Share

Pria Bermata Hijau

"Butuh pengawal?" Tawarku dengan tangan terulur di depan wajahnya. Dia hanya menatapku dengan tatapan dinginnya seakan ingin membekukanku saat itu juga dan mata biru itu selalu berhasil menghipnotis ku.

"Apa boleh?" Tanyanya. Ah suaranya lembut dan setenang lautan, aku hanya menatapnya datar dengan tangan yang masih terulur. Entah kenapa lidahku kelu untuk berbicara dan wajahku tak bisa berekspresi saat ini. Apa dia benar-benar telah membekukanku lewat tatapannya?

"Ku anggap boleh." Tangannya menerima uluran tanganku. Tangannya yang mungil terlihat sangat cocok di tanganku.

Langsung saja aku menerobos banyaknya kerumunan yang membuatku kesal, bagaimana dia bisa menjalani hidup seperti ini setiap harinya?

"Siapa namamu?" Tanyanya.

"Namaku Jonathan Alvaro Meyer Siahaan. Panggil saja Jonathan." Jawabku cepat, dia hanya mengangguk dan membuka bibir mungilnya.

"Panjang ya namanya, kau pasti sudah tahu namaku. Apa perlu aku memperkenalkan diri?" Aku mengangguk sebagai jawaban. Setidaknya biarkan dia merasakan hidup 'normal'.

"Namaku Veronica Dhanika Paramita Sasanti." Aku melongo dibuatnya, baru pertama kali aku mendengar nama lengkapnya. Astaga panjang sekali.

"Namamu juga sama panjangnya dan ku kira namamu hanya Veronica Sasanti." Aku terkekeh sambil menggaruk tengkuk leherku yang tak gatal.

"Ah itu nama panggung, lagian ini bukan rahasia umum lagi. Teman sekelas ku tahu dan mereka pasti telah memberitahu temannya yang dari kelas lain." Aku menatapnya. Apa dia tidak risih dengan berbagai pandangan dari banyak orang? Apa dia menyukai kehidupannya yang terkenal?

"Tapi aku tidak mengetahuinya." Jawabku jujur, aku nggak bohong loh. Sumpah.

"Hahaha mungkin karena kau tidak memiliki teman, jadinya nggak tahu tentang itu." Detik berikutnya dia terdiam dan menutup mulutnya. Dengan wajah yang bersalah dia menatapku.

"Maaf," Katanya. Aku hanya menatapnya datar.

"Untuk apa?" Aku bertanya dengan wajah bingung. Kenapa dia meminta maaf? Ini belum lebaran kan?

"Karena sudah berkata kalau kau tidak memiliki teman, padahal kan aku tidak mengenalmu sama sekali. Maaf ya." Aku menghembuskan napas, kemudian terkekeh. Aku mengacak rambutnya lembut.

"Hahaha untuk apa minta maaf, hm? Itu memang kenyataannya. Aku sama sekali tidak memiliki teman." Dia menatapku dengan tatapan yang kasihan. Oh ayolah, aku hanya tak memiliki teman, hanya itu saja.

"Kalau begitu, apa kau mau jadi temanku?" Ajaknya. Aku hanya tersenyum dan mengangguk.

"Kalau jadi teman hidupmu bagaimana?" Kataku. Dia langsung memalingkan wajahnya yang terlihat memerah. Sungguh itu terlihat sangat menggemaskan. Ah iya, aku mengucapkannya dengan tulus bukan gombalan. Lagian aku tak pandai dalam hal menggombal.

[Veronica POV]

"Kalau jadi teman hidupmu bagaimana?" Tanya Jonathan dengan santai nya. Aku langsung memalingkan wajahku yang memanas. Oh ayolah, kenapa pria ini mirip dengan 'dia'? Wajah maupun suaranya. Matanya tidak sayu dan tatapannya tidak tajam. Melainkan sebaliknya, tatapannya lembut dan selalu tersirat ketulusan di matanya.

"E--eh udah sampai aja nih, kalau begitu aku masuk duluan. Kamu juga sebaiknya balik ke kelas." Saranku. Dia pun mengangguk dan berjalan meninggalkanku di depan kelas. Segera aku menghembuskan napas dan mengelus dadaku. Terima kasih kelas, kau menyelamatkan ku.

[Jonathan POV]

Aku berjalan lurus setelah mengantar Veronica ke kelasnya. Bukannya kembali ke kelas, aku berlari menuju perpustakaan. Aku ke sana bukan untuk membaca tapi hanya ingin berbaring. Kalian tahu di bagian pojok depan ada karpet lembut, perpustakaanku juga mempunyai lemari es yang menyediakan berbagai minuman berasa dan tentunya ada AC. Tempat favorit untuk tidur.

"Kira-kira apa yang sedang dilakukannya ya?"

"Woi! Kau anak baru kan?" Aku menoleh ke belakang, seorang pria dengan pakaian sedikit keluar, dasi yang dipakai alakadarnya, dengan mata hitam kecoklatannya menatapku tajam.

"Iya, emangnya kenapa?" Tanyaku pelan, mengingat kalau aku ada di perpustakaan.

"Mau masuk ke perkumpulan ku?" Tanyanya. Perkumpulan? Maksudnya geng? Aku pun menggeleng sebagai jawaban.

"Perkenalkan, namaku Reinaldi Setiawan, kau bisa memanggilku Rei." Sekarang aku ingat, pria ini yang duduk bersama Veronica pada saat istirahat tadi.

"Hai Rei, namaku Jonathan." Jawabku.

"Kalau begitu aku pergi dulu." Setelah mengatakannya dia pergi dengan melompati jendela, seperti maling saja. Lagipula apa gunanya pintu dibuat kalau ujung-ujungnya dia lewat jendela? Dasar aneh!

Hari ketigaku sekolah, banyak gadis yang meneriakiku tampan, baik, murah senyum, cool. Tunggu dulu, memangnya aku ini kulkas sampai di sebut cool begitu? Ah terserah mereka saja, dan lagi aku bertemu dengannya. Gadis bermata biru.

"Aku akan masuk ke dalam kehidupanmu, Veronica."

DMCA.com Protection Status