Share

Run Away
Run Away
Author: Nadia

Prolog

    “Nadira?”

    Mendengar suara yang terasa tak asing di telinganya itu, Nadira langsung mendongak. Ia terdiam, mendapati seorang pria berkemeja putih dengan dasi merah sudah berdiri tepat di hadapannya.

    Keberadaan pria itu berhasil membuatnya merasa bagai dihujani es yang akhirnya membuat tubuhnya terasa membeku. Dengan susah payah ia berusaha untuk menelan ludahnya, namun itu sia-sia karena saat ini ia tercekat menatap pria yang tak lain dan tak bukan adalah Haikal, orang yang selama ini ia hindari.

    Senja yang mulai menampakan diri di atas sana tampak bangga, bangga telah mempertemukan mereka kembali. Senja menguatkan kenangan, hangat menempatkan diri pada bayangan yang pernah terjadi, membiarkan hati mengembalikan sirkuit kisah di masa lalu.

    Ketika cinta yang beruntai dalam hati mampu menjadi saksi sebuah kisah dan luapan rindu yang menuntut langkah untuk memulai kembali, apa daya kecewa menjadi tujuan terakhir yang menahan langkah untuk kembali mengukir cerita.

    Nadira tidak bisa memungkiri, sejujurnya ia masih memiliki perasaan pada Haikal dan begitu merindukan pria tersebut. Namun, luka basah yang sampai detik ini menganga lebar di dalam hatinya, menuntutnya untuk tak melangkah lebih jauh.

    Tiap kali kedua netra tajam pria itu balik menatapnya lekat-lekat, hatinya terasa terkoyak-koyak dan jadi begitu pedih. Ia tak sanggup menatap Haikal.

    Nadira membenarkan posisi tas Chanel yang menggantung di bahu kanannya, kemudian ia berdiri, bergegas pergi meninggalkan halte itu. Ia mempercepat langkahnya ketika mendengar derap langkah lain di belakangnya, diiringi suara Haikal yang memanggil. Terlalu sakit baginya sekadar untuk berhenti, berbalik, dan menatap wajah pria itu.

    Nadira menghela napas berat ketika Haikal tak lagi mengikutinya, lalu ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas, mengirim pesan pada Ghina, memberitahu posisinya, dan berharap gadis itu dapat dengan cepat membalas pesannya. Ternyata benar, tak butuh waktu lama baginya untuk mendapat balasan dari Ghina. Ghina bilang, ia hanya perlu berjalan beberapa meter lagi untuk tiba di kafe tempat Ghina berada sekarang.

    Setelah berjalan lagi, tak jauh di depannya ia melihat Ghina melambaikan tangan padanya, senyum lebar terulas di bibir gadis yang sudah lebih dari lima tahun tak ia temui itu. Nadira mempercepat langkah, ia langsung memeluk Ghina ketika ia menghampiri teman lamanya itu.

    “Apa kabar, Ghin?” Tanya Nadira.

    “Ya ampun, Nad, gue kangen banget sama lo! Kenapa lo jarang hubungin gue? Sumpah, gue senang banget bisa ketemu lo lagi!” Seru Ghina tanpa mengindahkan pertanyaan Nadira. Dia memeluk Nadira dengan erat untuk melepas rindu.

    “Gue juga kangen sama lo. Jangan kenceng-kenceng dong meluknya, badan gue sakit nih,” balas Nadira. Ghina tertawa kecil dan melepas pelukannya.

    “Dari tadi gue tunggu di halte sebelah sana, ternyata lo di sini.” Lanjut Nadira.

    “Tadi gue mau nyusul lo ke halte, tapi gue haus, jadi gue duduk dulu di sini sekalian nunggu lo chat gue,” jelas Ghina, ia menggandeng tangan Nadira, mengajaknya masuk ke dalam kafe, lalu duduk di salah satu kursi di dalam kafe yang sebelumnya sudah ia tempati.

    “Gimana di sana setelah lulus kuliah? Aman, kan?”

    “Ya gitulah. Aman-aman aja, tapi hambar.” Jawab Nadira sambil terkekeh.

    “Lo mau minum apa?” Tanya Ghina seraya memanggil seorang pelayan.

    “Latte.”

    “Latte satu, wafel coklat dua,” ujar Ghina. Sang pelayan tersenyum dan menulis pesanan yang Ghina sebutkan, kemudian berlalu pergi.

    “Hambar gimana, Nad? Secara lo mahasiswa fakultas Psikiatri di Universitas Cambridge selama 3 tahun lebih dan sekarang lo udah jadi sarjana,” Ghina melanjutkan pembicaraan mereka tadi.

    “Asing gitu lho, sendirian di negeri orang.”

    “Yang penting sekarang lo udah jadi psikolog dan dokter konseling. Cita-cita lo terwujud.”

    Nadira hanya tersenyum. Ponsel Ghina tiba-tiba saja berdering, gadis itu mengisyaratkan pada Nadira kalau dia harus mengangkat telepon itu dulu, dan Nadira menjawab dengan anggukan.

    Nadira memandang ke luar jendela kafe yang berada tepat di sampingnya, ia menetapkan pandangannya pada tubuh tinggi seorang pria yang berdiri di depan sebuah restoran yang berseberangan dengan kafe tempatnya berada saat ini. Pria tersebut tampak sedang menelpon. Cukup untuk menyebut dirinya sendiri sebagai pengecut karena hari ini hanya berani memandang dari kejauhan pria yang tak lain adalah Haikal.

    Tak lama kemudian, Haikal melihat ke arahnya dan pandangan mereka bertemu. Lehernya terlalu kaku hanya untuk menoleh ke arah lain dan menghindari tatapan pria itu. Ia melihat Haikal tersenyum manis padanya sebelum akhirnya ia buru-buru mengalihkan pandangan ketika Ghina selesai menelpon.

    Di hari ketiganya kembali mengjinjakkan kaki di tanah kelahirannya, ia harus berhadapan dengan Haikal, orang yang ia hindari selama ini. Segenap rindu ia bawa kemana pun ia pergi sejak lima tahun yang lalu, segenap jiwanya terkadang melayang kembali ke masa lalu, segenggam janji yang terucap untuk melupakan selalu terbang dibawa haluan angin. Sialnya, ia harus menenggelamkan rindunya pada seseorang dan berharap ia berhasil melupakan segala yang terjadi.

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status