Share

3.Insiden Di Rumah Sakit

Nicko masih berdiam sambil menyipitkan mata saat melihat Jamie terjepit. Mempertanyakan ada apa gerangan dengan pria bertubuh tambun ini, kenapa bisa tak bernyali. Dimana keangkuhan dan kuasa yang selama dipamerkan. 

"Russel, kau tahu apa yang seharusnya dilakukan untuk para penipu?" kata Tuan Lloyd pada salah satu pria berpakaian hitam yang berdiri paling depan. 

Ekspresi wajah Russel sangat kaku, sejak tadi tak pernah ada senyum apalagi tawa. Semua serba lurus. Kemungkinan pria bernama Russel adalah pimpinan mereka. 

Russel mengambil senjata api dari sisi kiri pinggangnya. Mengusap pistol berwarna hitam itu tepat di hadapan Jamie dan keluarganya. 

Ekspresi wajah kaku yang ditujukan oleh Russel semakin memperkuat aura garangnya. Semakin membuat keluarga Watts merasa terpojok. 

Jamie yang masih sayang akan nyawanya pun menyenggol kedua anaknya. Mengajak mereka bersimpuh dan meminta pengampunan. 

"Ampuni kami Tuan Lloyd, kami telah melakukan kesalahan. Kami tergiur dengan harta kekayaan yang Anda titipkan pada kami," kata Jamie memohon belas kasihan.

Namun Russel tak menanggapi permintaan pria tambun ini. Pistol yang ada dalam genggamannya dipakai untuk memukul kepalanya. Lalu menempelkan ujungnya pada kepala Jamie, kemudian melirik ke arah anak buahnya.

 Mereka pun ikut menodongkan senjata pada seluruh anggota keluarga Watts termasuk Emily. Keluarga Watts sangat ketakutan dan hanya bisa terus menerus memohon pengampunan.

"Katakan yang sebenarnya, siapa sebenarnya Tuan Muda Lloyd?" perintah Russel menekan pistol pada pelipis Jamie. 

Pria tambun yang ketakutan itu pun mulai kencing di celananya. Perlahan menunjuk ke arah pemuda berpakaian lusuh yang ada di depannya.  

"Hmm sudah kuduga, selain tanda lahir yang unik, hasil periksaan DNA pada pemuda yang dikirim Kyle menjelaskan semua," gumam Tuan Lloyd.

Tanpa diminta Jamie pun mengaku perbuatan keluarga Watts pada putra Tuan Lloyd. Bagaimana mereka berusaha menumbuhkan sifat rendah diri pada Nicko yang asli. Mereka ingin Nicko benar-benar menjadi pecundang sehingga bisa bebas meminta uang pada keluarga Lloyd dengan dalih kondisi mental Nicko. 

"Kurang ajar!" runtuk Tuan Lloyd sambil mengepal tangannya kuat-kuat. 

"Jadi selama ini kalian membohongiku?" tambah Nicko. 

"Nicko, tolong ampuni kami. Maafkan kami yang selalu menyakitimu selama ini. Kumohon," pinta Jamie memohon. 

"Nicko ayolah, bukankah kita sering bermain bersama sejak dulu. Tidakkah kau kasihan pada kami?" Devon ikut menimpali. 

Nicko mengangkat wajahnya dan bersikap acuh. Bermain apa? Nicko tak pernah diijinkan menyentuh mainan miliknya. Bahkan mereka lebih memilih untuk membuang mainan yang sudah tak lagi disukai Devon ketimbang memberikannya pada Nicko.

Kyle mencoba menenangkan Nicko yang kini wajahnya memerah. Ia tahu betul kalau pemuda ini memendam kekecewaan yang sangat dalam. 

"Tuan Muda, sebaiknya Anda ikut saya dan Tuan Lloyd, biar masalah ini diselesaikan oleh Russel," ajak Kyle. 

Nicko yang masih belum mengerti seratus persen hanya bisa mengangguk dan mengikuti dua pria berpakaian rapi itu keluar. 

                              ***

"Bagaimana perasaanmu saat ini Nicko?" tanya Phillip Lloyd sambil menepuk pundaknya. 

Nicko yang masih kebingungan pun mencoba untuk mencerna peristiwa yang baru saja terjadi. Mengusap wajah dengan kedua tangan kemudian memberanikan diri untuk bertanya.

"Jadi, Anda benar Ayahku?" tanyanya pada pria paruh baya berdasi di hadapannya. 

"Nicko, anakku, kau sudah mendengar semuanya. Maafkan Ayah yang telah menitipkanmu pada orang yang salah. Ayah kira hal itu akan membuatmu terlindungi, tapi malah menjerumuskanmu," kata Phillip Lloyd penuh sesal. 

"Bisakah Anda menceritakannya?" pinta Nicko. 

Saat itu memang keluarga Lloyd belum sekaya sekarang. Mereka masih berada pada piramida kedua sosial. Persaingan bisnis yang tidak sehat menjadi ancaman saat itu. Bahkan tak segan untuk saling bunuh. 

Ancaman pembunuhan pada keluarga Lloyd benar-benar menakutkan saat itu. Sebagai orang tua, tentunya mereka ingin bisa menyelamatkan putranya yang merupakan harta paling berharga. Kesetiaan pelayan Watts lah yang membuat mereka memutuskan menitipkan Nicko dan menghilangkan nama belakangnya. 

Sayang keputusan itu ternyata bukanlah hal yang tepat. Pelayan yang dikira setia malah berkhianat dan menyia-nyiakan keturunannya. 

Setelah memeriksa ID dan juga pemeriksaan darah pada Nicko,  mereka pun berpelukan. Tentu saja melakukan pemeriksaan DNA kembali dengan menggunakan darah Nicko, dan akan melihat hasilnya tujuh hari kemudian. 

Memang wajah Nicko tak memiliki kemiripan dengan ayahnya. Hanya warna rambut cokelat gelapnya saja yang sama. Namun jika diperhatikan lebih jelas, Nicko memiliki kemiripan dengan istri Phillip Lloyd, Stephany. 

"Nicko, untuk lebih yakin kami memang membutuhkan DNA mu," kata Kyle. 

"Aku tak masalah dengan itu. Aku paham karena memang perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan siapa putra kandung Anda sebenarnya, terlebih Anda baru saja ditipu," jawab Nicko bijak. 

Phillip Lloyd dan Kyle Brenan pun saling pandang. Kemudian Phillip Lloyd pun meminta Nicko untuk tinggal bersama mereka.

"Terima kasih untuk undangannya, tapi maaf,  saya tak bisa, karena saat ini saya sudah menikah dan tak mungkin meninggalkan isteri saya."

Nicko sendiri masih terkejut dengan apa yang dialaminya kali ini. Tiba-tiba saja bertemu dengan seseorang yang katanya ayah kandungnya. 

Sementara Phillip Lloyd mencoba untuk mengerti kondisi putranya. Pria itu melirik Kyle untuk melakukan tugasnya.

"Baik Tuan," Kyle yang paham langsung mengeluarkan sebuah amplop dan memberikannya pada Nicko. 

"Apa ini, Tuan?" tanya Nicko tak mengerti. 

"Itu adalah kartu ATM yang dibuat oleh Ayah Anda sejak Anda lahir, yang memang akan diberikan jika Anda menikah," kata Kyle. 

Nicko tersentak dan mencoba menolak. Karena hasil tes DNA masih belum keluar. Lagipula ia merasa dirinya bukanlah seorang peminta-minta. Namun Phillip Lloyd dan asistennya memaksa.

"Ambilah, Nak. Ini tak seberapa, nomor Pin nya adalah tanggal lahirmu," kata Tuan Lloyd. 

Nicko pun mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya berpamitan. Mereka pun berjanji akan kembali bertemu seminggu kemudian di sini. 

                        ***

Dengan diikuti asistennya, Phillip Lloyd pun kembali ke ruangan tempat Emily dirawat. Saat itu mereka mendapati wajah lebam dari Jamie dan kedua anaknya termasuk Jessica. Sedangkan Emily yang sedang terbaring sakit hanya bisa menangis ketakutan. 

Jamie merangkak mendekat ke arah Tuan Lloyd dan meminta pengampunan, tapi pria paruh baya ini tak menganggap. Ia malah melirik ke arah Kyle dan berkata, 

"Hancurkan rumah tinggal mereka dan tutup semua fasilitas mereka, dan hentikan pembiayaan tagihan rumah sakitnya!"

"Baik Tuan," kata Kyle langsung menghubungi pihak Rumah Sakit.

Jamie masih bersimpuh dan memegangi kaki Tuan Lloyd agar mendapat pengampunan. Namun, anak buah Russel justru menendangnya dan membuatnya tersungkur. Tuan Lloyd sama sekali tak peduli akan nasib mereka. 

Sementara itu, 

Tanpa sengaja Nicko menoleh ke arah ATM yang berada di lobby rumah sakit. Rasa penasaran akan kartu ATM dari Tuan Lloyd menuntunnya ke sana. Saat itulah sesuatu yang mengejutkan muncul,  saldo dalam ATM nya berjumlah tiga puluh milyar dollar. 

"Apakah ini nyata?"

Note : Hai,  terima kasih sudah mengunjungi ceritaku. Cerita inin uga tersedia dalam bahasa Inggris,  judulnya The Pride (Tentang Harga Diri),  mohon dukungannya ya.  Jangan lupa follow ig ku @rindu.rinjani86

Komen (12)
goodnovel comment avatar
James88
cerita nya hampir sama semua..jadi bosan baca nya..
goodnovel comment avatar
Nabila Salsabilla Najwa
Bagus juga ceritanya
goodnovel comment avatar
Hafidz Nursalam04
wak wak wk2l
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status