First Blood

"Rosalie monster!"

"Aku bukan monster!"

"Kau bahkan lebih buruk dari monster!"

"Kau jelmaan iblis!"

"Aku manusia biasa!"

"Lalu, sayap apa di belakangmu itu? Jika bukan manusia dan iblis, apa kau akan mengatakan bahwa kau adalah malaikat, huh?"

"Aku tak per--"

Aw. Bau anyir menguar dalam sekejap, saat salah satu kawan panti mulai melempariku dengan berbagai benda padat. Lantas, mereka mulai berbaris sejajar untuk berpasang-pasangan. Menenggak gairah yang seharusnya tak disalurkan. Hampir saja, para kawan itu terserap habis energinya, saat seseorang memanggilku lembut.

"Rosalie ...."

Mentari masih bersinar penuh malu, saat kubuka mata perlahan. Silaunya cahaya kembali mengingatkanku bahwa hidup harus terus berjalan. Mengabaikan tiap kenangan kelam yang selalu datang saat mataku tertutup rapat. Meski hendak kuakhiri hidup, tak akan ada yang terjadi. Semua luka perlahan membaik kembali dalam waktu yang singkat. Membuatku mampu meregenerasi tiap sel dalam waktu kurang dari enam puluh detik.

Kuintip ponsel yang menunjukkan pukul 08.37 dengan tanggal yang berbeda, masih terlalu pagi untuk mengantarkan hasil bidikanku tempo hari. Menghabiskan energi serta darah dari tujuh pria yang hendak menjamah, membuatku harus tertidur lebih dari sehari. Kenyang yang berlebih, membuat tubuhku seakan-akan berhibernasi. Mengistirahatkan diri dari segala aktivitas duniawi.

Setelah berbenah diri dan kamar apartemen, lekas kusiapkan segala keperluan. Mulai dari hasil bidikan tempo hari, hingga beberapa alibi jika saja jejakku terendus oleh tim kepolisian. Dengan santai, kuderap langkah pelan menuju salah satu anak perusahaan majalah.

Sembari memegang kamera keluaran baru yang cukup ternama, kuambil beberapa gambar bidikan pada bermacam aktivitas yang sempat kutemui. Seorang anak kecil sedang menjilati permen lolipop, sembari terus menatap pada salah satu mainan di toko. Binar matanya menyiratkan sebuah keinginan besar. 

"Kau sedang apa?"

"Sedang menikmati permen, Kak."

"Aku tahu, maksudku, sedang apa kau berdiri di sini? Ke mana ibumu?"

"Aku tersesat," ucapnya tenang. 

Kali ini, mungkin mataku yang berbinar. Melihat keberanian bocah kecil yang tersesat, lalu berkata penuh ketenangan. Sepolos itukah aku dahulu?

"Lalu, kenapa kau tak segera mencari polisi yang berpatroli?"

"Sudah, Kak, tapi aku lelah. Jadi, kuputuskan untuk menunggu di sini, di tempat terakhir aku kehilangan ibu," jelasnya. 

"Siapa namamu?"

"Rose, Kak. Kau?"

"Tak perlu tahu, yuk, kita beli mainan."

"Aku tak punya uang, Kak."

"Kutraktir!" seruku. 

Lagi, binar matanya tampak kian menyilaukan. Ia mengangguk mantap,  lalu menggandengku masuk ke toko mainan. Benar saja, ia mengambil mainan yang sedari tadi ditatap melalui jendela kaca. Setelah membayar, kugamit tangannya dan mengajak ke sebuah cafe pinggir jalan. Namun, ia berhenti mendadak.

"Kata ibu, aku harus menunggu di tempat terakhir, Kak."

"Kau benar, Sayang, tapi apa kau tak haus?"

Kulihat ia mengangguk membenarkan, tapi juga menggeleng secara bersamaan. Lekas kusejajarkan diri, berlutut tepat di depannya. "Biar kakak yang beli minum, kau tunggu di sini, ya?"

"Janji!"

Dengan cepat kuderap langkah ke seberang jalan, memesan dua gelas minuman manis dingin yang kini digemari banyak kalangan. Sembari terus melirik dari ekor mata, memastikan Rose masih dalam keadaan aman. Kulihat, ia masih menikmati lolipopnya sambil melambaikan tangan. 

Kugerakkan mulut perlahan, berusaha memberinya isyarat agar tetap tenang. Ia hanya mengangguk dari jauh. Bodoh sekali, bukankah saat tadi ia tersesat sendiri, ia benar-benar tenang? Lalu, untuk apa aku menyuruhnya untuk tetap tenang?

"Silakan, Kak, minumannya." Tanpa mengalihkan pandangan, lekas kuraih kantong plastik berisi dua gelas minuman. Lalu, menyeberang tanpa mengindahkan lalu-lalang kendaraan. Hingga sebuah debuman menyadarkan pada kecerobohan, berlanjut dengan lengkingan suara Rose dan semua menggelap.

"Kakak!"

"Rose?"

"Kau tak apa, Nona?"

Dengan cepat kuhindari kerumunan masa, menutupi wajah agar mereka tak menamatkan pandangannya. Mengabaikan nyeri hebat dari kepala bagian belakang. 

"Kak, diamlah, setelah ini ambulans akan segera tiba," ujar Rose yang kembali mendekat. 

Lantas, kutegapkan badan dan berlari menjauhi mereka. Meninggalkan Rose kembali tersesat dalam kesendirian, mengabaikan beberapa pasang mata yang simpati padaku. 

Salah, ini salah. Rose masih kecil, tapi dia menamatkan pandangannya padaku. Bagaimana jika ia terus mengingatku hingga kembali bertemu? Kau gila, Grace! 

Kuraba kepala bagian belakang, terasa aliran darah yang mulai mengering. Bahkan wanginya masih menguar pekat, saat luka itu kembali menutup dengan rapat.

Masih kuderap langkah tergesa, menghindari banyak tatapan orang sekitar. Entah apa yang salah, hingga anak perusahaan majalah yang kutuju telah terlihat di pelupuk mata. Lekas kumasuki ruang redaksi dan menemui pegawai yang biasa memeriksa hasil bidikan. 

"Kau baik-baik saja, Grace?"

"A-aku?" tanyaku. 

"Tentu saja, lihatlah, kau tampak begitu berantakan."

"Ah, tadi ada sedikit kecelakaan, Mea. Membuatku mau tak mau tampak seperti ini," ucapku sembari menggaruk kepala. 

"Kau sudah diperiksa? Sepertinya ada bekas darah di sebagian rambutmu, Grace."

"Tak perlu, Mea, aku masih bisa berdiri bahkan berlari ke sini. Aku baik-baik saja."

"Berikan hasil bidikanmu dan kau bisa membersihkan diri sebentar di kamar mandi."

"It's a good idea! Thank you, Mea!"

Setelah memberikan beberapa lembar hasil bidikan tempo hari, lekas kutinggalkan Mea di meja kerjanya. Di depan cermin kamar mandi, aku terpaku melihat penampilanku yang begitu berantakan. Bercak darah di mana-mana, bahkan bajuku seakan kusut tak terawat. 

Apa kecelakaan tadi begitu hebat, hingga membuatku begitu berantakan?

Sontak, kuingat perlahan kejadian tadi, berharap tak ada saksi mata maupun kamera pengawas di sekitar tempat kejadian. Sayangnya, karena terlalu fokus pada Rose, aku jadi ceroboh hingga tak memperhatikan tiap sudut yang berkemungkinan dijadikan tempat kamera pengawas merekam tiap kejadian. Kuhela napas panjang, sebelum akhirnya kubilas rambut panjang pada wastafel. Meluruhkan bercak darah yang hampir mengering, lalu meremas rambut dengan kuat.

Setelah memastikan rambut setengah mengering dengan bantuan mesin pengering tangan, cepat kuampiri Mea untuk mengetahui hasilnya. 

"Bagaimana, Mea?"

"Maafkan aku, Grace, hanya ini yang akan kuambil," ujarnya sembari menyerahkan yang lain.

"Hanya satu?"

"Maaf, Grace. Kautahu, kan, Anthony tak begitu menyukaimu?"

"Oke thank's, Mea, uangnya kuambil lain kali, ya."

"Ingatkan jika aku terlupa!"

Kuangkat jempol sebelum akhirnya berlalu pergi, menuju tempat kejadian perkara mengenai kecelakaan tadi. Berharap tak akan ada orang yang mengenaliku, bahkan Rose sekalipun. Lalu dengan cepat, akan kuempas semua kamera pengintai di sekitar sana. Menghilangkan jejak apa pun yang berhubungan denganku.

Sayangnya, di sana Rose masih mematung di depan toko mainan. Cepat kupicingkan mata pada beberapa kamera pengintai, hingga membuat mereka berasap dan mati lampu indikatornya.

Kumasuki sebuah toko elektronik, tak jauh dari toko mainan. Mencari sebuah ruangan penuh dengan layar yang terhubung dengan beberapa kamera pengintai. Mencari rekam jejak Rose dan aku yang mungkin masih tersisa.

Benar saja, lekas kuhapus segala rekam jejak mengenai diri ini. Lalu sedikit memundurkan rekaman, pada jam dimana Rose masih bersama ibunya. Di toko mainan itulah, ibunya masuk dan tak keluar kembali. Membuatku sedikit berpikir keras. 

Ke mana perginya? 

Ira Yusran

Sementara ini, si Grace lagi direvisi, ya, Gaes. Jadi, kemungkinan semua alur bakal berubah. Yuks, pantengin terusss 💚 Salam Hisap 💚

| Like
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Dayat Miftahul Jan
lanjut thor ..
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status