman sejauh ini? Dia sahabat kecilmu Dara. Sama sekali ibuk tak mengira persahabatn kalian menghasilkan Anak!" gerutu Nigrum. Bima yang menyimak juga ikut terheran mendengar kisahnya.

"Lalu siapa yang akan bertanggung jawab sekarang Dara jawab ibuk!" teriaknya lagi.Seisi ruangan tampak menyimak. Dan berdecak miris melihat pertengkaran itu.

"Jawab aku!" kembali ibuk menyiap kan kepalan untuk menyerangku Namun Bima menangkis mencegatnya.

"Ibuk saya mohon bersabar lah. Kasian dia!" hardiknya.

"Saya besarkan dia dengan kasih sayang, apapun keinginannya saya selalu berusaha memenuhinya tapi Lihat sekarang balesan ke saya apa! Dasar anak tak tau diri!" gerutu ibuk, aku hanya bisa menangis mendengar penuturan ibunya itu.

"Sekarang siapa yang akan bertanggung jawab akan anak haram dalam kandungannya itu" rengek ibuk mengusap mukanya.

"Ibuk ma'afin dara!"

"Berhenti memanggilku ibuk! Kau bukan putriku lagi!" aku mengguman tangisku dalam-dalam. Bima mendekatiku mataku di hiasai rintikan air mata dan tatapan sendu.

" Dara, aku akan menikahimu!" ujarnya, mataku membulat dan bibirkungemetar untuk berucap Nigrum sangat terkejut akan penuturan itu.

"Apa kamu bilang tadi nak?" ucap ibukku lirih

"Kalo di izinkan saya akan menikahinya!" lagi aku tersintak mendengar ungkapan itu, ibuk mengusap air matanya hati ibuk teranyuh melihat sikap pria itu

"Tentu nak, tentu saja aku mengizinkannya!" ucap ibuk dengan semangat. Tanpa pikir panjang lagi ia sangat setuju ada seseorang yang mau menikahiku .Air mataku makin mengucur deras. Kejadian buruk itu sangat bertubi-tubi, Belum lagi habis lukaku yang ditinggalkan Andi kini aku harus menjadikan seseorang yang tak aku cintai menjadi suamiku Mana pria itu jauh lebih tua dariku

"Tapi buk, Saya sudah beristri!" sontak wajah ibukku berubah.

"Istri saya, ingin mencarikan istri untuk saya karna beliau tak bisa punya anak" lama ibukku menatap Bima nanar.

"Ka-kamu ja-jadikan Dara" ucapan yang sangat terbata itu dipotong oleh Bima 

"Ya buk, maaf sekali jika ibu tersinggung. Jika ibuk tidak berkenan saya tidak akan memaksa"pria itu beranjak hendak pergi, melihat ibuk bungkam tanpa sepatah katapun tertunduk

"Saya permisi buk!" desisnya lagi mantap beranjak.

"Tunggu nak Bima"

"Ya buk?"

"Baik lah saya izinkan!"

Kembali air mataku mengucur deras sungguh tragedi ini sangat menyiksaku. Aku harus menikah dengan seseorang yang tidak aku cintai. Lukaku saja akan kepergian Andi belum sirna



DMCA.com Protection Status