Chapter 5

Shakira berjalan melewati gang kecil yang mana sering ia lalui untuk menuju apartemenya. Hari ini mendung, awan bewarna kelabu menghiasi langit sama seperti suasana hati Shakira. 

Shakira berhenti melangkah saat kakinya tidak sengaja menendang kardus yang berisikan sesuatu. Tangannya menggapai kardus tersebut dan membukanya. Termangu sebentar, Shakira lantas tersenyum saat ia menemukan anak kucing dengan bulu yang lebat berada di dalam kardus tersebut. 

"Kau dibuang?" tanya Shakira pada anak kucing yang telah berada di pangkuannya. Anak kucing itu hanya membalas dengan suara meongan yang kecil.

"Baiklah, aku akan menggantikan ibumu. Oleh karena itu, jangan mencakarku, oke!" kemudian Shakira mengeratkan blazernya hingga anak kucing itu tidak kedinginan. 

"Ayo pulang dan makan malam. Menu apa yang harus kumasak hari ini?" tanya Shakira kembali pada anak kucing tersebut tapi pastinya tidak ada balasan seperti 'ayam', 'ikan' dan lain-lain.

Shakira memilih berteduh disalah satu teras  toko kecil saat rintik-rintik hujan mulai membasahinya. Anak kucing didalam pelukannya menggeliat tidak nyaman membuat shakira melonggarkan sedikit pelukannya. 

Seharusnya ia menonton perkiraan cuaca hari ini tetapi karena ia terlalu sibuk dengan naskahnya ia sampai lupa untuk menonton itu. Tapi, Shakira bisa saja menerobos hujan dan berlari yang paling hanya mencapai 5 menit untuk mencapai apartemennya. Namun masalahnya ia membawa salinan naskah dari pertemuannya dengan penulis tadi dan jika naskah itu basah ia tidak tahu bagaimana caranya untuk mengajukan pertemuan kembali, karena bisa dibilang penulis yang ia temui tadi cukup terkenal dan sangat tidak profesional jika Shakira kembali merepotkan penulis itu. Bisa-bisa nama perusahaanya tercoreng. Akhirnya hanya suara desahan yang keluar dari mulut Shakira.

Sebuah mobil hitam mengkilat berhenti di depan Shakira berdiri. Seorang pria keluar dari mobil tersebut dan dengan senyumnya ia membuat Shakira tertarik padanya. 

"Sedang terjebak, nona?" tanya pria itu ramah.

Shakira mengangguk pelan.

"Mari saya antar, saya sengaja melewati jalan kecil ini karena biasanya banyak yang terjebak oleh hujan. Dan ... " pria itu mengusap lehernya dengan wajah sedikit malu. "Saya biasanya mengantarkan mereka, mungkin terlihat tidak masuk akal tapi itu membuat mereka senang dan juga saya."

Shakira tertegun. Betapa baiknya pria ini, Shakira tidak tau jika kota ini memiliki pria sebaik dan semenarik itu. Ini sangat langka untuk orang-orang yang telah menjalani hidup modern dan tidak menjunjung nilai moral lagi. Pria didepannya ini patut diacungi jempol.

"Jadi maukah nona?" tawar pria itu yang dibalas anggukan antusias oleh Shakira.

Seorang pria yang masih berada didalam mobil hitam mengkilat itu tersenyum sinis. Wanita itu ternyata mudah sekali dibohongi, padahal ia pikir wanita itu memiliki watak yang keras kepala.

Pria yang bersama Shakira tadi kini membukakan pintu penumpang dan membiarkan Shakira masuk kedalam mobil tersebut. Tak lama pria itu masuk dan mengemudikan mobilnya.

"Anda juga terjebak?" tanya Shakira pada pria yang telah berada duluan daripadanya.

"Ah! Aku lupa, ia juga terjebak hujan maka dari itu aku juga menawarkannya." jelas pria baik itu.

Shakira hanya ber-oh ria sembari mengangguk.

"Nona, kalau tidak masalah bolehkah saya mengantarkan pria ini terlebih dahulu?" tanya pria baik itu dan menatap Shakira melalui kaca spionya.

Shakira mengangguk terlebih dahulu sebelum berkata, "Ya, tentu saja."

"Baiklah, terima kasih."

Setelah itu tidak ada pembicaraan sama sekali. Suasana hujan dan bunyi rintik diatas mobil membuat Shakira terlarut dalam lamunannya. Kilas balik masa lampau mulai menamparnya, tidak terlalu sakit namun mampu menyadarkannya.

Mobil berhenti tiba-tiba, diikuti asap yang keluar dari mesin mobil.

"Nona, sepertinya ada masalah dengan mobilku, bisa anda turun sebentar dan mengeceknya?" tanya pria itu namun mengundang tanda tanya dikepala Shakira. Masalahnya, seharusnya ia meminta hal itu pada pria disampingnya, bukannya pada Shakira yang notabennya tidak mengerti masalah mesin-mesin mobil.

Dengan tidak enak hati Shakira menyanggupi permintaan pria itu. "Aku akan mengeceknya." 

Shakira meletakkan anak kucing yang terlelap itu disampingnya, barulah ia keluar dari mobil. Ia dengan cepat pergi ke depan mobil dan membuka kap mobil tersebut. Banyak asap yang keluar dari mesin didepannya itu tetapi Shakira tidak tahu penyebabnya.

Namun, Shakira tiba-tiba merasakan pusing saat ia menghirup asap tersebut. Kepalanya terasa berat dan pandangnya berkunang-kunang, ia merasa badannya terasa ringan hingga matanya tertutup rapat dan ia jatuh tertidur di depan mobil tersebut.

Kedua pria yang berada di dalam mobil kini keluar. Mereka memapah Shakira agar kembali masuk ke dalam mobil dan memakaikan Shakira penutup mata, tangan Shakira juga tak luput dari ikatan tali.

Setelah itu barulah kedua pria itu kembali menjalankan mobil dan membawa Shakira ke tempat antah berantah.

***

Feligan menatap wanita di depannya dengan sinis. 

Wanita yang kini sedang tertidur di ranjang hangat itu terlihat tidak akan bangun dalam waktu dekat. Oh, tentu saja, itu karena Feligan yang menyiapkan strategi tersebut. 

Feligan juga ikut tangan dalam strategi tersebut, karena ia juga berada di dalam mobil itu atau lebih tepatnya pria yang berada disamping pengemudi. Dirinya tidak tahu kenapa ia ingin sekali menculik wanita di depannya ini. Mungkin saja karena kesal atau rasa tertarik.

Namun, rasa tertarik dibuang jauh-jauh dari pikirannya. Mana mungkin ia tertarik pada wanita pemberontak yang bahkan membuat namanya buruk di perusahaan miliknya sendiri. Itulah akibat jika bermain-main dengan Feligan D'xario.

"Kau akan terus menatapnya?" tanya Andrea yang sedari tadi berdiri di samping pintu.

Feligan membalikkan badannya lalu, menatap Andrea dengan tajam. "Jangan menggangguku."

"Apa kau sadar kalau kali ini kau sudah gila? Menculik seorang wanita, huh?" 

Feligan mendesah. Ia juga tidak tahu ia bakal berbuat sampai seperti ini, padahal ia tidak suka berurusan dengan para wanita.

"Anggap saja aku sedang bermain dengannya," balas Feligan acuh.

Andrea mendekat lalu menepuk pundak Feligan dua kali. "Bermain? Kurasa kau semakin gila. Sekalian saja kau menikah dengannya."

Feligan tertawa mendengar hal itu. "Kau bercanda? Menikah? Itu hal tergila yang pernah kudengar darimu, Andrea Matthew."

Andrea mengantongkan tangannya di saku celananya sembari menatap wanita---Shakira yang sedang terlelap diranjang. 

"Tidak ada yang tahu akan takdir, Feligan. Semua bisa saja terjadi, jadi kuharap kau berhati-hati. Bisa saja kau menyukainya," peringat Andrea yang dianggap tidak masuk akal oleh Feligan.

"Jikalau itu terjadi, maka aku sendiri yang akan menolak takdir tersebut," ujar Feligan.

Andrea hanya tertawa lalu berjalan meninggalkan Feligan. "Mari kita lihat, nanti."

Feligan hanya mengedikkan bahunya dan tidak terlalu memikirkan perkataan Andrea karena perhatiannya telah terpusat pada Shakira yang telah mulai bangun dari tidurnya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status