Share

-9-

Iring-iringan reog gebyog untuk merayakan malam satu Suro baru kembali ke kediaman Warok Sastro pada sore hari. Menjelang puncak malam para siswa dan gemblak di Padepokan Bantarangin menggelar pesta dengan menyantap beraneka hidangan di pendopo setelah upacara menjamas yang dipimpin oleh Warok Sastro selesai.

Sebuah dokar dengan iring-iringan pria berpenunggang kuda dalam jumlah besar datang memasuki regol Padepokan Bantarangin.

“Bandit Merah!”

“Warok Wengker!”

Teriakan dan pekikan tanda bahaya itu seketika mengubah kemeriahan pesta menjadi ketegangan yang luar biasa. Para warok Bantarangin langsung bersiaga dan mengadang sang pendatang sambil mengacungkan senjata masing-masing—belati, celurit, parang, bahkan tombak.

Endaru bersama para gemblak lain yang duduk melingkari aneka hidangan makanan turut bangkit untuk memeriksa keributan yang terjadi. Warok Sastro yang duduk bersila di karpet Turki di antara para gemblaknya juga bangkit untuk menyambut para tamu yang tak diundang itu.

Pria dalam pakaian beskap hitam, jarik parang cokelat, dan belangkon mondolan itu berjalan menuruni pendopo untuk menyambut tamu yang baru tiba. Dia perintahkan para siswanya agar menurunkan senjata dan bersikap hormat pada tamunya.

Para Bandit Merah yang mengiringi dokar itu segera turun dari kudanya masing-masing sambil melepas topeng dan memberikan tabik pada Sastro.

Endaru mengernyit. Berdasarkan cerita dari sang ibu, kedua padepokan itu adalah musuh bebuyutan. Namun, melihat pemandangan yang mengesankan ini sama sekali tak terlihat permusuhan di antara mereka.

Seorang pria tua dalam pakaian lurik dan jarik sederhana dipandu turun dari dokar oleh salah seorang warok muda yang mengiringinya menggunakan kuda. Pria itu berjalan dengan bantuan tongkat menuju pendopo dengan tenang. Tubuh kurus dengan jenggot putihnya terlihat begitu sederhana dan bersahaja.

Sugeng rawuh, Kangmas Sentikno ... Suatu kehormatan mendapat kunjungan dari Warok Wengker,” sapa Warok Sastro pada pria tua itu sambil menggenggam tangannya.

Mereka berdua duduk di sebuah sice jati berukir di pendopo tak jauh dari tempat jamuan makan malam. Para warok muda yang mengiringi Warok Sentikno juga duduk bersila dan membaur bersama warok muda dari Padepokan Bantarangin—seakan mereka adalah sahabat lama yang tak pernah bersua dan tak pernah saling menarik senjata.

“Aku dengar kau membawa cucuku ke sini, Sastro?” Pria tua itu membuka percakapan tanpa basa-basi setelah meletakkan tongkatnya.

Endaru yang beberapa saat lalu diperintahkan Sastro untuk duduk di balik gebyok seketika berjengit mendengar percakapan itu. Dadanya bergemuruh dan gelisah. Dari cela-cela ukiran gebyok dia dapat menyaksikan ketegangan dan permusuhan yang terpendam di antara kedua warok itu.

Apa mereka datang ke sini untuk memperebutkanku? Pada siapa aku akan berakhir? Tetapi, emak memintaku untuk kabur malam ini juga!

Endaru tersentak mendengar Warok Wengker berteriak, “Cukup kau merusak putraku! Biar aku bawa putra Dimas bersamaku!”

“Bukankah tidak bijak membuat tuduhan seperti itu, Kangmas? Bagaimana kalau kita bertanya langsung kepada anaknya?” tawar Sastro.

Seorang gemblak memberitahu Endaru agar menghadap ke pendopo. Bocah itu berjalan sambil jongkok menuju ke sice tempat Sastro dan Sentikno duduk. Sang Warok Wengker memukulkan tongkat ke lantai tanpa menoleh dan memerintahkan Endaru untuk bangkit, “Berjalan dengan tegak!”

Semua mata yang hadir di sana tersentak. Endaru mendongak dan mulai berdiri. Langkahnya rikuh. Dia berjalan perlahan dengan punggung runduk-runduk menuju dua orang pria yang berbeda karakter itu. Endaru tak bisa membaca raut Sastro yang mengatupkan bibir dengan sangat rapat sedang matanya terus tertuju pada Sentikno.

Sentikno bangkit dari sice dan meraba-raba wajah Endaru. Bocah itu membelalak memandang sepasang mata Sentikno yang buta. “Aku bisa merobohkan padepokan ini dalam satu malam hanya untuk membawamu pergi bersamaku, Endaru!”

Anak laki-laki itu kembali menganga. Tak seorang pun tahu nama Endaru selain sang emak.

“Akan tetapi, sumpahku sebagai warok menghalangiku dari berbuat kerusakan. Sekarang sumpah itu akan aku langgar jika memang kau ingin kuselamatkan!” Kakek tua itu meremas pundak kanan Endaru yang menggigil. “Aku ingin kau membuat keputusan! Mengikutiku pulang ke Wengker atau bertahan di sini dan bernasib sama seperti bapakmu?”

Sepasang mata putih Sentikno menatap tepat ke pedalaman mata kiri Endaru yang bening—seakan-akan kebutaannya hanya sebuah ilusi.

Bocah itu jatuh berlutut sambil memberikan sembah di hadapan Sentikno, “Ampun, Ndoro!”

Dagu Endaru melekat ke dada. Betapa bungah hatinya ketika tahu ada seseorang yang bersedia mempertaruhkan segalanya demi hidup Endaru. Akan tetapi, Sastro pun akan melakukan hal yang sama.

Ini memang kesempatan untukku bisa bebas dan lepas dari Sastro, tetapi mungkin aku akan terikat pada Sentikno. Mereka sama-sama warok, bukan?

Bocah itu merunduk sedih sambil menggigiti bibir bawahnya.

“Tentukan keputusanmu, Nak!” desa Warok Wengker itu.

“Izinkan saya untuk tetap berada di sini!” Endaru menyembah semakin dalam. Aku tidak ingin terikat dengan kalian. Aku ingin bebas dan memilih jalanku sendiri!

Endaru melihat kekecewaan di wajah Sentikno. Tangan pria tua itu bergetar samar di atas tongkatnya. Sentikno menunduk dan merengkuh Endaru agar berdiri tegak. Dia dekap kepala bocah itu dengan penuh kasih sayang dan membisikkan sesuatu pada telinganya, “Datanglah padaku kapan pun kau membutuhkan pertolongan!”

***

Endaru tinggal di sebuah kamar bersama dua anak laki-laki lain yang usianya satu atau dua tahun lebih tua darinya. Sejak sore dia sudah menyiapkan diri untuk kabur bersama sang ibu. Kedatangan Warok Wengker ke Bantarangin membuatnya gelisah dan mulai ketakutan dengan hal-hal yang tidak dia pahami.

Endaru berjengit hendak kabur saat tiba-tiba pintu kamar terkuak perlahan. Dia kembali ke pembaringan sambil menahan napas. Angin dingin menyelinap dari pintu yang terbuka diikuti suara isak tangis yang tertahan. Getaran pada ranjang membangunkan Endaru yang berpura-pura terlelap. Dia dapati anak laki-laki yang sore tadi dipanggil ke kamar Warok Sastro baru saja kembali dalam keadaan menangis.

“Apa yang terjadi?” Dia tepuk bahu anak itu, “Apakah Romo menghukummu? Kenapa kau baru kembali?” Endaru tak bisa melihat wajah temannya.

Keributan itu membangunkan anak yang lain, “Setiap kembali dari kamar Romo, dia selalu begitu. Kembali tidur saja kalian!”

Rasa ingin tahu berdesak-desakan dalam pikiran Endaru. Dia teringat pada perkataan Dasi.

“Bagaimana kalian bisa sampai di sini?” tanya Endaru.

Anak itu masih terisak. Anak yang lain menjawab, “Karena kami miskin! Romo membawa kami ke sini agar bisa hidup enak.”

“Lalu kenapa dia menangis jika memang kalian suka hidup seperti ini?” desak Endaru.

“Kau juga akan tahu nanti saat giliranmu tiba dipanggil Romo ke kamarnya!”

“Aku tidak bisa tinggal lebih lama di sini. Aku harus pergi!” Endaru merasakan sesuatu yang mengancam, “Aku benci tidak tahu apa yang sedang aku hadapi.”

“Untuk apa di luar sana kalau hanya untuk menjadi susah? Di sini kita bisa makan dan tidur enak, mempunyai pakaian indah, juga bebas melakukan apa saja. Kita hanya perlu nurut dan manut dengan apa yang diucapkan Romo.”

“Sial! Semua yang aku dengar tentang menjadi gemblak hanyalah hal-hal yang menyenangkan sedangkan menjadi warok artinya bersedia hidup prihatin. Tetapi apa yang aku saksikan saat ini hanyalah penderitaan. Katakan saja padaku apa yang diperbuat Romo pada kalian selama di sini?” Endaru memukul ranjang.

Karena tak mendapat jawaban, diam-diam Endaru menyelinap ke pemondokan sang ibu di bangsal paling belakang. Mereka sudah berjanji untuk bertemu dan pergi bersama.

“Kau terlambat!” bisik sebuah suara.

“Dasi?” Endaru berputar-putar mencari Dasi di sekitar dapur yang mengarah ke pemondokan para babu.

“Sore tadi seseorang membawa emakmu keluar dari kademangan!” Dasi muncul dari dapur dengan membawa kendi berisi air.

Endaru meraih bahu Dasi dan mengguncangkannya dengan sangat kasar. Prang! Kendi terjatuh dan pecah.

“Ke mana mereka membawa emakku?” Bocah laki-laki itu mendesis dan terus mencengkeram bahu Dasi.

Gadis itu merintih kesakitan, “Aku tidak tahu. Pergilah sebelum mereka terbangun karena suara kendi itu!”

Endaru mengehela napas berat dan berputar-putar gelisah sebelum akhirnya berlari menuju regol. Dia minggat sendirian dan berlari ke rumah lamanya di kaki bukit Siman. Sang emak tak ada di sana. Dia teringat pada Meneer Cornellis dan mulai berlari menuju rumah pertanian mewah itu.

Pagi masih buta saat Endaru tiba di halaman Cornellis. Dia berteriak dan membuat keributan di depan pagar besi yang menjulang tinggi. Seorang jongos pria berlari-lari menghalau Endaru.

“Biarkan aku bertemu Gandari, emakku!”

Sang jongos kesal dan balas berteriak, “Tidak ada emakmu di sini! Nyai Gandari adalah milik Meneer Cornellis, pergilah!”

Merasa tak mendapat sambutan, dia berlari menerjang sang jongos dan melemparkan sebongkah batu hingga mengenai jendela. Prang!

Keributan itu sampai juga di telinga sang tuan rumah. Seorang Belanda totok berkulit totol-totol dengan berewok kecokelatan muncul dari balik pintu dengan membawa lentera, “Jongos, ada apa ini ribut-ribut?”

Sang jongos berusaha berlutut sambil mehanan tubuh Endaru yang terus meronta. Cornellis di bawah mata kantuknya memijat pelipis yang berdenyut, “Bocah, apa yang Kowe inginkan di sini?”

“Saya ingin menebus emak saya!”

Cornellis mencebik, “Dengan apa kau akan membayarnya? Membebaskan diri sendiri dari Warok Sastro saja kau tak mampu!”

Endaru mengamuk dan kembali berteriak-teriak. Dia tahu betul apa yang dikatakan oleh Cornellis adalah suatu kebenaran. “Emak, jangan abaikan aku! Kita pergi dari sini bersama-sama ...!”

Tak mendapat jawaban dari sang emak yang entah berada di mana, Endaru berlutut dan membungkuk di lantai tegel yang dingin. Meraung-raung mengibakan dengan tubuh ditahan sang jongos agar tidak merusak perabotan.

Cornellis memberi perintah pada jongosnya, “Antarkan anak ini kembali ke rumah Demang Sastro sekarang! Aku tak ingin terlibat urusan dengan para warok itu.”

Tubuh kuyu Endaru ditarik dan dibopong oleh sang jongos seperti karung beras tanpa jiwa menuju dokar yang sudah siap di depan. Dari balik tirai jendela di lantai dua, Gandari terisak tanpa suara. Tangannya mencengkeram ujung tirai hingga lepas. Rambut panjangnya terburai menutupi dada, punggung, dan paha yang tak terbalut pakaian.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status