Chapter 9: Black Gown

Enjoy!

-----

“Sayang apakah kau baik-baik saja? Mommy dari kemarin tak bisa berhenti memikirkanmu,” ujar Vello, ibu Liora di sambungan telepon. Suaranya begitu gusar sejak panggilan itu terangkat.

“Aku baik-baik saja, Mom. Jangan khawatir,” jawab Liora dengan helaan napas kasar.

“Liora Brylee Quinton!” sentak Vello yang seketika membuat Liora memejamkan mata. Jika sang ibu sudah menyebut nama lengkap yang jarang diketahui orang seperti ini, itu berarti ibunya sedang benar-benar marah. “Jangan coba-coba membohongi Mommy.”

Liora kembali mendesah, kali ini pelan, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi. Ia menoleh pada jendela kaca mobil yang sedang melaju. Berandai ia dapat melarikan diri dari kenyataan pahit.

“Alex telah meninggal, Mom,” terang Liora akhirnya.

“Apa? Dari mana kau tahu?” Vello yang sedang duduk di sofa tengah ruangan seketika tersentak berdiri.

“Seseorang mengabarkan padaku. Ia telah meninggal dari tiga bulan lalu.”

O Dios mío! (Oh ya Tuhan!)” Vello menutup mulutnya.

Kini segala kekhawatirnya terjawab. Jika Dexter yang mendapatkan kabar ini, tentu respon keduanya akan sangat jauh berbeda. Dexter tak bisa menghilangkan kebencian pada Alex.

Sí, él está muerto, (Ya, dia sudah meninggal,)” jawab Liora dengan pandangannya yang kosong pada bangunan-bangunan yang diterangi dengan lampu jalan yang mobilnya lalui.

Ia dan ibunya memang terkadang menggunakan bahasa Spanyol dalam percakapan keseharian. Bahasa dari garis keturunan neneknya.

“Aku tak bisa memenuhi janjiku pada Vierra, Mom.” Mata Liora seketika berlapis kaca. “Aku sudah menuduh Alex tak bertanggung jawab, padahal ia memiliki masalah sendiri setahun ini. Ia tak pernah mengatakan padaku. Ia juga tak pernah mengatakan pada Rose. Ia pergi selamanya tanpa sempat memandang putrinya.” Air mata Liora berlinang, sampai bulir itu jatuh di gaun yang sedang ia kenakan.

“Sayang, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Maafkan Mommy tak bisa memelukmu sekarang.” Vello terduduk seraya memegang dadanya. Ia turut merasakan nyeri, seperti sang anak rasakan saat ini.

Liora menghapus air mata di pipinya yang berlapis makeup tipis, lalu mengambil napas dalam. Ada acara pesta perusahaan yang sedang menunggunya setelah ini. Ia tak boleh membiarkan wajahnya terlihat menyedihkan nanti di hadapan para tamu yang lain.

“Di mana kau sekarang, Sayang?” tanya Vello ketika ia mendengar samar suara bunyi klakson.

“Aku berada di perjalanan. Ada acara yang harus aku hadiri.”

“Kau yakin baik-baik saja untuk menghadiri acara itu?”

Sí, Mom. Está bien (tak apa-apa).” Liora mengembangkan sedikit senyum tipisnya mendengar ibunya yang memang selalu mudah khawatir.

Ia tak memiliki pilihan. Ia sudah tak lagi mempunyai orang terdekat untuk bercerita. Rose, sahabat satu-satunya telah tiada kurang setahun ini. Adiknya, Starley sedang memiliki masalah sendiri, begitu pula dengan adiknya yang lain, anak sahabat ayahnya yang bernama Haven. Wanita itu sedang sibuk dengan karirnya di dunia musik sampai seakan tak memiliki waktu untuk diri sendiri. Sementara Liora pun tak terlalu dekat dengan adik sepupunya sendiri, Aileen yang tinggal di Indonesia.

Meskipun banyak orang yang ia kenal selama ini, tetapi Liora memang bukan orang yang mudah memiliki hubungan pertemanan secara intim, terlebih pasangan. Itulah mengapa Alex masih senantiasa membayangi hatinya.

Tak berselang lama, telepon antara Liora dan Vello berakhir. Mobil Cadillac Escalade hitam milik Liora pun turut sampai pada gedung tempat pesta diselenggarakan.

Sesungguhnya Liora cukup enggan menghadiri jika seandainya acara ini tak terlalu penting. Kedukaan ini membuatnya enggan bertemu banyak orang. Selain itu ia lebih ingin menghabiskan waktu menemani bayi mungilnya yang malam ini telah lelap tertidur dengan persediaan ASI yang cukup. Kesibukan sering membuat Liora merasa bersalah karena waktu untuk anaknya tersita.

Namun, acara ini adalah pesta di mana orang-orang penting yang berkaitan dalam bidang pertambangan berkumpul. Ia butuh menemui beberapa orang untuk memperkuat jaringan bisnis dan informasi.

Setelah ia menyempatkan membenarkan makeup bekas tangisnya beberapa saat, sopir pribadinya segera membuka pintu mobil dan membantu Liora keluar, mengingat gaunnya malam hari ini menjuntai menyapu lantai dengan model mermaid hitam yang indah.

Setelah melewati lobby dan masuk pada lift yang membawanya ke ballroom utama, akhirnya Liora tiba. Ia melangkah anggun dengan dagu terangkat, memasuki ballroom bergaya mewah abad pertengahan. Seakan tak ada gejolak hati yang mengisi pikirannya. Ia kembali mengenakan topeng dingin pada setiap orang yang meliriknya.

Meski demikian, Liora tak pernah kehilangan sinar cantiknya. Beberapa pria yang Liora lewati tak pernah bisa sekadar melirik singkat pada wanita bersurai golden blonde tersebut.

Gaun mermaid hitam itu pun turut menyempurnakan penampilan Liora malam ini. Beberapa brokat menghiasi sepanjang lengan dan paha Liora dengan tampilan yang menerawang. Sedang bagian dadanya berpotongan sweet heart dengan potongan garis mencapai bawah perut. Tak akan ada yang menyangka bahwa Liora adalah ibu beranak satu dengan gaun ini.

Sekretaris Liora sudah akan melangkah menghampiri sang atasan. Namun, wanita itu kemudian mengurungkan niatnya ketika seorang pria yang ia kenal berjalan mendekati CEO-nya.

“Kau sangat cantik malam ini. Gaunmu juga sangat indah, sangat cocok untukmu,” puji Gavriel tulus yang melangkah dengan menyodorkan segelas champagne.

“Aku sedang berduka,” jawab Liora dingin, merujuk pada pilihan warna yang ia pakai malam ini. Ia lebih memilih mengambil champagne dari pelayan yang baru saja melewatinya.

Gavriel tak mengambil pusing atas penolakan Liora. Ia meletakkan champagne di tangannya secara asal pada meja di dekatnya.

Sementara Liora melangkah menjauh. Bertemu dengan Gavriel adalah hal yang paling ia hindari.

Liora meminum champagne-nya dalam sekali teguk dan mengambil gelas lain. Namun, Gavriel segera merebutnya dan membuat Liora menoleh tak terima.

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya tajam.

Gavriel memberikan gelas itu pada pelayan yang lewat, lalu menoleh. “Aku rasa mabuk dengan gaun seindah ini adalah rencana yang buruk, Liora ….” Gavriel melangkah, mencoba menghancurkan jarak di antara mereka.

“Kau datang seorang diri dengan berpasang mata pria yang mengikutimu sedari tadi. Kau ingin para pria itu mengambil kesempatan saat kau mabuk?” Gavriel membalas tatapan tajam itu dengan mata sebiru sapphire-nya yang hangat, sekaligus berbahaya.

“Apa pedulimu?” Liora bertahan dengan wajah datarnya yang dingin. Justru pria itulah yang membuatnya ingin menenggak champagne sebanyak mungkin saat ini.

Mata perak Liora sekilas melihat jas burgundy berpadukan kemeja dan dasi hitam yang Gavriel kenakan. Pria itu benar-benar bajingan tampan yang seksi malam ini.

Gavriel tak mampu menjawab pertanyaan sederhana itu. Namun, ia memilih menjawabnya dengan senyuman. Meski tangannya ingin mengusap lengan wanita itu. Ia tahu kesakitan hati Liora, tetapi tak ada yang bisa ia lakukan.

Jemari Liora kemudian terangkat pada Gavriel. Membelai dengan gerakan mengikuti hiasan rantai silver dari saku jas hingga kerah. “Atau justru kau yang ingin mengambil kesempatan?” Bibir Liora tertarik sinis.

“Aku tak membutuhkan cara pengecut seperti itu.” Gavriel semakin melebarkan senyum khasnya yang ramah. Tak terpengaruh. Namun, ia semakin merapatkan tubuhnya, hingga dada Liora menempel sempurna pada lapisan jasnya.

“Lalu cara seperti apa yang akan bajingan sepertimu lakukan? Beritahu aku cara licikmu. Apa cara yang sama seperti kau mendapatkan kerja sama bisnismu? Cara kotor, busuk dan biadabmu itu!” Bibir Liora gemetar. Dalam sekejap kondisi mengenaskan mayat Alex yang termakan binatang tanah melintasi matanya, membuat ia kembali berkaca-kaca.

“Ssstt ….” Gavriel membelai bibir bawah Liora yang segera di tepis kasar wanita itu. “Bibir indahmu tak pantas mengucapkan hal seperti itu.”

“Anakku kini tak bisa bertemu ayahnya. Aku tak bisa memenuhi janji pada putriku. Itu semua karena kau dan Prospero sialanmu itu!” desis Liora. Mata peraknya mengeras menatap Don Prospero di hadapannya.

Non (Tidak), Cara mia,” bisik Gavriel lembut seraya menggeleng pelan.

Gavriel semakin menunduk, membawa wajahnya hingga kedua hidung mereka nyaris saling menyentuh. Gavriel dengan sigap mengunci kedua pergelangan tangan Liora di belakang tubuh wanita itu.

Senyumnya masih terukir hangat, berbanding terbalik dengan cengkeramannya yang kuat pada tangan Liora. Satu tangan Gavriel yang bebas, merengkuh leher Liora dengan ibu jari yang menekan bawah dagu, membuat wanita itu terus mendongak dan tak dapat memalingkan wajah darinya.

Mata sapphire-nya mengunci lingkaran perak Liora yang tengah bergetar amarah sekaligus rapuh oleh lara. Gavriel lalu menggesekkan ujung hidung mereka dan menghirup aroma bunga yang manis dari tubuh Liora.

Hirupan napas hangat itu menerpa bibir Liora, membuat tubuh wanita itu bergetar oleh arus asing yang mengikat. Seakan mencoba menghancurkan panas amarah yang telah mengalir pada arus nadi. Jantung keduanya pun tanpa sadar saling beradu dan mengisi irama. Tak seharusnya seperti ini.

Gavriel memiringkan wajahnya, hingga bibir mereka nyaris saling menyentuh. Ia pun berbisik, “Alex adalah seorang pengkhianat. Ia melanggar sumpah omerta dan pengecut itu lari ketakutan seperti seekor tikus. Aku sudah berbaik hati dengan menguburkannya kembali, padahal ia tak pantas mendapatkan kehormatan itu. Jadi … jaga bibir indahmu ini.”

“Persetan denganmu, Gavriel!” desis Liora kian geram, menepis segala getaran asing yang merambati hati.

Gavriel menyeringai mendengar umpatan itu beserta bibir Liora yang kembali menyebut namanya. Tepat ketika seringai Gavriel hilang, bola mata Liora melebar sempurna. Tubuhnya terasa kaku dan isi pikirannya seolah meledak menjadi serpihan di tengah waktu yang seakan turut terhenti. Di sana, pria itu melenyapkan celah di antara bibir mereka.

...To Be Continued...

Makasi banyak sudah baca sampai bab ini. Novel lain karya saltedcaramel:

- My Devil Bodyguard (orang tua Liora)

- Trapped By Obsession (Jake, sahabat ayah Liora)

- Something Between Us (anak Jake)

Yuk gabung di grup WA pembaca. Link grup WA, segala info dan visual novel, cek

di IG @saltedcaramely_

Comments (6)
goodnovel comment avatar
Saltedcaramel
hrga koinnya sesuai dgn jumlah kata di dlm bab kak 🤗
goodnovel comment avatar
Aqua Simorangkir
apa gak kekecilan koin yg di perperluin buat buka kunciannya... 10 koin.. apa gk sekalian 20 koin gitu...
goodnovel comment avatar
Saltedcaramel
kan anaknya vello 🤣 klo jake mna ada 🤭
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status