Kisah Prima
Kisah Prima
Author: Elga Cadistira dR
Bab 1: Permintaan Ayah

***

Langit cerah memoles cuaca hari ini. Suara sungai mengalir, berasal dari bawah kakiku. Terasa segar dengan embusan angin yang melewati dedaunan pohon di sekeliling. Sudah menjadi rutinitas hampir setiap pagi aku pergi ke sungai untuk mencuci pakaian. Ketenangan alam selalu menemaniku dalam kesendirian di sini. Hingga suara berisik mengalihkan perhatianku seketika. Aku seakan mendengar seseorang berteriak. Suaranya agak jauh dari tempatku. Lalu aku terkesiap ingat akan sesuatu.

Aku bergegas beranjak. Menyebrangi sungai dengan air dangkal ini, sementara kutinggalkan pakaian yang sudah kuperas ditepi sungai. Aku berjalan menuju ke asal suara. Aku yakin sekali suara itu berada di depanku. Kemudian, seperti yang kuduga sebelumnya, aku menemukan tali perangkap yang seharusnya untuk rusa, malah menjebak seorang manusia. Aku menutup mulutku terkejut melihatnya. Kini orang itu tampak seperti kelelawar yang menggantung terbalik di dahan pohon. "Ya ampun!" pekikku tertahan dibalik telapak tangan. "Apa kamu baik-baik saja di sana?" Bodoh. Mengapa aku malah bertanya bukannya menolong dia?

"Hey, bisa kamu turunkan aku dari sini?" ringis pemuda itu. Lantas dengan tergesa-gesa aku mengurai ikatan tali di pohon dan menurunkan pemuda itu perlahan-lahan. Sambil menggulung tali, kulihat dia membenahi pakaiannya. Kuperhatikan pakaiannya tidak mencirikan dia berasal dari kelas bawah sepertiku. Batik yang dikenakan di pinggang pemuda itu jelas hanya orang bangsawan yang dapat memakainya. Mengapa pemuda bangsawan ada di hutan sendirian?

"Terima kasih sudah menolongku. Namaku Bima," kata pemuda itu.

"Namaku Prima."

Sedetik kemudian kami mendengar suara orang lain memanggil nama pemuda itu dari kejauhan. Sepertinya sedang mencarinya. "Kalau begitu sampai nanti, Prima!" Bima melambaikan tangan dengan wajah cerianya, dan dia berlari menjauh masuk ke dalam hutan menuju arah suara dua orang di sana. Sedangkan aku hanya mematung melihat punggungnya yang semakin tak terjangkau pandangan lagi.

Bima, ya namanya?

Aku tersenyum kecil. 

***

Aku kembali ke rumah. Rumah sederhana yang hanya disangga oleh kayu sementara anyaman bambu menjadi dinding rumah kami. Di rumah kecil ini aku tinggal bersama ayah saja. "Ayah, aku pulang!" seruku usai menjemur pakaian di depan rumah. Aku berjalan masuk ke dalam rumah dan segera mendapati ayahku sedang berusaha duduk dari pembaringannya. "Tolong ambilkan minum, Prima," pinta ayah saat terbatuk-batuk darah, lagi. Aku bergegas ke dapur dan kembali lagi untuk menyerahkan segelas air putih kepadanya.

Ayahku sudah tua dan tidak berdaya karena penyakitnya. Seringkali membuat hatiku terenyuh melihat beliau tidak baik-baik saja. "Aku akan panggilkan tabib," kataku dan kemudian langsung pergi keluar rumah. Dengan berlari kecil aku menuju rumah tabib langgangan. Rumahnya sedikit jauh tapi tak menyurutkan niatku untuk membuat ayah sembuh total. "Tabib!" teriakku di luar rumahnya.

Seorang pria baya segera keluar menemuiku. "Prima? Ayahmu?" ujarnya seakan sudah mengerti maksud kedatanganku ke sini. Aku mengangguk cemas. 

"Baiklah. Tunggu sebentar." Dia masuk lagi ke dalam rumah dan kembali dengan membawa sesuatu di tangannya. Peralatan pengobatannya. "Ayo kita pergi."

Sampai di rumah, aku terkejut melihat ayahku yang seharusnya beristirahat malah rajin mengasah goloknya. "Ayah...!" seruku sembari berlari mendekat. "Ayah harus istirahat, aku sudah memanggil tabib."

Tabib mulai memeriksa kondisi ayahku. Sungguh luar biasa kemampuan tabib, hanya dengan merasakan denyut nadi seseorang, sudah bisa mengetahui kondisi kesehatan tubuh manusia. Beliau mengatakan bahwa tidak ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit ayahku. Aku geram. "Apakah aku hanya bisa menunggu ajal menjemput ayahku?" kataku tak mau menyerah. Tabib tampak kalem menanggapiku. "Aku sudah pernah memeriksa kondisi seseorang dengan gejala yang serupa. Sayangnya belum ada obat yang ditemukan untuk menyembuhkan penyakit semacam ini," jelas tabib. 

Beliau tidak dapat berbuat apa-apa, apalagi aku. Aku bingung dan marah. Akhirnya tabib pamit pergi dari rumah sederhana kami. Tidak mungkin aku berdiam diri menunggu kematian ayahku, bukan? Aku terus berpikir keras. Namun, tidak ada saran baik yang dapat kulakukan. "Ayah..." lirihku pilu. Mengepalkan kedua tanganku di atas paha. Hingga sebuah telapak tangan menyentuhnya, dan suara ayah berbicara. "Prima, seperti yang dikatakan tabib tadi. Mungkin hidup ayah tidak akan bertahan lebih lama lagi. Oleh sebab itu, setelah ayah mati, bisakah kau pergi ke desa Taruni?"

Aku menoleh dengan mata tergenangi air. Perkataannya membuatku tercengang. Aku tahu desa itu dari mulut orang di sekitar walau belum pernah ke sana. "Kenapa aku harus ke desa itu?" tanyaku. Adalah desa yang dikenal sebagai desa pembunuh dan perampok. 

"Di sana ada kenalan ayah. Kau bisa meminta bantuan dari orang di sana untuk membalaskan dendam ayah dan ibumu---uhuk!" Ayah mengatakannya dengan susah payah. Napasnya tampak mulai memberat. "Ayah, sebaiknya ayah istirahat," ujarku, akan tetapi tanganku ditahan olehnya. Ayah masih ingin bicara lebih banyak lagi. "Jaga dirimu selama ayah pergi," katanya. 

"Ayah tidak akan pergi ke mana-mana," sanggahku cepat. Aku memang marah pada orang yang membuat ibuku tewas malam itu. Kami memiliki emosi serupa. Sebagai ayah dan anak, kami tak merelakan ibu dibunuh dengan keji oleh orang tak bertanggungjawab. 

"Ayah pernah melihat salah satunya, dan ayah yakin sekali kalau mereka berasal dari keluarga Maheswari." Ayah terus mengacau. Membuat hatiku semakin teriris. "Ayah sebaiknya istirahat, ya. Aku akan memasak untuk makan malam," ucapku menghentikan ucapannya. Hatiku sakit. Sangat sakit melihat ayah harus menderita seperti ini. Siapa yang tidak sakit hati ketika orang terkasih tewas di depan mata? Jika aku berada di posisi ayah, mungkin jauh lebih sakit dan lebih baik bunuh diri. Tetapi, ayah tetap bertahan dengan kondisi memprihatinkan seperti ini karena harus merawatku sampai sebesar sekarang. Aku siap tidak siap harus menerima kepergian ayahku dan menjadi anak sebatang kara. 

Pagi itu aku berniat membangunkan ayah untuk sarapan. Namun, ayah tidak kunjung bergerak. Membuat napasku tercekat seketika. Ketika harapanku yang tinggi, dihempaskan oleh kenyataan setelah aku memeriksa denyut nadinya. Beliau sudah meninggal. Tangisku pecah. Seluruh tubuhku melemas. Aku jatuh tak berdaya melihat wajah tidur ayahku. Dalam hati aku bersyukur ayah meninggal dengan damai. 

Kini hanya diriku yang akan menguatkan diri sendiri. Hidup tanpa sanak-saudara. Aku sangat merasakan bagaimana hidup tak memiliki siapapun lagi. Dunia terasa hampa.  Seolah-olah aku hidup seorang diri di dunia seluas ini. Halaman belakang rumah sekarang terdapat dua makam orang tuaku. Tabib yang merupakan kenalan ayah hanya bisa merasa prihatin dan bersimpati padaku. 

Siang itu angin yang berhembus terasa dingin dan kasar di kulitku. Mungkinkan angin memberitahuku tentang jalan takdir yang akan kutempuh esok bahwa membutuhkan perjuangan berat untuk bertahan hidup? Apa pun garis takdir yang Dewa persiapkan untukku, aku hanya perlu menjalaninya meski harus berdarah-darah hati ini. 

***

DMCA.com Protection Status