Resentment, Dendam Sang Pewaris
Resentment, Dendam Sang Pewaris
Author: Rara Kim
Part 1

Di sudut ruangan yang sangat minim cahaya, tampak seorang gadis cantik tengah memegang ponselnya sambil menghadap ke luar jendela.

“Papa enggak jadi pulang, ya hari ini? Padahal Alea kangen sama Papa,” ucap seorang gadis cantik berparas ayu yang bernama Alea Bagaskara.

“Iya, hari ini Papa enggak bisa pulang. Maafin Papa, Sayang,” balas Fian di seberang sana.

Alea mendesah pelan. Padahal malam ini ia sudah memasak untuk papanya, tapi ternyata papanya tidak bisa pulang ke rumah.

“Maafin Papa ya, Sayang.” Di seberang sana Fian merasa bersalah kepada putri sulungnya karena tidak bisa pulang.

“Iya, enggak apa-apa.” Nada bicara Alea terdengar lesu.

Alea kecewa, kenapa papanya lagi-lagi berbohong kepadanya. Ia tahu papanya sudah pulang dari Bandung kemarin malam. Saat ini papanya tengah ada di rumah istri keduanya. Alea tahu karena tadi ia tidak sengaja melihat insta story milik Syaqila. Mereka dan papanya tengah makan malam di sebuah restoran bintang lima.

“Kalau gitu Alea mau dibawain apa sama Papa dari Bandung?” tanya Fian mencoba menghibur Alea yang merasa sedih karena ia tidak jadi pulang ke rumah.

“Sianida,” balas Alea.

Di seberang sana Fian mengerutkan keningnya mendengar jawaban putri sulungnya.

“Buat apa sianida, Sayang?”

“Buat dikasih ke tante Mila!” jawab Alea dengan santai, namun dari nada bicaranya ada sebuah penekanan jika ia sebal, kesal, dan marah kepada pemilik nama itu.

Fian menghembuskan napasnya kasar. “Sayang, jangan gitu ah ... Mama Mila juga Mama ka--“

“Dia bukan Mama aku! Mama aku Cuma satu, mama Jihan!” sentak Alea.

Mila bukan mamanya, melainkan perempuan yang sangat ia benci dan ingin ia habisi nyawanya karena gara-gara perempuan itu, mamanya meninggal setelah memergoki papanya dengan perempuan itu di sebuah hotel bintang lima.

Lagi-lagi Fian menghembuskan napasnya berat. Memang sangat sulit membuat Alea dan istri keduanya akur.

“Sayang--“

Pip

Tanpa mau mendengarkan perkataan papanya lagi, Alea memutuskan sambungan teleponnya sepihak.

Alea menatap sebuah foto keluarga yang terpajang rapi di dinding kamarnya. Dalam foto tersebut terdapat dirinya, mamanya, dan juga papanya yang tersenyum lebar ke arah kamera. Sungguh, potret yang membahagiakan bagi orang-orang yang melihatnya.

Tapi sedetik kemudian senyuman Alea luntur digantikan isakan kecil yang keluar dari bibir mungilnya.

“Hiks ... hiks ... Mama ... Alea kangen sama Mama hiks ... hiks ...” isak Alea yang menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.

Dulu hidup Alea sangat bahagia. Ia punya mama, punya papa, yang selalu ada untuknya dan juga memberikan kasih sayang yang berlimpah kepadanya. Semua keinginan Alea akan terpenuhi dengan cepat. Namun, itu semua sebelum papa berkhianat. Papa mempunyai wanita idaman lain yang tak lain adalah adik angkat mama.

Mila Adriana. Dia adalah adik angkat mama. Dulu, hidup Mila sangat memprihatinkan. Mila tidak memiliki apa-apa, dia hanyalah seorang anak sopir pribadi keluarga Pramana. Namun, setelah ayah Mila meninggal, kakek dan nenek mengangkat Mila menjadi anak mereka karena tidak ada sanak saudara yang mau mengasuh Mila saat itu.

Namun, sekarang apa balasannya. Mila malah mengkhianati keluarga Pramana, keluarga yang sudah membesarkannya, memberinya pendidikan yang layak untuknya, dan juga memberikan kasih sayang kepadanya. Mila tega merebut suami Jihan yang notabenenya adalah kakak angkatnya.

“Ma, Alea janji bakal rebut Papa dari perempuan itu!” ucap Alea. Matanya berkilat menyiratkan dendamnya kepada Mila.

Alea berjanji akan membalaskan perbuatan keji mereka kepada mamanya. Alea janji akan membuat Mila dan anaknya menderita seperti mereka berdua membuat mama dan adiknya menderita hingga tak sanggup lagi bertahan dan memilih menyerah.

****

Keesokan harinya,

Alea menghembuskan napasnya dengan kasar. Baru saja ia keluar dari ruang TU. Ia dipanggil ke ruang TU karena telat membayar uang SPP-nya selama tiga bulan. Sebenarnya setiap bulannya papanya rutin mentransfer uang jajan, sekolah, dan keperluan lainnya dalam jumlah besar. Namun, Alea tidak mau memakainya. Lebih baik ia cari uang sendiri untuk membiayai uang sekolahnya dari pada harus memakai uang papanya. Uang papanya lebih baik ia simpan.

“Leon!” Alea yang tadinya murung berubah menjadi ceria setelah melihat figur laki-laki yang barusan dipanggilnya.

Dengan semangat 45, Alea berlari menghampiri laki-laki itu yang tengah berdiri tidak jauh darinya.

“Leon ke sini pasti mau jemput Alea, ya?” Alea dengan PD-nya berkata seperti itu.

Yang ditanya malah mendengus tak suka. Leon jengah dengan Alea, perempuan yang selalu mengikutinya ke mana pun ia pergi. Jika ia pergi ke suatu tempat pasti di situ ada sosok Alea. Leon sudah beberapa kali mendorong Alea menjauh dari kehidupannya, namun Alea pantang menyerah. Semakin ia dorong maka Alea akan semakin gencar mendekatinya.

“Bisa enggak sih, sehari aja Lo enggak gangguin gue!” ketus Leon sambil menatap sebal ke arah Alea yang tengah tersenyum manis ke arahnya.

Tiba-tiba Alea tertawa yang seketika membuat Leon heran. Apanya yang ditertawakan, perasaan tidak ada yang lucu?

“Leon gimana, sih. Kita ‘kan pacaran, masa Alea enggak boleh deket-deket sama pacarnya. Leon aneh, ih,” ucapnya seraya memasang wajah semanis mungkin.

Leon tercengang mendengar perkataan Alea.

“Gue enggak merasa nerima Lo, ya!” sewot Leon.

Lagi-lagi Alea tertawa. Semakin Leon berbicara dan bersikap kasar kepadanya, semakin membuat Alea senang.

“Tapi waktu itu Leon ambil bolanya ‘kan,” balas Alea.

Waktu itu Alea menyatakan perasaannya kepada Leon di lapangan basket, saat Leon dan teman-temannya tengah berlatih basket. Alea menawarkan sebuah pilihan, jika Leon menerima bola basket yang dipegang olehnya berarti Leon menerima perasaannya, tapi jika Leon tidak mengambil bola basket itu dan berbalik pergi dari sana berarti Leon menolak perasaannya.

Leon mengusap kasar wajahnya. Astaga, Alea benar-benar...

“Tapi waktu itu gue lempar bolanya terus gue pergi dari lapangan basket! Lo lupa?!”

Alea tersenyum setenang mungkin. “Alea enggak peduli, yang penting Leon ambil bolanya dan itu artinya kita pacaran.”

Sejak saat itu Alea mengklaim bahwa Leon adalah pacarnya. Padahal semua orang tahu, Leon adalah pacarnya Syaqila, tapi Alea tidak peduli dan tidak mau tahu. Apa yang dimiliki oleh Syaqila harus juga menjadi miliknya seperti Syaqila merebut papanya.

Leon menghembuskan napasnya kasar. Setiap harinya Alea benar-benar membuat ia darah tinggi dengan tingkah lakunya yang benar-benar minta ditampol sekali.

“Minggir!”

Berhadapan dengan Alea lama-lama membuat image cool Leon hilang.

“Leon mau ke mana?” tanya Alea dengan manjanya seraya menahan tangan Leon.

Leon berdecak kesal. “Alea gue bilang minggir!”

“Enggak, sebelum Leon bilang ke Alea mau pergi ke mana!”

Karena kesal Leon pun mendorong tubuh Alea hingga Alea hampir saja terjatuh jika tubuhnya tidak dalam keadaan seimbang.

“Leon! Tunggu! Kamu mau ke mana?!”

Alea pun berlari, mengejar Leon yang sudah berjalan sedikit jauh darinya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status