2. Orang Asing

Jika ada negara kedua yang ingin aku kunjungi, aku akan menyebut Jepang. Sebab, aku suka musim semi dan mekarnya sakura. Aroma musim semi selalu penuh dengan warna. Aku suka hangatnya. Bagaimana aku akan memakai syal tebal dan bulu-bulu yang imut di ujung kaus kaki. Di Jepang aku memiliki banyak teman. Sebab, di kelas hanya ada siswa laki-laki saja. Persamaan itu membuatku mudah membaur dan banyak dikenal hingga ke kelas lainnya karena beberapa kali aku sempat menjadi delegasi sekolah untuk menjalankan kegiatan di luar pembelajaran. Aku senang memainkan musik biola bersama dengan Yuri, teman perempuan di kelas sebelah. Yuri pandai bermain piano dan aku memainkan biola. Kami berlatih di ruang musik yang sama setiap sekali dalam seminggu.  dibunyikan secara estafet. Namun karena Yuri sudah akrab dengan musik tidak butuh waktu yang lama untuk membuatnya mengerti.

Sayang sekali, setelah lulus dari sekolah dasar ayah harus pindah ke negeri Kanguru. Salah satu hal yang sangat aku rindukan adalah Yuri, musik, dan teman-teman kelas. Mereka sudah seperti keluarga baru di Jepang. Perpisahan itu terjadi tepat di musim semi bersamaan dengan mekarnya Sakura. Teman-teman kelasku, termasuk Yuri mengantarkan sampai bandara. Mereka menghadiahkan pohon bongsai yang sangat cantik. Harusnya aku senang setiap melihat pohon itu, tetapi tiap kali berjumpa dengan pohon bonsai mood ku menguap entah kemana. Aku ... sangat merindukan mereka.

Minggu keenam di Indonesia aku sudah memiliki beberapa teman sekolah yang bisa dikatakan cukup dekat. Ada Tahun yang gila anime dan Syasi si bucin akut. Mereka adalah orang-orang yang memiliki intensitas waktu lebih banyak bersamaku ketimbang yang lain. Sebab itu, mereka saja yang kusebut. 

Kebetulan, esok Ibu Umi mengadakan praktek solat jenazah untuk siswa muslim. Karena aku termasuk malam ini aku bersama dua temanku berencana untuk berbelanja kain mori. Syasi dan Tahun tiba pukul delapan malam menggunakan mobil mini seperti milik Mr. Bean. Orang pertama yang paling rusuh naik ke mobil itu jelas hanya aku. Ayolah,aku tahu itu mobil tua! Harusnya sudah dimuseumkan meski harganya jauh diluar perkiraan--sangat tinggi! 

"Ini pasti rencana Tahun!" Aku menggerutu di dalam. Tahun yang sedang menyetir hanya menyengir saja. 

"Kau tau Liam? Dia bahkan mencuri tabungan Deon malam ini. Benar-benar kakak yang tidak bisa diandalkan!" Syasi ikut mengomentari. 

"Diamlah Syasi! Uang di mata Deon tidak ada nilainya. Daripada ia buang di tong sampah, lebih baik ku pakai." Tahun membela diri dengan sebuah alasan tak masuk akal. Mana ada anak usia sepuluh tahun yang menyia-nyiakan uang di zaman sekarang.

Aku duduk di samping Tahun. Syasi memainkan ponsel dan membiarkan Tahun berkendara. Alunan musik pengantar anime Attack on Titan bergema di dalam mobil. Sudah puluhan kali Tahun mengajak ku menonton berbagai anime. Ia berusaha meracuniku dengan kartun-kartun itu. Namun,aku tidak terlalu menyukainya. Sebab itu bukan passionku. 

Syasi tiba-tiba mendesah panjang sembari membuang wajahnya ke samping. Ia terlihat layu dengan bibir yang surut ke bawah itu. Pasti, lelaki yang ia sukai mengabaikan Syasi lagi. Bukan tanpa alasan aku bisa bersahabat dengan Syasi. Dia rekan akademisku yang berprestasi. Boleh dibilang aku dan Syasi berkompetisi dalam bidang akademik. Di luar itu, kami sahabat yang saling melengkapi.

"Ada apa Sya?" 

Syasi tidak menoleh ke arahku. Lampu-lampu lalu lintas dan kendaraan di atas jalan nampaknya lebih menarik untuk dia. 

"Nori pergi dengan guru les bahasa Jepang nya."

Aku dan Tahun saling bertukar pandang. Tiga detik setelahnya kami tertawa keras. Lelaki sombong dengan pipi chubby itu benar-benar membuat Syasi bucin setengah hidup!  Jelas saja Syasi tidak terima atas penghinaan kami. Dia memukul kepala kami--aku dan Tahun secara bergantian. Kami mengaduh, tapi tak lantas berhenti tertawa begitu saja.

"Kalian akan merasakan apa yang aku rasakan dua kali lipat rasa sakitnya! Lihat saja!" sumpah Syasi. Mengakhir gelagar tawa.

***

Mobil Tahun berhenti tepat di toko pakaian. Kami keluar dan langsung menuju toko. Tidak butuh waktu yang sangat lama untuk mencari kain mori. Di meja kasir kami membayar dan mendapatkan barang yang kami cari. 

Brak

Tiba-tiba suasana di luar menjadi sangat bising. Suara sirine polisi mendekat dan mengontrol masyarakat yang sedang berada di kawasan itu. Nampaknya mereka terlihat penasaran dengan suara keras di bahu jalan tadi. Syasi ingin keluar, tapi aku mencegahnya. Tahun pun setuju. Sepertinya di depan toko ini baru saja terjadi kecelakaan. Melihat pemandangan mengerikan seperti itu bisa menimbulkan rasa trauma dan ngeri. 

"Biarkan saja. Lebih baik kita pulang sekarang."

"Tapi Liam, aku ingin tahu!"

"Syasi!"

Dia terlihat merenggut kesal. Bukan tak mau menuruti, aku hanya tak ingin ribet dengan tangisan atau rengekan perempuan karena ulah mereka sendiri. Seperti, aaaa darahnya banyak banget! Aaa, aku takut. Padahal mereka sendiri yang mendatangkan rasa takut itu.

"Liam, ponselmu hidup." Tahun menunjukkan layar ponselku yang menembus kain hodie. Aku lupa menghidupkan notif getar. 

"Sepertinya aku tidak bisa ikut kalian pulang. Kakakku baru saja tiba di bandara. Aku harus segera menyusulnya."

"Ah baiklah. Aku akan membawa jomblowati ini pulang sendiri." Tahun melirik Syasi. 

Syasi memukul lengan Tahun, tidak terima disebut jomblowati. "Kau lebih buruk! Jatuh cinta dengan guru les adikmu tanpa bisa mendekatinya!" Kalimat Syasi ditutup dengan juluran lidah. 

Aku baru tau fakta tentang Tahun. Lelaki imut yang sempat kukira perempuan itu menarik kepala Syasi ke dalam ketiaknya. Syasi mengaduh karena tidak tahan dengan aroma ketek Tahun. Tidak sampai disana pembalasan Tahun mereda. Ia menggendong Syasi ke atas bahu dan membawanya pergi seperti beras yang tidak berguna. Aku hanya menggeleng melihat ulah keduanya.

Selepas mereka pergi kini aku berdiri di tepi jalan untuk menunggu taksi menuju bandara. Aku masih bisa melihat kerumunan di simpang jalan yang belum membubarkan diri. Ambulance datang menuju kerumunan. Dari kejauhan aku melihat seorang gadis dengan gaun pendek berwarna putih berlumur darah dibawa ke dalam ambulance. Namun perempuan itu nampak tidak ingin. Ia hanya diobati di luar dan diikatkan perban di kepalanya. Pasti kepalanya mengalami luka yang lumayan parah. Anehnya dia seperti baik-baik saja. Padahal darah sudah hampir membanjiri tubuhnya. 

Lima detik berikutnya, gadis itu menolehkan kepalanya ke arahku. Aku tidak begitu yakin, tapi dia benar-benar berdiri dan menerobos kerumunan ke arahku. Hawa di sekitar menjadi sangat aneh. Aku tidak cukup yakin jika gadis yang sekarang nampak nyata dengan rembesan darah itu mendekat. Tepat setelah taksi berhenti aku segera masuk dalam kondisi badan gemetar. Entahlah, tapi aku merasa ada hal buruk yang berusaha mengintai ku.

Brak

Pintu terbuka, gadis dengan rembesan darah itu ikut masuk dan menutup pintu taksi. Aku terdiam di tempat. Dia menatap penuh minat. Seakan-akan aku ini makan malam yang akan dihidangkan oleh koki untuknya. 

"Maaf, apakah Anda membawa perempuan ini bersama?" 

"Ya, aku bersamanya." Gadis asing itu menjawab lebih dulu. 

Supir taksi mengangguk dan langsung membawa kami menuju tempat yang sudah aku cantumkan sesuai pemesanan. Oh Tuhan, siapa gadis yang nampak binal ini? Dia terus menerus menatapku. Aku bahkan tidak bisa mengeluarkan suara karena aroma anyir dari tubuhnya.

"Lila. Panggil aku Lila. Kita berhenti di sini."

Taksi itu benar berhenti di depan apartemen Mawar. Supir yang membawa kami kebingungan karena tujuannya tidak sesuai dengan pemesanan di aplikasi. Gadis bernama Lila itu mengecup pipi ku dan mengerling sekali. Ia melambai dan terlihat masuk ke dalam apartemen Mawar. Aku masih terdiam di tempat. Masih mencermati apa yang sudah terjadi. Rasa-rasanya aku pernah bertemu dengan Lila, tapi dimana?!

"Maaf, Anda turun? Kekasih Anda sudah pergi."

"Kita, kita ke bandara."

Supir itu makin kebingungan. Namun dia tetap menjalankan tugas sebagai supir. Bukan hanya dia saja, tapi otakku juga tiba-tiba konslet. Siapa Lila? Mengapa dia mendekatiku? Bagaimana bisa dia memperlakukan aku seperti lelaki bodoh?! Arrgggghh!

"Ya, apartemen Mawar. Lain kali, aku akan kembali kesana."

"Maaf, Pak?" 

"Aku tida berbicara denganmu. Fokus saja menyetir!"

"Ah, baik Pak."

Lila. Aku akan mencarinya lagi. Ya, aku tidak akan melepaskan perempuan yang sudah kurang ajar menciumku di depan orang asing!

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status