Bab 7 Menjalani Waktu

Kania Langit Amaranata POV

Saat terpisah dengan Mas Angga, aku selalu banyak berpikir. Kebanyakan mengingat masa lalu kami bersama. Bagaimana kami bertemu. Bagaimana kami banyak menghabiskan waktu bersama. Bagaimana perangai galak dan menyebalkannya.

Kadang aku jalan ke tempat kenangan kami sambil mengingat momen itu. Ke warung mi ayam favorit sejak SMA. Selalu saja dia dilihat orang banyak karena seragamnya. Tidak selalu seragam sih, kadang wajah gantengnya saja sudah menarik orang.

Mas Angga memang bak medan magnet. Bisa menarik kutub yang berlawanan dengannya. Banyak yang terpaku dengannya. Begitu pun denganku. Aku rela menjalani separuh waktu hidupku untuk mencintainya. Walau itu tanpa status, aku rela. Padahal aku sama, wanita yang butuh status.

Berjauhan dengannya membuatku banyak berpikir. Bagaimana aku bisa menjalani waktu ini. Saat dulu dia masih daftar tentara, kami selalu bersama. Tentu dengan sembunyi-sembunyi. Aku selalu menemaninya lari dengan membawa sekantong coklat.

"Bodoh kamu, aku 'kan pengen kurus ngapain kamu bawain coklat," umpatnya saat itu.

Aku membalas umpatannya dengan senyum, seperti biasa, "sesekali Mas harus bahagia. Coklat itu sumber energi, bisa bikin bahagia juga. Ayolah, Mas Erlan!"

"Karena kamu manggil namaku, ya udah deh."

Ah, cowok galak satu itu. Selalu aja nyerah kalau aku memanggil nama kesayangannya. Namun, nggak seru kalau dia cepet nyerah, aku suka sekali mengganggunya. Ya dengan itu tadi, manggil nama resminya.

"Tuh, 'kan, aku jadi kangen," celetukku sambil memukul jidat.

Kamu sedang apa di sana, Mas? Apa kamu kangen aku? Apa kamu masih dekat dengan Aruni Aruni itu?

"Ah kenapa aku nggak tanya kemarin?" umpatku sendiri.

Oh iya, kemarin aku tak sempat lagi membahas hal lain. Itu karena Mas Angga tiba-tiba melakukan itu, ya itu. Ada petir apa dia tiba-tiba mencium pipiku, seorang Airlangga yang sangat anti kontak fisik. Apa dia sudah sangat mencintaiku? Terlalu gemas? Sepertinya jawaban itu benar semua sih.

Lucu juga melihat kekunoan Mas Angga. Dia sangat klasik tidak seperti gaya percintaan di film masa kini. Cemburu yang lucu, sangat kaku, bahkan tidak tahu cara berfoto dengan lawan jenis. Sangat menggelikan tingkahnya itu. Mana mungkin dia bisa jadi tentara yang galak, kalau tingkahnya seimut itu.

"Kania, sinau Nduk?" tanya bapak sambil mengetuk pintuku. Bapak bertanya apa aku sedang belajar.

"Inggih Pak," jawabku pelan.

"Yo wis. Sinau sing pinter ben iso dadi dokter. Sido mlebu kedokteran, 'kan?" tanya bapak masih di balik pintu. Bapak bertanya apa aku masih ingin masuk ke fakultas kedokteran.

"Inggih Pak, jadi." Jawabanku tidak ditanggapi bapak lagi.

Jadi dokter? Itu terasa menggelikan saat aku hanya memikirkan cita-citaku satu-satunya. Aku memang asal menjawab itu supaya bapak lega. Iyalah kalau bapak tahu cita-cita asliku, pasti beliau sudah pingsan duluan. Kasihan beliau. Sudah lelah bekerja dan mengurusku sendirian.

Sebenarnya aku hanya punya bapak. Ibuku tak tahu ke mana. Kata orang sih, pergi sama mantan pacarnya saat aku berumur 5 tahun. Terakhir kudengar ibu sudah menikah dan punya anak lagi. Ya sudahlah, aku tak mau bahas itu.

Aku cuma pengen bahas bapak dan cara membahagiakannya. Seharusnya aku lebih fokus pada itu, tak cuma urusan cinta saja. Dasar cewek bego, mungkin begitu kata Mas Angga. Tuh, 'kan dia lagi. Oke, fokuslah Kania. Aku harus fokus pada ujian nasional dan ujian masuk perguruan tinggi.

---

Kujalani waktu tanpa mengingat terlalu dalam tentang Mas Angga. Kutahu kami sama-sama meniti masa depan. Akan ada saatnya di mana kami pasti akan bertemu. Akan ada saatnya kami pasti akan bersatu. Jika memang sudah jodoh, tidak akan ke mana. Lagu lama sih, tapi aku percaya.

Memang kami sama-sama sibuk. Jarang komunikasi. Namun, inilah seninya. Walau aku nggak tahu dia doain aku atau nggak. Namun, dia adalah salah satu orang yang kusebut dalam doa. Semoga Mas Angga jadi orang sukses dan jadi masa depanku.

Kalau dirasa, aku seperti sangat tergila padanya ya. Memang dia cinta pertamaku. Cinta terindahku. Tujuan hidupku. Orang yang selalu ngemong dan membimbingku untuk dewasa. Kadang dia kayak bapak, kadang kayak seorang ibu. Asyik berlama-lama dengannya. Hingga pikiranku hanya dipenuhi tentang dia.

Dia selalu ada saat aku bimbel. Saat aku belajar sendiri. Saat tryout diapun ada, seperti menyemangatiku. Aku harus bisa membuatnya bangga. Maka, kukerjakan setiap ujian dengan baik. Kukerjakan dengan sungguh-sungguh. Juara harus kuraih demi membuat bapak dan dia bangga. Agar seorang Kania tidak sia-sia terlahir ke dunia.

"Selamat Kania, rerata ujian nasionalnya 9,7. Kamu juara 1." Ucapan Bu Wahyuni langsung disambut tepuk tangan meriah.

Seluruh aula langsung melihatku yang tersipu malu. Apakah ini yang namanya motivasi cinta seorang Erlan? Andai dia di sini, aku pasti sudah memanggil namanya dengan keras.

Ah sudahlah, berkat tidak bertemu dengannya waktu berjalan dengan cepat. Sekarang tahu-tahu sudah pengumuman ujian. Tak terasa telah berbulan-bulan kami tak bertemu. Kangen? Jangan ditanya, kangen sekali. Namun, semua demi cita-cita masing-masing. Tetap harus sabar.

Aku tak bisa mengabarkan berita bahagia ini. Sebab, dia sangat terbatas memegang ponsel. Sedang sibuk berat, saat sesekali mengabariku beberapa minggu yang lalu. Ya sudahlah, aku nggak tahu gimana kesibukan seorang taruna tingkat akhir. Mungkin saja sama denganku, 'kan?

Kalau dia mengabariku lagi, pasti langsung kuhamburkan kabar bahagia ini. Dia pasti bangga hingga menitikkan air mata. Iya air mata, karena tubuhnya sakit kena pelukan kerasku. Ah, Kania garing. Mana ada Erlan kesakitan. Aku kali yang sakit kena pangkat-pangkat di bajunya. Itu baju apa toko aksesoris, printilannya meriah amat.

---

Tok ... tok ... tok ...

Suara ketukan membuyarkan lamunanku saat menonton TV. Siapa sih ganggu orang asyik aja? Awas ya kalau bukan Mas Erlan. Ngomong-ngomong kok aku nyaman banget manggil dia gitu. Pasti dia kegirangan deh dipanggil kayak gitu sama aku.

"Selamat sore, ini dengan Gadis Bodoh?" tanya seorang pemuda yang sepertinya kurir.

Aku nyengir tak nyaman, "maaf, di sini bukan rumahnya Ga ..., tunggu sebentar."

Kurang asem Mas Erlan! batinku kesal.

"Iya Mas, ini dengan Gadis Bodoh," ujarku tak enak hati.

"Baik Mbak, ini ada pesanan dari 'Mas Taruna Kesayanganmu', mau diterima?" ujar mas-mas itu.

"Pede gila!" umpatku pelan.

"Ya Mbak?" tanya mas kurir bingung.

"Eh, iya Mas. Saya terima aja. Makasih, ya?" ucapku gugup.

"Oke ...," si mas kurir menjentikkan jari dan satu dua tiga, mas kurir yang lain berdatangan menuju teras rumah sederhanaku.

Aku seperti tersihir oleh pemandangan ini. Satu, dua, tiga, tujuh! Tujuh buket besar bunga wangi mendarat cantik di teras rumahku. Warnanya cerah, aromanya segar. Lili, mawar merah, mawar oranye, anggrek putih, krisan putih, dan beberapa bunga lain yang tak tahu apa namanya, semua indah.

"Ini ada suratnya juga, Mbak." Mas kurir menyerahkan sepucuk surat amplop coklat padaku. Ada gambar segitiga chevron di depannya.

"Iya ... Iya makasi, ya, Mas." Mas kurir itu mengangguk lantas berpamitan pergi.

Aku lantas duduk lemas di kursi depan sambil menata hati. Kubolak-balik surat itu. Pasti Mas Erlan memberiku kejutan manis. Ini sangatlah manis. Bunga dan surat, dua senjata pamungkas untuk seorang wanita. Ah, aku seperti wanita dewasa saja. Tak pakai lama, kubuka amplop dan kubaca surat. Tulisannya tetap sama, rapi dan teratur.

"Dear Kania Jelek...

Aku nggak tahu berapa nilai ujianmu, yang pasti jelek, 'kan?"

"Ih, kurang ajar Mas ini!" umpatku pelan.

"Terima saja hadiahku ini. Kalau nilaimu bagus, anggap hadiah. Kalau jelek, anggap hiburan. Mungkin kalau surat ini sudah kau baca, aku sudah selesai sibuk. Sayang aku malas menghubungimu, maaf ya!"

"Sadisnya nggak abis-abis, Mas," ujarku kesal.

"Aku nggak pandai basa-basi Kania, aku hanya ingin bilang maaf sekali lagi. Masih ada satu tradisi sebelum kelulusanku. Namanya Malam Pengantar Tugas. Rerata para taruna membawa teman wanitanya. Maaf, aku nggak bisa bawa kamu. Sudah jelas apa, 'kan, alasanku? Kamu boleh membenciku atas kejujuran ini. Lebih baik kamu sakit hati karena kejujuran daripada  bahagia karena kebohongan. Aku takut, dampak yang harus kamu tanggung lebih besar daripada bahagiamu. Apa kamu membenciku, Kania?"

"Aku sangat membencimu, Mas. Benar-benar cinta..."

Mataku menerawang jauh ke jalanan depan. Terasa kosong dan tiba-tiba air mata ini menetes. Mas Airlangga, Mas Angga, memang sadis. Namun, sekarang terasa lebih menyakitkan. Ya, aku baru sadar. Mana mungkin aku diajak dan diperkenalkan sebagai teman wanitanya, pasti heboh. Dia terkenal di mana-mana, aku hanya bayangannya. Hanya Tuhan yang tahu tentang cinta kasih kami.

"Ya, aku memang gadis bodohmu, Mas."

Aku berusaha tersenyum. Memang berat sekali karena bibir ini memilih untuk menangis. Bagaimana bisa aku memilih kisah cinta semacam ini? Ini sangat menyakitkan kalau dirasa-rasa. Namun, aku kadung cinta. Aku sudah banyak berkorban. Dan terlalu lambat untuk menyerah, kembali. Hatiku tlah tertambat padanya.

"Aku cinta kamu ...."

---

Airlangga Sakha Handojo POV

Andaikata bisa memukul diriku sendiri, itu sudah kulakukan. Bagaimana bisa aku menyakiti Kania saat aku sangat mencintainya. Bagaimana aku bisa menyembunyikannya, saat kisah ini teramat indah untuk dipamerkan. Nasib cintaku teramat tragis, demi cita-cita dan janji pada orang tua, seorang gadis harus tersakiti. Tidak adil bagi kami.

Aku tak bisa memamerkannya pada dunia. Aku tak bisa mengatakan dia milikku. Semua serba rahasia. Serba sembunyi. Pacaran backstreet, apalah itu namanya. Semoga dia sabar, mau menerima keadaan ini. Seperti yang tergambar pada balasan suratnya.

"Aku cinta kamu."

Hanya itu yang dia tulis. Hanya itu. Tak ada lagi cuap-cuap lain saat aku sangat merindukan kabar darinya. Bagaimana nilai ujiannya? Apa dia sehat? Apa dia merindukanku? Apa dia marah? Apa dia memaafkanku? Ah, dilema cinta yang menyiksa. Menurunkan wibawaku sebagai calon perwira.

"Izin selamat malam Abang Asuh?" sapa seseorang membuyarkan lamunanku.

Aku menoleh dan mendapati seorang wanita ayu mendekat, Aruni. Ya, dialah yang kupilih untuk menemaniku ke malam tradisi ini. Demi menyelamatkan imej orang tua, keluarga besar. Latar belakang keluarganya sama denganku. Dia juga tertarik padaku. Kurang apalagi?

"Saya tahu Abang hanya memanfaatkan saya." Ucapan Aruni bak petir menggelegar. Kami berbincang sebentar setelah acara usai.

"Sok tahu kamu!"

"Siap salah! Izin Bang, saya tahu siapa sebenarnya kekasih Abang," tukasnya penuh misteri.

"Terus mau apa, mau bocorkan ke semua orang?" tanyaku galak.

Dia menegakkan badannya lagi, "siap tidak! Saya tetap merahasiakannya. Asal Abang tetap mendukung saya."

"Maksudmu?"

"Tetaplah berpura-pura kita dekat. Agar saya populer di sini. Siap, mohon petunjuk?"

"Wah, Penjilat Kecil kamu, ya!" kataku sambil mengejeknya.

"Siap!" Dia terlihat yakin dengan keputusan anehnya. Dasar perempuan. Mau seragaman tentara atau SMA tetap saja perempuan.

"Cantik nggak pacarku?" tanyaku usil.

"Siap, masih cantik saya, Bang!" jawabnya tegas pandangan lurus tanpa berani menatap wajahku.

"Bangs ... ah sudah kamu kembali. Saya malas bicara sama kamu!" usirku kasar.

Sesaat sebelum bubar, dia menyodorkan selembar kertas, "mohon izin Bang, simpanlah baik-baik."

Aku melihat kertas itu dan kaget, "sialan darimana kamu dapat ini?"

"Siap terjatuh waktu di perpustakaan Bang!" jawabnya tegas.

"Sudah pergi!" usirku lagi.

Gadis kaku itu menurut dan meninggalkanku. Aku lupa tak berterimakasih. Biar sudah. Aku tak suka-suka banget padanya. Aku cuma suka Kania. Apalagi Aruni telah lancang menyimpan fotoku dan Kania yang jatuh di perpustakaan. Dia telah tahu kartu as-ku. Bodoh juga ya Erlan ini. Kebanyakan ngelamun cewek ya gini.

"In love, Kania and Erlan."

Kupandangi lagi foto ini. Kania terlihat cantik dalam gaun selutut warna jingganya. Dia mirip langit jingga yang syahdu. Terlihat bodoh dan melongo saat aku menciumnya. Matanya polos seperti anak kucing. Apa mata itu sedang menangis sekarang, ya? Apa dia memaafkan tindakan kurang ajarku? Kapan kami bisa bertemu? Menjalani waktu yang tak pasti.

"Aku cinta kamu." Begitu yang dia tulis dalam suratnya.

Aku tersenyum pahit, "kamu cintaku selamanya, Kania."

***

Related chapters

DMCA.com Protection Status