Broken Heart
Broken Heart
Author: Le Kara
Tak Pernah Ada

Hujan masih mengguyur kotaku. Kota tempat aku dilahirkan, tempat aku dibesarkan oleh jalanan, tempatku memikul beban kehidupan ini sendirian dan tempatku memupuk harapan untuk tetap kembali hidup.

Entah siapa orang tua yang telah tega menitipkan aku pada jalanan ini. Seorang bayi lucu dibiarkan tertiup angin di atas selembar koran dan ditutupi sehelai kain di bawah jembatan. Itu aku! Bayi lucu nan menggemaskan itu masih hidup, bahkan sudah cukup telaten disakiti orang bumi. Aku sudah besar, Ma, Pa. Jika kalian masih ada, lihatlah aku beserta keringat-keringat yang bercucuran ini. Aku sudah dewasa! Sudah kulewati masa-masa terburuk dalam hidupku. Namun, cerita baru saja dimulai. 

***

Itulah aku, namaku Alleza Vikram. Umurku 24 tahun, seorang anak jalanan yang kini menjelma menjadi insinyur muda. 

Setiap harinya aku hanya menghabiskan waktu untuk mengitari kota dengan berjalan kaki. Karena aku merindukan perjuangan demi perjuangan yang telah aku lalui. Sehingga aku dapat berada di titik ini.

Bertahun-tahun, kubantah pahitnya kehidupan hanya dengan bermodalkan tekad seujung kuku. Terkadang aku berpikir untuk mengakhiri hidupku ini, hidup di jalanan itu sakit, pedih. Manakala setiap langkah kita tidak pernah ada yang menghargai. Namun, aku sudah kebal. Sudah terlanjur menjadi makananku sehari-hari, tak dapat dipungkiri jika perlahan-lama aku menikmati permainan Tuhan itu. Meski kadang hanya pura-pura.

Bertahun-tahun aku hidup dalam kekejaman, berebut sebuah roti sisa di tempat sampah hanya untuk bertahan hidup. Menampung air keras di tempat pengisian bensin untuk melepas dahaga. Sungguh, kadang aku memang sempat muak dan merasa jika itu semua tidak adil. Hanya saja sekarang aku mengerti. 

Tamparan demi tamparan, pukulan beruntun di wajah, dada dan perut. Sudah biasa buatku, tak etis jika aku menangis beralasan akan hal itu. Toh, aku sudah kebal. Baik-buruknya hidup sudah lumayan aku rasakan. Namun, ada satu hal yang membuat hidupku sepenuhnya berantakan.

***

Satu hal yang membuat hidupku kembali berantakan; Cinta, cinta telah merenggut setiap napas yang kuhela. Cinta telah membunuhku dengan membabi buta tanpa ampun. Cinta juga telah menenggelamkan aku hingga ke dasar-dasar bumi. Sampai aku terpojok oleh diriku sendiri. Menanggung pahitnya rasa sakit yang harus kutelan paksa setiap hari.

Dia itu Ellina, perempuan manis yang kukenal di sosial media. Setiap hari kita selalu bertukar kabar, saling melempar senyuman pun perhatian. Namun, dengan bodohnya aku telah membuat luka dirinya. Menoreh sayatan tumpul dan dentuman pengkhianatan untuknya. Sengaja? Aku tak tahu harus menjawab apa. 

Satu-satunya perempuan yang mau mengerti aku. Mengerti tentang baik serta buruknya diriku. Tahun 2016 aku mengenalnya, dan tahun 2018 untuk pertama kalinya kita bertemu sekaligus berpisah. Sungguh setelah hari itu berlalu aku ingin mematikan diriku. Menghilang dari semesta yang menggantung seluruh rangkaian perasaanku.

Kau tau, Ellina? Setelah hari itu hidupku tandus tak berarah. Kurambah setiap jalanan tanpa tulang penopang di badan. Aku hancur, pun membuatmu hancur juga sama sekali tak terniat dari hatiku. Aku sama sekali tak ingin menitip luka pada dirimu yang baik itu. Bahkan aku berjanji dan selalu berjanji pada dirimu sendiri, aku akan memberimu bahagia meski harus kutanggung jutaan rasa sengsara.

Maka dari itu, tolong dengarkan aku, Ellina. Janganlah kau buat aku separuh gila begini. Aku sudah cukup tak waras karena mencintaimu, jangan buat aku sepenuhnya menjadi tak waras karena kau pergi.

Pagi, siang, hingga malam menjadi pagi. Rasa penyesalan ini membayang-bayangiku. Tak dapat kutolak jika rasa bersalah ini kubawa kemana-mana. Menyesak di dada, dan menumpuk di ingatan. 

***

"Kapan mau kesini?" tanyaku saat itu padamu. 

"Kenapa aku? Harusnya laki-laki yang datang menemui perempuan." jawabmu, berhasil membuat aku terkekeh-kekeh tanpa berhenti.

"Aku belum ada waktu untuk kesana. Kerjaanku menumpuk." ungkapku. Memang waktu itu kerjaanku menumpuk sekali, aku dikejar waktu untuk menyelesaikan kontrak dan segala macamnya. 

"Aku juga harus kuliah, Alle!" tegasmu. Diikuti cekikikkan setelahnya. Sungguh, manis sekali.

Kau tidak bisa marah, bahkan tidak pernah mau memarahiku. Jarang ada yang seperti itu, mungkin kau hanyalah satu-satunya yang seperti itu.

"Coba memarahiku! Sekali saja, " pintaku, memelas ingin dimarahi. 

Bukannya lanjut untuk memarahiku, kau malah tertawa terbahak-bahak tanpa henti. Sepersekian detik kau baru bicara. 

"Kenapa harus marah? Tidak ada hal yang bisa kujadikan alasan kenapa aku harus memarahimu ... Kau sempurna, kau baik, dan aku tulus mencintaimu." ungkapmu, membuat ruang di kepalaku bertambah satu. Agar bisa menitip perkataanmu ini di kepalaku untuk diingat bila-bila waktu. 

"Aku terlalu beruntung karena dapat memilikimu, Ellina. Ribuan kali aku bersujud kepada Tuhan untuk mengungkapkan rasa syukur ini, rasanya saja tidak cukup. Kamu terlalu istimewa, terlalu baik untuk seorang bajingan seperti aku ini." tak terasa merembes sudah air mataku, membentuk parit-parit kecil di pipi. 

Lama kau terdiam, akhirnya kau bicara juga. Sedikit tersedu-sedan terdengar jelas di telingaku.

"Ak--ku mencin--taimu!" ucapmu waktu itu. Diikuti sesenggukkan setelahnya.

"Aku juga mencintaimu. Tenang saja!" jawabku, menahan air mata agar tak tumpah dan merembes dimana-mana.

Aku merindukan masa-masa itu. Dimana kita bisa bercanda ria meski hanya melalui telepon saja. Aku merindukanmu, El. Rindu suara beserta candamu yang berhasil membuat aku tertawa terpingkal-pingkal. Rindu dengan pertanyaanmu yang beruntun; aku sedang dimana, sudah makan atau belum, sudah minum vitamin atau tidak. Aku rindu! Aku tegaskan jika aku benar-benar rindu itu!

Namun, semuanya sudah cukup jelas, El. Sesak sekali jika kuceritakan semuanya, rasanya sakit sekali, El. Barangkali ini pembalasan buatku, untuk setiap inci kesalahan yang aku lakukan. Aku harus semenderita ini sekarang, menanggung beban yang obatnya sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Aku benci pada diriku sendiri, sudah lenyap kebanggaanku untuk diriku semenjak kau menghilang dan tak dijanjikan untuk kembali datang. Aku benci! Bahkan aku muak untuk menetap pada bumi yang membawa pergi kesayanganku. Aku benci pada bumi yang telah ikut menyakitimu, kesayanganku. 

Hari-hari tetap saja berlalu meskipun kau tak lagi mengabariku. Hilir mudik kucari letak keberadaanmu tapi masih saja tangan kosong dan berita bohong yang kubawa pulang. Entah kau dimana waktu itu? Yang aku tahu Tuhan sudah merebutmu dariku. Hanya itu!

***

Dia Ratih, rekan kerjaku. Ada perasaan bergejolak setiap kali aku bertemu dengannya. Namun, aku sama sekali tidak mencintainya, bahkan aku tak ingin. 

Kejadian yang kau lihat waktu itu; aku melakukannya hanya karena aku tak sengaja terbawa suasana. Memang kuakui jika ada ikatan di antara kami, itupun baru beberapa hari setelah aku mengenalnya. Bahkan baru beberapa minggu sebelum kau datang itu.

Mungkin karena hubungan jarak jauh kita, sehingga aku melakukan hal itu. Jujur seumur hidupku belum ada sesosok pun yang memberiku perhatian dan kenyamanan seperti yang Ratih lakukan dan berikan. 


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status