Share

-5-

Gandari menuju ke gubuk bambunya setelah memasukkan kerbau ke kandang. Tangan telanjangnya terulur hendak membuka pintu, tetapi urung saat mendengar raungan dan kegaduhan dari dalam rumah.

Dia menghela. Perlahan disorongnya juga pintu bambu itu hingga terbuka. Terlihat Endaru tengah membungkuk mencangkuli lantai tanah rumahnya yang menjadi simbol kesabaran sang ibu dengan sekuat tenaga. Dia luapkan segala bentuk kemarahan, ketakutan, dan kebencian dengan terus merusak lantai tanah yang setiap hari Gandari sapu dan padatkan agar rata.

Gandari tak mampu berkata. Dia duduk bersimpuh di ambang pintu dengan nelangsa. Lantai tanah itu kini berlubang-lubang dengan sisa cangkulan yang terserak di setiap jengkal seperti raga dan perasaannya yang tak berdaya.

Setelah puas melampiaskan kemarahan, Endaru melempar cangkulnya hingga menghantam dinding gedek dan terpental. Tubuh berpeluhnya limbung ke lantai tanah yang berbenggol-benggol, “Jadi kepada siapa Emak akan serahkan tubuh ini?”

Gandari menggeleng lemah tak mampu menentang tatapan sang putra.

“Berapa imbalan yang akan emak terima untuk harga tubuhku?” Endaru memberontak dengan sangat kasarnya.

Hunjaman lidah sang putra membunuh jiwa Gandari sebagai seorang wanita dengan gelar ibunda. Dia bangkit dari ambang pintu dan mengambil belati yang terselip di samping pembaringan. Tangan kirinya menarik paksa Endaru keluar rumah hingga kedua kaki bocah itu terseret-seret, sedangkan tangan kanannya menggenggam erat belati yang bilahnya berkilat-kilat.

Endaru tak melawan. Dia serahkan tubuhnya untuk sang ibu. Dia rela bila harus meregang nyawa di tangan orang yang telah melahirkannya daripada harus menjadi budak warok mana pun di dunia ini.

Gandari menidurkan Endaru ke permukaan batu kali yang datar di samping rumah—tempat dia menggiling beras menjadi tepung. Pipi bocah itu menempel sempurna di permukaan batu yang halus dan hangat. Air bening meleleh dari sudut-sudut matanya meski terkatup dengan sangat rapat.

“Kau menangis? Kau tak menangis saat pertama kali aku lahirkan ke dunia ini! Kau tak menangis saat bapakmu pergi tanpa bicara dan menoleh kepada kita! Kau juga tak menangis saat para warok itu mencoba merebutmu dariku. Namun, kini kau menangis di hadapan belati ini?”

Endaru terisak untuk pertama kali. “Aku menangis karena Emak harus menderita seorang diri setelah aku mati.”

Belati terlepas dari genggaman Gandari. Dia mundur sambil membekap mulut. Bahunya melorot dengan punggung naik turun menahan gigil ketakutan.

Endaru mengambil belati itu dari tanah, “Jika Emak tidak bisa maka aku sendiri yang akan melakukannya!”

Bocah itu membalikkan mata belati menghadap ke lehernya. Tangan kecil Endaru gemetar sesaat sebelum mulai mengayunkan belati untuk menembusi batang lehernya sendiri.

Plash! Mata belati terayun. Darah segar menetes-netes dari ujung bilahnya. Tangan Gandari terlambat menahan ayunan tangan sang putra yang berusaha mengakhiri hidup.

“Tidak! Putraku, Endaru?” Gopah-gopoh sepasang telapak pucat Gandari merengkuh wajah sang putra yang bersimbah darah. Anyir menguar dan memelesak memenuhi penciuman.

Anak itu membeku tak bersuara. Kedua tangannya menekan wajah yang berdarah-darah. Belati meleset dari tenggorokan mengenai mata sebelah kanan.

Kraak! Gandari merobek ujung jariknya untuk membebat wajah Endaru.

Mereka saling mendekap. Gandari memangku dan menimang-nimang putranya seakan bocah itu masih bayi merah dalam buaian tangan. “Anak bodoh!”

Dagu Gandari menekan kuat puncak kepala Endaru. Tubuh mereka berayun-ayun maju mundur sambil duduk berpelukan di tanah. Dada mereka menganga karena luka jiwa. Pandangan mereka tersapu senja yang menyemburatkan warna merah, biru, dan ungu yang menjadi saksi bisu.

“Wajahku tak akan elok lagi, Mak. Mereka pasti tak akan menginginkanku!” bisik Endaru lemah di dalam dekapan sang ibu.

“Sungguh kau adalah putraku, bukan putra pria yang meninggalkanmu itu—yang menggadaikan dirinya untuk kesaktian para warok! Gusti Pangeran Sing Kuasa, dia ini adalah putra yang lahir dari peranakanku. Jadikanlah dia tetap putraku ....”

Tubuh Endaru menegang. Dia menolak diayun-ayun ke depan dan belakang lebih lama oleh sang ibu. Rasa sakit berdenyut-denyut di sekitar mata kanannya yang terluka. Risiko kebutaan seakan tak berarti daripada kenyataan tak tertanggungkan tentang riwayat kepergian sang bapak.

“Siapa bapak sebenarnya, Mak? Bagaimana para warok itu bisa mengenalnya?”

Gandari mulai menembangkan Gambuh. Wajahnya tenggelam dalam bayang kelimut malam.

“Ilang kasopanipun. Ora bayu weyane ngalumpuk. Sakciptane wardaya kang bebayani. Ubayane ora payu. Amung ketaman pakewuh ....”[1]

“Siapa bapakku, Mak?” Endaru menghentikan tembang sang ibu.

“Bapakmu adalah putra dari Warok Sentikno—pimpinan Padepokan Wengker di alas Jenangan. Suatu hari dia pergi ke Padepokan Bantarangin di Somoroto untuk ngelmu pada Warok Sastro. Di sana kami bertemu. Aku adalah putri dari babu keluarga Warok Sastro. Aku tidak tahu-menahu tentang kehidupan dan lelaku para warok karena para perempuan seperti kami dipisahkan dan dibatasi aktivitasnya hanya sampai di sumur dan dapur.” Mata Gandari menewarang.

“Suatu ketika bapakmu mendatangi dan mengajakku minggat. Dia bilang ingin hidup berdua denganku di dalam hutan yang jauh dari ingar-bingar kehidupan para warok. Aku pun jatuh cinta padanya sehingga setuju untuk mengikuti rencananya. Semua baik-baik saja sampai kau lahir ....”

“Apa aku menjadi beban dan kesulitan dalam kehidupan kalian?” Endaru meraba pipi ibunya.

Perempuan itu menatap Endaru dan menggeleng, “Bapakmu ketakutan dan menolak menyentuhmu saat tahu kau lahir sebagai bayi laki-laki. Bahkan setiap malam dia mulai dihantui mimpi-mimpi buruk. Hal itu membuatku sedih dan nelangsa. Beberapa kali bapakmu pergi untuk waktu yang cukup lama dan setiap kembali keadaannya seperti orang gila.”

“Apa bapak membenciku, Mak?”

Gandari menggeleng. “Dia berkata sangat mencintaimu, tetapi juga begitu takut jika menjadi penyebab kerusakan padamu. Aku tak paham apa yang dia ucapkan dan khawatirkan sampai kakekmu—Sentikno—dan Demang Sastro datang berebut ingin membawamu!”

“Apa yang mereka inginkan?”

“Aku tidak tahu! Semua menjadi serakah ingin merebutmu dariku. Tidak! Ibu mana yang rela menyerahkan anaknya kepada para warok itu?”

Endaru menunduk.

“Karena putus asa akhirnya bapakmu kembali ke rumah Demang Sastro tanpa berbicara dan menoleh lagi pada kita. Kerbau itu dia tinggalkan sebagai ganti bapakmu. Selamanya gemblak akan menjadi milik waroknya!”

Endaru lepas dari dekapan ibunya. Dia pandangi perempuan yang matanya melubangi awang-awang dengan raut tak terkatakan itu.

“Gemblak?” tanya Endaru lirih.

Gandari mengangguk lemah, “Baru kutahu selama tinggal di Padepokan Bantarangin bapakmu menjadi gemblak dari Demang Sastro!”

Perempuan itu mengguncang kedua bahu Endaru seakan baru ditampar kembali ke alam sadar. “Malam Suro tinggal beberapa hari lagi, mungkin besok Demang Sastro akan datang ke sini. Pergilah kau, Nak, malam ini juga ke Tegalsari. Mintalah perlindungan dari orang-orang saleh di sana. Semoga kau selamat, Nak.”

Dari kejauhan terdengar derap tapak kaki kuda, satu ... dua ... lebih banyak lagi yang tiba. Mereka mendekat dan semakin dekat. Gandari bangkit dengan pandangan berputar-putar. Dia raba-raba tanah mencari belati yang tadi terlepas.

“Pergilah, Nak! Pergilah! Carilah keselamatan dan ngelmu[2] pada orang-orang saleh di sana! Jauhi para warok itu ... Selamanya jauhi!”

Perempuan itu masuk ke rumah setelah melepas jabat tangan dan mendorong Endaru pergi seorang diri dengan wajah masih merembaskan darah. Gandari memasang palang dan mengunci diri di dalam gubuknya.

[1] “Hilang kesopanannya. Tidak mempunyai kekuatan serta lemah. Hal yang dilakukan selalu berbahaya. Sumpah serta janji yang hanya di mulut. Ujungnya hanya akan bertemu sesuatu yang tidak membuat hati senang ....”

[2] Mencari ilmu

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status