3. Guru Les Deon (Tahun)

Sialan! Mulut Syasi memang sukar dikontrol. Dia membeberkan kepada Liam tentang guru Deon. Sekarang, aku tidak bisa berkutik lagi jika melihat Syasi yang berusaha memberikan perhatian kepada Nori. Akh! Masih untung perempuan cerewet itu aku antar sampai gerbang rumah. Tidak kubuang ke sungai Ciliwung atau tempat pembuangan sampah.

"Heh, Tahun! Kemana pembantumu pergi?" Si kecil cabe rawit ini mengagetkan ku saja! Sudah jam berapa ini? Ah ya ampun, sepuluh?! Kenapa cabe rawit si mulut pedas belum tidur?

"Dia tidur di kandang monyet. Jika ingin bertemu dengannya, pergilah ke kebun binatang." Aku melempar kunci mobil ke arah meja. Malam ini mobil itu bersahabat denganku karena tidak  batuk-batuk dan mogok di jalan. 

Deon mengikuti langkahku. Hrrggg, si cabe rawit ini benar-benar parasit dalam kemalasanku! Aku berbalik dan menatap tubuhnya yang pendek. Bisa dibilang, anak itu sepuluh kali lipat lebih imut dariku. Namun punya kelakuan minus seratus derajat pada beberapa orang. Aku, misalnya.

"Ada apa?!" tanyaku, ketus.

"Karena pembantu tidak ikut, kau harus membuatkan aku dua gelas jus seledri."

Bah! Apa kubilang? Anak ini otoriter dan mengalahkan rezim Hittler. Biasanya yang dia jadikan babu adalah Syasi. Namun berhubung Syasyi tidak ada kini aku yang harus menggantikannya. Bukan tanpa alasan Deon menyukai jus yang rasanya aneh seperti kaus kaki kataku. Dia vegetarian sejak kecil. Deon elergi daging, dia akan kejang-kejang bahkan dirawat tiga hari apabila daging masuk ke dalam sistem pencernaannya. 

"Dua itu terlalu banyak!"

"Ibu Laila juga suka jus seledri." 

Hah? Laila? OMG! Dia ada di rumahku sampai selarut ini? 

"Masuklah ke kamar. Aku akan membawakan jus seledri untukmu dan Laila."

"Ibu Laila, dasar pikun!"

Aku bahkan tau jika Laila itu seumuran denganku. Si cabe rawit alias Demon ah Deon maksudku memasang wajah songong. Dia tahu jika aku menyukai gurunya. Dia juga paling tidak suka jika di dalam keluarga, kami memanggil Laila tanpa embel-embel 'Ibu'. Masih untung aku tidak menepis rengekannya. Hingga Deon masuk ke dalam kamar untuk kembali kepada Laila.

Sembari membuat jus seledri, aku sengaja menelpon Papa. Mama sudah bercerai dengan Papa tiga tahun yang lalu. Wajar saja jika Deon sedikit dingin dan songong karena ia besar tanpa arahan dari Mama. Sedangkan Papa sibuk bekerja mengurus perusahaan dan di rumah Deon bersama dengan bi Asih, ketua asisten rumah yang merangkap sebagai baby sister nya Deon.

"Pah, ini Laila kenapa masih di rumah sih jam segini?" tanyaku, setelah  telpon tersambung dengan Papa.

"Lha? Emang kelasnya Deon sampai jam berapa?"

"Dih, Papa malah balik tanya. Sampai jam sembilan, Pa. Masa lupa?"

"Biarin aja, Laila nginep juga enggak apa. Sekali-kali biarin Deon sama Laila. Kan kamu tau sendiri cuma Laila yang bisa bertahan buat ngajar Deon?"

"Nemu cewe ini dimana si, Pa? Perasaan Laila masih seumuran gitu sama aku, tapi kok udah bisa ngajar jadi guru les. Dia masih muda banget lho, Pa. Kalau pulang pagi bisa-bisa  dia jadi bahan gosip tetangganya."

"Laila itu punya rumah sendiri di kawasan Menteng. Kamu jangan ngeremihin keahlian dia, lho. Dia perempuan yang berbakat. Di usia mudanya udah bisa beli rumah dan tinggal sendirian. Papa aja dapet rekomendasi Laila dari kolega Papa. Coba, tuh ngeri kan koneksinya dia?"

"Ya udah, deh. Aku tutup, Pa. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Mesin blender sudah berhenti. Aku menuangkan jus ke dalam gelas sembari berpikir mengenai omongan Papa barusan. Laila tinggal sendiri tanpa orangtua. Kemungkinan ada dua, Laila sedang merantau atau dia memang yatim piatu. Dilihat dari penampilan Laila yang selalu rapi dan elegan, memang tidak menutup kemungkinan jika dia perempuan berada. Malahan aku bertambah bingung. Jika dia sudah kaya, untuk apa dia masih bekerja sampai larut malam untuk mengajar di Demon ah Deon itu?

"Saya haus. Terimakasih sudah membuatkan jus ini." 

Jantungku! Ya ampun, aku hampir 

terjungkal ke belakang saking kagetnya. Laila datang tanpa suara. Dia tiba-tiba saja sudah ada di sana. Laila, wajah beku dengan kacamata besar itu membingkai matanya yang nampak sangat gelap. Aku bahkan terasa dihipnotis oleh pandangannya.

"Maaf, gelas nya." Laila menarik gelas yang masih berada dalam genggaman ku. 

"Ahahahah, iya ya!" Betapa memalukannya momen ini. Selama dua tahun, aku hanya memandangnya dari jauh. Percakapan kecil dan sederhana saja. Bisa dikatakan, untuk saat ini aku mengalami momen salah tingkah yang sudah akut.

Wajah Laila masih tidak berubah. Beku dan menatapku tanpa minat. Mungkin karena alasan itu ia bertahan mengajar Deon. Mereka bak  makhluk kutub yang tinggal di dalam goa es. Sedikit saja bedanya dengan Demon, ah Deon. Laila tidak sombong, ia hanya sedikit kaku saja. 

"Laila!" 

"Ya?"

"Apakah malam ini kau akan menginap?"

"Tidak, sebentar lagi saya akan pulang."

"Ah, baiklah."

Laila kembali pergi ke kamar Deon. Sayang sekali, padahal aku ingin melihat wajahnya bagaimana jika bangun tidur nanti. Apakah seperti singa yang tidak pernah disisir atau seperti panda yang memiliki lingkaran hitam di area mata? Bwahahahaha, memikirkannya semakin membuatku bersemangat. Ya, esok aku akan mencoba untuk membuat Laila menginap. Barangkali, dengan memberinya obat tidur? Hmmm, tidak! Itu otak kriminal, tapi apakah boleh?

Aku diam-diam mengintip dari balik pintu. Laila punya rambut pendek seperti Dora. Hanya saja wajahnya mungil. Dia terlihat sangat imut dengan rambut itu ketika mengajar Deon. Terlihat seperti ... sangat keibuan. 

"Jangan menggangguku. Besok aku ada ujian, pergilah!" 

Bah! Si Demon cabe rawit ini benar-benar mengerikan. Dia bahkan bisa mengendus aroma mencurigakan dari pintu nya. 

"Aku hanya melihat bagaimana kerja kerasmu membuahkan hasil nanti." Aku hanya beralasan saja. 

Karena sudah tertangkap basah aku terpaksa menunggu Laila keluar sembari menonton televisi. Aroma lili dari tubuh Laila nampaknya masih tertinggal di ruangan ini. Hampir setiap tiga Minggu sekali aroma ini berputar di ruangan. Aku jatuh cinta dengan aromanya. Ya, aku masih ingat pertemuan itu--yang membuatku tahu siapa Laila yang muda dan beku.

---

"Saya Laila. Saya guru les Bahasa Inggris Deon."

"Bukan Matematika?"

"Bukan."

Sayup terdengar suara gadis yang tegas dari balik pintu. Aku tidak sengaja tertidur di kamar Deon setelah semalaman suntuk mengajarinya bahasa Inggris. Namun, tetap saja tak ada peningkatan yang berarti. Sudah lima kali Deon berganti guru les. Semuanya mundur karena sikap bak Demon milik Deon yang cetus, cerewet dan otoriter. 

"Den Deon sedang tertidur. Ini sudah sangat malam, mbak."

"Pak Wijaya memberitahu jika jam sembilan saya sudah harus tiba."

"Aduh, saya telpon tuan ya mbak, saya takut."

"Saya bukan orang jahat."

"Aduh, maaf Mbak. Maksud saya bukan seperti itu, kok."

"Saya akan kembali besok. Tidak di jam sembilan, saya akan meminta dua jam lebih awal. Terimakasih."

Aku keluar dari kamar Deon. Si cabe rawit sudah tertidur dengan guling Boboiboy. Sebuah aroma lili menuntunku menuju Bi Asih. Dia nampak risih ku putari dan kuendus. 

"Bi, ini aroma parfum baru ya? Enak banget, bi!"

"Aduh, bukan den. Tadi ada gadis cantik seumuran den Tahun datang kemari. Katanya, dia dimintai tuan Wijaya jadi guru les baru."

Malam itu aku meragukan kesaksian bi Asih. Seorang gadis seumuran ku, dengan aroma parfum lili mengaku guru les baru Deon dan datang pukul sembilan malam. Awalnya mungkin aku mengabaikan kabar tentang gadis itu. Usai seminggu kemudian aku bertemu dengan gadis bernama Laila. Seorang yang nampak berwibawa meski wajahnya terlihat sangat muda. Bahkan aku ragu, jika dia sepantaranku. 

Bahkan Syasi dibuat tercengang ketika melihat kecerdasan Laila. Meskipun demikian, Laila dan Syasi bukan dua individu yang bisa digabungkan. Laila tetap menjadi sosok yang tidak terjamah olehnya, bahkan olehku. Kata saya pada setiap percakapan seakan membuat sekat pembatas diantara kami.

---

Laila pulang pukul sebelas malam. Aku tertidur dan tidak sempat melihatnya pergi. Deon membangunkan ku dan memintaku tidur di dalam kamar. Rupanya si demon ini masih punya perhatian. 

"Deon, Abang mau nanya."

"Nanya apa?"

"Ibu Laila memang sengaja mengajar sampai jam sebelas kalau kamu sedang ujian, ya?"

Deon menggeleng. "Dia baru tiba pukul sembilan malam. Kepalanya berdarah, tapi dia baik-baik saja."

Hah? Aku bahkan tidak melihat bercak merah di tubuh Laila. Ya ampun, andai saja tadi aku lebih peka. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri hingga tak sadar sesuatu terjadi dengan Laila.

"Dia kecelakaan?"

"Mungkin."

"Dimana?"

"Mungkin saat tiba di gerbang, dia tidak sengaja menabrak mobilmu."

"Mobil?!"

***

Ig: anisatrisari


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status