4. New Sibling

Luna tinggal bersama kedua orang tuanya, terpisah dari Colin yang tinggal sendiri di apartemen. Ia akan aman jika terus berada di bawah pengawasan mereka. Namun, hari terus bergulir hingga waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Waktunya perpisahan. Bulan madu sudah direncanakan, dan hari ini Luna akan ditinggal sendirian di rumah.

Luna menjadi pendiam. Dirinya memang bukan orang yang banyak bicara, tetapi belakangan ia menjadi semakin senyap. Pikirannya kalut hanya dengan berbagai bayangan tentang apa yang mungkin Colin lakukan terhadapnya selama sebulan penuh. Rumah memang tidak benar-benar kosong karena mereka punya asisten rumah tangga. Tetapi ia tidak berharap banyak pada wanita tua yang hanya berada di rumah kurang dari 12 jam. Luna terlalu khawatir sampai dalam beberapa hari terakhir ia tak bisa tidur. Mimpinya tidak pernah bersih dari rentetan rasa sakit yang ditakutinya akan terulang.

Saat ini Luna sedang termenung di halte bus sekolahnya. Ia sama sekali tidak gembira menyambut hari ini. Ia tahu bahwa ia akan dijemput oleh sang kakak. Dia akan tinggal sementara di rumah keluarga. Mereka berdua akan mengantarkan ayah dan ibu ke bandara.

Gadis itu mendengus ketika ia melihat sebuah sedan yang ia kenali dari kejauhan. Sampailah sudah pria itu. Mobil berkilau itu berhenti di hadapannya, beberapa orang yang juga berada di halte otomatis mencuri pandang. Ketika jendela mobil diturunkan, beberapa bisikan terdengar. Telinga Luna terlalu peka untuk tidak mendengar pujian dari kawan-kawan sekolahnya. Lagi, pria itu seakan-akan tahu caranya menebar pesona.

“Halo cantik,” ucap Colin dari dalam mobil. Senyumnya lebar sekali, membuat beberapa gadis di sekitar mereka langsung bereaksi berlebihan. Pria itu tidak menggubris mereka, ia langsung turun dari mobil dan membukakan pintu untuknya, “Untuk Tuan Putriku.”

Ironi. Paradoks di antara perilaku yang diperlihatkan Colin saat ini membuat Luna ingin mengasihani dirinya sendiri. Matanya teralihkan pada sepatu kotor yang dikenakannya. Ironi lagi? Iya. “Bahkan aku merasa diriku lebih kotor dari sepatu ini,” lirihnya tanpa sadar.

“Kau berkata apa?”

Luna tersentak, “Tidak, Kak! Aku tidak berkata apapun.”

“Cepat masuk.” Kalimat pelan namun penuh penekanan itu memaksa Luna melawan egonya sendiri, ia pun bergerak masuk ke dalam mobil dengan seluruh rasa sakit yang mungkin menantinya di dalam.

Mobil dikemudikan dengan perlahan, terlalu perlahan untuk sebuah mobil yang dikemudikan di jalan yang lengang. Sang pengemudi seakan-akan sedang mengulur waktu, agar masa perjalanan menjadi lebih panjang dari seharusnya. Luna, dirinya sedang termenung memandangi refleksi sang kakak dari jendela mobil. Ia bertanya-tanya dalam hati, mengapa sifat pria itu tidak seindah wajahnya? Ingatannya membawa ia kembali pada hari di mana ia bertemu pertama kali dengan Colin. Kakak impiannya telah datang. Sayang sekali semua telah dinodai oleh pria itu sendiri.

 “Luna,”

Luna tersentak, terkejut berlebihan setelah tiba-tiba saja Colin menyentuh pahanya. Ia otomatis menjauhkan tangan itu, tetapi tidak mudah melakukannya. Tangan Colin terlalu kuat dan tanpa bisa ditahan ia bebas membelainya.

“Pahamu sangat lembut,” ucapnya pelan. “Aku sangat ingin mengecupnya.”

Luna bergidik, ia otomatis kegelian. Tangan Colin tidak juga berhenti meski seharusnya ia fokus pada jalan. Luna akan terus menolak perlakuan itu, dia khawatir dengan keselamatan mereka. Jalan yang sepi tidak menjamin mereka akan selamat jika Colin terus bersikap gila.

“Kakak, tolong berhati-hati. Kita harus segera ke bandara. Ayah dan Mama menunggu,” jelas Luna sedikit kewalahan.

Colin mengangguk, seakan-akan mengiyakan perkataan Luna. Namun mobilnya malah berpindah jalur dan menepi. Benar-benar seorang yang tidak pernah menurut. Luna panik saat sadar jalan yang mereka lalui kosong. Sejauh mata memandang, tidak ada mobil lain yang melintas. Entah sejak kapan ia mengambil jalan lain yang sepi seperti ini.

"Tidak akan lama, Sayang."

Colin melepas kemudinya kemudian menarik Luna secara paksa. Wajahnya berubah menjadi serius, ia menggenggam tangan Luna seperti mencengkram benda mati. Ia lupa jika Luna adalah manusia yang bisa merasakan sakit.

"Tapi! K-kakak! Tunggu!" Alhasil Luna menangis, mencoba melepaskan tangannya yang langsung memerah begitu pula dengan matanya.

"Ayolah. Bukankah kita sudah pernah melakukannya? Kau sudah mengerti. Akan terasa berbeda jika kali ini kau tidak terlalu banyak menolak.”

"Bukankah kita harus segera ke bandara?” tanya Luna hampir terisak. Ketika Colin mencoba menarik tubuhnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap berada di kursi. “Ayah dan Mama akan kecewa jika kita tidak di sana.”

"Biarkan saja, mereka akan mengerti." Colin kembali menarik kedua tangan Luna. “Mereka ingin berbulan madu, kita pun bisa melakukannya.”

"Jangan! Jangan sekarang! Aku mohon jangan sekarang. Kakak, aku mohon."

"Baiklah. Namun kau harus melayaniku malam ini." Colin menatap Luna layaknya sedang menodongkan pisau. Tanpa perlu melanjutkan redaksi, Luna tahu bahwa ia tengah diancam.

Luna menelan ludahnya kasar, "I-iya. Aku janji. A-aku akan melakukannya.”

“Kau apa?”

“A-aku akan melayani Kakak.”

Setiap kata yang dikeluarkannya, Luna akan menyesali itu. Betapa ia tidak bisa mengalahkan ketakutannya sendiri, ia meratap. Colin tersenyum senang, kemenangan berada di tangannya. Tanpa peduli pria itu kemudian melepaskan genggamannya. Genggaman itu begitu erat meninggalkan bekas di tangan Luna. Gadis itu sampai meringis. Namun bagi Colin, itu bukan pedulinya.

"Kau semakin menggoda jika kesakitan, kau tahu,” ucapnya santai seraya kembali menyalakan mesin mobilnya. “Itu membuatku ingin menyakitimu lebih banyak lagi.” Dengan seringai yang bagi Luna begitu menakutkan, mobil kembali bergerak menuju tempat yang mereka janjikan bersama orang tua mereka.

.

.

.

.

.

Hari ini, kedua orang tua mereka akan pergi ke Hawaii. Pesawar akan lepas landas dalam satu jam. Namun jika menghitung perjalanan yang sudah dilakukan Colin sejak dari universitas hingga sampai ke bandara, maka mungkin mereka tak sempat bertemu. Luna sedikit khawatir jika akan mengecewakan, tetapi Colin sama sekali tidak peduli.

Beruntung, nasib berpihak pada Luna ketika sang ibu memanggilnya dari kejauhan. Seharusnya ia bahagia ketika melihat pasangan baru itu terlihat begitu romantis, tetapi hatinya merasa miris.

"Ah, Ibu! Ayah!"

Colin melambaikan tangannya dengan senyum lebar. Sesuatu yang membuat Luna terkejut. Dia tahu pria itu tidak pernah setuju dengan pernikahan yang terjadi. Luna hanya menunduk dan murung. Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri yang tidak suka dengan kepergian orang tuanya. Tidak ada lagi jaminan keselamatan yang ia butuhkan.

Colin sangat peka, ia dengan cepat menyadari ekspresi Luna yang akan memancing kecurigaan. Sebelum mereka melangkah, terlebih dulu ia menarik Luna merapat dan membisikkan sesuatu, "Aku akan memperkosamu sampai mati jika kau tidak tersenyum sekarang!"

Ancaman itu seperti mematikan semua saraf Luna. Ia bergidik di tempat. Colin benar-benar mengerikan. Luna ingin sekali lari dari sana. Namun ia terperangkap di antara senyuman yang harus dengan keras ia tunjukkan.

"Kalian dari mana saja? Mengapa lama sekali?" tanya Ibu mereka.

Colin yakin Luna sangat gugup untuk mengatasi pertanyaan saat itu. Ia lebih suka berpura-pura baik ketimbang membiarkan adik bodohnya menjawab dan memberikan kecurigaan. "Kami tadi terjebak macet sebentar. Lagipula aku sudah katakan, kami mungkin terlambat. Jadi kalian bisa langsung pergi saja."

Colin menemukan sesuatu yang aneh ketika kedua orang tua itu saling melempar senyum. Ia terlalu paham dengan ekspresi mencurigakan, ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan. Kerlipan tidak biasa yang dilihatnya membuat ia penasaran. "Ada apa?" tanya Colin kemudian.

"Sebenarnya pesawat kami akan berangkat jam tujuh. Kita masih punya tiga jam lagi," jelas sang Ibu dengan tawa kecil. Sang Ayah pun ikut tersenyum bertindak lebih mencurigakan lagi. Apapun itu, mereka mengisyaratkan sesuatu yang tidak biasa.

"Lalu kenapa kalian menyuruh kami untuk datang secepat ini? Kita tidak mungkin menunggu selama tiga jam di sini, bukan?”

Mereka kembali tertawa. "Sebenarnya, kami punya kejutan untuk kalian berdua,” jawab sang Ibu. "Luna, apa kau senang punya kakak seperti Colin?"

Luna tidak mengantisipasi pertanyaan seperti itu hingga ia sedikit kelabakan. Untung saja dia cepat mengendalikan diri. Jika tidak, ia akan memancing kecurigaan. “Iya, Mama. Tentu aku sangat senang.”

Colin tersenyum untuk usaha Luna yang satu itu. Ia bangga. Seorang budak telah dididik dengan baik.

"Lalu, apa kau senang jika akan punya kakak lagi?"

Luna memasang wajah terkejut sekaligus bingung. Ia tidak mengerti dengan pertanyaan itu.

Lain daripada Luna yang sepenuhnya polos, Colin tahu sesuatu. Seketika ekspresi baik yang ditunjukkannya hilang. Ia otomatis kesal. Ia sangat tidak suka dengan ide itu. “Apa-apaan? Ayah? Mengapa tidak bertanya padaku lebih dulu?”

Luna hanya bisa diam saat melihat Colin sangat marah. Ia bisa melihat bahwa pria itu benar-benar kesal. Ekspresinya membuat takut.

Luna ikut bertanya karena ia bingung, "Apa maksudnya?"

"Ini sesuatu yang belum Ayah ceritakan padamu, Luna,” jawab sang Ayah. Diselingi sebuah senyuman, ada perasaan senang yang coba ia sampaikan. “Sebenarnya, Colin punya adik, dan dia dua tahun lebih tua darimu."

"Sungguh?" Luna langsung menatap Colin yang benar-benar murka dalam diamnya. Ada sesuatu yang tidak beres.

"Seharusnya dia sudah di sini sekarang."

"Kenapa tidak memberitahuku lebih dulu? Kenapa tidak bertanya pendapatku?" Seperti kebakaran janggut Colin bertanya. Ia terlihat jelas tidak suka dengan keadaan yang hanya Luna sendiri tidak mengertinya.

"Sebaiknya kalian akur selama kami pergi. Dia adikmu. Kalian berdua sudah dewasa. Sudah saatnya kalian bersama-sama lagi."

Hal ini benar-benar baru bagi Luna. Dia tidak pernah menduga kalau Colin punya saudara. Ia bertanya-tanya akankah sifatnya sama dengannya. Semoga saja tidak. Colin sudah cukup  membuatnya menderita. Menambah satu kakak dengan sifat sama hanya akan menyiksa Luna lebih banyak.

"Ah, itu dia."

Pandangan Luna langsung mengedar pada arah yang ditunjuk oleh sang ayah. Sekilas ia melirik pada Colin, pria itu benar-benar masam. Hanya dia yang tidak bersemangat dengan kabar itu. Sedikit banyak Luna menduga kalau kedua saudara hubungannya tidak baik.

"Devin!"

Seseorang dengan aura kuat sedang menggeret koper ke arah mereka. Ia tinggi, berperawakan kuat dengan pakaian serba hitam. Ia memakai topi, kacamata hitam, juga sebuah jaket kulit. Selain koper ia menggendong tas besar lain di punggungnya. Tas itu hanya berisikan satu benda yang Luna sangat tau apa. Sekilas, dirinya dan Colin tidak mirip. Mereka tampak sangat berbeda.

"Daddy!" Pemuda itu memeluk sang ayah. Pelukan itu hangat, terlihat cukup menyenangkan bagi Luna. "Apa ini ibu baruku?” Ia kemudian memeluk sang ibu. “Wah, dia bahkan masih terlihat sangat muda."

Sang Ibu mengusap rambutnya, “Kau setampan ayahmu."

Lelaki yang dipanggil Devin itu tersenyum lebar untuk merespon pujian tampan yang ia dengar. Berbeda sekali dengan Colin saat pertama kali bertemu sang ibu—saat itu ia langsung mengamuk dan melayangkan berbagai macam protes—Devin menunjukkan persetujuan yang wajar. Ia juga sangat ramah meski aura yang ia berikan terlalu kelam bagi Luna.

"Dan siapa si Manis ini? Adik baruku, ya?" Ia memandang Luna dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia menurunkan kacamatanya. "Hai cantik. Ah, sayang sekali. Padahal dia sangat manis untuk aku kencani. Kenalkan aku pada temanmu yang cantik nanti.”

Luna cukup terkejut juga tersipu saat mendengar pujiannya. Dalam satu menit keberadaannya, ia memberikan berbagai ekspresi. Namun semua itu mengarah pada hal yang positif. Berbanding terbalik dengan Colin.

Colin tampak jijik dengan momen itu. Ketika Luna meliriknya, dia memberikan ekspresi yang sangat buruk. Ditambah dengan yang dilakukan sang adik tadi, dia terlihat benar-benar emosi.

Luna gemetar. Devin mungkin bersahabat, tetapi Colin terlalu menakutkan. Pengaruhnya lebih besar, ia ketakutan jika pria itu mengamuk dan menjadikannya sebagai pelampiasan. Benar saja, setelah itu Colin langsung menariknya ke dalam rangkulan, seakan-akan Devin adalah seseorang yang tidak boleh didekati.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Colin dengan nada menusuk.

Ekpresi Devin yang menyenangkan tiba-tiba berganti, kini wajahnya ia tak kalah menakutkan dari Colin. Ia memang tersenyum, tetapi senyum itu tidak bersahabat sama sekali. "Aku ingin melihat keluarga baruku. Ada masalah, Kak?" Devin seperti memprovokasi, ia menjawab dengan sedikit penekanan pada panggilan ‘kakak’. Luna merasa bahwa lelaki itu tengah membakar atmosfer di sekitar mereka. Pertikaian bisa saja terjadi dalam waktu dekat.

"Hei. Kalian baru bertemu sekian lama. Apa harus seperti ini?" Sang ayah melerai mereka. Ketegangan hanya mengendur, bukan berakhir.

Luna bisa menarik kesimpulan dari kejadian itu: hubungan keduanya tidak baik.

"Ayo kita makan bersama. Devin pasti lapar,” ajak sang ibu.

"Benar sekali, mother. Aku sungguh lapar.” Lagi, senyuman Devin berbeda. “Kita makan bersama dulu sebelum kalian pergi bulan madu,” lanjutnya.

"Aku setuju."

Untuk saat ini, Luna masih tidak bisa menebak akan seperti apa Devin. Dia memberikan kesan yang membingungkan. Sifat, perangai, dan gayanya membuat Luna tak yakin. Pertikaian bersaudara itu pun tidak cukup jelas menjawab rasa penasaran Luna. Ia tidak berharap bisa meminta pertolongan darinya. Tetapi setidaknya, semoga Devin tidak melukainya seperti yang Colin lakukan.

Memilih untuk makan di restoran dekat bandara, keluarga—yang terlihat—bahagia itu makan bersama. Mereka menampilkan sebuah potret kemesraan keluarga di tempat umum. Kedua orang tua tampak adil pada semua anak, begitu pula anak-anak yang terlihat sangat menghormati mereka. Keluarga ini punya pamor yang terpandang, hanya jika masing-masing perasaan mereka tidak diungkapkan.

Colin tidak pernah melepaskan Luna walau sebentar. Ia bahkan terlalu dekat, berkali-kali meminta sang adik untuk tidak kontak dengan si anggota keluarga yang baru datang. Pada kesempatan di mana tidak ada yang melihat, ia rajin memberi peringatan. Seperti tidak boleh satu inchi pun Luna tersentuh oleh orang lain.

"Jadi, Ayah dan Eomma akan bulan madu berapa lama?"

Mata Colin memincing, Luna ikut menatap ke arah Devin yang melayangkan pertanyaan dengan nada gembira.

"Sebulan mungkin?"

"Lama sekali.” Devin cemberut, “aku baru sampai dan kalian malah pergi."

"Jangan khawatir. Kami usahakan untuk pulang lebih awal,” jawab sang ayah. “Kau bisa tinggal bersama Colin dan Luna nanti."

Gerakan mulut Colin yang sedang mengunyah otomatis berhenti, ia langsung menatap sang ayah si pemberi redaksi dengan lekat. Tatapan itu mengerikan, Luna enggan melihatnya terlalu lama. “Aku tidak setuju.”

“Dia akan tinggal di rumah ayah,” sahut ayah.

“Kalau begitu Luna ikut bersamaku.”

Devin sesungguhnya tidak masalah, tetapi karena Colin terlihat emosi, ia menemukan sebuah hiburan. “Tapi aku tidak mau tinggal sendiri. Adik cantik, apa mau tinggal bersamaku?”

“Luna bersamaku. Kau tidak bisa dengar?”

“Aku tidak bertanya padamu, Kak. Luna Sayang, apa mau tinggal bersama Kak Devin?”

Luna tentu saja dilemma. Ia tidak bisa memutuskan. Memilih bersama Colin hanya akan membiarkan dirinya terus-terusan menjadi pelampiasannya. Tetapi bersama Devin juga bukan pilihan karena sifat lelaki itu belum diketahuinya sama sekali.

"A-aku ingin bersama Kak Colin saja."

Pada akhirnya mulut Luna berucap manis di hadapan Colin, semata-mata karena tanpa diketahui di bawah meja pria itu sedang memberikan ancaman. Ia sama sekali tak punya keberanian untuk menolak, bahkan di tempat di mana ia bisa saja meminta pertolongan. Pengaruh Colin terlalu kuat dan ia tak tahu apakah membuatnya marah akan menjadi pilihan yang benar.

“Baiklah,” tukas Devin tanpa protes.

Colin membuat paha Luna terasa perih, ia perlu undur diri sejenak jika tidak ingin ada orang yang curiga dengan gelagatnya. "Eh…." Luna bangun dari duduknya. "Aku izin pergi ke toilet."

Hanya butuh beberapa detik bagi Devin untuk mengikuti Luna. “Aku juga ingin ke toilet sebentar.”

Colin menjadi sangat waspada. Terlalu mencurigakan jika ia ikut pergi. Ia hanya mengawasi dari kejauhan. Daripada dicurigai terlibat sesuatu dengan Luna, ia lebih suka menampilkan hubungan tidak akurnya dengan Devin.

Luna tidak tahu apa yang terjadi di luar, ia menyibukkan diri dengan membasuh wajahnya dengan air. Lihatlah dirinya yang sekarang, sepenuhnya menjadi budak nafsu sang kakak. Bahkan ia tak bisa berkutik di hadapan semua orang. Ia telah kalah oleh ketakutannya sendiri.

“Hei,”

Luna terkejut ketika mendengar suara, ia langsung melihat cermin di hadapannya. Betapa terkejutnya ia menemukan Devin sedang bersandar di ambang pintu. “Kak Devin? Sedang apa di sini?” tanya Luna panik. “Ini toilet wanita.”

“Aku memang hendak ke sini.” Devin melihat ke sekitar, lalu ke dalam toilet juga. Tidak ada orang di sana. Hal yang sangat aneh padahal ini adalah restoran yang ramai. “Bagus, aku perlu bicara denganmu.”

“Tapi—“ Luna belum sempat melayangkan lebih banyak protes saat Devin melangkah cepat mendekatinya lalu menariknya ke dalam bilik toilet. “Kakak!”

"Dengar!" Seketika gadis itu terpaku. "Kau mungkin berpikir aku akan sama seperti Colin di pria lembut di luar sana. Kau salah. Aku tidak akan segan-segan melukaimu jika kau melawanku.” Lelaki itu tersenyum lalu mengusap rambut Luna pelan. Ia kemudian membisikkan sesuatu ke telinganya. “Ingatlah, selama ayah dan ibu pelacurmu itu pergi, kau akan melayaniku."

Luna terpaku hingga tak sadar meneteskan air mata. Sekali lagi, ia mendengarkan ancaman seperti itu. Berakhir sudah harapannya menemukan seseorang yang akan membantu, ia hanya terjatuh lebih dalam lagi pada penderitaan.

Good girl.”

To be continued

by Ayasa

Comments (1)
goodnovel comment avatar
niscadhika
Anda masokis sekali, Tuan Colin.
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status