The Story Between Us
The Story Between Us
Author: Lavender My Name
Siti

Siti

Perkenalkan namanya Siti, lengkapnya Siti Zulaikah. Ia adalah anak semata wayang dari pasangan Sueb dan Lina, bapak dan emak tersayang. Usianya 19 tahun, dan ia baru lulus SMA tiga bulan yang lalu. Impiannya ingin menjadi chef terkenal. Tapi impian ini harus tertunda sejenak, karena dana yang terkumpul dari tabungan pribadii miliknya dan tabungan emak bapak belum cukup untuk mendaftar masuk ke sekolah yang dinginkannya. Yah, tidak apa-apalah, toh ia masih bisa ikut kursus yang tiga bulanan atau melihat-lihat di channel-channel online yang sekarang banyak sekali video-video tutorial membuat kue atau masakan-masakan jadul atau yang sedang tren saat ini.

 

Saat ini ia bekerja di toko roti yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Sudah tiga bulan ia bekerja disana. Yah, selang satu minggu setelah pengumuman kelulusan, ia melamar kerja di toko roti itu, dan beruntungnya ia langsung diterima. Bukan karena masakannya tapi karena disana sedang kekurangan pegawai. Hehe..

Dan hari ini, hari kedua di bulan Oktober. Siti, berangkat lebih pagi dari biasa, karena hari ini ada pesanan enam jenis makanan kudapan dan penutup, untuk acara penting salah satu pengusaha terkenal di kota ini. 

"Mak...Siti berangkat dulu ya.." teriaknya dari depan rumah, sudah bersiap mengayuh sepeda mini kesayangannya.

"Yaa, hati-hati, jangan lupa bekalmu dimakan," jawab emak keluar sambil membawa baskom yang isinya adonan tepung yang sudah dicampur air, untuk menggoreng pisang goreng. Setiap pagi emak membuat aneka gorengan yang akan dititipkan di warung-warung dekat rumah.

 

"Iya mak..bye," pamitnya sambil melambaikan tangan kanannya ke arah emak. 

Sepuluh menit kemudian sampailah ditempat kerjanya. Diparkirkannya sepedanya, diluar toko, lalu dikuncinya. Kemudian ia melenggang masuk ke dalam toko yang sudah dipenuhi oleh para karyawan. Mereka semua terlihat sibuk. Ada yang membuat kemasan untuk menaruh hidangan, ada yang bolak balik membawa telur, tepung gula dan bahan kue lainnya.

 

Siti menekan bel dimeja pesanan. Itu adalah cara Siti absen, memberi tanda bahwa dirinya sudah datang dan siap bekerja sesuai tugas yang harus ia kerjakan hari ini.

"Hai, Siti, " sapa bu Ida, yang punya toko, keluar menghampiri dan menatap intens Siti.

"Pagi, bu Ida. Saya kebagian tugas apa hari ini?" tanya Siti semangat 45, dan ditanggapi dengan senyuman dari bu Ida. Siti termasuk pegawai yang rajin, amanah dan jujur. Maka dari itu bu Ida sangat memyayanginya.

"Kamu nanti bagian antaran ya Siti sekalian terima pembayarannya. Kemaren mereka sudah transfer 75%, sisanya tolong tanyakan, mau dibayar tunai atau transfer juga seperti kemaren ," titahnya.

"Siap,bos!" jawabnya. Siti mulai memakai tas pinggangnya, dan mengisinya dengan nota, bolpen dan beberapa lembar uang kertas dan beberapa uang logam.

Tiga jam berlalu. Siti pun mulai sibuk membantu memasukkan pesanan yang kini sudah tertata rapi, kedalam mobil. Dipakainya topi, untuk melindungi wajah dan kepalanya dari terik sinar matahari. Lima belas menit kemudian, ia meluncur ke alamat pemesan dengan rekannya sebagai driver.

 

Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit, Siti menghubungi nomor yang tadi diberikan Bu Ida kepadanya tadi. Siti mulai menekan beberapa angka. Lalu terdengar nada sambung di ujung sana. Tak perlu waktu lama, panggilan Siti diangkat.

"Selamat pagi, dengan Siti di sini, dari Melati Cake and Catering," Siti memperkenalkan dirinya kemudian ia terdiam menanti respon penerima. Hening. Lalu Siti melanjutkan kata-katanya kembali.

"Saya sudah sampai di dekat sini. Tolong share lokasi nya ya Bu," pinta Siti ramah sambil menunggu respon lawan bicaranya.

Tring. Sebuah pesan terkirim ke ponselnya. Dibukanya pesan itu. Lokasi pemesan. Tak berapa lama, Siti tiba di depan sebuah rumah besar. Terlihat kesibukan yang tak biasa.

"Permisi... Melati Cake and Catering datang," Siti berteriak memberitahukan kehadirannya kepada si empunya rumah. Lima menit kemudian, keluarlah seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.

"Pagi, Bu. Mau ditaruh di mana snacknya?" sapa Siti ramah.

"Oh ya, langsung dibawa masuk saja ke dalam dan tolong letakkan di atas meja kecil di samping meja makan," kata wanita paruh baya itu mulai memberi instruksi kepada Siti.

 

Dua puluh menit kemudian, selesailah tugas Siti. Siti melangkah mendekat ke arah wanita tersebut, dan menyerahkan selembar kertas berisikan kekurangan yang harus dibayar olehnya.

"Maaf, untuk pembayaran sisanya tunai atau transfer seperti kemarin, Bu?" tanya Siti.

"Tunai saja mbak, sebentar ya, saya ambilkan dulu," jawab wanita itu masuk ke sebuah kamar.

 

Siti berjalan keluar, hendak menuju teras ketika tiba-riba tangannya ditarik oleh seseorang. Siti terkejut bukan kepalang. Dirinya ditarik oleh seorang yang sangat tampan, berkulit putih, hidung mancung, dengan bulu mata lentik membingkai indah matanya. Siti terpesona. Dirinya tidak sadar bahwa saat ini ia sedang berada dalam rengkuhan pria yang tidak ia kenal sama sekali. Seketika ia sadar, ketika pria itu berkata dengan lembut kepadanya.

"Sayang kemana saja kamu, aku dari tadi mencarimu kesana kemari."

"Hah!" Siti membelalakan matanya, mimpi apa aku semalam batinnya dalam hati.

"Tidak usah kaget begitu, bukannya aku sudah memberitahumu bahwa aku akan mengenalkanmu kepada keluargaku?" Lagi, kata-kata pria itu membuat Siti semakin lebar membuka bibirnya.

"Sayang, jangan lebar-lebar dong membuka mulutmu itu, nanti kalau ada kumbang yang masuk menggigt bibir mungilmu bagaimana?" ucap pria itu semakin aneh. FIX. Orang ini salah minum obat, batin Siti.

"Maaf, tuan, anda tampaknya salah orang. Saya petugas pengantar cake pesanan keluarga anda, bukan...." belum selesai Siti berbicara, pria itu kembali mengucapkan hal yang semakin membuat Siti merasa mendadak gila.

"Haha, maafkan calon istri Rayhan, Om. Dia memang suka merendah, ia yang punya catering ini, Om," jawab Rayhan mengenalkan Siti pada Rudy, rekan bisnis Ardan, papa Rayhan, sembari menggenggam kuat tangan kanan Siti yang ada dalam genggamannya. Siti meringis kesakitan dan mendesis, "sakit," ucapnya pelan.

 

Namun Rayhan tentu tidak mendengar, ia sedang berusaha bermain sandiwara sedemikian bagusnya, agar rencana perjodohan antara dirinya dengan anak rekan bisnis papanya itu batal. Karena papanya pernah berkata, bila ia sudah memiliki calon pilihannya sendiri, maka ia  dan istrinnya,  tidak akan memaksakan Rayhan untuk menerima perjodohan ini.

"Perkenalkan nama saya Siti, Om." Akhirnya Siti menyerah mengikuti permainan Rayhan.

 

Namun, ia akan membuat perhitungan dengan pria tidak waras itu, karena sudah melibatkannya dalam masalah yang tidak ia ketahui ujung dan pangkalnya itu. Diraihnya lengan Rayhan, dan Siti mulai bergelayut mesra di lengan Rayhan, hingga pria itu mendelikkan matanya, tanda bahwa ia terkejut dengan sikap Siti yang mendadak berubah.

 

Siti pura-pura tidak melihat perubahan wajah Rayhan. Rasakan, dasar kau narsis, enak saja main paksa orang ikut-ikut dalam permasalahanmu tanpa pemberitahuan dan persetujuannya terlebih dulu. Habis kau, akan kubuat kau menyesal karena telah memilihku sebagai calon istri pura-puramu. Huh! Siti menggerutu dalam hatinya. Kesal bukan kepalang.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status