Superhero, Inc. (Bahasa Indonesia)
Superhero, Inc. (Bahasa Indonesia)
Author: Haris Firmansyah
Pilot

Hai, namaku Hino. Dan aku adalah superhero.

Awalnya, aku hanya remaja biasa yang hobi nongkrong di warung kopi dan nonton Youtube dengan free wifi. Setelah lulus SMA, aku melanjutkan kuliah untuk belajar jadi ekonom. Walaupun sewaktu SMA mengambil jurusan IPA, aku tidak peduli. Tapi kuliah di fakultas ekonomi tidak lantas membuatku merdeka secara finansial. Aku mengalami kesulitan ekonomi. Aku tahu ini sebuah ironi.

Tapi aku benar-benar mau fight di perantauan. Aku sudah memutuskan untuk jadi anak yang mandiri. Tepatnya setelah empat tahun betah di bangku kuliah. Aku tidak mau meminta uang kepada orangtuaku lagi. Karena orangtuaku juga sudah kehabisan dana membiayaiku kuliah dan belum balik modal sampai sekarang. Jadi, aku nggak mau minta uang lagi. Cukup minta doa restu agar aku cepat diwisuda saja. Sebelum keburu di-drop out.

Untuk bisa bayar uang semesteran, aku mengambil kerja paruh waktu menjadi kasir sebuah minimarket milik janda paruh baya.

Di hari pertama aku menjadi kasir, ada perampokan.

Sial.

Hal aneh seperti ini selalu terjadi di hidupku.

“Ini perampokan! Semaunya angkat tangan!” teriak seorang pria tambun yang menutupi wajahnya dengan topeng anonymous. Hacker? Sepertinya bukan..

Teriakannya membuat seisi minimarket hening. Satu-satunya pengunjung cewek membeku di depan rak mi instan. Harusnya aku yang paling takut di sini. Sebab akulah si kantong semar. Aku yang memegang banyak duit di sini. Aku yang berpeluang lebih dulu gugur dalam pertempuran dengan uang berhamburan.

Teman si tambun yang pakai topeng kepala monyet seperti di video klip Lazy Song  milik Bruno Mars, melungsurkan karung beras kosong. Dia berkata nyaring kepadaku, “Gue nggak mau tahu, pokoknya isi karung ini sampai penuh!”

Aku angkat tangan. “Maaf, Pak. Saya nggak bisa.”

“Kau melawan? Kupecahkan kepala kau!” Si tambun bertopeng anonymous mengancam dengan senjata api yang dia andalkan. Aku harap pistol itu tidak ada pelurunya. Sehingga drama perampokan ini berakhir tanpa korban jiwa dan para perampok kabur untuk terlebih dahulu beli peluru.

“Kan tangan saya terangkat, Pak. Bapak yang tadi nyuruh begitu. Ya saya nurut-nurut aja. Terus, mana bisa saya ambil uang dengan tangan terangkat begini? Pikir dong, Pak!” ucapku santai.

Kedua perampok saling pandang.

Aku tahu mereka hanyalah perampok amatir yang nggak cerdas-cerdas amat. Bagaimana aku bisa tahu? Sebab mereka masuk dengan mendorong pintu yang bertuliskan ‘tarik’.

“Oh, benar juga.” Si tambun berubah pikiran. “Ya udah, semuanya turunkan tangan dulu deh. Capek kan angkat tangan terus?”

Ketika disuruh turun tangan, kami melakukannya. Di tengah kesempatan itu, pengunjung yang dari tadi berdiri di depan rak mi, buru-buru mengetikkan sesuatu dengan ponsel pintarnya. Yang jelas, apa yang diketikkannya mengundang seorang superhero masuk ke dalam keributan ini.

“Ayo, serahkan uangmu!” desak si perampok berkepala monyet.

Aku mengambil uang lecek dari kantong seragamku dan memasukkannya ke karung beras.

“Kok dikit amat?” protes si perampok.

“Ya uang saya tinggal segitu-segitunya, Pak,” jawabku jujur dan polos.

“Yang di mesin kasir itu apa? Uang juga tuh.” Perampok melirik mesin kasir.

“Itu sih uang bos saya. Katanya tadi saya disuruh serahin uang saya,” sergahku.

“Ya udah, uang bos kamu juga dong ah.” Perampok mencubit pipiku dengan genit. Setelah ini, aku tahu aku harus bersuci lagi.

“Tapi di sini ada CCTV-nya, Pak.” Aku menunjuk CCTV yang dipasang di empat penjuru mata angin di minimarket ini.

“Lah terus?” Perampok mengangkat bahu, heran.

“Nanti ketahuan bos saya kalau saya kasih uangnya ke Bapak.” Aku memelaskan wajah.

“Iya juga ya.” Perampok mengangguk cepat.

“Saya bisa dipecat, Pak. Kasihan saya ini orang kampung. Saya hidup sendiri di perantauan. Kalau saya dipecat, saya mau makan apa besok?” Aku ambil tisu untuk pura-pura menangis dan menyeka ingus.

“Malah curhat. Memangnya kita sedang berada di acara Oprah?” Si perampok kepala monyet mencoba sarkas. Boleh juga selera humornya. Dia tahu Oprah saja sudah cukup mengejutkan bagiku. Sebab aku hanya pernah nonton Dorce Show.

Tapi sesaat kemudian, kepala si monyet digebok dari belakang oleh seseorang. Orang itu berpakaian ketat warna biru dongker dengan logo Superhero Inc. di dadanya. Wow!

Aku hanya bisa takjub di belakang meja kasir. Kejadian seperti ini tidak terjadi setiap hari. Ada superhero di minimarket yang aku jaga. Aku bingung, apakah harus mengucapkan selamat belanja kepadanya atau langsung berterima kasih saja.

Aku bisa menebak wajah di balik topeng itu sangatlah tampan. Dagunya terbelah seperti disentuh tongkat Nabi Musa. Rambutnya pun disisir ke belakang seperti model iklan pomade. Keren. Jika aku seorang cewek, aku sudah mengecup pipinya sampai hangus.

“Sudah puas mengancamnya, Mas?” tanya si superhero kepada si perampok berkepala monyet. Tapi yang ditanya sudah kelenger, jadi tidak menjawab apa-apa.

“Siapa kau? Berani-beraninya menggebuk temanku!” Si tambun bertopeng anonymous mengarahkan senjatanya kepada superhero.

“Awas!” teriakku memperingati.

“Rileks.” Superhero hanya menengok kalem, lalu menempelkan satu telunjuk pada moncong pistol sang perampok keji.

Sedetik kemudian, perampok tambun itu membeku. Bukan, ini bukan membeku secara kiasan. Ini membeku dalam arti kata sebenarnya. Sang superhero ini ternyata punya kemampuan membuat apa yang disentuhnya berubah menjadi es. Sang perampok pun sukses jadi manusia dalam balok es.

Aku turut membeku melihat kekuatan supernya.

“Ah, Bang Rock Ice! Terima kasih sudah datang menolong!” histeris pengunjung cewek yang tadi berdiri di rak mi. Ternyata pengunjung ini yang memanggil sang superhero yang bernama Rock Ice tersebut.

Rock Ice hanya cengengesan ketika penggemarnya kegirangan.

“Aku kasih bintang lima ya buat Abang.” Cewek itu buru-buru mengetikkan sesuatu di ponsel pintarnya. Mungkin dia ingin memberikan rating dan review untuk pahlawan super favoritnya tersebut. Review-nya bisa semacam ini:

“Mantap, Bang. Aku puas banget.”

Kemudian, cewek itu menunjukkan layar ponsel pintarnya kepada Rock Ice. Di sana ada profil Rock Ice dengan bintang lima yang menyala serta sekelumit ulasan bagaimana Rock Ice menolong pelanggannya.

“Wah, makasih, Neng.” Rock Ice cengengesan mendapat review positif.

Ketika Rock Ice sedang lengah, si perampok kepala monyet kembali siuman. Perampok itu melepas topengnya. Menurutku, sebaiknya dia memakai topengnya lagi. Sebab wajah aslinya tidak beda jauh dengan topeng yang tadi dipakainya. Sejurus kemudian, dia mondar-mandir cari sesuatu. Sepertinya dia mencari benda tumpul untuk dipakai balas gebuk Rock Ice.

Aku hanya memperhatikan dalam senyap.

Si perampok itu hendak mengangkat lemari es, tapi terlalu berat. Lantas, dia berpindah ke kumpulan galon. Dia mengangkat galon dengan susah-payah, lalu mengendap-endap mendekati Rock Ice. Saat itu Rock Ice sedang cekikikan bersama penggemarnya. Sesekali keduanya foto bareng sembari kompak memonyongkan bibir yang sepertinya memang sudah monyong dari sononya.

Karena aku nggak pengen-pengen banget foto monyong bersama mereka berdua, aku buru-buru melepas sepatu. Apa yang aku lakukan ini semata-mata untuk menggagalkan usaha pembalasan si perampok keji itu.

Ketika si perampok hendak melempar galon ke kepala Rock Ice, dari belakang aku menyekap mulutnya dengan kaos kaki. For your information, kaos kakiku sudah tiga minggu tidak dicuci. Kalau direbus, airnya bisa dipakai untuk pesta minum teh kaum troll gunung. Singkat kata, baunya sebelas-duabelas dengan bau mulut Spongebob setelah makan es krim ekstrak bawang busuk.

Dengan kekuatan kaos kaki ajaib, si perampok kepala monyet kembali jatuh pingsan dengan cantiknya. Diiringi suara berdebam galon jatuh di dekat Rock Ice.

Mendengar suara benda jatuh, Rock Ice menoleh ke arahku.

“Perampok ini mencoba melawan,” terangku.

“Wah, jadi barusan kamu menolongku?” ucap Rock Ice sambil menepuk pundakku. “Terima kasih, sobat.”

“Kenapa kamu nggak daftar jadi superhero aja?” saran penggemar Rock Ice. “Kamu punya jiwa pahlawan. Kamu pasti bisa berkembang di sana.”

“Ah, nggak deh. Ini aku baru sehari kerja di sini. Masa mau resign begitu aja? Nggak enak sama bos,” ucapku merendah.

“Tapi gajinya lumayan, lho,” ucap cewek itu.

Aku langsung berubah pikiran. “Boleh dicoba tuh.”

“Oh, iya, benar juga. Datanglah ke kantor untuk ikut melamar. Ini alamatnya.” Rock Ice menyerahkan kartu namanya kepadaku.

Aku menerima kartu nama Rock Ice yang berwarna keperakan itu, lalu bengong berkepanjangan. Apa yang harus aku lakukan dengan kartu nama ini?

Rock Ice pamit sembari memanggul dua penjahat gagal rampok.

Aku masih bengong.

“Hei, aku mau beli mi nih,” ucap penggemar Rock Ice sembari menyerahkan segunung mi instan ke meja kasir. “Nggak usah pakai plastik. Aku pakai karung beras bekas perampok tadi aja.”

Aku buru-buru sadar dari aktivitas bengongku dan lari menuju meja kasir untuk mulai scan satu persatu kode batang di bungkus mi yang diborong cewek kekinian ini. Cantik-cantik makan mi instan.

***

Dari kejadian itu, aku beranikan diri mendatangi alamat yang tertera di kartu nama Rock Ice. Nama perusahaan itu adalah Superhero Inc. Perusahaan ini bergerak di bidang jasa pahlawan super berbasis online. Setiap hari, banyak pemuda yang mendaftar di sana. Bahkan kebanyakan dari mereka adalah sarjana.

Untuk memakai jasa superhero online, orang-orang hanya perlu mendownload aplikasi Go-Hero di ponsel pintar mereka. Setiap ada kejahatan, pengguna aplikasi tersebut bisa memanggil superhero terdekat atau superhero langganan untuk menolong.

Ketika masuk ke gedung Superhero Inc., aku disambut oleh Rock Ice.

“Nah, akhirnya kamu datang juga,” ucap Rock Ice sembari menjabat tanganku.

Bersama Rock Ice, aku diantar ke depan sebuah ruangan. Di ruangan itu pendaftar diuji dengan sebuah alat yang mirip steamer salon.

“Dalam diri manusia, ada potensi kekuatan super. Kami di sini mencoba menggali pontesi tersebut. Sebagian berhasil, sebagian berakhir pusing-pusing.” Rock Ice mencoba memberi penjelasan. “Tapi, untuk lebih jelasnya, kamu bisa perhatikan pemuda yang sedang diuji itu.”

Di depan kami adalah kaca bening yang mempertontonkan apa yang terjadi di dalam ruang pengujian. Seorang pemuda canggung duduk di kursi, lalu dipakaikan benda mirip steamer salon. Kontan, anak itu kejang-kejang. Sesaat kemudian, dari kedua telapak tangan anak tersebut, berkobarlah api warna biru.

Aku menutup mulut.

“Nah, sekarang giliran kamu, Hino.”

Kemudian aku duduk di kursi dan pakai helm pembangkit kekuatan tersebut. Aku penasaran kekuatan apa yang akan aku dapatkan nanti.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status