Bab 3 Surat Cinta

Airlangga Sakha Handojo POV

"...hei yang suka sama aku lebih cantik daripada kamu. Amit-amit suka sama kamu. Najis!"

Perkataan itu justru jadi boomerang. Saat ini aku justru sangat menyukainya. Kania oh Kania, bocah perempuan yang kukenal sejak tubuhku masih tak berbentuk hingga sekarang dikagumi perempuan. Ternyata aku mencintai anak pelatihku sendiri.

Siapa yang sangka anak yang sekarang duduk di kelas 2 SMA ini jadi penghuni hatiku sejak saat itu. Dia yang selalu kuperhatikan di sela kesibukan menempa pendidikan di lembah Tidar. Dia yang selalu kuingat di sela beratnya aktivitas sebagai seorang taruna Akmil. Dia yang selalu kutemui diam-diam saat libur atau izin bermalam. Dia yang selalu kutelepon dengan sembunyi-sembunyi. Saat yang lain asyik terbuai mimpi, aku justru memikirkannya.

Aneh, ya, mungkin lucu. Aku bisa jatuh cinta, pada anak kecil pula. Sebenarnya selisih usia kami cuma 4 tahun, tapi kelihatan jauh karena aku yang sok dewasa, sok tua. Seorang Erlan nggak mungkin jadi sosok menye-menye. Sosok chessy dan norak. Seleraku juga pasti bukan seperti dia.

Namun, lagi-lagi termakan omongan sendiri. Hatiku sering berdebar saat melihatnya. Dia yang jadi alasanku sering latihan. Sebab dia selalu nempel bapaknya, pelatih fisikku. Wajah anehnya justru lucu. Suka saja melihatnya. Dia nggak cantik, tapi nyenengin. Gimana sih, ya gitulah. Jatuh cinta susah dideskripsikan.

Dia alasanku jadi kurus. Aku harus menarik perhatiannya. Seiring aku kurus, dia makin cantik. Rambutnya yang kumal tiba-tiba dipotong sebahu. Kelihatan lebih segar. Aroma tubuhnya biasanya nggak jelas, jadi beraroma Molto. Lucu sih, mengingatkanku pada sosok adik kecil yang selama ini kudamba.

"Aku suka kegalakan Mas Erlan. Lucu, aku nggak takut."

Begitu katanya. Dasar anak aneh. Nggak punya gentar sama aku. Nggak ada takutnya sekalipun aku sering membentaknya. Kata dia, wajahku jadi lucu saat marah. Wajahku terlalu ganteng untuk judes. Ah, dasar pembual kecil.

"Mas Angga!" Sebuah suara memecah lamunanku. Aku benci panggilan itu.

"Lama banget!" sambutku tak bersahabat, seperti biasalah.

Dia tersenyum hangat, "iya, tadi masih remidi Bahasa Indonesia."

"Apa, remidi lagi? Kamu nih orang mana sih. Bahasa sendiri kok begonya minta ampun," ejekku kasar, seperti biasalah.

"Soalnya waktu ulangan aku kepikiran Mas. Makanya nggak konsen." Ah mulai lagi anak ini.

"Kumat!" vonisku. Dia terkekeh sambil menggelayut manja.

Kami duduk di bangku belakang sekolah yang sepi. Kami bertemu diam-diam lagi saat aku sedang libur. Tentu saja aku masih berseragam taruna, itu sudah protap. Untuk menutupinya, kupakai jaket kulit. Supaya tidak menarik perhatian saja. Sekalian kutambah topi deh. Malas saja kalau menarik perhatian orang. Aku ingin leluasa bercengkrama dengan Kania, berdua saja.

"Mas libur berapa hari?" tanya Kania pelan.

"3 hari. Kenapa?" jawabku cuek.

"Waktu untukku berapa hari?" Pertanyaan yang menjebak.

"Maumu berapa?" tanyaku sok galak.

"Seumur hidup," jawabnya yang membuatku tak kuasa menahan senyuman.

"Kamu ..." desahku.

"Cantik, ya?" Dia menaikturunkan alis.

Banget, batinku berteriak penuh semangat.

"Jelek!" simpulku kesal. Dia hanya mendengus, imut sekali.

"Mas, Kania dapat ini lo!" ujarnya sambil menyodorkan sepucuk amplop warna jingga.

Aku mengamati amplop yang ternyata wangi itu, "dapat darimana kamu?"

"Anak kelas 3 IPA, namanya Wirya. Dia suka sama aku. Mau aku jadi pacarnya."

Jawaban Kania membuatku buyar. Dan lagi, dia dapat surat cinta dari kakak kelasnya. Kemarin dari anak kelas 3 IPS lalu anak kelas 1. Sekarang dari kakak kelas lagi. Rupanya lagi naik daun. Oh tidak bisa. Kania hanya milikku walau ... kami tanpa status yang jelas.

"Terima atau nggak, ya, Mas?" godanya, seperti biasa.

"Terserah kamu," jawabku sewot.

"Dia ganteng sih Mas. Potongannya kayak Mas Angga. Cepak gitu soalnya mau daftar Akmil juga. Semoga dia masuk, ya?" ucapnya melantur.

"Ngapain juga kamu harus sibuk ngurusin dia. Mau dia masuk kek, enggak kek, bukan urusanmu, 'kan! Dikira masuk Akmil kayak masuk ke mal. Gampang gitu?" jawabku kasar.

"Kok sewot sih. Cemburu, yaaa? Cemburu, 'kan?" godanya sambil memasang wajah imut. Sungguh ingin kugigit hidung mungilnya itu.

"Kamu ini! Niat ketemu nggak sih. Kamu nggak ngerasa kangen sama aku?" uraiku begitu saja. Norak kan.

"Haha, imut sekali kalau cemburu. Sini ih, kangen dong." Kania lantas melingkarkan tangannya pada lenganku.

Andai saja aku tak berseragam.

"Makan yuk!" ajakku semangat. Mengubah suasana aneh tadi jadi suasana yang sedikit hangat.

"Jadi diterima nggak nih Mas Wiryanya," tegasnya menyebalkan.

"Ah...bodoh amat!" ucapku gusar.

---

"Emangnya nggak boleh Kania pacaran sama orang lain?" tanyanya saat kami di warung bakso dekat sekolah.

"Emangnya kamu nggak cinta aku?" tanyaku posesif.

"Emang status kita apa sih, Mas?" Pertanyaan yang selalu muncul, apalagi akhir-akhir ini.

"Bukannya kita nggak butuh status. Sejak kapan sih kamu meributkan status?" ujarku sedikit merendahkan suara. Nggak enaklah di warung bakso bahas ginian.

"Ya biar jelas aja, Mas. Kania, 'kan, sama kayak cewek lain," jawabnya penuh harap.

"Oh jadi sekarang udah jadi cewek," alihku.

"Ih Mas Angga. Mau lihat buktinya? Aku lagi mens lho!" ujarnya keras. Amit-amit cewek satu ini.

"Gila lo!" Dia terkekeh. Bener-bener nggak jaga muka ini anak.

"Kania tahu kok kalau mas Angga lagi menghindar. Ya udah deh, nggak perlu dibahas lagi. Sebenarnya kenapa sih kok kita nggak butuh status? Apa karena Kania nggak pantes, ya, dikasih status?" Wajahnya cukup melas.

"Katanya nggak mau bahas, tapi kok banyak tanya. Dasar plin-plan."

"Jawab sajalah, Mas Angga!"

"Panggil yang bener!"

"Iya, Mas Erlan. Kasih jawaban dong biar aku lega."

"Harus, ya, di warung bakso gini?"

Dia tersenyum lembut sambil menatapku, "bukannya tempat kita bicara bisa di mana aja? Bukannya kita nggak pernah bicara di tempat lain selain tempat kayak gini. Yakin mau di rumah Mas? Bisa heboh, 'kan?"

Kuhela napasku berat. Benar juga katanya. Selama kami berhubungan, tak ada yang tahu. Kami menjalin cinta tanpa status dan tanpa diketahui oleh siapapun. Ini adalah keputusanku. Sebab terlanjur janji pada ayah, bahwa cita-cita sebagai tentara adalah nomor satu. Lagi pula, memang bisa heboh kalau aku jatuh cinta pada Kania. Mana mungkin seorang Erlan. Ah sudahlah.

"Kujawab di tempat yang lain. Yang lebih indah," putusku kemudian.

"Oke, baiklah." Kania pasrah.

---

"Jadi tempat indahnya di pinggir sawah?" tanya Kania kecewa.

Aku menyeringai, "kenapa kamu nggak suka?"

Dia mengangkat kedua bahunya lantas duduk di pematang sawah yang hijau, "suka. Dimana aja asal sama Mas Angga."

"Bisa nggak sih jangan panggil aku kayak gitu?" Aku protes.

"Bisa nggak sih langsung jawab pertanyaanku?" kata Kania dengan mimik serius. Tumben nih anak. Mungkin dia memang ingin kejelasan.

"Aku nggak mau cinta kita terkotak cuma dengan status. Status pacaran, putus jadi mantan. Aku nggak mau putus, aku juga nggak suka kata 'mantan'. Jelas?" jelasku padat, singkat, dan jelas.

Dia menatapku lurus, "aku juga nggak mau kita pisah. Aku mau selamanya sama Mas Angga. Aku mau suatu hari bisa manggil nama Erlan dengan leluasa karena udah jadi keluarga. Walau aku nggak tahu selamanya itu sampai kapan."

"Kamu mau panggil aku Erlan aja nggak sih?" tegasku. Dia menggeleng.

"Kenapa sih Kania? Apa itu terlalu sulit? Apa benar menyinggung prinsipmu?" tegasku lagi.

"Sama seperti prinsip Mas Angga yang nggak mau kasih status demi cita-cita. Aku juga nggak mau manggil dengan seakrab itu. Karena aku masih sungkan, kaku. Kita belum jadi keluarga, 'kan. Di depan masih abu-abu." Kania tampak dewasa saat menjelaskan semua itu. Dewasa sekaligus menusuk perasaanku.

"Dasar sok dewasa kamu, Ka!" olokku demi mencairkan suasana.

"Jadi boleh dong aku kasih Mas Wirya status. 'Kakak kelas yang kukenal', gitu nggak buruk, 'kan?" godanya usil.

"Kamu mulai lagi, ya? Kenapa nggak sekalian aja 'kakak kelas ganjen yang kutolak'. Norak!" olokku tak mau kalah.

"Cemburu, ya, 'kan ...." Aku berlalu meninggalkannya di pematang sawah.

Dasar norak. Iya aku yang norak. Udah keren pakai baju Taruna Akmil, malah main di sawah. Jajan bakso sama anak SMA. Nggak elit banget liburan ini. Namun, mau dikata apa, semua demi bisa bercanda bersenda gurau dengannya. Walau tak manis manja, tapi inilah caraku menikmati hubungan ini. Kania baik saja dengan caraku.

Ah, jadi melantur. Gara-gara surat cinta dari siapa tadi, Waria eh Wirya, pembahasan kami jadi ke mana-mana. Akhirnya malah bahas status. Runyam kalau kami sampai berantem. Ya, walau setiap ketemu pasti berantem nggak jelas sih. Namun nggak serius, cuma guyonan, bukan? Untung saja tadi nggak runyam. Ah, surat cinta sial.

"Nanti Mas Angga tulis surat dari Magelang bolehlah," seloroh Kania santai.

"Kurang kerjaan amat aku!" ujarku galak.

***

Bersambung...

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status