Share

Sampai Jadi Debu
Sampai Jadi Debu
Author: Shesil KN

Kupu-Kupu Perak

Pemakaman sangat ramai di kunjungi hari ini, ah maksudnya setiap awal bulan April ketika bunga baru bermekaran. Mereka menganggap orang yang telah tiada akan turun ke bumi seperti bunga yang mekar di musim semi.

Aku menaburkan bunga di dua makam yang saling bersebelahan. Ada rasa sakit, sesal, dan senang secara bersamaan. Dua ekor kupu-kupu perak terbang melewati ku dan hinggap di salah satu batu nisan yang berada tepat di depanku. Aku tersenyum melihatnya, kupu-kupu itu selalu muncul tiap kali aku berkunjung ke pemakaman. 

Seorang anak lelaki menghampiriku dengan setelan jas dan permen di mulutnya, setelah sampai ia segera menarik ujung kemejaku. 

"Bocah ini lagi." Pikirku dan beralih menatap wajah polosnya. 

"Kali ini kau mau apa? Aku tak memiliki kisah menarik yang bisa di ceritakan kepadamu kali ini." Bocah itu menarik batang permennya keluar dan mulai membuka suara.  

"Ceritakan saja kisah lama itu kepadaku lagi. Aku akan tetap mendengarkan. Sebagai imbalan, nanti paman akan ku beri permen kaki ini." Ucap bocah itu dengan tangan kanannya yang menunjukkan permen kaki rasa mangga yang masih terbungkus. 

"Baiklah, kali ini aku akan menceritakan kisah sepasang kupu-kupu perak." 

****

"Hei hentikan! Astaga!" Veronica mencoba menghentikan perkelahian yang terjadi di antara kedua sahabatnya. 

"Diam!" Teriak kedua temannya ke Veronica. Veronica hanya terdiam dan membiarkan dua temannya saling bertengkar. 

"Sudahlah, aku lebih memilih naik bus saja." Veronica meninggalkan kedua temannya yang tengah beradu mulut di depan gerbang sekolah dengan masing-masing sepeda di sisi mereka. 

Melihat Veronica pergi meninggalkan mereka, Jonathan segera menghampiri Veronica. Tak ingin kalah, Rei juga ikut mengejar. Ya, mereka bertengkar hanya karena ingin membonceng Veronica. Sebenarnya Jonathan tak keberatan, tapi melihat sepeda Rei yang tak memiliki kursi penumpang, ia tak rela membiarkan Veronica berdiri dengan rok selututnya yang akan berkibar tertiup angin nantinya. 

"Ya sudah kita dorong saja sepeda masing-masing dan berjalan bersisihan." Saran Jonathan. 

Langit sore yang berwarna kejinggaan, kicauan burung-burung yang akan kembali ke rumah, dan gedung-gedung besar menjadi saksi bisu kisah ketiga remaja yang kisahnya akan segera di mulai. 

Di penyeberangan jalan, mereka menunggu lampu pejalan kaki berubah warna dari merah menjadi hijau. Mereka melihat anak SMA di seberang sana dengan pakaian yang lengkap dan rapi. Betapa keren dan gagahnya mereka. Ya seperti itu pemikiran para anak-anak, ketika SD pasti menganggap anak SMP itu keren, ketika beranjak SMP mereka menganggap anak SMA sangat keren, begitupula ketika SMA atau SMK. Dan ketika dewasa kalian akan kembali ke siklus awal, yaitu ingin menjadi anak-anak kembali. 

"Malam ini kalian sibuk tidak?" Tanya Jonathan. 

"Aku sih nggak, kalau Vero gimana?" Rei menatap ke arah Veronica yang mulai mengambil note dari saku seragamnya. 

"Hm tidak bisa, aku ada jadwal di Air Cafe." Veronica kembali memasukkan note berwarna kuning itu ke dalam sakunya. 

"Yaah sayang sekali." Ucap Jonathan. 

"Memangnya kau mau mengajak kami kemana?" Tanya Rei. 

Jonathan menggeleng dan membatalkan rencananya. Sebenarnya ada toko alat musik yang baru di buka, katanya toko tersebut milik seorang musisi terkenal. Dan Jonathan ingin sekali melihat-lihat, sekalian mencari gitar baru untuk koleksinya. Tapi jika salah satu di antara mereka tidak bisa ikut, itu tidak akan menyenangkan.

Lampu penyeberangan berubah hijau, ketiga remaja itu segera menyeberang. Ada sebuah mobil sedan yang melaju kencang menerobos lampu merah.

"VERO!!!" Teriak kedua temannya. 

Veronica memukul kedua temannya agar diam. Veronica memeluk seorang anak lelaki yang menahan tangis karena syok akan apa yang barusan terjadi. Mobil sedan itu sama sekali tak berhenti, untung saja Veronica cepat menggapai sang anak. 

Veronica mengembalikan sang anak ke ibunya, beberapa kali sang ibu membungkuk mengucapkan terima kasih kepada Veronica. Jonathan dan Rei membolak-balikkan tubuh Veronica untuk memastikan bahwa Veronica tidak terluka.

"Kau tahu, tindakan seperti tadi sangat berbahaya." Jonathan memegang tangan Veronica, tatapannya menyiratkan kekhawatiran.

"Jika aku tidak melakukannya, anak tadi sudah di pastikan tidak akan selamat."

"Ekhem! Kenapa aku seperti tidak terlihat ya." Rei melihat sekeliling dan melipat kedua tangannya di depan dada.

Jonathan dan Veronica pun hanya tertawa, lantas ketiganya berjalan bersisihan dengan sepeda di masing-masing sisi mereka. Suara canda tawa mereka dapat di dengar semua orang, kehangatan dan kebahagiaan yang mungkin saja bisa hancur.

***

"Kalian dah jadian kok nggak bilang ke aku sih?!" Rei berkacak pinggang di depan kedua sahabatnya.

"Kalau ku bilang, entar kau menikungku duluan!" Balas Jonathan sambil berkacak pinggang, sedangkan Veronica hanya memperhatikan keduanya dengan mulut yang sibuk mengunyah kentang goreng.

"Tak apalah. Masih ada masa SMA, kuliah dan kerja. Peluang ku untuk menikung masih banyak." Rei berjalan meninggalkan keduanya dengan tangan yang berada di dalam kocek celana.

.

.

Upacara kelulusan sekolah telah selesai. Jonathan dan Veronica menghabiskan waktu bersama dengan berkeliling kota dengan menaiki sepeda Jonathan.

"Jojo... apa... kita akan selamanya bersama?" Veronica mengeratkan pegangannya di ujung baju seragam Jonathan.

"Tentu. Seperti yang kau bilang, kita akan bersama sampai tua dan menjadi debu." Jonathan tersenyum dan turun dari sepedanya.

Kini mereka berada di penyeberangan jalan. Veronica menggenggam tangan kiri Jonathan, sepeda berada di sisi kanan Jonathan tentunya. Keduanya tersenyum dengan jantung yang sama-sama berdebar kencang. Pipi keduanya sama-sama bersemu, tak berani untuk saling bertatap. Lampu pejalan kaki berubah menjadi hijau, jalanan tergolong sepi sore ini. Bahkan pejalan kaki sedikit berkurang.

Brak!

Dua sejoli itu tertabrak, ah tidak. Hanya Jonathan saja. Sedangkan Veronica hanya terkena luka kecil di kepalanya di seberang sana, berterima kasihlah kepada Jonathan yang refleks mendorongnya agar tak terkena hantaman keras dari mobil. Sedangkan keadaan Jonathan lebih parah dari Veronica, ia terlempar lima meter di depan sana. Hujan mendadak turun, membuat darah Jonathan bercampur dengan hujan. Mengalir begitu derasnya, semua orang dengan cepat membantu kedua anak remaja yang baru lulus SMP itu.

"Jo..jo..." Veronica tak dapat melihat Jonathan tatkala ambulance sampai dan segera membawa Jonathan.

Tak lama kemudian, wanita yang di perkirakan masih berusia tiga puluh dua tahun menghampiri Veronica dan membawanya ke rumah sakit. Veronica tak dapat mengetahui kejadian selanjutnya karena kegelapan segera menjemputnya.

.

.

Dari sini lah kisah mereka akan di mulai. Pasangan kupu-kupu perak.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status