Share

Masih Saja Pengecut

🎼🎼🎼

Malam minggu malam yang panjang,

Malam yang asyik buat pacaran,

Pacar baru, baru kenalan....

Kenal di jalan Jendral Sudirman.

🎼🎼🎼

Mytha menyanyikan lagu itu saat bersiap akan berjumpa dengan sang kekasih hatinya. Walau lagu jaman dulu dan agak aneh namun Mytha suka. Langit yang mendung tak dihiraukan Mytha. Ia meraih tas hitam kecil kemudian masukkan dompet berserta ponselnya, menggantungkan tasnya itu pada bahu kanannya sebagai pelengkap penampilannya malam ini.

"Ceria bener anak Ibu," ucap Bu Tari melihat Mytha berdandan rapi dan berwajah berseri.

"Mytha mau ketemu Bayu, Bu. Mau mengajaknya berkenalan dengan Ayah," jawab Mytha sembari meraih tangan Bu Tari, bersalaman serta salam tanda berpamitan.

'Ayah mana, Bu? Mytha mau berpamitan," lanjut Mytha ingin berpamitan pula dengan ayahnya.

"Ayahmu sedang istirahat, jangan diganggu. Biar Ibu nanti yang menyampaikannya," jawab Bu Tari menutupi sakit suaminya yang sedang kambuh, mungkin karena akhir-akhir ini banyak yang sedang difikirkan beliau.

"Ayah sakit?" tanya Mytha karena memang sedari sore tidak melihat sosok ayahnya, disamping Mytha juga sibuk berbalas pesan dengan Bayu mengenai rencana pertemuannya malam minggu ini, serta sedikit bingung memilih pakaian yang dikenakkannya sekarang.

"Udah gak papa, nanti Ibu yang pamitkan," ujar Bu Tari seraya mendorong anaknya agar tidak mengganggu istirahat suaminya. Mytha pun patuh dan berlalu ke luar rumah.

Dengan riang Mytha mengendarai maticnya menuju tempat yang disepakati. Selain untuk bermalam minggu seperti orang yang sedang berpacaran pada umumnya, juga ingin membahas hubungan mereka terkait masalah perjodohan dirinya.

***

"Myth, sini." lambaian tangan Bayu memancing Mytha untuk mendekat. Mytha mendekat dengan senyuman yang mengembang disetiap langkahnya. Mereka berdua sepakat bertemu disalah satu warung mie ayam langganan Mytha.

Bayu sudah berada di sana tanpa menjemput Mytha terlebih dahulu. Sampai saat ini ia masih belum berani berkunjung ke rumah Mytha, atau sekedar menjemput gadis yang dicintainya.

"Sudah pesan?" tanya Mytha seraya mulai duduk persis dihadapan Bayu, hanya disekat meja kotak yang berada disalah satu sudut ruangan itu.

"Sudah." Bayu menganggukkan kepalanya.

"Eh, hal penting apa yang akan kau bicarakan? Sepertinya penting banget," selidik Bayu, teringat saat menerima pesan dari Mytha yang mengtakan akan membicarakan hal penting tentang hubungan mereka berdua.

"Ayahku ingin menjodohkanku," ucap Mytha tanpa basa-basi.

"Lalu?" jawab Bayu datar.

"Cuma lalu? Apa kamu gak berfikiran akan dibawa kemana hubungan kita?" sungut Mytha mulai terpancing emosi.

"Terus aku harus bagaimana? Kamu mau aku melakukan apa?" jawab Bayu lagi-lagi datar, seakan tak ingin meningkatkan jenjang hubungannya dengan Mytha.

"Aku kecewa sama kamu, Yu! Ternyata kamu tak berubah!" sindir Mytha emosi dan mulai beranjak dari tempat duduknya.

"Pengecut!" kata terakhir yang terlontar dari mulut Mytha saat hendak meninggalkan Bayu.

Air mata Mytha pun sudah tak kuasa lagi ia bendung, mengalir pelan membasahi pipi. Mytha mulai mengendarai maticnya dan membelah keramaian kota. Malam minggu harusnya jadi malam indah bagi sepasang muda-mudi yang sedang kasmaran, akan tetapi malah kesedihan yang ia rasakan dimalam ini. Motor matic Mytha terus melaju tanpa arah, entah akan kemana tujuan Mytha. Dia sendiri pun tak tahu karena terhanyut dalam kesedihan yang begitu mendalam.

Akhirnya motor maticnya pun berhenti disebuah taman kota dekat komplek perumahan mewah. Setelah memarkirkan maticnya ditepi taman kota itu, dengan langkah lunglai ia pun menuju salah satu tempat duduk di taman. Mytha mulai menangis tersendu di bawah pohon rindang yang menaungi tempat ia duduk seraya mengingat sagala kenangannya dengan Bayu.

Mytha mulai teringat kenangannya bersama Bayu semasa masih mengenyam pendidikan menengah atas.

Masa paling indah adalah masa SMA, begitu pula dengan Mytha. Mempunyai sebuah kenangan bersama Bayu.

Selalu terselip amplop berwarna merah jambu di loker meja, tempat Mytha duduk kala mengenyam pendidikan menengeh umum.

Keesokan harinya pun begitu, berulang dan berulang. Hingga akhirnya Mytha penasaran dan berencana berangkat lebih awal dari biasanya, dengan harapan ingin mengetahui siapa yang akhir-akhir ini menyelipkan sebuah surat beramplopkan merah jambu itu. Amplop merah jambu yang berisikan puisi dan terkadang pesan cinta untuk dirinya.

"Kau yang menyelipkan surat ini padaku bukan?" tanya Mytha karena tiada ada seorang pun yang ada di dalam kelas, hanya dirinya dan salah satu teman lelaki sekelasnya itu.

"Bu--- kan," dusta Bayu gagap karena gugup, takut Mytha mengetahui yang ia perbuat selama ini. "Tadi ku lihat Wahyu yang meletakkannya," lanjut Bayu beralasan.

"O, gitu. Aku kira kamu yang menyelipkannya," sindir Mytha karena sedikit ragu akan jawaban yang dilontarkan Bayu.

Hari pun berganti minggu dan minggu berganti bulan, Mytha masih penasaran akan pnggemar gelapnya. Kali ini Mytha berencana disamping berangkat lebih awal, juga mengintai dahulu siapa kiranya yang menyelipkan surat tersebut.

Dan kali ini Bayu tertangkap basah telah meletakkan sepucuk surat masih beramplopkan sama yakni merah jambu di loker meja tempat duduknya. Lagi-lagi Bayu membantah bahwa melihat amplop itu jatuh dan meletakkan lagi di loker meja Mytha, dan masih menuduh Wahyu sebagai dalangnya.

Namun Mytha yakin tak ada keganjalan dari perilaku Wahyu terhadap dirinya. Hingga akhirnya mereka lulus pun, Bayu tak pernah mengungkapkan isi hatinya pada Mytha.

Mereka dipertemukan lagi semasa kuliah, tepatnya ketika sedang menyelesaikan skripsi. Tak disangka Dosen pembimbing mereka sama, itulah pertemuan pertama mereka setelah sekian tahun tak berjumpa setelah kelulusan SMA.

Dari situ lah mereka bertukar nomor ponsel dan sering berjanjian, bertemu walau mereka tak satu jurusan maupun beda fakultas. Suatu ketika Mytha mendesak Bayu untuk mengakui bahwa dia yang dulu sering menyelipkan surat cinta untuknya. Walaupun dengan berbelit-belit akhirnya Bayu mengakuinya dan merekapun mulai berpacaran.

....

"Dasar pengecut, masih saja tidak berani mengambil keputusan," lirih Mytha dalam sendunya.

Tubuh yang terasa lemas karena kalah dengan kesedihannya itu ia sandarkan di bangku panjang taman. Tatapannya menerawang langit yang tengah mendung, awan mendung itu seakan ikut merasakan apa yang ia rasakan. Awan pun tak kuasa menahan berat air yang dikandungnya dan membiarkannya jatuh membasahi tanah, pepohonan dan apa pun yang ada dibawahnya, tak terkecuali dengan tubuh mungil Mytha pun diguyurnya.

Dalam rintikan hujan, Mytha menangis tuk melepaskan semua beban yang ada didalam dadanya. Begitu dalam ia berharap terhadap Bayu yang dia anggap sebagai penyelamat akan perjodohannya itu, namun nyatanya Bayu tak bisa diandalkan.

Cukup lama Mytha terdiam dan terpaku dalam duduknya, membiarkan tubuhnya tersiram air hujan. Seakan ingin membuang rasa gundahnya, terbawa pergi oleh air yang mengalir membasahi dirinya dan hilang terserap tanah.

Setelah dirasanya cukup reda rasa sakit yang ada di dalam dadanya, Mytha pun beranjak dari duduknya menuju motor matic dan berlalu pulang.

🍂🍂🍂

"Assalamu'alaikum," salam Mytha lirih ketika mulai memasuki rumah.

"W*'alaikumsalam," balas salam dari Bu Tari. "Ya ampun, Myth. Kenapa kamu basah kuyup begini?" Bu Tari kaget seraya memapah Mytha dan mendudukkannya pelan di sova ruang tamu.

"Bu, maafin Mytha." Mytha sesenggukan tak kuasa ingin bercerita tentang apa yang barusan telah terjadi.

"Ada apa, Myth? Cerita sama Ibu," tutur Bu Tari menenangkan Mytha, dan seperti biasa sambil mengelus rambut Mytha, namun kini rambut itu tengah basah.

"Ya udah, mandi dulu sana. Takut masuk angin," lanjut ucap Bu Tari, karena yang keluar dari bibir Mytha sedari tadi hanya rintihan tangis kesedihan, belum mulai bercerita pada dirinya.

Mytha pun dengan lemasnya beranjak menuju kamar dan mulai berbenah diri. Setelah selesai dari membersihkan dirinya, Mytha kini terbaring termenung di atas ranjangnya sambil memeluk guling. Cukup dalam rasa sakit yang Mytha rasa, karena cukup besar pula Mytha berharap terhadap Bayu.

"Myth, boleh Ibu masuk?" ucap Bu Tari sembari membuka pelan pintu kamar Mytha dan mencondongkan kepalanya dari balik pintu.

"Masuk saja, Bu," lirih Mytha tanpa menoleh ke arah ibunya. Pandangnnya seakan kosong dan terpaku disatu titik.

"Coba ceritakan sama Ibu, apa yang terjadi barusan?" tanya Bu Tari setelah menghampiri Mytha, mulai duduk disampingnya seraya mengelus-elus punggung Mytha, untuk sekedar menenangkan anak gadisnya.

Mytha bangkit dari tidurnya, mulai memeluk Bu Tari erat seraya menceritakan apa yang barusan telah terjadi, antara dirinya dengan Bayu. Tak terkecuali akan sikap pengecut Bayu semasa SMA hingga kini. Lama Mytha dalam pelukan sang ibu hingga dirasanya cukup lega sudah meluapkan isi hatinya, Mytha pun melepaskan pelukannya.

"Udah, yang berlalu biarlah berlalu. Buka lembaran baru, ambil hikmah atas kejadian ini," kata Bu Tari bijak.

"Terus bagaimana dengan masalah perjodohanmu dengan anak teman Ayah?" sambung Bu Tari bertanya.

"Entah lah, Bu," jawab Mytha datar, karena masih belum bisa mengambil sebuah keputusan akan pertanyaan ibunya.

"Ya sudah, pikirkan. Mungkin ini jawaban dari semuanya," ucap Bu Tari seakan mengambil hikmah atas kejadian ini. "Walau Ibu juga masih ragu akan keputusan Ayah," lanjut Bu Tari sembari memandang wajah anak gadisnya.

"Dah istirahat, sambut esok pagi yang cerah." Bu Tari memberi semangat Mytha seraya mengecup kening anak semata wayangnya.

To be continue...

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Yuzee Nadnad
Mytha kecolongan euy, Devan sompret bener
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status