Bukan Aku
Bukan Aku
Author: Navira Sema
Awal Rasa Sakit

Langit menampakkan senyumannya. Semuanya yang ada di bawah atap itu bergembira. Acara akad nikah baru saja selesai. Filza, pipinya memerah, menambah kecantikannya.

Hingga sosok yang masih asing untuk Filza datang. Ramahnya terlihat jelas.

"Assalamu'alaikum. Maaf, aku terlambat." Ucapnya sopan.

"Wa'alaikumsalam. Gak papa." Filza sendiri yang menjawab.

Satu jam setelah itu, semuanya selesai. Filza merasa harus buang air. Langkahnya terburu-buru menuju toilet. Saat berada pas di tengah-tengah pintu, bukannya langsung masuk, dia malah terpaku.

"Aaa!"

Teriakan itu mengagetkan semua orang, termasuk suaminya, Satria. Filza melihat dengan jelas, ayah mertuanya tergeletak bersimbah darah. Pisau masih tertancap di perut pria lansia itu. Sontak Filza langsung mencabut pisau itu. Pas saat itulah suaminya dan yang lain datang.

"Papa!"

Satria memeluk tubuh Wiroyo. Lalu mengamati sekitarnya. Sontak membawanya ke rumah sakit.

Di depan ruang operasi Satria tak henti-hentinya mendoakan Wiroyo. Ingatannya tertuju pada Filza.

"Apa yang terjadi?" Tanya pada Filza.

"Aku juga gak tau, Mas ...." Belum selesai bicara, Satria malah menatapnya tajam.

"Kenapa Kamu pegang pisau itu?!"

Filza langsung paham apa yang dimaksud suaminya.

"Mas, jangan salah paham. Tadi aku liat pisau ini masih menancap di perut papa. Makanya aku cabut pisau itu."

"Bohong! Aku sendiri yang liat." Suara itu masih asing walau beberapa jam lalu baru mendengarnya.

"Airin?"

Satria heran. Bagaimana mantan pacarnya bisa tahu kejadian ini. Padahal sedari tadi wanita itu berkumpul bersama yang lain.

"Ya, aku saksinya. Filza membunuh papamu."

"Apa itu benar?" Suara Satria melemah bahkan hampir tak terdengar.

"Enggak, Mas. Itu gak bener. Aku baru aja ke sini."

"Ini buktinya."

Tanpa basa-basi, Airin menunjukkan rekaman video yang menunjukkan Filza dengan wajah ditutup masker mengenakan pakaian pengantin, menusuk Wiroyo.

"Filza, apa ini?" Suara dingin Satria menusuknya.

"Enggak, Mas. Itu bukan aku. Bukan, Mas."

"Lalu ini apa? Kenapa Kamu setega ini? Kenapa?!"

"Mas salah paham. Aku gak ngelakuin apapun. Aku cuma narik pisau itu. Cuma itu, Mas."

"Udah ada buktinya. Kamu gak bisa mengelak."

Dokter keluar. Memberi kabar bahagia. Satria dibolehkan masuk ke ruang operasi sebentar saja.

"Papa gak papa?" Tanya Satria saat sampai di hadapan Wiroyo.

"Alhamdulillah, pa ... papa gak papa."

"Pa, Filza bener-bener keterlaluan. Aku akan ceraikan dia."

"Kenapa?"

"Loh? Papa kok nanya gitu? Dia udah berani berusaha membunuh papa."

"Ka ... kamu .... Papa gak mau denger kata cerai dari Kamu. Kamu gak boleh berpisah dari Filza."

"Tapi kenapa, Pa?"

"Karena ...." Sebelum Wiroyo mengatakan yang sebenarnya, matanya terlebih dulu tertutup.

"Papa kenapa? Pa, bangun!"

Langit jadi mendung. Suasana rumah Wiroyo jadi pilu. Apa yang terjadi?

"Pa, bangun!" Satria sesenggukan.

"Ikhlasin papa Kamu, Nak." Biha, tantenya Satria menepuk pelan pundak pria itu.

Di balik dinding yang memisahkan antara ruang tamu dan ruang keluarga, Airin berdiri tegak, muncul seringai kecil di bibirnya.

Pemakaman sudah selesai. Kini Filza berada di dalam rumah barunya dengan suaminya. Tapi tak sesuai bayangan, bayangan yang selama ini dia harapkan. Saat-saat dia bahagia bersama Satria, itu tidak terjadi. Kenyataannya, malah terbalik.

"Kamu tidur di sana. Aku di sana." Menunjuk dua kamar yang bersebrangan.

"Loh, bukannya yang itu mau dibuat kamar tamu?" Filza heran.

"Seorang pembunuh gak boleh tidur sekamar apalagi seranjang bersamaku." Ucapan itu menandai berakhirnya pembicaraan antara Filza dan suaminya hari ini.

Sontak mata Filza berkaca-kaca. Rupanya Satria masih mengira dia yang membunuh Wiroyo. Menyadari betapa Satria tak memercayainya, hatinya hancur. Berat, tapi dia harus masuk ke kamar tamu. Sendirian tentunya.

Pagi datang. Suara itu berasal dari dapur. Filza sibuk dengan kompor di hadapannya. Satria muncul, duduk di kursi makan sambil terus merapikan letak dasinya.

"Mas, ini udah jadi sarapannya."

Filza girang, memberikan masakannya pada Satria. Diletakkan seporsi menu sarapan pagi ini. Tapi sayangnya Satya beranjak.

"Aku udah terlambat. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam. Tapi, Mas ...."

"Aku berangkat."

Setitik kecewa mendarat di pelupuk hati Filza. Tapi tak apa. Bukan masalah besar baginya. Pagi ini, jadwalnya sarapan sendirian.

Malam, Filza sudah menyiapkan masakan khusus untuk Satria. Lelaki itu keluar dari kamar menuju dapur. Baru sadar bahwa Filza yang memasak, dia langsung berbalik arah.

"Mas, mau ke mana? Makan dulu, ya!" Filza mendekat.

"Aku makan di luar aja."

"Tapi aku udah masak khusus buat Mas."

"Aku bilang apa barusan?"

Filza sedikit bingung, tapi dia tahu apa yang harus dia jawab. Sedikit takut memang, tapi mudah-mudahan jawabannya benar.

"Mas mau makan di luar."

"Itu tau. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Filza memandang punggung itu yang semakin menjauh. Lagi-lagi Satria tak mau banyak terlibat dengannya.

Filza sendiri seorang guru Sekolah Dasar. Dia suka anak-anak, apalagi yang gendut, menggemaskan. Seperti biasa, dia datang lebih awal dari guru-guru yang lain. Berkutat di bangkunya, memerhatikan nilai-nilai muridnya.

"Assalamu'alaikum. Bu Filza udah dateng, ya? Rajin banget dateng sepagi ini." Ucap salah satu guru di sana, namanya Tiyas

"Wa'alaikumsalam. Bu Tiyas juga rajin."

"Oh iya, gimana sama suami Ibu? Pasti bahagia, kan? Maaf, ya. Saya gak bisa dateng di resepsi pernikahan Ibu."

"Alhamdulillah, gak papa Bu."

Di dalam hati Filza, "aku bahagia sama Mas Satria. Bagaimanapun dia. Insyaa Allah. Cepat atau lambat mas berubah. Aamiin."

Tiyas menepuk pundaknya pelan. Alhasil, Filza terkejut.

"Kenapa, Bu?"

"Eh, enggak, Bu."

Selesai mengajar, Filza menuju parkiran sekolah. Sontak menggembungkan kedua pipinya melihat ban motor bagian depannya bocor. Tak mau menunggu, Filza menelpon Satria.

"Assalamu'alaikum." Filza memulai pembicaraan di telepon.

"Wa'alaikumsalam."

"Mas, ban motorku kempis. Mas bisa jemput aku?"

"Gak bisa. Aku sibuk. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Rasa sedih kembali lagi. Sekejap Filza memejamkan matanya. Berusaha segenap hati sabar menghadapi Satria. Mau bagaimana lagi? Dia tak punya bukti kuat bahwa dia bukan pelaku pembunuhan ayah mertuanya.

Malam datang, sepeti kemarin, Satria tiba-tiba pergi. Saat ditanya, dia mau makan di luar.

"Mas kenapa?" Kali ini Filza tak mau  suaminya cuek lagi.

"Gak papa."

"Makanlah di sini! Aku udah masak buat Mas."

"Kalau aku bilang makan di luar, ya udah, makan di luar. Jangan maksa!"

"M ... maaf, Mas."

Satria pergi. Filza duduk di sofa ruang keluarga. Pandangannya tertunduk. Matanya basah. Sesaat kemudian bulir bening menetes. Cepat-cepat dia menghapusnya.

Di sepertiga malam, Filza bangun. Dia membayangkan ada Satria yang tidur di sampingnya. Tapi nyatanya tak ada. Satria tidur di kamar lain. Rasanya sakit jika mengingat itu. Tak mau membuang waktu, Filza menggelar sajadah dan mengambil wudhu.

Setelah shalat tahajjud selesai, dia berdoa dengan sepenuh hati.

"Ya Allah .... Tolong sadarkan Mas Satria. Hanya Engkau yang bisa menyadarkannya. Hamba sudah menunggu masa-masa ini dari dulu. Hamba tidak mau kehilangan Mas Satria. Hamba mohon, sadarkan Mas Satria. Aamiin."

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status