Mandul
Mandul
Author: Permaisuri
Bab 1. Izin Menikah Lagi.

"Apa Mas?" tanya Riri dengan tubuh yang gemetar.

"Iya Ri. Aku meminta izin untuk menikah lagi. Apa kau memberiku izin?" tanya Ayus tanpa rasa bersalah karena telah melukai hati Riri.

"Beri aku alasan yang jelas. Kenapa Mas ingin menikah lagi?" tanya Riri dengan hati yang hancur. Berbagai pertanyaan kini membelenggu pikirannya.

"Karena kamu mandul."

Deg. Hancur sudah hati Riri berkeping-keping. Hanya karena keturunan saja, suaminya meminta izin padanya untuk menikah lagi. Padahal mereka menikah 4 tahun yang lalu. Bukankah masih da sedikit waktu lagi?

"Apa Mas yakin jika wanita baru dalam hidup Mas itu tidak mandul?" tanya Riri dengan dada yang sesak.

"Wanita itu masih sangat muda, Ri. Aku yakin dia masih subur-suburnya. Izinin mas nikah lagi ya? Nanti kan anak itu juga bisa jadi anakmu juga, Sayang," ucap Ayus dengan nada yang lembut.

Riri menatap lelakinya itu dalam-dalam. Dua pasang mata berbinar itu membuat hati Riri semakin sakit. Mengapa harus menikah lagi?

"Apa Mas akan menceraikan aku?" Riri kembali menanyakan hal penting itu. Jika dirinya diceraikan, kemana lagi ia akan pulang? Kedua orang tua kandungnya telah tiada. Hanya tersisa ibu tiri yang antagonis. Jika dia kembali ke rumah itu, yang ada hanya bullian dan makian untuknya. Seakan dirinya itu hanyalah seonggok sampah tak berguna.

"Tentu tidak! Aku mencintaimu, Ri. Hanya saja kamu tau kan bagaimana ibu aku? Dia kepengen cucu. Jika akuenikah lagi, dia tidak akan menyuruh kita untuk bercerai," sahut Ayus dengan sebuah senyum yang mengembang dibibirnya.

Ragu, Riri meragu akan pilihan yang harus ia hadapi. Dua pilihan itu sama-sama memberikan neraka untuknya. Tidak akan ada kebahagiaan untuknya. Entah setelah dia bercerai, atau entah ketika dia memberikan izin kepada suaminya untuk menikah lagi.

"Ri, kamu tahu kan anak adalah hal penting. Jika ibu tau aku punya anak dia tidak akan mengganggumu dan mengataimu lagi. Percayalah, kita bertiga akan hidup dengan tenang dan bahagia," ucap Ayus dengan yakin.

"Wanita itu seperti apa?" Riri menghapus air matanya.

"Dia sekretarisku, Nisa. Kau ingatkan gadis itu? Dia masih sangat muda. Dan dia juga menerimamu sebagai kakaknya. Kalian berdua pasti akan hidup rukun."

Sakit. Sejak kapan keduanya memiliki hubungan? Berapa lama? Hingga membuat Ayus yakin jika Riri akan menerima pernikahan mereka.

"Sudah berapa lama hubungan kalian? Kenapa bisa seyakin itu untuk secepatnya menikah?"

"Sudah setahun yang lalu, Sayang. Saat aku lelah kamu tak kunjung hamil juga. Aku menceritakan semua kehidupan rumah tangga kita. Setelah itu dia menyatakan perasaannya padaku," jawab Ayus dengan mantap. Lelaki itu begitu bodoh karena kejujurannya ibarat pisau yang tengah menyayat hati Riri. Dengan tangan terkepal Riri mencoba menahan tangisnya.

"Apa gadis itu menerimamu apa adanya?"

"Tentu! Nisa sungguh gadis yang baik, Riri. Sifatnya hampir sepertimu. Aku menyukainya karena dia mirip denganmu juga," tutur Ayus dengan rona bahagia. Padahal kebahagiaannya adalah luka untuk Riri.

"Bawa gadis itu untuk menemuiku. Aku ingin berbicara empat mata dengannya. Besok aku free mas. Bawa dia padaku," kata Riri dengan menahan sesak didadanya.

"Tentu saja Sayang! Aku akan membawa dia kemari. Apakah itu artinya kau memberikan izin untukku menikah lagi?"

"Besok aku beri jawabannya, Mas. Aku lelah. Bisakah aku tidur sekarang?" Seulas senyum diterbitkan oleh bibir Riri. Sebagai perwujudan dirinya baik-baik saja. Meskipun dibaliknya, dia merasa hancur berkeping-keping.

"Baiklah. Istirahatlah, Sayang. Aku pergi dulu. Nisa mengajakku makan malam," kata Ayus sembari memberikan kecupan lembut dikening Riri. "Aku mencintaimu!" serunya sebelum akhirnya lelaki itu menghilang dari balik pintu kamar yang telah ditutup.

"Tidak mas. Kamu sudah tak mencintaiku lagi. Hubungan kalian berjalan setahun? Apakah kalian telah berzina juga?" Riri memegang dadanya yang kian sesak. Air mata kini tak terbendung lagi.

"Kamu jahat mas! Kamu jahat! Hanya karena aku tak sempurna kau tega meninggalkan aku. Mana janjimu dulu mas? Huhuhuhu. Aku tak memiliki siapa-siapa dihidup ini selain kamu, mas. Mengapa kau malah mengkhianatiku? Kau bilang kau lelah karena aku tak kunjung hamil? Aku juga lelah! Mengapa Allah mempermainkan hidupku? Mengapa? Pasti mereka semua akan mengejekku. Hidupku yang kasihan karena orangtua yang telah meninggal. Kemudian ibu tiri yang terus menyebutku anak sial. Dan sekarang, suamiku ingin menikah lagi? Mengkhianatiku selama setahun lamanya. Tanpa dosa bahkan suamiku berpamitan untuk berkencan dengan wanita lain. Sakit, hatiku sakit. Apakah aku tidak boleh bahagia? Mengapa takdir begitu mempermainkanku? Hahahaha, setelah ini apa lagi? Istri kedua suamiku yang hamil? Begitukah? Atau aku yang akan dicerai? Hah? Jawab! Huaaaaaaa. Sakit, hatiku hancur."

********

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam." Riri berjalan tergopoh-gopoh dari dalam rumah. Saat pintu rumahnya telah terbuka, seketika senyumnya raib entah kemana. Satu orang yang begitu dikenalnya, dan satu sosok wanita yang tak asing juga untuknya, Nisa.

"Ri, mas sudah bawa Nisa. Kita bicara di dalam saja yuk?" ajakan Ayus mendapat jawaban anggukan kepala dari Riri. Wanita itu mundur beberapa langkah dan mempersilahkan dua orang tak tau diri itu memasuki rumahnya.

"Terima kasih mbak Riri sudah mau nerima aku," kata Nisa mengawali pembicaraan.

"Aku kan udah bilang. Kamu gak perlu takut. Riri akan menerimamu dengan suka cita. Iya kan Sayang?" pandangan Ayus beralih pada Riri yang masih mematung. Perih di hatinya kian hebat. Setelah beberapa saat, Riri mengulum senyuman ramah.

"Aku tak menyangka, kalian akan secepat ini mengambil keputusan untuk segera menikah," ucap Riri dengan nada yang dingin.

"Mas Ayus yang nggak sabar, mbak Riri. Dia ngajakin nikah terus. Aku tadinya juga takut jika mbak Riri akan menentang pernikahan kami. Tak kusangka mbak Riri mau menerima Nisa," kat Nisa dengan senyum lebar.

"Suamiku ingin menikah lagi. Memangnya aku bisa apa? Aku hanya wanita mandul. Ibu rumah tangga, dan hanya bisa menyusahkannya saja. Mana mungkin menolak keinginan orang yang memberiku makan."

"Riri! Apa yang kau katakan? Kita sudah membahas ini sebelumnya. Dan kau tidak keberatan dengan pernikahanku dan Nisa," kata Ayus dengan nada tinggi.

"Sebenarnya wanita mana Mas yang mau diduakan? Nggak ada, tapi berhubung aku ini cuma beban ya udah. Aku restui hubungan kalian. Tapi meskipun begitu bukankah kalian akan tetap menikah tanpa restuku juga kan?" pertanyaan Riri membuat Nisa sedikit dongkol. Namun gadis itu berusaha bersabar.

"Riri! Kamu jangan keterlaluan!" bentakan Ayus membuat Riri sakit hati.

"Keterlaluan gimana Mas? Aku kan sudah memberimu restu. Tapi aku ingin kalian menikah secara sirih dulu. Secara hukum nanti saja. Lihat apakah Nisa mencintai Mas dengan tulus atau tidak." Tatapan tajam dilayangkan Riri kearah Nisa. Membuat tangan gadis itu terkepal.

"Riri!" teriakan Ayus menggelegar memenuhi susut-sudut ruang tamu rumah itu. Lelaki itu entah sadar atau tidak, telah mendaratkan tangannya di pipi kanan milik Riri.

"Sepertinya pembicaraan ini cukup sampai disini!" timpal Riri dengan menahan perih di pipinya sekaligus di hatinya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status