Share

Betelgeuse
Betelgeuse
Author: Tuti Haryati

1. Kejadian Misterius di Trollehallar

Suhu di kota Gothenburg mencapai tujuh derajat celcius di awal tahun. Namun meskipun begitu, keadaan langit pada siang hari tampak begitu cerah seperti biasa, berikut dengan aktivitas masyarakatnya.

Salah satu sekolah menengah atas terbesar di kota itu tampak ramai begitu bel jam terakhir dibunyikan. Semilir angin perlahan datang seolah menyambut para murid begitu mereka menginjakkan  kaki di permukaan halaman sekolah.

“Kau sudah cukup banyak mengambil gambar kemarin. Apa hari ini kau mau pergi lagi?” Seorang gadis berambut ikal merangkul rekannya yang tengah mengelapi sebuah kamera.

“Hm.”

“Isla, Isla. Kau masih saja belum kapok setelah kemarin hampir dikejar babi hutan?” Teresa menarik pipi sahabatnya.

“Itu kan kemarin. Aku tidak boleh menyerah, lagi pula ibuku tidak akan marah.” Gadis bernama Isla itu mengedipkan salah satu matanya.

“Ibumu tak marah karena kau beralasan mengerjakan tugas. Iya, kan?”

Sebuah cengiran tercetak di bibir Isla. Ia mengalungkaan kameranya ke leher.

“Kali ini kau mau pergi ke mana lagi?”

Isla menarik kedua sudut bibirnya ke atas hingga membentuk sebuah seringaian tipis. “Trollehallar,” ujarnya.

Hening selama beberapa saat, sebelum akhirnya kedua mata milik Teresa membulat. “K-kau gila?!” Ia lantas memukul lengan Isla hingga gadis itu mengaduh pelan.

“Kenapa malah memukulku? Kau takut aku benar-benar dikejar babi hutan, huh?”

“Bukan itu. Apa kau tidak tahu? Kudengar beberapa hari terakhir, di sana ada peristiwa aneh –“

“Kau terlalu sering menonton Narnia, kurasa. Hal aneh seperti apa?”

“Aku tidak tahu, tapi firasatku tidak enak jadi kau jangan ke sana. Hm? Lagi pula tempat itu cukup jauh dan ini sudah sore. Kenapa tidak lusa saja? Bukannya lusa libur?” Teresa memeluk lengan Isla kian erat, seolah tak mengizinkannya bergerak satu senti pun.

“Ah, aku pasti tidak bisa tidur jika menundanya terus.”

“Ayolah, lusa nanti kau bisa memotret di sana sepuasnya.”

Isla melirik Teresa yang tampak memohon. Ia menghela napas pelan. “Baiklah.” Ia lalu mengacak pelan rambut Teresa. Keduanya lantas pergi menuju sebuah halte yang terletak di dekat sekolah.

***

“Salah satu bintang paling terang akan mengalami supernova lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Ukurannya semakin bertambah seiring berjalannya waktu, bersamaan dengan cahayanya yang semakin memudar. Para ahli menduga kalau hal ini dikibatkan menipisnya kadar hidrogen, dan membuat bintang ini menjadi bintang raksasa merah yang ukurannya jauh melampaui matahari.”

“Ibu selalu saja menonton berita. Sesekali tonton drama, itu lebih menyenangkan. Apa kepala ibu tidak sakit karena sering menonton hal seperti ini?” Isla menghempaskan tubuhnya ke permukaan empuk sofa dan meminum gelas jus milik sang ibu.

“Bintang ini akan menjadi suatu saat nanti, kapanpun berdasarkan skala waktu astronomi yang berarti dalam seratus ribu tahun lagi,” ungkap seorang pria berkacamata yang ada di televisi.

“Seratus ribu tahun? Lucu sekali, bahkan sebelum bintang itu meledak, aku sudah berada di alam lain.” Isla beranjak dari posisinya dan berjalan menuju kamar dengan tas diseret di atas permukaan lantai. Kedua telinganya masih aktif mendengarkan ucapan pria berkacamata tadi, sesekali dibalas cibiran olehnya.

Gadis itu lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan melihat hasil bidikannya kemarin. Ia tersenyum puas memandangi hasilnya. Bakat memotretnya memang tidak boleh ia sia-siakan. Kemudian ia kembali mendudukkan tubuhnya dan menatap ke sekitar, mencari sesuatu yang menarik untuk dijadikan model fotonya kali ini.

“Ah, itu dia!” Isla tersenyum dan mengarahkan kameranya ke luar jendela kamar, tepatnya ke arah seekor burung yang hinggap di salah satu dahan pohon.

“Oke, tetaplah berada di sana. Satu, dua, ti –“ Hitungan Isla terhenti dan kedua tangannya bergerak menurunkan kamera yang ia pegang. Ia menatap sebuah garis kemerahan yang terbentuk di langit secara tiba-tiba. Kedua kakinya lalu bergerak mendekat ke jendela, membuat burung tadi terbang melarikan diri.

“Apa itu?” gumamnya. Garis berwarna merah itu menghilang begitu saja.

***

Burung-burung berhamburan menjauhi pohon saat ada sesuatu yang melesat dengan cepat menuju hutan. Beberapa pasang kaki terlihat menapak di atas permukaan tanah, sementara kedua mata sang pemilik menelusuri keadaan di sekitar.

“Aku yakin tadi melihatnya ke sini.” Salah satu di antaranya berujar. Sebuah lambang burung phoenix yang terdapat di punggung tangannya mengkilap, lalu dalam sekejap permukaan rumput di depannya mengeluarkan kobaran api.

“Dia tidak akan bisa ke mana-mana.” Ia menyeringai.

Seorang lelaki yang berada di sebelahnya lalu maju selangkah, dan dalam waktu kurang dari satu detik ia sudah berada di salah satu dahan pohon. Ia menyipitkan kedua matanya, lalu kembali ke tempat semula hanya dalam kedipan mata. “Dia tidak di sini.” Sebuah tanda segitiga di punggung tangannya mengkilap, persis seperti milik rekannya tadi.

“Ayo cari ke tempat lain.”

Tidak jauh dari kobaran api itu, seekor anak anjing tampak menatap kepergian orang-orang tadi dari balik sebuah pohon besar.

***

Isla melahap roti isinya dengan lahap hingga kedua pipinya tampak seperti tempat penyimpanan makanan. Sang ibu yang baru saja selesai mencuci peralatan memasaknya pun mengelap tangannya dan berjalan menuju meja makan.

“Setelah pulang sekolah, kau harus pulang ke rumah dan jangan pergi ke mana pun.” Maria berujar dengan nada tak biasa, membuat Isla menelan makanannya dengan paksa.

“Te-Tentu saja. Memangnya Ibu pikir aku ini mau ke mana?”

“Ibu tahu kalau kau hari ini berencana pergi ke Trollehallar.”

Isla menurunkan roti isi miliknya dan menatap ibunya dengan kedua mata membulat. “Apa Teresa mengatakan sesuatu?”

“Ibu tidak sengaja melihat buku jurnalmu kemarin saat membereskan kamarmu. Jika kau memang berniat pergi ke sana, Ibu tidak mengizinkannya.”

“A-apa? Tapi kenapa?”

“Kemarin sore Trollehallar kebakaran.”

Kedua alis Isla saling bertaut. “Hah?”

“Ibu menonton berita pagi ini dan mereka mengatakan kalau Trollehallar kebakaran kemarin. Polisi setempat dan pemadam kebakaran ke sana tapi mereka berkata kalau api sudah padam begitu mereka sampai.”

“Mungkin itu karena angin. Mana bisa apinya padam sendiri? Kemarin tidak ada perkiraan hujan, kan?” Isla kembali mengunyah roti isinya.

“Bodoh. Jika itu angin, apinya justru akan membesar, bukannya malah padam. Tapi aneh sekali karena mereka bilang keadaan tanah di sana basah, itu artinya air yang memadamkan apinya.” Maria mengerutkan dahi, mengingat-ingat setiap kalimat yang diucapkan oleh seorang reporter yang muncul di berita pagi tadi.

“Kemarin tidak hujan, Bu. Apa Ibu bercanda? Apa air-air di sungai itu pindah dengan sendirinya dan memadamkan api? Lucu sekali.”

Maria membuang napas dan menatap kembali putrinya. “Pokoknya Ibu tidak mengizinkanmu ke sana.” Setelah meletakkan kotak makan siang di tas milik Isla, Maria berjalan membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa buah.

Tak ada satu pun kalimat yang keluar dari bibir Isla setelahnya. Gadis itu mengunyah makanannya dengan nafsu makan yang sudah menghilang. Ia pun meminum habis segelas susu di depannya dan beranjak dari kursi, lalu mencium salah satu pipi ibunya dan meninggalkan gigitan terakhir roti isi tadi di atas piring.

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Kikiw
Isla, jangan keras kepala ya!
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status