Chapter 3

"Masih ingin menendang bokongku?" tanya Feligan saat melihat Shakira yang sepertinya sudah mengingat dirinya. 

Shakira yang mati kutu, tidak bergerak sedikitpun. Feligan tersenyum sinis melihat itu, bagaimana tidak jika wanita yang didepannya ini kemarin berlagak sombong malah mati kutu sekarang. 

Feligan melihat name tag yang terkalung dileher Shakira, ia menarik name tag itu mendekat padanya dan membuat Shakira berdiri lalu tertarik ke depan, hampir saja wajahnya beradu dengan wajah Feligan. 

"Shakira Costelia," ucap Feligan, membaca nama yang tertera. 

Shakira menarik name tagnya kembali dan menatap Feligan kesal. "Kau bertindak dengan tidak sopan, Tuan gedung sebelah." Shakira memberbaiki name tagnya. 

"Juga bagaimana kau bisa masuk ke sini?"

"Tentu saja aku bisa masuk kesini sesukaku, dan asal kau tahu..." Feligan menggantungkan kalimatnya yang membuat Shakira mengernyit. 

Feligan mendekatkan wajahnya ke arah Shakira lalu berbisik, "Aku adalah pemilik baru perusahaan ini."

Mata Shakira seketika membulat, mulutnya terbuka sedikit. Ia tidak menyangka pengganti pemimpin lamanya adalah pria gedung sebelah yang menyebalkan. Bagaimana bisa ia melewati hari-harinya dengan tenang jika pria didepannya ini membuatnya kepikiran terus untuk menendang bokongnya yang kalau boleh jujur, sangat sexy. 

"Kalau begitu sampai jumpa, aku ingin menyapa yang lainnya. Lanjutkan pekerjaanmu," titah Feligan dan melangkah pergi.

Shakira kembali duduk, ia segera menyusun barang-barangnya ke dalam tas dan memasuki semuanya dengan asal. Ia akan pulang, pekerjaannya telah selesai dan ia akan beristirahat dirumah selama beberapa hari juga untuk menghindari boss barunya itu.

Shakira bangkit dari duduknya dan pamit kepada Sella terlebih dahulu. "Aku pulang, jika ada apa-apa tolong hubungi aku," pintanya yang dibalas anggukan oleh Sella. 

Shakira berjalan menuju lift dan memasukinya. Ia mengambil handphone-nya saat telah berada di dalam lift. Jadwalnya hari ini kosong yang berarti ia bisa bersantai dirumah. 

Saat tiba dilobby, Shakira menitipkan name tag-nya pada resepsionis tanda ia pulang dan berjalan keluar gedung dengan tenang. Jika ditanya kenapa ia boleh pulang itu karena peraturan perusahaannya, jika telah menyelesaikan tugasnya maka boleh pulang. Tetapi dari dua tahun yang lalu hanya beberapa orang yang bisa pulang termasuk Shakira karena hanya segelintir yang bisa menyelesaikan tugas mereka dengan cepat. 

Shakira menghentikkan taksi dan menaikinya. Taksi itu melaju membelah jalan raya hingga berhenti tepat disebuah gedung apartemen, tempat tinggalnya. Shakira lantas turun dari taksi itu, tidak lupa untuk membayarnya. 

Ia memasuki gedungnya dan tidak sabar untuk bertemu kasur empuknya yang selalu posesif padanya. Jika boleh, ia ingin rebahan setiap hari dengan novel di atas kasur itu. Namun, apalah daya itu hanya bisa menjadi angan-angannya. 

Shakira melempar tas kerjanya asal, ia langsung saja merebahkan diri disofanya tanpa melepaskan sepatunya. Kebiasaan buruk Shakira yang dilakukannya setiap hari. 

Matanya memberat, ingin terlelap saat kantuk telah menguasainya. Ia mengambil posisi nyaman lalu menutup mata erat. Tak sampai 10 detik Ia telah kehilangan kesadarannya. 

***

Feligan menatap Andrea Matthew dengan kesal. Teman dan juga tangan kanannya itu terus saja mengoceh tentang wanita. Mulutnya seolah mesin yang tidak bisa berhenti diam. 

Feligan mengusap rambutnya sehingga tatanan yang tadi rapi kini mulai kacau tetapi tidak mengurangi ketampanannya sedikitpun. 

Andrea melihat iris mata biru milik Feligan yang kini sedang menusuk dirinya. Andrea menggeleng, Feligan sangat tidak bisa untuk diajak bicara tentang wanita seolah pria itu memiliki kelainan seksual. 

"Aku hanya bercerita, kau sebagai temanku seharusnya mendengarnya dengan baik dan memberiku solusi," cerca Andrea. 

Feligan mendesah lelah. "Kalau begitu cerita saja dengan orang lain, aku lelah."

"Ck! Inilah kenapa kau tidak pernah bisa mendapatkan wanita. Kau pelit sekali hanya untuk mendengarkan seseorang."

Feligan memberikan tatapan tajamnya pada Andrea. Sialan! Pria itu kembali membuatnya mengingat masa lalu kelamnya yang telah ia coba kubur dalam-dalam. 

"Jika kau tidak berhenti diam, kupastikan kau sudah berada diluar gedung melalui kaca ini," ancam Feligan sembari menunjuk kaca yang melindungi mereka dari luar. 

Andrea menegang, dengan tangannya ia gerakkan dari sudut bibir kiri kesudut bibir kanan, mengunci rapat mulutnya. Ancaman Feligan memang tidak main-main walaupun ia belum pernah mengalaminya. 

"Seharusnya sedari tadi kau melakukan itu."

Feligan membuka laptopnya dan mulai melihat perkembangan saham yang dimilikinya. tentu saja grafik saham itu selalu meningkat, ia memang pandai menarik perhatian perusahaan lain untuk ikut menanamkan saham di perusahaannya. 

"Feligan, kurasa kau harus ke markas, seseorang telah menemukan si propaganda itu," ucap Andrea, sambil mengutak-atik tab miliknya

Feligan mengepalkan tangannya mendengar itu, langsung saja ia menutup laptopnya. Ia menatap Andrea yang kini juga menatapnya. Akhirnya ia mendapatkan pengkhianat itu. 

"Ayo pergi," ajak Feligan dan berdiri dari kursi besarnya lalu berjalan keluar dari ruangannya diikuti Andrea dibelakang. 

Feligan berjalan dan melewati kubikel Shakira, namun tidak menemukan pemiliknya. Spontan, ia menghentikan langkahnya lalu berjalan mendekati kubikel Sella. 

"Dimana Shakira?" Tanya Feligan yang membuat Sella terkejut. 

"Ia sudah pulang, boss," balas Sella dengan pelan.

Feligan mengerutkan dahinya, tangannya juga ikut bersidekap. Pulang saat jam kerja sangat tidak profesional.

"Aku ingin Shakira berada disini setelah aku kembali. Jika tidak, kalian semua akan kena akibatnya!" teriak Feligan keseluruh pegawainya. 

Semua pegawai tersentak. Apa-apaan, baru kali ini mereka diancam seperti itu. Pemimpin sebelumnya tidak pernah melakukan itu pada mereka dan ini sedikit membuat mereka terguncang dan menyadari jika boss barunya saat ini tidak bisa diajak santai. 

"Mengerti?!" tanya Feligan yang disambut anggukan oleh pegawainya.

Feligan kembali melanjutkan langkahnya dan pergi dari perusahaan itu, dan ia harap Shakira sudah berada dikantor sebelum ia kembali.

Saat Feligan tidak lagi tampak, para pegawai mulai kelimpungan. Mereka langsung mencoba mendial nomor Shakira. Pekerja paling teladan yang tidak pernah membuat masalah itu kini malah menjadi topik masalah itu sendiri. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status