Bab 9 Mencumbui Malam

Aku menatap gadis cantik di sebelah yang sedang manyun. Sebenarnya hatiku bak ombak yang naik turun. Tak mudah mengekspresikan rasa rindu ini. Seorang Erlan bisa jadi manusia aneh jika sedang rindu macam begini. Ingin rasanya melakukan hal lain lebih dari pelukan. Namun, aku takut melakukannya. Sebab Kania perempuan pertama yang dekat denganku sejak masa puber.

Ya cuma ini caraku menunjukkan betapa rindunya aku pada Kania. Setelah berbulan-bulan tak bertemu, dia makin cantik saja. Calon dokter lagi. Cita-cita yang tak pernah dia katakan padaku. Bahkan, mungkin terbesit saja tak pernah. Kesayanganku akan jadi calon dokter. Bangga punya dia.

"Ayo dong mulai cerita!" ujarku setelah kami berhenti di jalanan yang sepi.

Seperti ada gundukan es yang runtuh, "akhirnya, disuruh cerita juga."

"Iya calon Ibu Dokter, gimana sih ceritanya? Bagaimana bisa kamu mau jadi dokter? Yakin kamu bisa? Mau jadi dokter apa memangnya?" cerocosku seperti petasan rawit.

"Kania juga nggak yakin Mas. Kania takut," ujarnya cemas. Hatiku geli.

Ya ampun polosnya kamu.

"Loh, kok bisa gitu?" tanyaku sambil menahan tawa.

Dia menggigit-gigit bibir bawahnya yang tipis, bibir indah itu, "Kania cuma iseng ikut tes masuk universitas. Pertanyaan yang keluar itu kesukaan Kania semua. Jadinya bisa jawab deh. Pas wawancara juga, aku nggak begitu ditanya. Pewawancara cuma bilang, wajahku pantas jadi dokter. Dan gitu deh, keterima di dokter umum."

Penjelasan Kania yang sangat polos membuatku sangat geli. Anak satu ini, kelihatannya tak begitu pintar, tapi nasibnya mujur sekali.

Selamat Kaniaku Sayang. Semoga pendidikanmu lancar.

"Sudahlah mungkin sudah nasibmu. Jarang ketemu denganku ada baiknya, 'kan? Kamu bisa fokus belajar dan masuk kedokteran." Dia mengangguk.

"Aku pasti bisa jadi dokter nggak, Mas? Aku cuma takut salah jurusan," ucapnya khawatir.

"Ya udah siap-siap aja salah suntik pasien. Harusnya suntik obat pilek malah suntik obat ayan. Malpraktek deh. Kasian deh."

"Mas ...," keluhnya kesal. Aku terkekeh. Hatiku hangat ketika mengganggunya.

"Mas Angga nih bukannya nenangin, uji kesabaran banget sih." Oh dia mulai sedih. Mungkin aku keterlaluan.

"Sabar ... kamu kayak baru kenal aku saja," aku membelai kepalanya lembut, "kamu pasti bisa jadi dokter."

"Mas Angga katanya kangen, tapi sikapnya keterlaluan."

Tak sabar lagi aku memeluknya. Tubuh Kania kubenamkan dalam pelukanku. Biarlah hati kami bertemu. Detak jantung kami saling berdetak.

Maaf Kania, mungkin aku memang tidak semanis pujangga. Aku tak bisa merangkai kata yang indah untuk merayumu. Memberi status yang tak jelas saja aku tak bisa.

"Aku kangen banget sama kamu, Ka. Mungkin kamu lupa kalau aku nggak bisa manis-manis. Maaf, ya."

"Mas Angga bisa manis kok kalau nggak sadar."

"Iya deh. Oh iya, yakinlah kamu bisa menjalani kuliah itu. Tuhan sudah menggariskanmu kuliah di kedokteran. Kamu pasti bisa. Lagian kerenlah Dokter Kania. Wah aku bisa berobat gratis." Aku harus memompa semangatnya.

Dia menatapku lembut dengan mata itu, "beneran Mas Angga yakin aku bisa gitu?"

Aku mengangguk yakin, "Kania saja bisa taklukin hatiku. Masa taklukin FK nggak bisa? Diam-diam Gadis Bodohku jadi pintar, ya?"

"Hehehe, taklukin apa. Buktinya kita gini-gini aja," ujar Kania menantangku.

"Hm, jangan bilang kalau kamu mau bahas tentang status-status."

"Enggak kok!" sahutnya pendek.

"Enak, ya, Mas MPT?" Aduh, dia bahas itu lagi.

"Biasa aja," jawabku datar.

"Enak dong gandeng cewek cantik. Pasti Kania kalah cantik, ya, 'kan?" dia mulai cemburu.

"Kania yang tercantik," jawabku gantung.

"Berarti dia cantik?" tanyanya makin melantur.

Aku memencet pipinya, "kamu yang paling cantik. Jelas! Sebagai permohonan maafku, 4 hari ini aku milikmu. Oke!"

Dia terkikik puas, "horeee!"

---

Malam telah mencumbui hari. Belum larut masih pukul 6 malam. Azan magrib baru berkumandang. Kami baru saja salat di sebuah masjid di tengah kota. Di tengah asyik memadu kasih, tentu kami selalu ingat Tuhan. Kami bukan insan bobrok kok.

"Apa yang ingin mas lakukan setelah jadi tentara?" tanyanya santai.

"Mengabdi pada negaralah, Oon."

"Kalau kamu, apa yang ingin kamu lakukan setelah aku jadi tentara?"

"Melepas seragammu!" jawabnya sambil menatapku lurus.

Aku menjundunya pelan, "heh, mau bikin dosa kamu, ya!"

"Ih, sakit Mas! Jangan kasar kenapa sih, Kania nih perempuan." Kania terlihat sok lemah.

"Oh, udah jadi perempuan?"

"Mau lihat buktinya? Kania pakai CD merah jambu lho!" ujarnya aneh.

"Hei gila kamu, ya! Jaga muka dikit kenapa sih! Pulang aja kamu sana. Takut dilecehkan aku!" Aku jadi jijik sendiri. Dia tertawa puas.

Dia tertawa keras dan puas, "makanya jangan terlanjur mesum. Dengar dulu dong kelanjutan kalimatku. Aku pengen melepas seragam Mas, karena aku pengen jalan bebas tanpa ada embel-embel kayak pas zaman Mas masih taruna. Mas Angga bisa bebas kayak orang sipil. Akupun nggak perlu terlalu jaga sikap di dekatmu," jelasnya panjang lebar yang cukup masuk akal.

"Oke, permintaanmu dikabulkan. Karena seragam ini udah fleksibel, maka akan kulepas sekarang." Aku melepas satu persatu kancing seragam ini. Tersisa kaos dalaman PDH.

"Makasih Mas Angga. Sini seragamnya aku bawain!" tawarnya manis.

"Nggak usah. Sebagai ganti, kamu harus kabulkan permintaanku!" ucapku tegas.

"Apa itu?"

"Panggil aku Erlan, selama kita bersama. Nggak ada penolakan, interupsi, tapi-tapi, harus!"

"Ya, aku mau."

"Semudah itu?" Aku meragukannya.

"Karena aku cinta kamu," ucapnya lembut. Jantungku berhenti berdetak.

Aku juga cinta kamu, batinku berteriak.

"Norak kamu!" bentakku.

Tentu saja menutupi rasa malu. Di depan masjid ngomong kayak gitu. Mana aku masih bawa seragam lagi. Dasar anak satu ini. Untung nggak digrebek Satpol PP atau Polisi Militer. Bisa terkelupas mukaku. Nggak elit. Jatuh cinta bikin nggak elit. Aarrggg.

"Mas Erlan, aku cinta kamu," kata Kania cukup lantang.

"Gila ...!" aku ngeloyor pergi. Menahan malu.

"Mas pacarnya so sweet, ya?" sahut beberapa jemaah masjid yang lalu lalang.

Aku hanya menggaruk kepala belakang yang sangat sangat sangat gatal, "saya nggak kenal."

"Mas Erlan, beli makan yuk! Kania lapar."

"Sono makan batu lo!"

---

Tiga hari ini bakal jadi hari yang paling indah. Seolah aku baru dapat angin segar setelah jemu di lembah itu. Hadiahku berlipat-lipat, ya dapat pangkat baru ya dapat liburan bersamanya. Tanpa ada ketakutan berarti karena aku sudah lulus pendidikan. Di kota yang berbeda pula dengan kedua orang tua, dengan alasan liburan di rumah Ibnu. Padahal liburan di rumah Kania. Ibnu? Tenang dia nggak ember kok.

Kota Malang yang sejuk ini penuh kenangan antara aku dan dia. Entah di kota mana aku bakal ditempatkan. Perjalananku masih panjang karena sebentar lagi masuk ke pendidikan dasar kecabangan. Baiklah, aku terbiasa sabar dalam tempaan kok.

Kalau aku boleh memilih, mendingan ditempatkan di sini. Bisa dekat dengannya selalu. Kalau bisa, aku ingin membawanya ke depan orang tuaku. Tentu supaya perjodohan bodoh itu batal.

Sejujurnya aku tengah menyimpan kekalutan di dalam benak. Setelah pelantikan kemarin, ayah dan bunda mengajakku bicara empat mata. Bicara tentang masa depanku kelak, termasuk urusan percintaan. Bukan cuma hidupku yang diatur ayah, tapi juga cinta.

Seolah sudah ditulis, bahwa aku akan menikah dengan seorang wanita, putri teman ayah. Namanya saja aku belum tahu, bahkan aku tak mau tahu. Bak petir yang menyambar berulangkali, hatiku sakit. Haruskah aku kembali menyakiti Kania. Setelah selama ini dia selalu sakit saat berada di sisiku. Bisakah aku melawan kehendak ayah? Pilih mana cinta atau dharma baktiku pada orang tua.

"Mas, nggak mau makan, ya?" Kania menyadarkanku dari kekalutan ini.

Aku baru sadar jika sedang berada di rumah Kania, wanita yang kucintai. Kutatap wajahnya yang cemas, dan sangat cantik. Matanya polos seperti anak kucing. Rambutnya panjang, lebat hitam dan halus, kalau dikuncir terlihat imut sekali. Andai saja ayah bunda tahu jika kekasihku secantik ini, apa mereka masih mau menjodohkanku?

Sebuah sentuhan membuyarkan lamunanku, "Mas Erlan..."

"Kania, masakanmu pasti nggak enak, 'kan?" ujarku mengalihkan pembicaraan.

"Jangan curigaan mulu, coba dulu baru komentar Mas!" belanya pelan.

Aku menyendok sesuap nasi goreng ikan asin itu, "asin Ka!"

"Iyalah Pinter, itu ikan asin yang dimakan."

Aku mencuram wajahku, "oh sekarang udah pinter ngejek aku. Sok sadis ...!"

"Hehe, maaf Mas."

"Nggak ada maaf. Malam ini kamu harus dihukum!" ucapku sambil melipat sendok.

"Apa ... hukumannya?" tanyanya takut-takut.

Aku tersenyum licik, "lihat saja nanti."

"Nggak adil dong Mas. Mas ngejek aku berkali-kali, aku nggak marah. Aku sekali aja lo Mas..." dia terlihat memelas.

"Kamu cinta aku nggak?" Aku masih saja menggodanya.

"Iya," dia mengangguk pelan.

"Maka aku selalu benar," pungkasku sambil tertawa puas.

Dia manyun, kesal sekali.

Maafkan aku Kania. Ini caraku menghilangkan kekalutan batin. Apa aku harus jujur padamu? Nanti kamu makin terluka. Haruskah aku terus di sisinya? Tapi aku makin memberinya harapan palsu. Cinta itu lebih rumit daripada teori perang. Jadi tentara tidak serumit jadi pejuang cinta, apalagi cinta di belakang orang tua.

***

Bersambung...

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status