Bab 08 - Sebuah Kenyataan

Sudah hampir dua hari Vira menunggu di depan pintu rumahnya. Suami yang dia idamkan belum juga datang. Hatinya terasa begitu sangat pedih. Ia hanya bisa berdoa semoga suatu saat nanti Tuhan akan melembutkan hati pria yang menjadi suaminya.

            Vira hanya mampu membatin, bahkan ia juga tidak pernah disentuh sama sekali oleh suaminya. Ia hanya dapat mengadu kepada Tuhan, agar memberikan keadilan atas ketulusan cintanya. Ia sudah bersabar tanpa batas waktu. Cintanya tidak bisa terbalaskan sama sekali. Sikap dingin suaminya selalu ia terima dan telan mentah - mentah. Dia tidak pernah mengeluh sama sekali. Ia terima, meskipun ada banyak luka-luka yang ia sembunyikan setiap waktu yang bergulir.

            “Ra, apa kamu yakin akan bertahan dengan pria seperti suamimu itu?”

            “Mas Reihan. Aku akan tetap mempertahankan pernikahan ini. Bagiku, pernikahan antara aku dan mas Kiano adalah momen yang sangat sakral. Itu merupakan ikatan suci di mata Allah,” terang Vira.

            “Percuma saja kamu bertahan, tapi dia nggak akan pernah menoleh atau melirik sekalipun kepadamu!” tutur Reihan. Sebenarnya ia merasa kalau Vira terlalu baik bagi sepupunya.

            “Mas, mungkin saja Tuhan masih belum bisa membukakan hati buat mas Kiano, tapi Vira yakin, kalau suatu saat nanti dia bisa melihat dan peduli terhadap Vira.” Vira mengucap penuh keyakinan dalam hatinya, meskipun ia masih meragu akan kata-katan

            Reihan pun merasa sangat kasihan, karena sikap dingin sepupunya itu. Padahal Vira selalu mencintai sepupunya, tapi dia malah terabaikan.

            “Ra, apa kamu sudah makan?”

            Vira hanya mengelengkan kepalanya.

            “Aku sedang tidak bernafsu makan. Karena aku kepikiran sama suamiku yang belum juga pulan, Mas.”

            Reihan menatap sendu sorot mata seorang perempuan baik yang tidak seharusnya sepupunya sia-siakan.

“Temenin aku buat makan malam di café seberang, Ra.”

“Maaf, Mas. Aku tidak bisa,” tolak Vira. “Aku tidak bisa pergi selain bersama mas Kiano.”

“Ra, aku ini sepupumu. Bukan, orang asing loh,” Reihan pun tersenyum. “Kiano nggak akan mungkin keberatan, jika sepupunya mengajak istrinya untuk menemani makan.”

“Tapi, aku nggak bisa, Mas. Karena, aku sudah bersuami. Apalah kata orang nanti melihat kita?”

“Ya ampun, Vir. Apa peduli kita apa kata orang yang nggak akan mungkin bikin kita kenyang, kalau kita masih mendengarkan apa kata orang,” ucap Vira dengan terkekeh.

“Udahlah, kalian berdua berangkat saja. Jaga Vira ya, Rei.”

“Siap tante. Rei akan jaga istri dari sepupu, Rei.”

“Ma.”

“Udah, kamu pergi sama Reihan. Lagian kamu butuh udara segar di luar,” ujar Joana.

--

Wajah cemas perempuan yang menggunakan baby dolls berwarna pink polkadot. Ia terlihat mondar – mandir tidak jelas. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.

Pintu kamar tempat perempuan itu tinggal telah terbuka, lalu ia melihat seorang wanita memakai jas snelli lengan pendek, berserta stetoskop dan membawa sebuah tas jinjing.

“Silahkan, Dok. Periksa kandungan perempuan itu.”

Wanita itu pun datang bersama seorang pria tampan yang memiliki rahang begitu kokoh. Setelan pakaian yang begitu rapi.

“Astaga, ada drama apa lagi? Sumpah ini gila!” umpat perempuan itu dengan menaikan salah satu alisnya, ia menatap sinis ke pria berkemeja hitam.

“Danilla, kau harus diperiksa dengan dokter Yuanita.”

“Pak, saya sehat-sehat saja,” kilah Vira sambil menekan setiap kata-kata yang terucap dalam mulutnya.

“Tapi, kamu telah mengandung anakku,” cetus pria itu dengan penekanan tiap kata. Nadanya terlihat datar sekali, bahkan tidak ada senyuman yang terlukiskan.

“Apa saya mengandung anak anda?” ujar Danilla dengan tawa mengejek. “Nggak usah ngeprank atau bercanda, Pak. Mana mungkin saya hamil anak bapak?”

“Maaf, nyonya Danilla silahkan periksa dengan alat ini,” dokter Yuanita telah menyerahkan sebuah alat penguji kehamilan.

“Baiklah, aku akan buktikan, kalau aku nggak pernah mengandung anak anda,” Danilla mengucap dengan nada sangat sengak sekali. “Mana mungkin aku bisa mengandung anak dia, orang aku nggak pernah tidur sama dia. Aku masih perawan kali!” cicit Danilla dalam hati kecilnya.

Danilla pun meraih alat itu, lalu ia berjalan ke kamar mandi dengan pedenya.

Di Kamar mandi Danilla pun melakukan uji kehamilan dengan alat itu. Ia pun meneteskan air maninya ke dalam alat penguji itu. Ia mulai menarik napas perlahan-lahan, lalu mengembuskan perlahan-lahan lewat kedua rongga hidungnya.

“Halah, nggak akan mungkin terjadi,” gumam Danilla. “Aku yakin, kalau seumur hidup. Aku nggak pernah nyobain hal itu.”

-

Di Apartemen Akbar terlihat penasaran dengan kehidupan Danilla. Ia sangat kaget dengan pengakuan seorang pria yang mendadak datang dengan menyatakan kalau Danilla calon istrinya.

Sudah hampir tujuh tahun mereka berpisah, tapi sayangnya rasa cinta di hati Akbar masih ada. Ia bahkan berharap bisa meminang Danilla menjadi pendamping hidupnya.

Sebuah album kenangan tentang cinta mereka, bahkan sikap Danilla membuat Akbar sangat merindukannya. Dia harus berpisah, karena ia mendapatkan beasiswa di Sydney.

“Seandainya, saja kita masih bisa kembali.”

Akbar pun mulai mengingat kenangan manis di antara mereka.

(2011)

            SMA Angkasa Jaya, terlihat begitu berhamburan siswa-siswa di kala bel sekolah berbunyi. Seorang siswi dengan bandana kain polkadot hitam putih berlari menerobos gerbang. Ia pun selamat dari gerbang.

            Siswi itu nampak tersenyum, lalu melangkah masuk.

            “Hai manis!”

            Siswi itu menatap dengan sinis, ia merasa sebal dengan siswa-siswa yang nampak centil menatapnya. Siswi itu tetap berjalan menuju ke ruangan yang dia tuju.

            “Eh, Bro ada yang seger!”

            “Emang kamu kira adem sari bisa nyegerin!”

            “Weh, Akbar Akbar, masa kamu itu nggak tertarik sama sekali dengan siswi di sini satu pun. Apa jangan-jangan…”

            “Hey, aku masih normal. Cuman aku nggak minat aja buat jadi playboy kayak lu!”

            “Ya, Kalau nggak manfaatin ketampanan. Rugi banget!”

            “Tampan?” ulang Akbar sambil menatap sahabatnya yang mulai sok pedenya kumat.

            “Aku emang tampan, mana ada cewek nolak sama gua!”

            “aku pun nggak kaget, kalau nggak hanya cewek yang kamu modusin. Tapi, kucing betina pun pakai bedak kamu pasti tempelin.”

            “Njirrr, sialan kamu, Bar.”

            “Ya, bodoh amatlah. Pacaran doang nggak ada untungnya, lihat nilai ujian kamu pada kebakaran semua.”

            “Ya Ya Ya. Aku sadar, otak kamu itu bagaikan Albert Einstein!”

            “Kamu itu ya, sekolah yang bener. Masa hobi nggak berubah. Jadi tukang copy paste!”

            “Nggak usah kamu perjelas dech, Bar. Aku emang bodoh masalah pelajaran, tapi menaklukan hati perempuan adalah aku ahlinya,” kekehnya.

            “Hadeh, susah. Kalau punya temen otak kelinci, hobinya nggak berfaedah sama sekali.”

            “Bodoh amat, Bar.”

            Suara deheman membuat pembicaraan mereka berhenti.

            “Astaga, bidadari aku melihat bidadari turun dari surga,” ucapnya.

            “Kak, mau nanya. Kantor kepala sekolah di mana?” tanya siswi berparas imut.

            “Aku Bima Arya Seno.”

            “Nggak ada yang nanya nama kamu Bima.”

            “Astaga, Akbar. Ini buat pembukaan aja.”

            “Kamu kira mau upacara bendera pakai pembukaan baca undang – undang kemerdekaan?”

            “Biasa aja kalee, nggak usah kayak gitu. Mangkannya kamu jadi jomblo lumutan. kamu sich sok jual mahal!”

            “Kak?”

            “Eh, lupa kalau bidadari ada di sini,” rayuan gombal akut Bima.

            “Nggak usah kamu dengerin ucapan dia. Soalnya otaknya sudah agak kongsleting. Butuh diinstall ulang, Dek.”

            “Sialan kamu, Bar. Awas kamu!” umpat Bima agak mendesis.

            “Aku akan antar kamu ke ruang kepala sekolah. Supaya aman dan nggak dimodusin sama kelinci jantan ini!”

            “Makasih, Kak.”

            Ponsel pun berdering membuat lamunan tentang awal pertemuan itu telah semburat. Di layar ponselnya tertulis nomer yang tidak dikenal.

            “Nomer siapa ini?” pikir Akbar. Karena, tidak ada orang yang tahu nomer dia sama sekali. Lalu, ia pun mengangkat panggilan telepon itu.

            --

            Di kamar mandi Danilla pun menutup kedua matanya, ia belum sempat melihat hasil tesnya. Ia memilih untuk mengurungkan niat melihat hasilnya. Karena, ia takut dengan hasilnya. Tapi, seingatnya dia tidak pernah melakukan kegiatan panas itu.

            Danilla selalu menganut sebuah prinsip ‘No sex before married.’ Ia pun menatap bayangan wajahnya di cermin sambil melihat.

            Di luar sana Kiano merasa sangat penasaran. Ia tidak sabaran untuk menunggu Danilla keluar dari pintu kamar mandinya. Ia pun berjalan menghampiri perempuan itu.

            “Astaga, lama sekali dia,” omelnya dalam hati.

            Kiano mengetuk-ketuk pintu kamar mandi.

            “Ya, bentar kalee!” teriak lantang Danilla.

            “Cepetan!”

            “Ih, bawel banget!”

            Danilla pun keluar, tapi ia merasa gugup sekali, meskipun pada awalnya ia pede sekali.

            “Coba saya mau lihat!”

            “NIH!” Danilla pun menyerahkan alat penguji kehamilan ke Kiano.

            Kiano pun menunjukkan hasilnya, lalu Danilla pun pingsan seketika ke dalam pelukannya. Lalu, ia pun terpaksa mengendong Danilla ke atas ranjang kamar.

            *

         

Riska Vianka

Selamat membaca. Jangan lupa baca episode kelanjutannya.

| Like

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status