Melawan Monster Singa

Barata berusaha untuk tetap tenang, mengamati pergerakan dari makhluk di hadapannya ini. Dia sama sekali tidak bisa memprediksi apa yang akan dilakukan oleh makhluk itu.Ketika makhluk itu memamerkan kekuatannya, tanah pun retak dan masuk ke dalam membentuk kawah kecil.

Makhluk berbentuk singa itu juga memiliki kecepatan yang mengerikan. Barata hampir saja kehilangan jejaknya. Jika saja dia tidak merasakan hawa membunuh dari makhluk itu, mungkin dia tidak akan bisa menemukannya kembali.

Barata menguatkan genggaman pada pedangnya, dan dia mengawasi perubahan yang terjadi di sekelilingnya. Hembusan angin yang kencang dan tak biasa merupakan jejak yang ditinggalkan oleh makhluk tersebut saat dia bergerak.

“Sekuat apakah makhluk ini? Tidak hanya auranya saja yang setara dengan pendekar tingkat atas, kecepatannya pun tidak kalah jauh darinya. Aneh sekali. Dan lagi, bagaimana bisa ada makhluk sekuat ini?” pikir Barata heran. Ia mengamati gerakan makhluk yang sedari tadi memutarinya. Makhluk itu terlihat sedang mengawasi dirinya.

Barata sama sekali tidak nyaman dengan situasi di hadapannya ini. Dia tidak bisa terpaku diam seperti ini. Alangkah mudahnya jika tenaga dalamnya masih ada. Pikir Barata.

Bagaimanapun, tanpa tenaga dalam, dia hanyalah manusia biasa, sama seperti manusia pada umumnya. Menghadapi lawan dengan kekuatan yang setara dengan pendekar tingkat atas hanyalah tindakan bunuh diri.

Sayangnya, Barata tak berpikir seperti itu. Dia tidak terlalu peduli akan hidup dan matinya. Dia hanya penasaran pada awalnya, tetapi saat melihat kekuatan makhluk ini, Barata yakin jika membiarkannya keluar dari lembah akan membawa petaka yang luar biasa mengerikan bagi seluruh penduduk Nusantara.

Entah berapa banyak korban jiwa jika makhluk ini lepas dari hadapannya. Pastinya akan lebih dari puluhan ribu orang yang tewas.

Kecepatan makhluk itu bertumpu pada keempat kakinya. Dengan tubuh yang begitu besar dan kokoh, dia sangat gesit. Barata terkejut akan kecepatan makhluk itu. Pergerakannya semakin kencang dan terarah. Makhluk itu tidak secara acak berlari atau memutari Barata, tetapi dia mencari celah untuk melancarkan sebuah serangan.

Geramannya terdengar begitu dekat dan menakutkan. Barata berusaha sebisa mungkin untuk tetap tenang dan mengawasi pergerakan makhluk itu. Barata merasakan tekanan yang terarah padanya semakin besar. Sekali saja dia kehilangan fokus, dia akan menerima serangan mematikan.

Barata tidak berani memalingkan wajahnya ataupun mengurangi konsentrasi serta kewaspadaannya saat makhluk itu terus memutarinya. Mahkluk berbentuk singa itu berhenti berputar, dan kini ia tepat berada di belakang Barata.

Merasakan nafas dari makhluk di belakangnya, tubuh Barata mulai gemetar. Dia tahu bukan hal baik untuk membelakangi binatang buas. Dia segera melompat ke samping sembari mengayunkan pedangnya.

Pria itu mengayunkan pedangnya sekuat tenaga. Momentumnya sedikit menghilang saat dia melompat, dan serangannya itu tak memiliki dampak berarti. Hanya menggoresnya saja tanpa melukainya.

Apalagi, saat dia melompat serta menghindar. Makhluk itu menyerang balik dengan sebuah cakaran. Barata terhempas hingga tubuhnya menabrak sebuah pohon.

“Argh!!!” Punggungnya menghantam batang pohon, meninggalkan bekas yang cukup dalam. Barata menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya. Pandangan matanya juga sedikit goyah.

Bagaimanapun, kehilangan tenaga dalam cukup memengaruhi dirinya. Dia tidak lagi bisa bertarung seperti saat dia masih memiliki kekuatan. Barata hanya bisa mengandalkan teknik saja untuk selamat dari pertarungan ini.

Meski hanya samar, dia merasakan serangan yang dilepaskan oleh makhluk itu mengandung tenaga dalam. Sangat mirip dengan miliknya dan juga para pendekar lainnya.

Ia bangkit, menatap tajam ke arah makhluk berbentuk singa itu seraya berkata, “Kekuatan ini bukan milik makhluk biasa. Pantas rasanya jika aku menyebutnya monster singa. Apa yang sebenarnya terjadi dengan dunia ini? Mengapa ada makhluk semengerikan ini? Bertarung dengannya hanya akan membuatku terluka dan mati.”

Ada keinginan Barata untuk lari dari tempat itu karena ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi monster ini. Dia tidak menemukan kelemahan di monster itu, baik gerakan, kecepatan, dan kekuatan. Barata harus bertahan sekuat tenaga dari serangan monster itu.

Ia terus menghindari serangan makhluk itu. Tak ada kekuatan yang tersisa di dalam diri Barata untuk menahan serangan monster itu. Sekali lagi, Barata berusaha menahan monster itu, tapi ia langsung dihempaskan lagi dan seluruh tubuhnya serasa seperti dihancurkan. Dia berusaha untuk tetap tenang, dan mengamati monster itu.

“Huft ... Huft ... Hanya mengandalkan kekuatan murni tidak akan membuatku selamat dari pertarungan ini. Seandainya ini hari terakhirku, aku ingin membuatnya menjadi lebih berarti!" Barata melesat maju, mengayunkan pedangnya berkali-kali, mengincar kepala monster itu.

Setiap serangannya ditepis oleh monster itu melalui tanduknya. Benturan yang terjadi antara pedangnya serta tanduk itu membuat tubuhnya bergetar dan dia hampir kehilangan keseimbangan.

Meski goyah, Barata tetap mengayunkan pedangnya sekuat tenaga dari atas ke bawah. Dia mengombinasikan beberapa gerakan dalam satu waktu.

Meskipun dia tahu serangannya tak terlalu memberikan dampak yang besar dan hanya membuatnya semakin marah, Barata tetap menyerang makhluk itu.

Geraman dan nafasnya semakin cepat. Kini monster itu menatap Barata dengan marah, dan dia bergerak dengan sangat cepat saat menyerang Barata.

“Kecepatannya meningkat, sial!!” Barata tak bisa menghindar dari serangan yang datang. Tandukan dari monster singa itu menghantam tubuhnya.

Beruntungnya dia masih bisa menahan tandukan itu dengan bilah pedangnya. Namun, dampak dari kekuatan yang dimiliki monster itu sangatlah besar, dan Barata kembali terpukul mundur. Kali ini, dia memuntahkan darah.

“Ugh!!! Apa-apaan kekuatan ini,” ucapnya lirih, Barata mengumpulkan tenaganya kembali. Dia berusaha untuk berdiri kembali, tetapi tubuhnya tak menuruti keinginannya.

Kehilangan tenaga dalam dan dampak dari tak sadarkan diri beberapa waktu lalu mulai terasa. Dia benar-benar tidak bisa menghadapi monster di depannya ini.

Matanya menatap rumit ke arah monster tersebut. Dia terlalu meremehkan makhluk itu dan melebih-lebihkan dirinya. Namun, Barata tak menyesali sikapnya ini, hanya saja dia merasa bodoh karena tidak memikirkan adanya kemungkinan ini.

Kematian bukan hal yang buruk, kekalahan karena kebodohan dan kecerobohan itu jauh lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri. Barata tak menginginkan hal ini terjadi pada dirinya. Sayangnya pada pertarungan ini, dia melakukannya.

“Argh!!! Sepertinya kekuatanku benar-benar menghilang. Karena sudah berada di sini, aku harus mengakhiri pertarungan ini!!”

Mata Barata penuh tekad. Dia menguatkan kepalan tangannya. Dengan tarikan nafas yang dalam hingga tulang-tulangnya terasa diregangkan, dia melesat bagaikan anak panah menggunakan seluruh kekuatan yang tersisa di dalam dirinya. Dia mulai bergerak maju menyerang monster singa itu lagi.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status