Mempelajari Pusaka Kalimedeni

Barata membuka matanya, persepsinya mulai berbeda, dan penglihatannya menjadi lebih baik. Dia tidak melihat pemandangan di sekitarnya ini seperti sebelumnya, dan berubah menjadi lebih baik seperti saat ini.

Tidak lama kemudian, rasa sakit yang sebelumnya menderu-deru dan ia rasakan perlahan memudar, dan dia merasa jauh lebih baik dari beberapa waktu lalu.

Barata melihat belati yang ia letakkan dekat dadanya. Saat dia mengingat kembali percakapannya dengan roh yang ada di dalam belati itu, dia menghela nafas.

“Wanita itu sangat mengerikan. Aura yang dia keluarkan saja sudah setara dengan pendekar ahli. Tidak, dia sendiri terlihat seperti dibatasi. Mungkin saja kekuatannya setara atau lebih dari pendekar dewa. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Barata menggenggam kuat-kuat belati di tangannya. Ia bingung harus berbuat apa. Bagaimanapun juga, dia tidak memiliki kekuatan kecuali belati yang ada di tangannya.

Apalagi, tubuhnya juga masih menderita luka meski tak separah sebelumnya. Dengan keadaan yang begitu menyedihkan, bagaimana dia memiliki pikiran untuk keluar dari Lembah Iblis, dan lagi dia masih harus melewati monster singa itu.

Akan menjadi hal yang sulit jika dia memaksa keluar. Mau tidak mau, pikiran untuk keluar ia tepis habis-habisan. Dia memiliki keinginan untuk meninggalkan Lembah Iblis lagi, dan memilih untuk memulihkan diri sekaligus mengetahui serta menguasai Pusaka Kalimedeni ini.

Barata menenangkan dirinya dalam posisi yang sama, dan dia berada pada posisi selayaknya bertapa. Setelah dia merasakan kekuatan yang terkandung di dalam belati itu, Barata merasa bersemangat sekaligus tertarik untuk menguasainya.

Dengan ucapan makhluk yang menyebut dirinya Ratu itu, Barata sangat meyakini jika dunia telah berubah, dan masuk ke sebuah kekacauan tiada tara.

Apalagi, kalau masalah monster yang ia temui di lembah ini tidak hanya ada di sini, melainkan di seluruh dunia. Barata tidak berani berpikiran macam-macam, dia mengusir pikiran itu dan fokus dengan apa yang sedang dia lakukan.

Setelah berlama-lama dalam posisi itu, dia mulai merasakan tubuhnya perlahan membaik. Tampak vitalitasnya masih baik dan tidak banyak berubah.

Barata menggenggam belati itu. Dia merasakan aliran energi yang berasal dari belati itu. Pria itu mencoba untuk membiasakan diri dengan energi tersebut. Semakin ia terbiasa dengannya, ia mulai merasakan energi itu bertambah kuat. Energi itu mengalir menuju ke tubuhnya lantas menyelimutinya.

Barata menutup matanya. Dia ingin menikmati perasaan yang sudah lama menghilang. Dia merasakan kekuatan itu mulai berpihak padanya, dan perlahan menyatu dengan dirinya.

Barata sama sekali tidak ragu untuk membuat energi itu berkumpul di tubuhnya. Ia mencoba memusatkan energi itu tepat di perutnya seperti saat dia berlatih mengendalikan tenaga dalam saat masih menjadi seorang pendekar dulu.

Tak lama kemudian, terjadi sebuah ledakan energi pada tubuhnya. Riak-riak energi itu terasa di sekitar tubuhnya. Barata membuka matanya kembali, lalu mengayunkan belatinya secara horizontal, dan vertikal secara berurutan.

Ketika Barata melihat gerakannya tampak seperti empat gerakan, ia pun terkejut. Bagaimana dia tidak terkejut di saat dia hanya mengayunkan belati itu dua kali, tapi terlihat seperti empat ayunan dengan dua ayunan lainnya tampak seperti ilusi dengan arah yang berlawanan.

“Huft ... kejutan. Ini benar-benar jauh dari perkiraan. Kekuatan yang ada pada belati ini sama seperti dengan apa yang aku rasakan dan aku temui di bangunan itu. Kekuatan ini berasal dari Pilar Ilahi ataukah Ratu? Semua ini nyata. Aku harus membiasakan tubuhku dengan kekuatan baru ini. Belati ini akan membantuku mengetahui apa yang tengah melanda dunia ini,” ucap Barata.

Dia berkali-kali mengayunkan belatinya. Saat ia melihat dampak dari gerakannya itu, dia hanya menghela nafas. Barata tidak lagi terkejut, malahan dia merasa aneh dengan semua ini.

Setelah melakukan beberapa gerakan tadi, dia merasa tubuhnya mulai membaik. Selama beberapa waktu, dia terus mengedarkan energi yang ada di dalam belati itu, membuat energi itu keluar dari belati dan menyerapnya.

Meski tak sepenuhnya mengerti mengapa dia bisa menyerap energi itu, Barata hanya terus melakukannya tanpa henti. Saat terjadi penyerapan energi, rasa sakit tak henti-henti melanda tubuhnya. Dia benar-benar lemas. Meskipun begitu, dia benar-benar puas dengan temuan ini. Ia merasa yakin jika ia bisa menghabisi monster singa itu setelah merasakan perubahan di tubuhnya.

“Ini hanya gerakan sederhana tapi menimbulkan efek ilusi juga, yang berarti belati ini masih menyimpan kekuatan lainnya. Aku harus memahami Pusaka ini dengan baik. Jika tidak, semua itu akan sia-sia. Kekuatan yang terkandung di dalam pusaka ini besar, mungkin aku bisa mengetahuinya jika aku bisa berkomunikasi lagi dengan makhluk itu,” gumam Barata. Dia sama sekali tidak ragu untuk melatih kemampuan ini. Selain itu, ia juga tidak memiliki pilihan lain.

Dia ingin meninggalkan Lembah Iblis untuk mengetahui apa yang tengah terjadi di dunia. Namun, dia harus melewati monster singa yang tentunya tidak mudah untuk dilakukan.

Setelah semua yang Barata lalui, ia yakin jika dia memiliki sesuatu yang harus dia lakukan sebelum dia mati. Barata mulai menyusun rencana yang akan dia lakukan setelah ia berhasil menguasai Pusaka Kalimedeni secara sempurna.

Beberapa hari berlalu, Barata tidak lagi seperti sebelumnya. Wajahnya lebih berwarna, dan luka-luka di tubuhnya sudah membaik. Auranya sekarang memancarkan energi yang sama dengan yang ada pada Pusaka Kalimedeni itu.

Barata memejamkan matanya, dan mengingat kembali pertemuannya dengan makhluk yang memanggil dirinya Ratu. Pada saat itu, dia mengetahui nama makhluk tersebut. Nama pusaka itu sama seperti dengan nama sang Ratu. Dia dipanggil dengan sebutan Ratu Kalimedeni.

“Pusaka ini bisa membuat ilusi dengan cakupan jarak yang berbeda-beda. Semua tergantung dengan energi yang aku serap darinya. Semakin besar energi yang aku kendalikan, semakin luas cakupan ilusinya. Saat ini, aku bisa digolongkan kembali sebagai Pendekar Menengah. Cakupan jarak yang bisa aku jangkau hanya beberapa puluh meter saja. Namun, ini sudah sangat baik,” ucapnya saat berlatih menggunakan Pusaka Kalimedeni.

Menurut ucapan Sang Ratu, Barata harus membiasakan diri dengan energi yang ada di dalam pusaka untuk menggunakan kekuatan yang ada di dalam pusaka tersebut. Kemampuan tertinggi yang ada di pusaka tersebut bernama Hukuman Ilahi, sebuah teknik yang membuat ilusi dari alam bawah sadar setiap makhluk yang menjadi lawannya.

Kemampuan ini membutuhkan pengendalian energi yang besar, dan akan sangat menguras tenaga. Barata sendiri belum mampu menggunakannya, dan dia hanya bisa menggunakan sebuah teknik ilusi dasar saja.

Setelah Barata berpikir kembali, jika saja ia bertarung, ia masih akan menghadapi lawan dengan kedua tangannya sendiri. Jadi, dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri sambil didorong oleh pusaka ini. Maka, dia pun mulai berlatih kembali. Saat dia berlatih, sesekali dia menggunakan ayunan belati yang mengandung ilusi tertentu yang bisa mengelabui musuhnya.

“Aku rasa ini sudah waktunya untuk mengurus Monster Singa itu. Setelah beberapa hari membiasakan diri dengan energi ini, aku merasa semakin baik dan bertambah kuat. Sekarang, melawan monster itu tidak akan terlalu menakutkan seperti waktu itu. Paling tidak, aku memiliki kesempatan untuk melukainya.”

Barata membuat sebuah gerakan mematikan. Dia menggabungkan tebasan dengan putaran tubuh. Dia membentuk sebuah ilusi seakan-akan dirinya bergerak layaknya sebuah gasing. Setelah mempraktikkannya, dia bergegas menuju ke tempat monster itu. Dia ingin tahu, apa yang akan terjadi pada monster itu jika ia melawannya dengan bantuan Pusaka Kalimedeni.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status