Apple of My Eye
Apple of My Eye
Author: Nayla Salmonella
Bab 1 How About Malang?

Malang? Hm, apa sih yang pertama kali terlintas di pikiran lo kalau dengar kata itu? "Ouw, malang bener nasib gue. Umur udah 20 plus blom ada yang ngelamar juga!" , "Hiks, cowok gue bilang sayang tapi gak ngajakin kawin. Malang amat sih nasib gue." Atau "Cowok gue ketahuan pacaran sama sepupunya, cowok juga! Malang...malang, nangis guling-guling." Halooo Manusia, bukan itu kali yes!

Malang yang gue maksud di sini adalah nama sebuah kota di tengah tanah Jawa bagian timur alias Jawa Timur. Dari lo semua, pernah dengar nama kota itu nggak sih? Dari iseng ngoprek peta kek, atau google maps kek? Atau mungkin pernah ke sana? Atau malah pernah tinggal di sana. Dari semua clue di atas gue jawab aja kali ya, gue adalah seorang manusia, perempuan berumur 20 tahun yang lagi tinggal di kota ini.

Bahagia banget nggak sih gue? Iyalah, secara lo semua pernah dengar tentang Kota Malang nggak sih? Coba searching di mbah Google deh. Kalau lo browsing, bakal nemu berbagai julukan bagi kota ini. Paris of East Java, Kota Pendidikan, Kota Bunga, Kota Apel, dan Kota Kuliner. Udah kebayang, 'kan, betapa makmurnya gue hidup di kota ini.

Betapa beruntungnya ketika bonyok gue, ehem gak enak banget, orang tua bawa gue sekeluarga ke sini. Andai saja surat perintah penugasan ayah nggak ke sini, gue nggak bisa bayangin gimana hidup gue. Harus dong gue hirup polusi ibu kota seumur hidup. Untung aja gue bisa move-on ke kota ini. Bayangin gue bisa kuliah tanpa harus keluar kota, gue tinggal naik angkot atau diantar sopir pribadi ayah buat sampai ke kampus.

Gue bisa makan buah kesukaan macam apel dan mangga dengan sepuasnya. Tanpa takut itu dikasih lilin atau formalin. Iyalah, kota ini gudangnya buah-buahan. Dan harganya muraah. Dimana lagi lo dapet mangga seharga under 10 rebu. Di sinilah! Keren 'kan, hehehe. Beruntung bener gue di sini! Lo semua ngiri kan sama gue, hehehe.

Gue bisa makan bakso sepuasnya tanpa takut kocek bolong. Dan lo tahu, semua bakso di kota ini, wuenaaak! Bahkan, abang bakso yang lewat depan rumah dinas ayah, baksonya juarak! Nggak bakalan gue temuin di kota macam Jakarta, ngomong-ngomong gue lahir sampai lulus SMA tinggal di ibukota, Jakarta. Gue tetep dipaku disana kendati ayah dan bunda pindah-pindah tempat tugas. Baru 2 tahun gue netap di kota ini.

Dikenal dengan Kota Bunga, gue bisa beli bunga segar dan itu beneran bunga segar langsung dari tokonya dengan harga yang murah meriah. Dan akhirnya bisa mewujudkan fantasi liar gue yakni punya kamar dengan sejuta bunga. Serius, gue bagai tidur di antara lautan bunga mawar dan krisan putih favorit. Bisa bayangin kan, gue jadi putri bunga. Waa, romantis bener nggak sih?

Romantis, ya? Menurut gue, kata itu pas banget sama kota ini. Semuanya romantis di sini. Mulai dari hujannya, tamannya, jalannya, macetnya, sampai tukang parkirnya, hwehehe. Tapi, gue nggak mau bahas tukang parkir sih. Gue sih mau bahas yang tentang romantis. Serius kota ini tuh romantis abis, dengan udara dingin yang sebelas dua belas sama Puncak atau Bandung, apalagi kalau hujan merintik. Huwaa, serius, gue bisa melankolis mendadak barengan ayah. FYI, ayah gue melankolis walaupun beliau seorang kolonel tentara, iyuh.

Kata orang sini, hujan di Kota Malang itu romantis. Menurut gue, itu bener sih. Serius kota ini tuh romantis abis ketika hujan, apalagi kalau itu merintik. Nggak terlalu deras, nggak terlalu reda. Sejenis gerimis gitu deh. Dengan langit yang temaram, duduk di bangku taman yang penuh bunga. Pakai payung ala film Korea, yang dijutekin mulu sama abang gue. Walau kelihatan kurang kerjaan, tapi gue demen banget ngelakuin itu.

Beneran, gue demen banget abisin waktu di Taman Tugu depan Balai Kota Malang di saat gerimis turun, cuma buat payungan dan mandangin air kolam yang ditimpa hujan. Sumpah, itu bagus banget. Apalagi kalau teratai merah mudanya ikut basah. Ingin rasanya jadi teratai itu, melankolis banget, 'kan? Plak! Okay abaikan.

Apalagi kalau lo jalan di pinggir jalan aspal yang basah karena hujannya. Di bawah pohon trembesi besar, masih di kawasan Balkot Malang. Kena hembusan angin dari mobil yang lalu lalang terus daun-daun itu terbang kena anginnya. Dingin-dingin empuk, eh I mean, dingin-dingin gimana gitu, hwehehe. Sumpah, gue jatuh cinta sama kota ini. Kenapa sih gue harus abisin waktu 18 tahun buat hidup di kota sumpek macam Jakarta?

Okay, gue rasa cukup ya bahas tentang Kota Malang. Kenapa? Sebab gue bukannya mau jadi duta wisata Kota Malang. Gue juga nggak lagi ada cita-cita buat ke sana kok, peace! Alasan gue menjelaskan Kota Malang karena kota ini bakalan jadi latar cerita hidup gue yang tragis, eh nggak begitu amat sih. Yap, kota ini bakalan jadi latar kisah hidup seorang Alana. Yakni gue, iyalah gue bernama Alana.

Tunggu-tunggu, dari tadi gue ngomong pakai bahasa Jakartaan, ya? Hi, masih aja keterusan nih. Oke, sebenarnya gue memutuskan untuk gak pakai gaya bahasa itu lagi sejak pindah ke kota indah ini. Sebab apa? Orang sini ngira itu gak sopan, lebih ke songong. Maklum ajalah, kultur budaya di kota ini masih kental. Beda sama kota besar lainnya. Sopan santun masih terjaga dengan baik. So, mulai detik ini kata 'gue' berubah jadi keaku-akuan aja, ya? Okay done!

Kembali ke topik, bukan laptop, aku bukan Om Tukul atau Unyil. Perkenalkan namaku Alana, lengkapnya Alana Savannah Wibawa. Namaku bagus dan itu ayah yang kasih, setelah beliau latihan perang-perangan di gunung yang penuh dengan padang savana 20 tahun yang lalu. Aku nggak penasaran amat sih di mana gunungnya. Yap, selain sebagai tentara, ayah juga seorang pendaki gunung yang hebat.

Namaku berkorelasi dengan nama abang satu-satunya yakni Ranu Kumbala Wibawa. Bagus ya nama abangku? Serius moga dia nggak dengar ini, bisa meletus itu kepala karena kegeeran! Abang alias Bang Ranu adalah cowok berusia 25 tahun yang sedang terjebak dilema. Dilemanya apaan? Tanya aja sendiri entar ya? Aku malas jelasinnya! Sekali lagi, ini kisahnya Alana bukan kisahnya Ranu Kumbala.

Fyi, nama Bang Ranu diambil ayah ketika beliau sedang melakukan pendakian ke Gunung Semeru. Jadi ceritanya, ayah naik gunung setelah bunda positif hamil. Semacam ngidam yang aneh gitu deh. Terus ketika sampai di Ranu Kumbolo, ayah bertekad untuk kasih nama anaknya. Mau itu yang lahir cewek atau cowok pokoknya itu namanya. Tuh 'kan ayahku emang aneh.

Okay, itu adalah sedikit cerita tentangku, Alana Savannah Wibawa. Untuk lebih lengkapnya, silakan ikutin ceritaku! Kenapa? Gak mau? Kecewa ya karena ini kisah hidupku, ya udah sana pergi! Ih, galak amat sih aku. Iya sih, pede amat ya aku. Artis bukan, politisi bukan, udah percaya diri amat bikin kisah hidup. Emang ada yang mau baca? Ah, bomat deh. Yang penting aku pengen cerita ke dunia ini, which is kalian. Serius beneran deh, aku butuh meledakkan isi hati ini. Sudah penuh, sudah sesak, hiks. Help me, pleaseeee!

***    

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status