Chapter 1: Unusual Encounter

Mata pelayan itu melebar mendengar suara Anna, “tunggu sebentar,” jawabnya dengan menyimpan kain lap yang ia gunakan di atas meja. Lalu berbalik melangkah menuju dapur.

Dua menit kemudian si pelayan kembali ke meja kasir dan berkata pada Anna, “pesanan meja nomor sepuluh akan siap dalam lima belas menit lagi. Mohon untuk menunggu dan bersabar.” Ujarnya seraya tersenyum manis.

Anna mengerti dengan sedikit menganggukan kepalanya. Lantas dia keluar, pergi dari restoran menyesakkan itu.

“Huuuhhh, panas sekali,” gumamnya dengan menyipitkan mata untuk melihat ke semua arah.

Kemudian dia menggerakkan kakinya dan melangkah ke arah hutan, berharap agar dia mendapatkan kesejukan dengan berdiam di bawah pohon yang tinggi.

Sementara itu, Robert masih tidak menyadari bahwa adiknya telah pergi jauh dari restoran. Dia masih berbincang dengan temannya Billy, kali ini perbincangan mereka telah melebar ke segala topik yang mereka lihat dan dengar.

Seperti membicarakan tubuh seorang gadis yang begitu membangkitkan nafsu birahi mereka. Apalagi karena hari ini cuaca begitu menyengat, semua wanita muda yang datang ke resto ini, hanya memakai tanktop dan celana pendek biasa yang hanya menutupi setengah paha mereka.

***

Anna sampai di tengah hutan yang kini mengelilinginya dengan deretan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Ia mendongak untuk melihat daun-daun pada batang pohon yang bergerak terkena terpaan angin.

“Ternyata di atas sana anginnya kencang juga,” gumamnya kemudian.

Setelah puas melihat ke atas pohon, lantas ia berjalan lebih dalam di hutan yang rimbun ini. Lalu seketika ia ingat dengan kakaknya, “apa aku kembali saja?” dia merasa bingung dengan perasaan yang kini menghampirinya.

Antara berjalan terus ke arah hutan untuk menjauhi keriuhan manusia di restoran atau kembali ke resto untuk menunggu makanan siap disajikan dengan mendengarkan obrolan memuakkan Robert dan Billy.

Anna berpikir dan terdiam di tempat. Ia duduk di bawah salah satu pohon dan menyender pada akar besar yang melingkari pohon tersebut.

Di sela-sela waktu berpikirnya, mendadak pandangannya terfokus pada sebuah bayangan aneh yang ada di balik salah satu pohon besar yang berjarak dua puluh meter dari tempatnya kini.

Anna penasaran dengan bayangan itu, tapi dia tidak boleh gegabah dan tergesa-gesa untuk menghampirinya. Karena dia baru sampai di kota ini kemarin dan belum sepenuhnya mengetahui detail dari yang ada di hutan kota Line.

“Sebaiknya aku kembali,” gumam gadis itu dengan beranjak dari duduknya dan berjalan menuju restoran tanpa melihat ke arah pohon yang terdapat bayangan aneh.

Kecemasan kini menyelimuti gadis bertubuh kecil itu, dia mempercepat jalannya. Namun ketika sampai di jalan yang lebar dan akan menyeberang ke halaman depan resto, tiba-tiba dia merasakan firasat buruk. Kedua alisnya menyatu di tengah, memikirkan perasaan yang kini menghinggapinya. Dadanya berdebar dengan kencang karena perasaan ini.

Seraya berjalan cepat, dia terus waspada dengan sesekali melihat ke belakang ke arah hutan. Mengira akan ada bayangan itu yang mengikutinya, tapi ternyata tidak ada. Lantas dia menghela napas dan mengatur napasnya yang kian memburu hebat.

Saat kaki Anna berjalan di tengah-tengah jalanan yang sangat lebar, tiba-tiba sebuah mobil mini bus berwarna silver datang melaju dengan cepat mengarah padanya. Seolah supir yang mengendarai mobil itu hendak menabrak gadis yang kini terlihat kebingungan karena mendengar suara deru mesin mobil yang mendekat yang entah dari mana datangnya.

Anna berdiri diam di tengah, dia terpaku di jalanan sedang sebuah mobil melaju dengan cepat dari arah kirinya. Dia sangat terkejut sampai-sampai tidak bisa menggerakkan kaki untuk menghindar dari jalanan. Matanya membelalak takut, kakinya lemas dan tubuhnya kebas.

Orang-orang yang ada di restoran belum menyadari kejadian ini, mereka sama sekali tidak ada yang melihat ke arah luar resto yang di mana seorang gadis muda sedang ketakutan karena ada sebuah mobil yang akan menabraknya. Mereka mengira bahwa suara mobil itu hanya suara biasa dari kendaraan yang jarang berlalu-lalang di jalanan depan resto.

Namun kemalangan tidak jadi menimpa Anna. Ketika mobil itu telah sangat dekat dengannya, tiba-tiba dengan cepat seorang lelaki muda berumur sama dengan Anna, berlari dengan sangat kencang menuju gadis itu lalu mendorong Anna sambil memeluknya menjauh dari tengah jalan sampai mereka terjatuh keras di atas tanah.

Mobil itu akhirnya tidak berhasil mengenai Anna. Seseorang yang mengendarainya segera berhenti ketika mengetahui mobilnya tidak menyentuh Anna sedikit pun. Dia merasa kesal seraya memukul keras setir di depannya dan mengumpat kasar, lalu kembali melajukan mobilnya dengan cepat menjauhi daerah pinggiran hutan itu.

Saat itu juga orang-orang yang ada di restoran menyadari bahwa ada kehebohan di luar resto yang membahayakan nyawa si gadis. Dengan segera mereka berhamburan keluar restoran untuk melihat kejadian yang sebenarnya.

Seketika Rob dan Billy bertukar pandang lalu penasaran dengan alasan kegaduhan di luar. Ketika mereka berjalan melewati kerumunan orang-orang, Rob terkejut melihat Anna yang terduduk di atas tanah bersama seorang pemuda yang tak jauh sama tinggi dengannya.

“Anne!” teriak Robert seraya mendekap dengan ketakutan adik bungsunya.

***

Ketika Anna terjatuh bersama si pemuda, rasa sakit pada tubuhnya menghilang yang kini berganti pada si pemuda. Karena mereka jatuh dengan tubuh si pemuda yang dijadikan penghalang untuk Anna dari sakitnya benturan dengan tanah.

Anna terkejut, matanya melebar seraya memegang jantungnya yang kini semakin berdegup kencang. Ia merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

“Sebuah mobil mini bus hendak menabrakku?!” tukasnya dengan bergumam.

“Aw,” si pemuda meringis kesakitan di samping Anna. Mereka masih berbaring lemas di atas permukaan tanah.

Anna segera bangun dan duduk di sebelah pemuda itu, diikuti dengan si pemuda yang juga kini duduk menatap wajahnya. Seakan perasaan dan luka-luka yang ada hilang seketika saat mereka saling menatap.

Tatapan pemuda itu begitu menarik hati Anna sampai-sampai gadis berambut panjang itu tidak mengalihkan pandangannya ke arah lain, padahal mereka sudah dikepung dengan pelanggan-pelanggan resto yang sejak mereka terjatuh, berhamburan keluar restoran untuk melihat keadaan mereka.

Begitu juga dengan si pemuda, dia yang memiliki wajah putih pucat dengan rahang yang tegas. Sangat tampan dan gagah dengan badannya yang selalu ia jaga agar tetap kekar dan kuat. Dia terkejut melihat Anna, matanya menyiratkan keheranan pada si gadis. Dalam hati dia bergumam bingung, kenapa aku tidak bisa mengetahui apa yang ada di pikirannya?

Sedangkan Anna, dia merasa terpukau dengan ketampanan si pemuda. Perasaan takut dan cemas yang tadi menghampirinya sekarang kian mereda dan memudar.

Napas keduanya masih terengah-engah, namun mereka masih saling menatap untuk waktu yang lama. Yaitu sampai Robert datang dan mendekap Anna yang menurutnya terlihat ketakutan.

“Anna, apa yang sebenaarnya terjadi? Kenapa bisa begini?” Rob terus menerus mencerca adiknya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak satu pun dijawab oleh Anna.

Adiknya itu hanya menatap heran pada kakaknya. Lantas membuat Rob geram dan marah. Lalu pemuda itu melihat ke arah Rob, dia akan memukulku.  Gumam pemuda itu dalam hatinya.

Dia telah bersiap untuk menerima pukulan dari Robert ketika tangan si wakil ketua polisi muda sudah diangkat mengepal dan bergerak ke arahnya, namun tiba-tiba terhenti di tengah jalan karena seorang yang lain menahan tangan Rob.

Syukurlah, laki-laki mesum ini menahan tangan orang itu, batin si pemuda yang merasa lega.

“Jangan Rob, kau tidak boleh memukulnya,” kata Billy pada temannya setelah menahan pukulan Rob.

Robert mengurungkan niatnya dan berdiri seraya memegang tangan adiknya yang tetap diam menatap si pemuda.

“Ikut aku sekarang ke dalam, kita bicarakan ini,” titahnya pada si pemuda.

Tunggu dulu, dia menuduhku sembarangan! Kurang ajar! Umpat si pemuda dalam hati yang dibarengi anggukan kepala menjawab ucapan Robert tanpa menampilkan ekspresi apapun yang dapat membuat Robert curiga.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status