LOVE & DESTINY
LOVE & DESTINY
Author: Genie
Awal Mimpi Buruk

Disebuah pedesaan yang jauh dari kemewahan perkotaan, terlihat seorang pria yang sedang berjalan menuju rumahnya. Dia berjalan dengan wajah yang sulit diartikan. Sesampainya dirumah, dia langsung tersenyum bahagia melihat istrinya yang langsung menyambutnya dengan senyuman indah.

“Selamat datang,” sambut istrinya dengan senyuman sambil menyiapkan makanan di meja makan.

“Wah, masak apa nih? Harumnya enak,” jawab sang suami dengan pujian kepada istrinya.

“Aku masak makanan kesukaanmu.” balas istrinya. Dan merekapun makan malam bersama.

            Ya, beginilah keseharian pasangan muda yang menikah sejak 3 tahun yang lalu. Mereka hidup dengan amat sederhana di desa yang jauh dari perkotaan. Jauh dari kemewahan dan keluarga mereka. Karena terkadang kemewahan dan harta belum tentu menjamin kebahagiaan yang sebenarnya. Mereka memilih hidup bersama dengan segala kesederhanaan dan penuh cinta disini.

“Apa tante Carla mengganggumu, hm?” istrinya memulai topic pembicaraan.

“Biasalah, ya tapi mau bagaimana lagi? Hanya disitu tempat bekerja di sini kan. Tapi tenang saja, setelah aku mengumpulkan uang, aku akan buka usaha sendiri dan keluar,”jelas suaminya dengan raut ajah kesal teringat sang majikan yang tak henti-hentinya mencoba menggodanya. Sebenanrnya sih bukan dia saja, anak-anak lajang yang bekerja disitu juga menjadi sasaran perawan tua itu. Salahkan juga wajah pria ini yang bisa dibilang tampan dibandingkan dengan pria-pria di desa ini.

“Hahahaha, sudah jangan kesal gitu, mas. Aku maklum.” goda sang istri.

“Senang ya lihat suaminya kesal?” balasnya.

“Ah, bukan. Aku hanya terus berpikir kenapa mas rela bekerja seperti ini bertahun-tahun, padahal kau berasal dari keluarga kaya raya.” jelas istrinya.

“Kamu tahu jelas kalau aku sangat mencintaimu. Aku rela meninggalkan segalanya untukmu. Lagipula, cinta kita tidak salah. Jadi tidak perlu memikirkannya lagi.” ujar suaminya sambil mengelus rambut istrinya.

JDERR!!

ZRASSSHH!!

“Astaga hujan! Aku lupa angkat jemuran!” istrinya panik dan beranjak dari duduknya berlari mengangkat jemuran.

“Mas  bantu,” suaminya menyusul istrinya. Merekapun mengankat jemuran bersama sambil sedikit bermain hujan dengan romantis. Setelah mengangkat jemuran, mereka meletakkannya ke keranjang kain dan istrinya membuatkan kopi untuk suaminya.

“ Ini kopinya dan cepat ganji bajunya. Nanti masuk angin.” ucap sang istri menyodorkan kopi kepada suaminya. Tapi suaminya dengan santainya membuka bajunya di depan istrinya membuat mata sang istri terbelalak.

“Kenapa?” tanya suaminya tanpa rasa bersalah.

“Gak apa,” jawab istrinya sambil mengalihkan pandangannya. Oh, jangan lupakan pipinya yang memerah karena melihat tubuh atas suaminya. Ya, walaupun suaminya, tentu saja dia malu dengan tindakan tiba-tiba seperti itu.

“Duduklah!” ajak suaminya. Diapun duduk sambil bersandar di bahu sang suami.

“Aku ingin kita punya anak, mas.” ucap sang istri dibalas senyuman lembut dan kecupan di dahi oleh suaminya.

“Mas juga, maaf  ya karena keadaan kita jadi menunda bertahun-tahun untuk memiliki anak. Sekarang, aku sudah mengumpulkan sedikit uang untuk kedepannya untuk anak kita.” jawab sang suami membuat istrinya tersenyum bahagia.

“Mas yang terbaik. Aku bahagia ah  bukan! Sangat bahagia tentunya,” ujar sang istri dengan raut bahagia. Tanpa sadar, tiba-tiba suara ketukan pintu mengganggu momen keromantisan mereka. Sang istri pun beranjak untuk membukakan pintu. Tanpa sadar, ketukan pintu itu adalah akhir dari mimpi indah mereka.

“Michelle,” ucap seorang wanita paruh baya yang kehujanan di depan pintu rumah mereka. Wanita itu basah kuyup dan matanya bengkak karena menangis. Otomatis, Michelle membiarkan wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu dari suaminya masuk.

“I-ibu?!” pria itu terkejut dan langsung mengambil bajunya. Michelle membuatkan teh dan handuk untuk untuk sang mertua.

“Bagaimana kabarmu Marcel?” tanya sang ibu kepada anaknya.

“Seperti yang ibu lihat.” jawab pria yang bernama Marcel kepada ibunya.

“Kau tidak pernah berkunjung, kau tidak merindukan kami?" tanya ibunya sambil menyesap teh dengan elegan. Marcel hanya diam dan menunduk. Jujur, dia merindukan keluarganya. Tapi jika dia kembali, dia akan kehilangan Michelle selamanya, wanita yang sangat dicintainya.

“Ah, kau pasti tidak merindukan kami. Tapi bagaimana dengan Michael? Kau tidak ingin tahu bagaimana kabarnya?” tanya sang ibu lagi. Marcel langsung terdiam ketika mendengar nama adiknya. Sejak menikah hingga saat ini, dia masih belum tahu bagaimana kabar adik kesayangannya itu.

“Michael mengalami depresi berat selama setahun belakangan ini. Dan disaat tersulitnya hikss…kau sebagai kakaknya tidak ada di sisinya,” lanjut sang ibu sambil terisak mengingat keadaan putra bungsunya.

“Depresi? Maksud ibu apa?” Marcel terkejut mendengar keadaan adiknya.

“Dia kembali dari London satu setengah tahun yang lalu. Dia meninggalkan tunangannya demi mencari-cari wanita ini!” jawabnya sambil menunjuk Michelle yang dari tadi diam. Marcel menoleh dan menatap Michelle sang istri. Marcel memang tahu kalau istrinya adalah mantan pacar dari adiknya, tapi hubungan mereka sudah berakhir karena adiknya memilih bertunangan dengan wanita lain.

“Michael terus mencari-carimu tapi tidak menemukanmu. Kami tidak mungkin mengatakan bahwa kakaknya menikahi wanita yang sangat dicintainya hiks…!” lanjut sang ibu sambil terisak. Marcel hanya diam tak mengerti keadaan yang sebenarnya.

“Ayahmu sudah melarang ibu kesini tapi ibu tidak sanggup melihat Michael terus menerus seperti itu. Ibu merendahkan harga diri ibu dan memohon padamu dan Michelle. Tolong kembali ke Jakarta. Tolong adikmu hikss!! Tolong putraku!” wanita paruh baya itu berlutut kepada putra dan menantunya sambil menangis.

“Ibu, jangan begini bu.” Marcel langsung mengangkat tubuh ibunya yang berlutut sambil memeluknya. Tanpa sadar, Marcel mengeluarkan air mata membayangkan keadaan adiknya yang sangat dia sayangi dan keluarganya menghadapi hal ini.

“Michael juga anak ibu. Kau juga! Mana ada ibu yang sanggup jauh dari anaknya dan melihat anaknya terpuruk. Ibu ingin Michael dirawat di Rumah  Sakit tapi ayahmu malu akan apa kata orang nanti. Dia mengurung Michael dan hanya menyuruh dokter memeriknya. Kau tahu hiks…dia selalu mengamuk pada dokter dan berteriak sampai dokter selalu menyuntiknya untuk tidur. Ibu tidak sanggup Marcel hiks…! Ibu tidak tahu sampai kapan adikmu akan bertahan seperti itu hiks…!” sang ibu berbicara panjang lebar sambil menangisi keadaan sang bungsu. Diapun melirik Michelle dan dan meraih wanita itu.

“Kumohon!! Tolong Michael hiks…Dia selalu memanggil-manggil namamu. Tolonglah hiks!`” mohon sang ibu.

“Nyonya Ribka, tolong jangan begini.” Michelle menjawab dengan nada sendu ikut sedih dan prihatin dengan keadaan yang sedang terjadi.

“Marcel tolong jelaskan padanya hiks…Ibu..sudah putus asa. Rasanya lebih baik mati daripada menghadapi keadaan yang menyakitkan seperti ini. Ayahmu juga hiks…sebenarnya kondisi kesehatannya menurun tapi dia tetap mengeraskan tengkuknya dan meninggikan egonya. Perusahaan bisa hancur kalau sampai ada saingan bisnis yang tahu keadaan ayahmu. Marcel, hanya kamu harapan keluarga Buana nak. Kalaupun Michelle tidak mau membantu Michael, tolonglah kamu ada disampingnya sebagai kakaknya hiks…!” Ribka terus menangis memohon kepada putranya itu.

Marcel masih diam mencerna semua yang terjadi. Dia memikirkan keadaan yang seakan menjepitnya. Di satu sisi, kehidupan bahagia dan penuh cintanya bersama istrinya, Michelle dan di sisi lain keluarganya. Dia seakan merasa keputusannya 3 tahun yang lalu meninggalkan keluarganya demi Michelle adalah kesalahan yang menorehkan banyak luka. Apalagi ketika mengingat adiknya, Michael yang keadaannya terpuruk saat ini. Membayangkannya saja sudah membuat Marcel sesak nafas. Marcelpun menatap ibunya dan berkata,"Aku akan pulang bu. Ini demi Michael”.

Mendengar itu, Ribkapun memeluk erat putra sulungnya bahagia. Michelle hanya bingung tak mengerti. Dia berharap keputusan Marcel memang yang terbaik dan tidak merugikan siapapun. Setelah mendengar kepastian kepulangan sang putra, Ribka pamit kembali ke Jakarta.

            Setelah itu, Marcel hanya diam tak bicara sampai tengah malam. Michelle enggan membuka percakapan karena merasa suaminya memang membutuhkan waktu untuk sendiri. Tapi dalam hati, Michelle sangat takut seandainya Marcel memilih untuk meninggalkannya seperti yang dulu dilakukan sang adik padanya. Ya, sebelum mengenal Marcel, Michelle menjalin hubungan asmara dengan Michael. Semuanya baik-baik saja sebelum keluarga Buana menentang habis hubungan mereka dan memisahkan mereka. Sejujurnya, Michelle sangat trauma ditinggalkan oleh orang yang dia cintai.

“Michelle,” Marcel mulai bicara.

“Ya, mas?” jawab Michelle dengan perasaan tak karuan memenuhi pikirannya.

“Dibanding diriku, mungkin Michael lebih membutuhkanmu saat ini. Aku akan pulang dan sangat tidak mungkin aku mengenalkan dirimu sebagai istriku kepada adikku. Itu akan membuat Michael semakin sedih. Bisakah kau membantu adikku?” tanya Marcel dengan nada sendu sekaligus sedih tak berani menantap Michelle. Saat bertanya demikian, Marcel sadar dia telah bersikap egois kepada Michelle. Dan memang tak seharusnya dia meminta hal demikian kepada Michelle yang adalah istrinya.

“Apa maksudmu? Mas…ingin aku kembali kepada  adikmu. Mas…jahat! Hiks…!” Michelle benar-benar tidak terima dengan permintaan Marcel. Rasanya seperti Marcel mempermainkan kehidupannya. Dia seakan-akan seperti barang yang dioper kesana kemari dan dipermainkan oleh kakak-beradik itu.

“Aku tahu aku salah hiks…tapi  aku sangat menyayangi Michael. Sudah hampir 5 tahun kami tidak bertemu. Selama di Amerika, aku tidak sempat melihat adikku itu dan saat menikahimu, aku sudah tak tahu kabar apapun tentang keluargaku. Aku sangat menyayangi Michael lebih dari nyawaku sendiri hiks…A-aku selalu melakukan apapun yang membuat Michael bahagia. Michelle…posisiku sangat sulit.” jelas Marcel sambil terisak. Dia benar-benar merasa sedih dan tertekan.

“Pantaskah seorang suami meminta istrinya untuk menjadi milik orang lain? Apalagi menjadi kekasih adiknya sendiri? Suami macam apa kau ini Marcel? Mas orang berpendidikan kan? Apa begini caramu menghargai istrimu? Hiks…! Aku tidak akan pernah melakukannya!” Michelle tak terima dengan permintaan Marcel. Dua benar-benar sudah tak bisa memaafkan Marcel. Hatinya benar-benar hancur.

“Aku minta maaf. Hiks…Aku tahu, kalau aku bukan suami yang baik. Tapi, tak bisakah kau anggap ini sebagai permintaan seorang kakak? Ah, tapi itu keputusanmu Michelle.” Marcel memohon bahkan berlutut kepada istrinya. Michelle merasa sedih ketika melihat suaminya sampai seperti ini. Tapi disisi lain dia juga punya kehormatan yang dijunjungnya tinggi. Apa mungkin dia ingin menjatuhkannya demi cintanya.

“Mas tahu, bertahun-tahun aku berusaha melupakan Michael. Bahkan setelah kita menikah, aku masih belum bisa benar-benar melupakannya. Tapi, disaat aku sudah bisa berdamai dengan masa laluku, kenapa mas malah minta aku untuk kembali? Ini sama saja mas mau menghancurkan aku untuk kedua kalinya. Enggak mas, aku gak akan kembali sama Michael. Kalau mas mau datang kesana tanpa aku, tidak apa. Tapi mas, jangan tinggalkan aku hiks…! Aku tidak sanggup jatuh kedua kalinya.” balas Michelle dengan penih kesedihan.

            Marcel memeluk erat Michelle. Mereka berdua menangis dan Marcel mengecup dahi istrinya itu. Dia menatap Michelle dengan penuh kesedihan dan pergi ke kamar untuk mengepak barang-barangnya. Ya, keputusan Marcel sudah bulat. Dia pulang ke Jakarta demi adiknya dan juga keluarganya. Pada akhirnya, cintanya kalah dengan kenyataan yang sangat pahit. Rumah tangga yang mereka bangun dari nol mungkin akan berakhir sampai disini.

“Mas, aku harap kamu pulang dan jemput aku. Aku ingin kamu memperkenalkan aku sebagai istrimu saat keadaannya memungkinkan.” pinta Michelle saat Marcel hendak pergi di pagi-pagi buta.

“Mas sangat sayang sama kamu. Tapi mas gak tahu apa yang akan terjadi. Mas gak bisa jamin apakah keadaan memungkinkan untuk membuat kita kembali. Mas ingin kita bersama dan berdamai dengan masa lalu. Tolong doakan yang terbaik ya.” Marcel berusaha menguatkan Michelle. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Tapi satu hal yang pasti, ketika Marcel melangkahkan kaki keluar dari rumah kecil mereka, dia tidak akan pernah kembali. Ada hal besar yang menunggunya di Jakarta yang akan terus mengikatnya disana.

            Michelle terus memandang kosong jendela rumahnya. Dia bertanya-tanya apakah Marcel sudah sampai Jakarta atau belum. Setidaknya butuh waktu seharian dari Jogja ke Jakarta. Apalagi, perjalanan dari Desa mereka yang terpencil membutuhkan waktu setengah hari ke kota. Dia terus mengingat kenangan manis mereka sambil meneteskan air mata berharap semuanya bisa kembali seperti semula.

‘Aku berharap Tuhan memang menakdirkan kami bersama,’ harapnya dalam hati sambil melihat cincin yang diberikan Marcel padanya sebagai tanda lahiriah bahwa dia adalah milik pria itu.

Flashback

 “Mas, kenapa mataku ditutup?” Michelle bertanya saat Marcel dari tadi menutu matanya dan menuntunnya ke suatu tempat. Tiba-tiba, langkah pria itu terhenti membuat Michelle kebingungan. Marcel pun membuka penutup mata istrinya.

“Woah…kunang-kunang! Indah sekali mas!” ujar Michelle senang saat Marcel membawanya ke tempat indah da nada kunang-kunang indah bercahaya disitu.

“Kamu tahu? Saat lembur, mas sempat perhatikan tempat ini dan langsung teringa untuk bawa kamu kesini,” ucap Marcel dibalas senyum indah oleh istrinya.

“Ini indah sekali! Dulu waktu kecil, aku sangat ingin melihat kunang-kunang yang nyata dan kamu membuatnya nyata mas,” jawab Michelle senang sambil berputar-putar diantara kunang-kunang itu.

“Berbeda dengan di kota ya mas. Kita sulit mencari pemandangan alam yang seindah ini,” sambung Michelle lagi.

“Aku senang kalau kamu suka. Melihatmu bahagia, aku seakan lupa dengan semua yang terjadi,” kata Marcel seketika dan membuat Michelle terdiam. Michelle langsung meraih suaminya dan memeluknya erat.

“Mas menyesal memilihku daripada keluarga mas?Apa mas berpikir untuk kembali?” tanya Michelle dengan sendu. Marcel membalas pelukan istrinya dan menjawab,"Kita suami dan istri, tidak akan ada yang memisahkan kita kecuali kematian . Ketika aku memutuskan untuk memilihmu, aku tidak akan pernah menyesalinya. Aku bahkan sangat bahagia disini. Tidak ada dokumen-dokumen kantor, tidak ada proyek ataupun kontrak yang menguras tenaga dan emosi. Yang ada hanya kebahagiaan.”

            Jawaban Marcel benar-benar semakin memantapkan Michelle akan cinta pria itu. Dia merasa bahwa Marcel adalah satu-satunya orang yang akan terus berada disisinya selamanya. Dia yakin bahwa pria itu tak akan meninggalkan dirinya dalam kondisi apapun.

“Terima kasih atas cintamu! Kamu memang pria yang terbaik di dunia ini! Semua wanita di dunia pasti iri padaku karena memiliki suami yang tampan dan baik hati sepertimu,” puji Michelle.

“Dan juga semua pria di dunia ini akan iri padaku karena aku memiliki istri yang baik dan cantik sepertimu Michelle. Ah, bukan itu saja, Kamu itu cerdas dan ramah juga. Kamu adalah wanita paling sempurna Michelle.” balas Marcel memuji Michelle.

“Gombal ih!” Michelle berkata sambil memalingkan wajahnya yang memerah karena pujian Marcel.

“Aku serius! Kamu memang wanita terbaik di dunia. Wajar dong aku bangga dengan istri terbaik dan tercantik di dunia ini.” puji Marcel lagi.

“Berlebihan ih! Pasti banyak wanita yang lebih sempurna di luar sana!” Michelle menyangkal pujian Marcel.

“Baiklah, tapi bagiku kamu yang terbaik!” ucap Marcel lalu mengecup dahi Michelle dengan penuh kasih sayang.

End of Flashback

“Aku yakin kamu pasti pulang mas.” Michelle berkata terus meyakinkan dirinya sendiri.

Marcel POV

Aku terus menatap jalanan yang dilalui menuju Jakarta. Mungkin beberapa jam lagi sampai di terminal. Aku terus merasa bersalah pada keluargaku dan juga Michelle. Aku ragu apakah keputusan yang kuambil saat ini sudah benar? Meninggalkan istri demi keluargaku. Apalagi Michael, dia adalah yang terpenting buatku. Dari kecil aku selalu memberikan apapun yang dia minta dariku, bahkan sebelum dia memintanya.

            Hubungan kami sangat dekat, aku masih ingat saat dia menangis ketika aku akan pergi ke Amerika untuk kuliah. Aku selalu membawakan buah tangan untuknya saat pulang tiap tahun. Dia akan menjadi orang yang paling merindukanku. Terlebih lagi, dari kecil akulah yang paling memberi perhatian padanya. Karena ayah dan ibu cukup sibuk dan hanya akulah yang ada disisinya.

            Mendengar keadaannya sekarang, jujur membuat hatiku tersiksa. Aku terus berpikir apakah mungkin aku  mengabaikan adikku yang dalam keadaan menyedihkan dan memikirkan kebahagaiaanku sendiri? Kami juga sudah bertahun-tahun tidak berjumpa karena kesibukan dan sekarang malah mendengar keadaannya seperti ini. Demi Tuhan! Aku tidak sanggup terus membiarkan adikku itu. Aku menyesal tidak tahu kalau sebenarnya adikku sangat mencintai Michelle. Seandainya aku tahu, aku pasti akan membantunya dan bukannya malah menjadikan Michelle sebagai istriku.

‘Maafkan kakakmu ini Michael.’ batinku penuh sesal.

‘PENGHENTIAN BERIKUTNYA, TERMINAL GROGOL’

“Sudah sampai.” gumamku     sambil mengangkat ranselku. Akupun turun lalu mencari taksi menuju perumahan Puri Indah. Saat melihat sekeliling, terkadang aku juga rindu dengan keadaan kota. Memang sangat berbeda dengan desa yang tenang dan sejuk, kota begitu padat dan sibuk. Tapi, di lingkungan seperti inilah aku dibesarkan. Ah, aku memang pengecut! Aku mengorbankan cintaku yang sudah kuperjuangkan mati-matian. Tapi, tidak mungkin juga aku kembali pada Michelle. Karena aku pasti tidak akan pernah merasa tenang seumur hidupku dan merasa berdosa kepada adikku selamanya.

‘Maafkan aku, Michelle.’ aku menyesal.

End Of Marcel POV

***

Genie

Penyesalan selalu hadir belakangan

| Like
Comments (1)
goodnovel comment avatar
minicroissant
menarik sih ceritanya.. mau follow akun sosmed nya dong kalo boleh?
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status