3. Left Alone with Him

“Aku tahu. Jangan khawatir.”

Luna terusik. Tidur pulas tanpa mimpinya itu berakhir akibat suara sang kakak yang ia dengar. Perlahan ia membuka mata, lagi-lagi terserang vertigo ketika retinanya dipaksa menangkap cahaya terlalu banyak dalam waktu singkat. Meski lamban, ia segera tahu di mana dirinya sekarang. Tanpa pakaian, dalam pelukan pria itu.

“Dia ada di sini, Ayah. Tidak hilang. Apa dia tidak memberitahu kalian?”

Luna diam saja, menatapi sang kakak yang tengah berbicara dengan seseorang di telepon. Pelan-pelan ia mengintip ke dalam selimut, mencari kebenaran tentang siapa yang sebenarnya tidak berpakaian, dan dia segera tahu.

Apa ini sudah pagi? Luna tidak ingat apa yang terjadi semalam. Walaupun begitu, sudah jelas jika dia telah diperkosa lagi. Terakhir kali ia mengingat bagaimana pria itu mengancamnya dengan rasa sakit. Lebih baik ia menurut saja kali ini. Ia tidak ingin lagi melawan karena ia tak punya kekuatan lagi. Seluruh tubuhnya tak bertenaga.

Saat masih berbicara di telepon Colin sadar bahwa Luna telah bangun. Dirinya menginginkan kemudian, langsung saja memberikan ponsel itu padanya. Luna menatapnya dengan bingung si ponsel bergantian. Wajah bodoh itu membuatnya geram.

“Ayahku ingin bicara denganmu. Mereka khawatir karena kau tidak pulang ke rumah,” jelas Colin ketus untuk menjawab tatapan itu.

Pelan, Luna mencoba mengambil ponsel yang disodorkan ke arahnya. Namun, tidak akan benda itu berpindah tangan begitu saja. Ketika ia mengambilnya, Colin malah menggenggam ponsel itu lebih erat. Saat ia kebingungan dan menatap kembali pemiliknya, ia dihadiahi sebuah ciuman. Ciuman yang mungkin menjadi sentuhan terlembut sejak kemarin.

Mudah saja, Luna segera tahu bahwa dia harus merahasiakan apa yang terjadi. Ia mencoba bersikap tenang, namun tatapan pria yang sedang mengawasinya itu membuatnya gugup.

"H-halo?” ucapnya begitu gugup. "Maaf, Ma. Aku lupa." Luna merasa tidak tenang, Ia tidak fokus mendengarkan pertanyaan yang ia dengar. Ia lebih sering memperhatikan Colin yang tidak sedetikpun melepaskan pandangan dari dirinya. Bahkan saat pria itu meringsuk ke dalam selimut dan memeluk tubuhnya, ia makin tidak tenang. "Iya, Ma. Aku mengerti." Luna tergesa-gesa lalu memutus telepon lebih dulu.

"Apa yang mereka katakan?" tanya Colin segera.

"Mereka akan menjemputku ke sini dalam satu jam,” jelas Luna pelan.

“Oh, begitu,” sahut Colin tak ikhlas. Ia kemudian menarik tangan Luna, memaksanya untuk menipiskan jarak yang sudah terlalu dekat. Dagu Luna disentuh dengan lembut. Pelan, Colin membisikkan sesuatu. “Aku tidak perlu khawatir mulut itu akan bicara macam-macam, bukan?”

Luna terpaksa menjadi jinak, ia pelan-pelan mengangguk dan menerima perintah tanpa bantahan. Dirinya sudah seperti seekor binatang peliharan, atau lebih parah seperti budak yang tak punya kuasa terhadap dirinya sendiri. Hatinya sangat menolak semua perlakuan itu tetapi, apa daya dirinya tak punya kekuatan.

Ekspresi wajah Colin menjadi cerah. “Bagus. Sekarang buatkan aku sarapan. Aku lapar.”

Pria itu tanpa dosa beranjak pergi dari kasur menuju kamar mandi. Luna lagi-lagi memunguti sisa-sisa pakaian dan harga dirinya. Sakit. Tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Perutnya terasa pedih. Kepalanya berputar. Ia ingin sekali mengadukan perlakuan kakaknya. Tetapi, ia tak punya keberanian. Rasa sakit yang dia terima sejauh ini sudah cukup membuatnya gemetar hanya untuk menatap mata pria itu. Melaporkannya hanya akan mengakibatkan rasa sakit lebih banyak.

Lagi, seperti seekor hewan, Luna hanya bisa menurut untuk melakukan segala perintah kakaknya. Ia pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Lalu, ia pergi mandi. Selama di dalam kamar mandi, ia menangis untuk kesekian kali. Hanya dengan menatap cerminan dirinya di kaca, ia tidak tahan. Bagaimana tubuh itu tidak suci lagi, tidak indah lagi, ia meratapinya.

Ia tidak makan apapun sejak kemarin. Bahkan segelas air pun tidak ada yang melewati kerongkongannya. Sarapan super sederhana yang dibuatnya itu terasa tidak cukup jika harus memenuhi kebutuhan tubuhnya yang lemas. Tetapi nafsu makannya juga tidak begitu baik. Ia memang menghabiskan sarapannya dengan penuh susah payah karena ia mesti menahan diri untuk tidak memuntahkan mereka.

Colin tidak banyak bicara pagi ini. Dia hanya sibuk dengan dunianya sendiri. Luna sendiri pun tidak ingin tahu dengan apa yang ia lakukan. Tidak ada interaksi yang berarti dengan kedua kakak-beradik itu hingga sebuah bunyi memecah keheningan mereka.

Luna sedang mencuci piring kotor dan Colin sedang berada di ruang depan bersama laptopnya saat suara bel apartemen terdengar ke seluruh ruangan. Sang kakak sebagai orang yang terdekat segera saja membukakan pintu untuk tamu mereka.

"Colin, di mana Luna?"

Benar saja dugaannya, wanita yang kini menjadi ibunya itu segera menghantuinya dengan pertanyaan. Colin mengelus tengkuknya, memasang wajah tak bersalah yang meminimalisir kecurigaan. "Ada. Dia ada di dalam."

Wanita yang terlihat jauh lebih muda dari pria di belakangnya itu langsung menghambur masuk kedalam apartemen Colin. Pria di belakangnya tampak lebih tenang, tetapi langsung menyusul istrinya masuk.

Luna mendengar keributan di luar, tetapi dirinya malas untuk beranjak ke sana. Lagipula ia masih kesulitan berjalan. Ia hanya fokus menyelesaikan cucian piring saat ibunya menghampirinya ke dapur.

Colin sedikit terkekeh ketika ia melihat sang ibu tiri bukannya menghadiahi sang anak kesayangan sebuah pelukan melainkan sebuah pukulan kecil di kepala. “Dasar! Kenapa kau tidak memberitahu kalau mau menginap di sini? Kenapa kau tidak menelepon?”

Colin menemukan celah, ia tersenyum dalam hati. Seperti pahlawan kesiangan, ia datang menghampiri mereka. "Bukan salahnya. Aku yang mengajaknya menginap."

"Tetap saja dia tidak memberitahuku." Sahut wanita itu ketus.

"Sudahlah." Suara berat lainnya menyela, "yang terpenting Luna tidak apa-apa," ujarnya sambil merangkul Luna. Rangkulan itu bersahabat namun sedikit terlalu kuat, Luna otomatis meringis ketika bagian tubuhnya yang membiru di balik pakaian itu tersentuh.

Sang ayah sedikit terkejut, “ada apa?”

Kecurigaan seketika naik ke permukaan, gelagat mencurigakan Luna memancing sang ibu untuk mengulur lengan panjang dari baju yang dikenakannya. Gadis itu tidak bisa menghindar, potret dirinya yang dipenuhi luka memar tak lagi tersembunyi.

"Kenapa tanganmu banyak memar?"

"Ini…" Luna menunduk dan gugup. Dirinya tidak bisa langsung memberikan jawaban jujur. Tidak mungkin jika ia mengatakan kalau itu karena ia diperkosa kemarin. Beberapa saat ia menatap Colin, ia berakhir ketakutan. Ia bisa mengadu saat ini. Namun tatapan pria itu membuatnya bisu.

"Dia terjatuh dari tangga sekolahnya kemarin,” jawab Colin. Luna sontak berbalik ke arahnya. "Alih-alih menelepon kalian, dia malah menghubungiku,” jelas Colin lagi. Ia merasa idenya cukup cemerlang, hanya jika mulut Luna tetap terkunci di depan kedua orang tua mereka.  “Dia takut membuat ayah dan ibu khawatir.”

"I-iya. Aku takut akan membuat kalian khawatir, jadi aku menghubungi Kak Colin. Dia sudah mengobatiku dan memintaku menginap saja. Tetapi, aku malah lupa memberitahu Mama.”

Alasan logis ditambah tidak adanya pikiran negatif membuat kedua orang tua itu tidak curiga sama sekali. Lengan baju Luna diturunkan kembali oleh sang ibu, lalu kepalanya diusap pelan. “Baiklah, kemasi barang-barangmu. Kita obati lagi nanti saat di rumah,” suruh sang ibu lembut. “Ini pakaian milik kakakmu bukan? Apa kau tidak merasa aneh saat menggunakan pakaian kebesaran seperti ini?”

"Iya."

Luna menurut saja, ia mengangguk kemudian pergi ke kamar. Colin luar biasa senang saat ini. Pemandangan barusan sangat mengocok perutnya. Ia merasakan kemenangan dengan kebodohan adik kesayangannya itu. Kedua orang tuanya sangat percaya pada omong kosongnya.

Colin mengikuti Luna ke dalam diam-diam. Meski ia mungkin ketahuan, ia tahu bahwa kedua orang tua itu tidak akan curiga. Bahkan saat ia menutup pintu sekalipun.

Ia tersenyum dan disambut oleh wajah murung Luna. Baginya wajah itu sangat menghibur. Ia kemudian mencium keningnya sebagai hadiah. "Pintar. Kakak sayang padamu."

"Sayang padaku?" Luna mengulang klausa itu tanpa sadar. Hati kecilnya seperti ingin menertawakan itu.

"Hm. Kenapa?"

Pertanyaan Colin mengembalikan kesadarannya dengan cepat, ia tak berani melakukan apa-apa. "Tidak."

Colin tersenyum kemudian mendekap Luna. "Semakin kau menurut, Kakak akan semakin sayang padamu," ujarnya dilanjutkan dengan sebuah kecupan di pucuk kepala Luna.

Luna menundukkan kepalanya. Betapa tragis, kalimat itu terdengar di telinganya sebagai sebuah bencana.

"Kenapa? Ahh… Aku mengerti.” Colin cekikikan. “Akan sangat menarik jika kau hamil anakku. Haha."

Lelucon garing Colin hampir membuat jantung Luna jatuh. Ia tidak akan senang jika hal itu terjadi. Meski hanya lelucon, ia tetap akan menolak kemungkinan gila itu. Tidak bisa sama sekali ia bayangkan apa yang akan terjadi jika kalimat Colin barusan menjadi kenyataan.

"Cepat kemasi barang-barangmu."

.

.

.

.

.

Colin berjalan keluar kamar dengan biasa, bertindak seperti ia tidak masalah dengan perubahan drastis yang terjadi pada dirinya belakangan ini.

"Colin, apa Luna merepotkanmu?" tanya wanita itu, sang ibu. Secara teknis memang wanita itu adalah ibunya. Namun saat ini ia hanya mencoba bersikap baik. Jika bukan karena sang ayah dan Luna yang ingin ia permainkan, tidak sedikitpun, bahkan sedetik saja, ia senang dengan kehadiran wanita itu sebagai ibu barunya.

Colin memang benar-benar tak suka dengan sang ibu baru. Tetapi dalam dirinya melekat sebuah label ‘anak lelaki yang baik’ sehingga tak mau ia mencorengnya. Ia bersikap sebaliknya di hadapan orang lain. "Tidak. Justru dia sangat membantuku. Terutama masakannya,” jawab Colin dengan ekspresi menyegarkan. Berbanding terbalik dengan dirinya yang mual dengan pernyataan itu sendiri.

Sang ayah dengan santai memberikan sebuah kabar. "Ayah dan Ibu berencana untuk pergi berbulan madu di Hawaii selama satu bulan. Jadi, kami mau kau menjaga Luna."

Seperti sebuah kebetulan, ketika kalimat itu selesai diucapkan, Luna baru saja menutup pintu kamar Colin.

Sang ayah tersenyum menatap Luna yang ia yakini juga mendengar apa yang ia katakan. “Ayah akan senang jika kalian bisa menghabiskan waktu bersama. Luna sangat mengagumimu, jadi Ayah yakin kalian akan baik-baik saja bersama.”

Dalam kepala Colin saat ini ada sebuah parade. Ia sangat senang sampai tak bisa menahan senyum. "Aku tidak keberatan," jawab Colin santai. Hanya dalam beberapa detik saja, ia sudah punya berbagai macam rencana. Semuanya akan berjalan sesuai dengan keinginannya jika sang adik setuju.  "Tetapi Luna setuju atau tidak?" Ia bermaksud menyindir, memanfaatkan keadaan untuk kepastian tidak ada penolakan. Ia juga percaya diri. Hanya dengan menatap sang adik dengan penuh arti, ia yakin mulutnya akan selalu tertutup rapat.

"Luna tidak akan menolak,"

Lain ditanya lain yang menjawab, Colin sama sekali tidak menentang pernyataan itu karena ia jelas diuntungkan. Sang ibu tiri kemudian berbicara lagi,”sejak dulu dia ingin punya kakak laki-laki. Menghabiskan waktu bersamamu pasti akan menyenangkan untuknya. Benar sayang?”

"I-iya, Mama."

Parade kesenangan telah dimulai, Colin menggebu-gebu untuk sebuah deklarasi kemenangan. "Luna memang adik yang baik,” ujarnya dengan senyum kepuasan.

To be continued

by Ayasa

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status