Taruhan Cinta CEO
Taruhan Cinta CEO
Author: Nyi Ratu
Bab 1. SAH

“Saya terima nikah dan kawinnya Sisilia Sandra binti Ahmad Munawar dengan mas kawin uang tunai seratus juta rupiah dibayar tunai.” Aldin mengucapkannya dengan satu kali tarikan napas.

“Bagaimana para saksi? Sah?” tanya Pak penghulu ke pada orang yang menghadiri acara ijab kabul dari pernikahan Aldin dan Sisil.

“SAH!”

Seketika ruangan itu menjadi riuh, sorak sorai kebahagiaan dari pihak keluarga dan para tamu undangan yang menghadiri acara pernikahan itu.

Kini Sisil sudah sah menjadi istri dari laki-laki yang sudah lama ia cintai dalam diam. Aura kebahagiaan terpancar dari wajah kedua mempelai. Akhirnya cinta mereka berlabuh di pelaminan.

Setelah acara selesai yang diadakan di kediaman keluarga Pradipta, para tamu dan kerabat yang menghadiri pernikahan itu satu persatu meninggalkan tempat resepsi. Sisil dan Aldin pun sudah masuk ke kamarnya untuk beristirahat.

“Al, tolong bantu aku membuka siger ini.” Sisil telah berdiri di depan sang suami yang jangkung dan gagah, sehingga ia semakin terlihat mungil di depan sang suami.

“Kita sudah menikah, jangan panggil aku dengan sebutan nama saja!” bisik Aldin di telinga sang istri.

Sisil merasakan embusan napas dari sang suami yang membuat ia berdebar-debar. Detak jantungnya terasa berhenti sejenak saat bibir sang suami menempel pada kulit telinganya.

“Hubby, tolong bukain dulu sigernya! Aku udah pegel nih.” Sisil sedikit menggeser tubuhnya. “Baru begini aja, jantung gue serasa mau copot, apalagi dijilat-jilat kayak si Andin,” batin Sisil.

“Baiklah, My lovely.” Dengan telaten Aldin membuka siger dan riasan rambut istrinya. "Sudah selsai."

“Makasih, Hubby. Aku mandi dulu ya.” Sisil berbalik badan menghadap suaminya. kemudian ia berjinjit dan mencium pipi suaminya sekilas, lalu berlari masuk kamar mandi dan mengunci pintunya.

“Nakal kamu ya!” Aldin mengejar sang istri, tapi Sisil sudah lebiih dulu mengunci pintu kamar mandi. “My lovely, buka dong pintunya!” panggil Aldin dengan mesra sambil mengetuk pintu kamar mandi.

Aldin terus saja membujuk sang istri agar istrinya mau membuka pintu untuknya. “Buka dong! Aku juga gerah nih, mau mandi.”

“Kalau gue bukain pintu, yang ada nggak jadi mandi, malah main raba-rabaan kayak si Andin dan Bang Ar,” gumam Sisil sambil membayangkan malam pertamanya dengan sang suami. “Jual mahal sedikit, Sil, walaupun dia itu suami lo. Jangan main sosor aja,” gumamnya sambil terkekeh.

Beberapa menit kemudian Sisil keluar dari kamar mandi. Ia celingukkan ke kanan dan ke kiri mencari suaminya. “Kemana dia?” Sisil pun segera masuk ke ruang ganti untuk segera berpakaian.

“Sil! Lo di mana sih?” teriak Andin di dalam kamar Sisil.

“Ngapain tuh si gesrek masuk kamar pengantin. Mau gangguin gue kayaknya nih anak,” gumam Sisil dari ruang ganti. Sisil pun segera keluar dari ruang ganti setelah selesai berpakaian.

“Ada apa sih?” tanya Sisil pada sahabat yang kini menjadi adik iparnya. “Mau gangguin malam pertama gue, lo ya,” tuduh Sisil pada Andin.

“Yeh si kupret! Gue mau ngasih ini buat lo.” Andin memberikan paper bag kepada kakak iparnya.

“Apa ini?” Sisil menerima paper bag itu lalu melihat isi yang ada di dalamnya. “Busyet dah! Lo kira badan gue buah apel cuma dibungkus pake ginian. Kalau gue masuk angin gimana.” Sisil membentangkan isi dalam paper bag itu, yang tak lain adalah sebuah lingerie berwarna hitam.

“Udah pake aja! Biar abang gue klepek-klepek,” kata Andin sambil terkekeh.

“Ayan dong laki gue,” sahut Sisil yang juga ikut tertawa. “Oke deh ntar gue pake.”

“Ini tantangan terakhir dari taruhan kita. Gue tantang lo buat merayu Abang gue lebih dulu.”

“Siap!” sahut Sisil. “Ternyata taruhan itu bisa membuat gue jadi lebih dekat sama Abang lo.”

Tanpa mereka tahu ternyata Aldin sedang menguping pembicaraan kedua sahabat itu dari balik pintu.

“Lo emang keren!” Andin mengacungkan jempolnya pada Sisil. “Lo bisa menaklukkan beruang kutub itu,” imbuhnya sambil terkekeh.

“Iya, akhirnya dia jatuh cinta juga sama si mungil yang cantik jelita ini,” ucap Sisil dengan percaya diri.

“Narsis banget lo!” Andin menoyor kepala Sisil hingga kakak iparnya itu hampir terjengkang.

“Gue udah jadi kakak ipar lo, bego!” Sisil kembali menoyor kepala sahabatnya itu.

“Maaf Kakak ipar,” ucap Andin dengan lembut. Kemudian Andin dan Sisil tertawa terbahak-bahak. Kedua wanita cantik itu tidak tahu kalau ada hati yang terluka mendengar obrolan mereka berdua.


“Udah lo sana! Gue mau jualan serabi anget dulu.” Sisil mendorong Andin supaya segera keluar dari kamarnya.

“Selamat menikmati kenikmatan dan kepedihan,” ucap Andin asal ceplos.

“Kok kepedihan?” protes Sisil.


“Iya, nanti lubang lo pasti perih karena gesekan yang gede panjang,” jelas Andin sambil terkekeh.

“Bego, lo!” umpat Sisil.

Andin pun keluar sambil tertawa terbahak-bahak, ia tidak melihat kalau ada kakaknya di samping kiri pintu kamar.


Setelah Andin keluar, Aldin masuk, lalu mengunci pintu kamarnya.

“Hebat kamu!” puji Aldin sambil tepuk tangan. Ia bukan memuji kecantikan atau apa pun, tapi ia menyindir sang istri yang telah membohonginya.

Sisil menoleh ke belakang saat mendengar suara sang suami ketika ia sedang bercermin sambil menempelkan lingerie di tubuh mungilnya.

“Hubby kamu dari mana?” Sisil mendekati suaminya sambil menunjukan lingerie yang diberi oleh adik iparnya. “Apa aku harus memakai ini?” tanyanya sambil membentangkan baju yang menerawang itu.

Aldin menyunggingkan satu sudut bibirnya. “Aktingmu bagus juga.”

“Akting?” Alis Sisil bertaut. Ia tidak mengerti dengan ucapan suaminya. “Maksudnya apa?” Sisil hendak menyentuh tangan sang suami, tapi Aldin dengan cepat menepisnya.

“Nggak usah pura-pura lagi! Aku udah tahu semuanya,” kata Aldin dengan ketus.

“Hubby, kamu marah gara-gara nggak aku ajak mandi bareng.” Sisil memeluk Aldin yang sedang marah. Sisil pikir, Aldin marah karena ia tidak mau mandi bareng dengannya. Ia tidak tahu kalau dari tadi Aldin menguping pembicaraannya dengan Andin.

Aldin melepas pelukan wanita yang baru saja sah menjadi istrinya dengan kasar, hingga Sisil terpental ke tempat tidur.


“Hubby, kamu kenapa?” tanya Sisil dengan suara yang bergetar karena ketakutan. Suami yang baru beberapa menit lalu berkata dengan lembut dan mesra tiba-tiba saja menjadi kasar dan tidak berperasaan.

Tak terasa air mata Sisil sudah menganak sungai di pelupuk matanya. “Kamu kenapa? Jangan bikin aku takut?” Sisil berusaha mendekati suaminya lagi, tapi Aldin mendorong Sisil hingga istrinya jatuh terlentang di kasur.

“Jangan pernah menyentuhku!” tegas Aldin dengan sangat emosi. Ia berubah menjadi kasar dan tidak berperasaan karena hatinya telah dilukai.

Jangankan binatang, manusia pun akan berubah menjadi kasar jika ada yang menyakitinya.

****

Hai semuanya salam gesrek dari Nyi Ratu. Selamat datang di novel terbaruku. Ini merupakan spin off dari novel Pengantin Tuan Haidar. Dukung terus karyaku ya!

Comments (3)
goodnovel comment avatar
MR.DHOACK MAHAWIRA
marah2 aja aladin
goodnovel comment avatar
Novi Jaya Yanti
main marah aja aldin..
goodnovel comment avatar
Feyfi
iya nyiiii
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status