1. Putri Malu

Deru mesin motorku berhenti di depan gerbang setinggi enam meter dengan runcing panjang di atas. Mungkin jika ada yang memanjat gerbang ini ia harus mengangkat punggungnya ke atas dan membentuk U ke bawah di tubuh. Namun, aku tidak berniat memanjatnya. Itu terlalu berisiko. 

Pagi ini tepat di bulan Januari Ayah membawa kabar membosankan lagi. Dia seorang diplomat, sekarang pindah ke Indonesia dan harus membawa keluarganya ke tempat dinas. Pindah sekolah, sudah seperti rutinitas. Bisa saja aku tidak perlu ikut Ayah dan tinggal dengan Nenek di Singapore. Namun, ini berbeda setelah aku tahu Ayah mengabarkan Indonesia tempat dinas berikutnya. 

"Nak Liam, ya?" Seorang lelaki dengan wajah licinnya bertanya. 

"Iya, Pak. Saya murid baru, tapi bapak kok bisa tau nama saya?"

"Saya Joni. Ciri-ciri kamu persis banget sama foto di hp saya." Pak Joni menunjukkan layar ponsel. Itu memang aku. "Pak kepala sekolah yang ngasih. Katanya, saya disuruh nganterin kamu ke kantornya."

"Oo, baik, Pak."

Pak Joni mengangguk. Dia berjalan lebih dulu untuk menunjukkan jalan. Sekolah ini tampak sangat kuno. Namun bangunannya terlihat terawat. Desainnya kental sentuhan Eropa dan Timur tengah. Mungkin saja faktor dominan agama dan campur tangan sejarah tergabung dalam desain arsitektur. Di beberapa sudut nampak bangku yang berjejer. Aku tidak tahu mengapa mereka meletakkan bangku di sudut bangunan. Setiap gedung memiliki tiga buah pohon matoa. Sehingga, gedungnya nampak rindang dari kejauhan. Beberapa siswa terlihat bergerombol di depan kelas--menari dan mengabadikannya lewat ponsel. 

"Silakan masuk, Liam. Bapak kepala sekolah sudah menunggumu." Pak Joni memberitahu. 

Aku mengangguk kecil. "Terimakasih, Pak."

"Sama-sama. Kalau begitu, saya permisi untuk kembali ke pos, ya. Ingat, besok jangan datang terlambat karena saya pelit dispensasi."

"Hehehe, siap Pak."

"Siip."

Sepeninggal Pak Joni aku berniat masuk ke dalam ruangan. Namun, belum sempat aku melangkah maju suara perempuan terdengar dari dalam. Sayu dan lirih. Aku berhenti, mendengar sekali lagi. Apakah hanya ilusi atau itu suara perempuan yang telah membuat masalah dengan petinggi sekolah? Entahlah.

Selain mendengar aku juga mencium aroma aneh dari dalam. Seperti bau bunga mawar dan melati yang dipadu dengan lavender. Harusnya bau ini sedap jika dibuat parfum. Namun seseorang telah menuangkan ekstrak nya terlalu banyak. Aku hampir mual, tapi ku tahan. Tak lama setelah itu, seorang perempuan dengan mata bulat yang redup menatapku penuh kejut.

"Ha-hai?" Aku menyapa canggung. Gadis ini manis sekali. Biarpun matanya redup tapi ia memiliki tahi lalat di bawa bibir yang samar. Aku sampai memperhatikan sejauh itu karena jarak kami yang terlalu dekat.

Sayangnya, dia tidak menyapaku balik. Biarlah, mungkin lain kali kami bisa bertemu. Sepertinya dia gadis yang baru saja menemui kepala sekolah. 

"Selamat pagi, Liam. Kamu pasti sudah menunggu sejak tadi." 

Aku tersenyum canggung. Aku ketahuan menguping di hari pertama sekolah. 

"Saya tidak bermaksud, Pak."

"Saya tahu itu. Maaf sudah membuatmu terkejut di hari pertama. Gadis yang baru saja keluar itu namanya Lima. Jika boleh memberi saran, jangan dekati dia."

Aku tidak mengerti. Aku kira Bapak di depanku akan menjelaskan dimana kelasku, siapa wali kelasku, peraturan apa saja yang ada di sekolah ini, dan sesuatu yang bersangkut paut dengan siswa baru. Namun ia justru menyinggung gadis manis tadi. 

"Kau mungkin bertanya kenapa." Kepala sekolah seperti tahu isi kepalaku. "Lima tidak baik untuk masa tumbuh siswa lainnya di sekolah. Sebenernya, aku ingin mengeluarkan Lima, tapi aku belum memiliki bukti yang kuat. Dia anak yang sangat keras kepala."

Jadi, aku harus menghindari Lima karena gadis itu diam-diam berbahaya? Entahlah, aku bahkan baru bertemu dengannya sekali. Dia ... sangat manis. Itu saja.

"Jadi, bagaimana dengan kelas saya, Pak?"

"Aku dengar kau adalah anak diplomat Singapore? Suatu kehormatan sekolahku menjadi pilihan ayahmu untuk menempatkan putranya disini." 

Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Itu, bukan jawaban yang kuinginkan. 

"Tolong sampaikan salamku pada ayahmu. Kapan-kapan mungkin aku bisa berkunjung."

Boleh kesimpulkan jika kepala sekolah sedang mencari celah untuk duduk bersama dengan orang-orang penting abdi negara. Entahlah jika si kumis tebal yang nampak berwibawa dengan kemeja putih itu menginginkan sesuatu untuk kepentingan pribadi. Itu, bukan masalahku.

"Selamat pagi, Liam. Saya Ibu Hesti, wali kelas kamu. Maaf Pak, saya izin mengantarkan Liam menuju kelasnya."

"Oh, tentu Ibu Hesti. Silakan."

Lantas, untuk apa kepala sekolah memanggilku ke ruangannya? Hanya untuk mendengarkan pertengkaran dengan Lima? Atau ingin bertemu dengan anak diplomat? Sial. Kehadiranku seakan tak berguna.

Beruntung aku mendapatkan Ibu Hesti sebagai wali kelas. Orangnya sangat ramah dan banyak cakap. Dia pandai menggunakan bahasa Inggris dan Melayu. Aku hanya tersenyum mungil dan berkata aku bisa bahasa Indonesia dengan fasih. Karena sepuluh tahun yang lalu, aku besar di Indonesia.

"Selamat pagi anak-anak, jadi hari ini kita kedatangan siswa baru pindahan dari Australia. Liam, coba perkenalkan diri kepada teman-teman barumu."

Mereka terlihat sangat senang. Bahkan aku bisa melihat mata gadis yang duduk di barisan terdepan berbinar. Beberapa siswa laki-laki melambai. Mereka duduk di barisan paling belakang. Ah, dasar siswa SMA. Suka sekali mencari spot untuk bercengkrama, tidur, dan berpura-pura memperhatikan materi padahal sedang bermain sesuatu di bawah meja. Melihat aura kelas yang penuh dengan warna aku menyimpulkan sesuatu. Sepertinya, kelas ini akan menjadi kelas yang menyenangkan di hari pertamaku. 

"Aku Liam. Sebenarnya aku dari Singapore, tapi tahun sebelumnya aku sekolah di Australia. Semoga kita bisa menjadi teman baik. Terimakasih."

Bu Hesti dan teman-teman kelas bertepuk tangan. Suaranya sangat riuh. Seperti melihat penonton sepakbola yang gembira ketika tim yang mereka dukung menang. Namun, suara tiba-tiba senyap ketika seorang perempuan dengan rambut sepinggang itu datang. Kepalanya menunduk. Aku tidak tahu siapa dia, itu jelas dan wajar sebab aku siswa baru disini.

"Lima, kenapa baru masuk?"

"Saya tadi terkunci di toilet."

"Astaga, apakah kamu terluka di dalam sana, Lima?"

"Tidak."

Bu Hesti menarik napas panjang. Sedangkan aku mematung menatap perempuan itu. Dia ... Lima. Seorang siswa yang tidak boleh untuk ku dekati. Tiba-tiba saja suara angin seperti jelas terdengar di telinga. Kulihat mereka semua senyap setelah Lima datang. Bahkan gadis yang tadi berbinar melihatku menunduk ketakutan. Beberapa siswa lainnya menunjukkan reaksi yang sama. Hanya sebagian saja yang nampak biasa dan tak acuh pada Lima.

"Liam, kamu duduk di bangku kosong itu. Dan Lima, Ibu harap kejadian yang kamu alami tidak akan terulang kembali. Ibu akan memberitahukan pihak sekolah untuk hal ini."

Bangku kosong? Itu bangku di baris ketiga. Aku meninggalkan Lima dan segala keanehan di kelas ini. Lima, dia lebih tampak seperti gadis yang tertindas. Namun siswa lainnya nampak ketakutan melihat Lima. Mungkin kah jika mereka yang mengunci Lima dan takut dengan hukuman Bu Hesti. Entahlah.

"Jangan dekati aku." 

Aroma bunga Melati, Mawar dan Lavender kembali menyengat hidungku. Bersamaan dengan suara dingin yang membuat leherku merinding. Aku baru sadar itu suara Lima ketika ia melewatiku dan duduk di bangku barisan keempat. Tepat di ... belakangku?! Lima, kemana wajah manis yang tadi kulihat? Kepalanya yang selalu menunduk menghalangi wajah manis itu. Apakah teman-teman tahu, semanis apa Lima ini?

"Woy, Liam! Kenalin aku Tahun!" 

"Tahun?"

"Iya, kamu enggak salah denger kok! Btw, kamu pasti ngerasa aneh sama aroma badannya Lima, kan?"

Tahun, lelaki yang duduk di sebelahku berbicara pelan. Tubuhnya yang pendek dengan lesung pipit dan gigi gingsul itu hampir membuatku terkecoh jika dia lelaki. Anak ini, terlalu cantik dan imut.

"Iya, kenapa?"

"Jangan deketin Lima. Dia bisa liat apa yang enggak bisa kita liat. Dia itu anak dukun! Kita bisa sial kalo berurusan sama dia!"

Leherku tiba-tiba saja meremang. Ketika aku menoleh ke belakang, mata Lima sudah menatapku tajam. Seakan dia ingin menyampaikan, "jangan main-main denganku!"

***


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status