Cinta yang Kupendam
Cinta yang Kupendam
Author: Akiva Az-Zahra
Di Rumah Alam.

Almaira baru saja bangun dari tidurnya. Ia mengucek-ucek kedua matanya dan setelah itu ia mengenakan kacamatanya untuk melihat jam di ponselnya. Terlihat jam sudah menunjukkan waktu pukul delapan pagi. Setelah itu ia pun terbangun dan menaruh kacamata itu kembali sebelum ia masuk kedalam kamar mandi untuk segera mandi dan menuju ke restoran di mana tempat ia bekerja. 

Ia sendiri bekerja di restoran milik sahabatnya yang bernama Alam. Berkat Alam pula ia bisa mempunyai pekerjaan untuk membiayai adiknya yang bernama Silvia yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas.

Ayah Almaira sudah lama meninggal, sementara ibunya hanya bekerja sebagai penjahit pakaian yang penghasilannya tidak menentu. Jadi, setelah lulus dari kuliah Almaira pun bekerja di cafe milik sahabatnya Alam.

Di usia yang masih muda dan baru saja lulus dari sekolah dan baru memasuki bangku kuliah, Alam sudah bisa memegang usaha keluarganya itu. Dan setelah lulus kuliah Alam fokus dengan cafe miliknya. Dan tak tanggung-tanggung kini akhirnya Alam bisa meraih sukses dengan cafe yang ia pegang itu. 

Setelah mandi dan bersiap-siap Almaira pun segera keluar dari kamarnya dan menuju meja makan untuk sarapan. 

Ibu Ranti, Ibunya Almaira, telah menyiapkan sarapan untuk dirinya. 

"Selamat pagi, Bu," sapa Almaira pada ibunya. 

"Pagi, Almaira," kata Ibu Ranti balik menyapa. 

Almaira menggeret kursi dan duduk di depan meja makan. Di meja makan sudah ada nasi goreng dengan telur ceplok serta kerupuk sebagai lauknya. 

"Kamu berangkat agak siang Almaira?" tanya Ibu Ranti yang kemudian duduk di sebelah putrinya. 

"Iya Bu. Apa Silvia sudah berangkat, Bu?" kata Almaira menanyakan adiknya. 

"Sudah sayang." 

"Oh iya! lagi pula ini kan sudah agak siang," katanya sambil melihat jam di tangannya. 

Ibu Ranti tersenyum pada Almaira sambil memegang tangan putrinya. "Kamu sarapan dulu saja Almaira, Ibu akan melanjutkan pekerjaan Ibu."

"Apa Ibu tidak sarapan?"

"Ibu sudah sarapan sayang," jawab Ibu Ranti sambil dengan tersenyum pada Almaira.

Almaira pun melanjutkan sarapannya. Saat ia baru saja selesai sarapan, tiba-tiba ponselnya berdering. 

Ia pun melihat panggilan yang masuk dan  segera mengangkat panggilan itu. 

"Iya halo ... ada apa Alam?" tanya Almaira di telpon. 

"Almaira! Cepatlah kamu segera datang ke rumah!" bentak Alam pada Almaira di telpon dengan nada tidak seperti biasanya. Dan terdengar sangat marah. 

"Iya, bentar aku lagi sarapan," jawab Almaira dengan santainya dan ia masih mengunyah nasi gorengnya yang baru ia masukkan kedalam mulutnya yang sedang terbuka seperti lubang buaya. 

"Cepatlah Almaira ...," keluh Alam.

"Memangnya ada apa sih?!" tanya Almaira yang sedikit gugup dengan keluhan Alam yang sudah tidak bisa ditahan itu. 

"Aku mencari celana jeansku yang kemarin kamu pinjam. Apa kamu sudah kembalikan padaku?" 

Almaira menepuk keningnya sendiri, "Sorry Alam, celananya masih ada di rumahku. Bentar, aku akan ke rumahmu untuk mengembalikannya. Lagi pula apa kamu tidak punya celana lain selain celana jeans kamu itu?" kata Almaira balik bertanya. 

"Ada banyak Almaira, tapi itu celana yang dipilihkan oleh Yunita. Aku sekarang mau pergi keluar dengan Yunita. Aku tidak ingin cewek itu marah, kalau aku nggak memakai celana itu," jelas Alam pada Almaira.

"Iya ... iya bentar. Bawel!" 

Almaira langsung menutup telpon dari Alam, dan ia langsung mengambil celana yang ia pinjam dari Alam waktu itu. Dan segera pergi berangkat menuju kerumah Alam. Tapi sebelumnya ia berpamitan dulu pada ibunya. 

"Bu, Almaira berangkat dulu Bu," pamit Almaira pada ibunya. 

"Iya Almaira. Hati-hati di jalan," pesan ibunya pada Almaira. 

Almaira kemudian berjalan menyusuri gang sempit menuju jalan raya yang berada di ujung jalan dari gang rumahnya. 

                           ****

Alam yang masih telanjang dada dan menutupi area pribadinya dengan celana kolor masih mondar-mandir di kamarnya. Ia sedang sibuk menunggu Almaira datang untuk mengembalikan celana jeans miliknya. 

"Kenapa lama banget sih, Almaira? bisa-bisa aku terlambat untuk bertemu dengan Yunita," keluh Alam sambil mondar mandir di kamar. 

Tiba-tiba laptop miliknya berbunyi. Seperti ada e-mail yang masuk. Ia pun membuka laptopnya. Dan memang itu adalah e-mail dari papanya. Papanya meminta Alam untuk segera datang ke cafe milik papanya sebab ada beberapa urusan yang harus diselesaikan. Karena papanya akan membuka cabang baru buat Alam yang lokasinya tidak jauh dari cafe yang lama. 

"Sial! kenapa juga papa memintaku untuk datang ke cafe miliknya hari ini? aku kan ada janji dengan Yunita. Bahkan aku juga mau bilang ke Almaira untuk mengurus cafe selama aku pergi dengan Yunita," keluh Alam dan mengaca-acak sendiri rambutnya. 

Alam pun segera menghubungi Yunita untuk membatalkan pertemuan dengannya hari ini. 

Alam mengambil ponselnya dan mencari nomer Yunita. Ia pun segera menelpon Yunita. 

"Halo, Yunita?" 

"Iya sayang ... apa kamu akan datang menjemput ku?" tanya Yunita di seberang sana dengan nada senang saat Alam menelpon. 

"Maaf sayang, sepertinya kita harus menunda acara kita sayang. Hari ini papa memintaku ke cafe yang lama, sebab papa mau membuka cabang baru, sayang." 

Langsung saja suara ceria Yunita tak terdengar lagi dan terdiam di telpon. 

"Aku minta maaf sayang. Bagaimana kalau besok saja? aku pasti akan datang menjemput kamu di rumah dan mengajak kamu pergi jalan-jalan," bujuk Alam pada Yunita di telpon.

Alam tahu pasti Yunita sekarang sedang ngambek. 

"Baiklah, kamu janji ya?"

"Iya sayang, aku janji. Besok aku akan menjemputmu jam sembilan pagi, oke?" 

"Oke, sampai jumpa besok," jawab Yunita di seberang sana dan menutup telponnya. 

Setelah itu Alam segera menutup telponnya. 

Alam kemudian masuk kedalam kamar mandi untuk mandi, sebab ia baru saja habis olahraga pagi. Jadi badannya bau keringat. 

Saat Alam masuk ke dalam kamar mandi ia tidak tahu kalau Almaira sudah datang dan berada di ruang tamu. 

"Selamat pagi, Tante," sapa Almaira pada Mama Alam, Tante Ratih. 

"Almaira?" 

"Iya, Tante," jawab Almaira sambil tersenyum dan menunjukkan gigi-giginya yang berbaris rapi.

"Kamu ke sini pasti mau bertemu dengan Alam, 'kan Almaira?" tanya Tante Ratih. 

"Iya,Tante," jawab Almaira.

"Kamu langsung saja masuk ke kamarnya Alam. Bukankah kamu sering ke sini dan biasanya juga langsung masuk ke kamar Alam?"

"Iya, Tante," jawab Almaira sambil meringis dan menunjukkan gigi-giginya yang rapi itu kembali. 

"Cepetan kamu masuk sana! Pasti Alam sudah lama nungguin kamu," perintah Tante Ratih dengan nada sinis.

"Iya, Tante. Kalau begitu saya permisi dulu, Tante," kata Almaira yang kemudian langsung masuk menuju kamar Alam yang berada di atas. 

Tante Ratih, sebenarnya tidak begitu suka dengan kedekatan Alam dengan Almaira. Kalau bukan almarhum ayah Almaira pernah berjasa pada keluarganya, dan pernah menolong papa Alam dari kecelakaan, dan mengorbankan keselamatannya sendiri bagi papa Alam. Kemungkinan besar tante Ratih tidak akan memperbolehkan Alam untuk dekat-dekat dengan Almaira. 

Almaira masuk kedalam kamar Alam. Ia masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, langsun nyelonong masuk begitu saja. Saat Almaira masuk kamar Alam. Ia pun kaget dengan apa yang telah ia lihat di depannya.

"Aaaaa ...!!"

Bersambung ....

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status