Hoffen
Hoffen
Author: Errenchan
Awal Dari Permasalahan

“Editor Vanda, kepala editor mencarimu,” ucap Cris yang baru saja keluar dari ruangan kepala editor. 

Vanda hanya menganggukkan kepalanya dengan senyuman tipis. Dia meletakan tas di meja, lalu kembali berjalan menuju ruang kepala editor. 

Tok … Tok … Tok …

“Masuk!” 

Vanda meraih engsel pintu dan membukanya dengan perlahan. Dia tersenyum pada Revalina, kepala editor yang memanggilnya, lalu berjalan mendekati wanita itu.

“Bu Reva mencari saya?” tanya Vanda hanya untuk sekedar basa-basi. 

Revalina menganggukkan kepalanya.

“Silahkan duduk.”

Vanda langsung duduk di hadapan Revalina. Dia sebenarnya tahu apa yang akan dibicarakan oleh kepala editornya. 

Revalina meletakan amplop coklat di meja, lalu mendorongnya ke Vanda. “Ini adalah royalti Trisha dari penerbit, dan itu menjadi royalti terakhirnya karena penerbit tidak akan mencetak buku komik Trisha lagi.” 

Vanda yang mendengar ucapan itu langsung melihat ke Revalina dengan tatapan bingung. 

“Kenapa? Bukannya penjualan komik Trisha satu tahun ini sangat sukses? Kenapa penerbit tidak mencetak buku Trisha lagi?” tanya Vanda yang masih belum mengerti maksud kepala editor. 

“Karena penerbit akan mencetak buku dari studio lain, dan kau tau? Buku itu baru setengah tahun ada di platform, tapi statistik pembacanya meningkat pesat. Bahkan mengalahkan komik yang Trisha buat sekarang,” jelas Revalina. 

Vanda mendengus pelan dengan tersenyum paksa pada Revalina. “Tapi komik Trisha itu mendapat peringkat tertinggi di studio ini, dan di platform pun dia mendapatkan peringkat sepuluh,” ujar Vanda dengan pembelaannya. 

Revalina menghela nafas panjang. Dia memberikan iPad untuk menunjukkan peringkat komik hari ini. Vanda membelalakkan matanya lebar ketika melihat komik Trisha berada di peringkat lima puluh. 

Wanita itu memang belum memeriksa peringkat komik Trisha hari ini, tapi tadi malam dia sudah memeriksanya. Komik Trisha masih berada di peringkat delapan, tapi kenapa hari ini peringkatnya turun drastis? 

“Peringkat 1 sampai 49 itu adalah genre romansa anak muda. Coba kamu baca komentar pembaca yang ada di komik ini.” 

Vanda mengambil iPad yang ada di tangan Revalina. Dia mulai membaca satu per satu komentar-komentar yang ada di komik milik Trisha. 

‘Alur ini kenapa semakin aneh?’

‘Kenapa alur ini berubah drastis?’

‘Kenapa adegan romantis ini terlihat sangat aneh?’

‘Apa cara menyatakan cinta seperti itu? Sangat aneh!’

Begitulah komentar-komentar yang ada di komik milik Trisha. Wanita itu menghela nafas panjang dan memberikan kembali iPad itu pada Revalina.

“Gambar Trisha memang sangat bagus, tapi kenapa cerita cintanya sangat buruk? Dia sudah menerbitkan beberapa komik selama satu tahun, tapi kenapa cuma buku yang berhasil masuk ke penerbit?"

Vanda menggigit bibir bawahnya, kemudian mencoba memberikan pembelaan untuk sahabatnya, “Dia pernah masuk ke promosi platform yang sulit didapatkan.”

Revalina tertawa kecil. “Itu karena gambar dia bagus, tapi setelah pembaca baca komik itu, apakah ada penggemar setia? Tidak ada kan?”

Vanda menghela nafas panjang dengan bibir bergerak membentuk senyuman. Dia tidak bisa lagi memikirkan pembelaan untuk Trisha. 

“Apa sesulit itu menggambar kisah cinta remaja?” tanya Revalina

Vanda menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil menyengir. “Mungkin … bagi Trisha, memang agak sulit untuk membuat kisah cinta. Bagaimanapun, karya awalnya memang mengarah ke action, dan thriller.”

Revalina tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. “Saya tidak peduli! Suruh dia membuat komik baru. Kalau dari komik ini dia tidak berhasil mendapat prestasi …” ucap Revalina memainkan rambutnya sambil tersenyum miring. “Suruh dia pergi.” Wanita itu melanjutkan perkataannya.

Vanda tertegun menatap mimik wajah kepala editor yang nampak sinis. Dia hanya bisa menghela nafas panjang dengan tersenyum paksa. 

“Baik, akan saya sampaikan pada Trisha. Apakah ada yang perlu disampaikan lagi?" tanya Vanda seraya mengambil amplop coklat itu seraya berdiri dari duduknya. 

“Tidak ada."

“Baik, kalau begitu saya permisi dulu,” ucap Vanda tersenyum dan sedikit membungkukkan tubuhnya sekilas, lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kepala editor.

***

Wanita gemuk itu meregangkan otot setelah menyelesaikan satu chapter komiknya. Dia beranjak dari tempat duduknya sambil mengambil gelas yang ada di dalam laci. 

“Udah selesai, Sha?” tanya Jei, rekan kerja yang duduk di hadapannya.

Wanita yang dipanggil Sha memiliki nama lengkap Trisha Azana, usianya masih dua puluh dua tahun. Mempunyai tubuh gemuk dan pipi tembam yang sering dicubiti oleh orang sekitarnya. 

Trisha melihatnya sekilas seraya mengangguk. “Udah, barusan. Lo belum selesai?”  

“Belum, kurang dikit. Lo mau bikin kopi?"

“Iya, ngantuk banget hari ini.”

“Mau gue bikinin?” tawar Jei yang langsung dijawab dengan gelengan oleh wanita berusia dua puluh dua tahun itu.

“Enggak perlu, gue bisa sendiri. Gue ke pantry dulu ya,” ucapnya seraya melangkahkan kaki meninggalkan meja kerjanya. 

Saat Trisha sudah pergi, Vanda yang baru saja keluar dari ruang kepala editor langsung ke meja Trisha. Namun, ia tak mendapati wanita itu. 

“Jei, Trisha pergi ke mana?”

“Pantry, Kak. Dia lagi buat kopi,” jawab Jei dengan menunjuk Trisha yang tengah mengobrol dengan temannya di pantry.

 

“Thanks.” Vanda langsung berjalan ke pantry menyusul Trisha. Dia berdehem pelan dan membuat mereka seketika bungkam. 

Vanda ini adalah sahabat Trisha, dia juga menjadi editornya sekarang. Usianya lebih dua tahun dari Trisha. Umurnya sekarang dua puluh empat. Dia wanita yang tegas dan ditakuti oleh beberapa staff dan mangaka di perusahaan ini. 

“Ini masih jam kerja, kenapa malah ngobrol di pantry?”

“Maaf, Editor Vanda,” ucap Merry sedikit menundukkan kepalanya. 

Trisha yang melihat Merry sedikit ketakutan langsung melihat ke Vanda dengan menggelengkan kepalanya, seakan memberikan kode agar dia tidak marah pada Merry. Editor itu hanya mendengus sambil memutar bola matanya malas. 

“Lain kali jangan diulangi. Kembali ke meja kerjamu. Dan kamu Trisha, ikut saya,” ucap Vanda seraya berjalan lebih dulu meninggalkan pantry. 

Meskipun Vanda dan Trisha berteman dekat, mereka tetap profesional saat bekerja. Vanda tetap menjadi editor yang galak, dan Trisha harus menahan diri agar tidak terlalu banyak bicara dengan Vanda saat berada di kantor.

“Maaf, ya. Gara-gara gue lo bakal kena marah sama editor,” ucap Merry yang merasa bersalah. 

Trisha hanya tersenyum menggeleng. “Lo nggak salah, kok. Bukannya Van— eh, Editor Vanda memang seperti itu?” 

Merry hanya mengangguk membenarkan perkataannya. “Gue lanjut kerja dulu,” ucap Merry seraya berjalan meninggalkan pantry. 

Trisha hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan-gelengkan kepalanya. “Kenapa banyak yang takut sama Vanda? Padahal dia nggak galak-galak banget. Kadang galak sih,” gumam Trisha pelan seraya berjalan ke meja kerja sahabatnya. 

Trisha langsung duduk di hadapan Vanda sembari tersenyum. “Jangan marah-marah gitu, dong. Lo udah bikin Merry takut.”

Vanda menghela napas panjang dengan menarik bibirnya membentuk senyuman paksa. “Gue cuma melaksanakan pekerjaan, Trisha!” 

Trisha terkekeh pelan. “Iya, deh, iya. Sekarang … lo kenapa cari gue?” 

Vanda langsung memberikan sebuah amplop coklat, dan itu membuat Trisha membuka matanya lebar dengan senyuman yang memperlihatkan gigi. 

“Dari penerbit?” tanyanya memastikan. 

“Iya, dari siapa lagi?” 

Trisha langsung memeluk amplop itu dengan ekspresi bahagia. Karena kebetulan dia sangat memerlukan uang untuk membayar uang sewa. 

“Itu … royalti terakhir dari penerbit," ucap sang editor.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status