Bad Blood
Bad Blood
Author: Jaeho Love
Prolog

“Kau akan bertemu dengannya sesegera mungkin. Dialah belahan jiwamu yang sesungguhnya.”

Mata itu menatap bayi yang terpejam didepannya. Mata hitamnya menerawang jauh melihat wajah lelap milik bayi itu. 

“Apakah dia akan menjadi istriku?” tanya sosok pemuda yang masih terus menatap bayi yang terlelap dalam boxnya itu. 

“Tentu saja. Kau takkan pernah bisa menghabiskan sisa hidupmu kecuali dengannya.” Ucap sang wanita tua yang berdiri dibelakang pemuda itu. 

“Jadi aku harus menjadikannya istri?” tanyanya datar. 

Sang wanita tua mendekatkan bibirnya tepat disamping telinga pemuda yang berdiri didepannya. “Suatu hari ia akan datang padamu dan menjadi istrimu. Kau tenang saja.”

...

Vampir adalah sejenis makhluk yang hidup dengan cara menghisap darah manusia dan atau bahkan hewan sekalipun. Vampir telah ada selama beberapa abad silam, namun, keberadaan Vampir ini baru mulai dipercaya dan ditakuti sejak abad ke-11 silam. Makhluk ini menjadi begitu ditakuti karena makhluk ini merupakan bangsa makhluk yang selalu berevolusi dan hidup abadi. Namun, tentunya makhluk ini tidak begitu saja muncul dan ditangkap dengan mudah di hadapan manusia.

Terlahir dari legenda kegelapan, makhluk penghisap ini menjadi mitos yang paling ditakuti pada abadnya. Berbagai mitos datang silih berganti seiring dengan rumor beredarnya vampir dalam dunia nyata. 

Cermin, Bawang putih, Kelelawar, Malam hari, keabadian...

Dan darah. 

Semuanya begitu lekat merekat pada sosok bertubuh dingin itu. 

Dari mana asalnya dan bagaimana terciptanya makhluk itu, tak ada yang tahu. Fakta lain menyebutkan bahwa vampir sesungguhnya tak memiliki kemampuan untuk berenang, namun mereka dapat terbang layaknya burung dilangit.

Percayakah?

Mungkin sebagian akan berkata iya, mungkin saja tidak. 

Mereka adalah sosok dingin yang memiliki sejuta kenangan pahit dalam hidupnya. Tak ada yang bisa menerima kehadiran mereka, karena mereka hanya bergerak sesuai insting. Tak ada yang berani mendekatinya karena takut darah mereka akan dihisap habis. 

Tapi apakah benar?

Vampir dapat membuat mangsanya terhipnotis oleh mata merahnya yang tajam. Ia bisa berubah menjadi hewan apa saja untuk mengelabuhi mangsanya. 

Namun satu hal yang harus benar-benar diketahui, Vampir tetaplah mahkluk yang telah tercipta. Kehadirannya sudah tergaris dalam buku takdir, dan pada kenyataannya mereka hanya makhluk dingin yang kesepian. Kegundahannya mereka salurkan dalam tidur dibawah sinar matahari. Setiap kali mata itu terpejam, maka disanalah ketenangan bagi mereka. Malam tak mengijinkan mereka untuk beristirahat karena itu bukan saatnya. 

...

“Kakak, apakah masih lama perjalanannya?"

Seorang wanita bermata abu-abu nampak tersenyum ke arah sang adik kembar yang tertidur dalam pangkuannya. Meski mereka adalah saudara yang lahir disaat bersamaan, namun disinilah perannya sebagai si sulung bermain. Dengan lembut tangannya membelai surai hitam rambut sang adik. Mata hazel miliknya begitu sayu ditatapnya. 

“Belum. Mungkin sebentar lagi.”

Sang adik menaikkan selimut bermotif bunga-bunga miliknya. Dalam pelukannya, sebuah boneka berbentuk musang putih dengan setia digenggamnya. Guncangan kereta kuda yang menghantar kedua bersaudara ini ke pinggir kota Last Town menjadi sebuah bukti bahwa saat ini mereka tak dalam keadaan tenang. 

“Siapa yang menyangka bangsawan muda tampan itu yang mendapatkan semuanya.”

“Aku tak menyangka bahwa hunian kita bisa tergusur oleh mereka. Sungguh orang-orang keji mereka!” teriakan bersahutan didalam kereta kuda panjang itu. Orang –orang terduduk bersama bawaan dan juga anak-anak mereka. Wajah lelah dan emosi ditengah malam menjadi gambaran tersendiri bagi mereka. Bagaimana tidak, dalam satu malam, rumah yang sudah mereka huni selama puluhan tahun harus tergusur karena sebuah perjanjian konyol antara pemimpin kota Last Town yang telah wafat dengan salah satu kelompok bangsawan.

Jejeran pohon pinus yang menjadi perbatasan antara pinggir dengan jantung kota Last Town menjadi pemadangan terakhir dimana para penduduk lama bisa melihat sisa bangunan rumah mereka. 

Saat kereta kuda membawa mereka semua melewati hutan, tak ada lagi yang tersisa. Semuanya telah tertutup oleh rindangnya pepohonan yang nampak berkabut malam itu. 

“Aku harap mereka menjaga rumahku dengan baik.” Ucap salah seorang ibu muda yang terduduk sambil menggendong bayi ditangannya. 

“Ya, aku harap juga begitu.” 

Gadis kecil yang memiliki mata hazel itu pun dengan setia menjadi pendengar para tetangga yang merupakan penduduk lama disana, termasuk dirinya. Hatinya seketika gundah saat beberapa jam yang lalu orang tua asuh mereka mengatakan bahwa seluruh penghuni jantung kota Last Town harus sesegera mungkin pergi meninggalkan rumah mereka. 

Memang ada sebuah kompensasi, namun apalah arti sebuah uang kalau tak bisa mengembalikkan kenangan mereka. Seperti itulah perasaannya. 

“Apa yang kau pikirkan..?”

Gadis mungil itu mendongakkan kepalanya. Mata sang kakak yang langsung bertemu pandangan dengannya selalu membuat hatinya tenang. Namun tetap saja ia bergeming. Mayya kecil lebih memilih untuk terdiam membisu. 

Tak ada kata sampai mereka benar-benar sampai disebuah pemukiman kecil dipinggiran kota. Itulah salah satu kompensasi mereka selain uang yang diberikan. Kelompok bangsawan itu begitu mulia hingga mampu menghambukan uang mereka hanya untuk memikirkan nasib penduduk lama. 

Mereka yang sampai disana terlihat takjub. Pemukiman itu memang kecil, namun sangat asri dan nyaman. Beberapa bahkan ada yang sengaja mengabadikannya dengan menuliskannya pada sebuah jurnal. 

“Ini pakaian selimutmu.” Tubuh sang kakak yang jauh lebih tinggi darinya membungkus tubuh kecil Mayya dengan selimut tipisnya. Sama halnya seperti penduduk yang lain, sang kakak juga terlihat terpesona dengan rumah baru mereka. 

Namun tidak dengan Mayya. Mata kecil milik gadis itu nampak jauh menerawang kemana setelah ini hidup mereka akan berjalan. Dirinya sudah terbiasa hidup didalam lingkungan jantung kota Last Town, sulit baginya untuk beradaptasi. Apalagi sebagian teman bermainnya memilih untuk menerima uang saja dan pindah ke kota lain.

“Mayya, tenang saja semua akan baik-baik saja.” sang kakak menggenggam tangan adiknya dan membimbingnya masuk ke dalam rumah baru mereka. 

Inilah kehidupannya, disana ia akan memulai semuanya. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status