Share

Pembunuh

Aku mondar-mandir di depan ruangan kepala kafe. Ketukanku sama sekali tak digubris, meski beberapa pengunjung saling berbisik sembari melirik ke arahku.

Jonathan! Pria ini membuatku gila!

Tok! Tok! Tok!

Telepon pada meja bar terdengar menggema kali ini. Entah mengapa, rasanya waktu berjalan amat lambat. Aku tak lagi peduli.

"Permisi, Nona."

Kugigit kuku jemari yang mengepal dan menyangga dagu. Rasanya, ada sesuatu yang buruk. Atau, lebih dari itu. Namun, jika memang Jonathan tahu siapa diri ini, kenapa ia tak melapor pada pihak berwajib?

Tiba-tiba, sebuah sentuhan terasa pada lengan. Aku semringah, mengharapkan pemilik manik hazel yang menyapa.

"Maaf, Nona, Tuan Deers tak ingin menemuimu. Kau bisa datang lagi jika sudah membuat janji."

A-apa? Persetan!

Kuhela napas panjang, berusaha menahan gejolak amarah. Lalu

Ira Yusran

Hai, haloo. Yuk kasih tau Otor gimana kelanjutan cerita ini menurut kalian. Kali aja bisa kuikuti maunya kelean. Wkwkwk. Hayo, penasaran kan? Kan? Kan? Ikuti Grace terus, ya. Salam hisap ūüíö

| Like
Locked Chapter
Continue to read this book on the APP

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status