New Neighbor

Acara terakhir setelah upacara pembubaran OSPEK adalah makan malam bersama. Para senior memanjakan juniornya dengan menyiapkan sendiri nasi liwet yang ditaruh di daun pisang yang berjejer panjang mengitari auditorium. Menu liwetan pun termasuk lengkap. Nasi gurih dengan lauk ayam, tahu, dan tempe goreng aromanya menggoda. Segarnya sayur asem juga membuat liur menetes. Lalapan plus sambel terasi serta kerupuk semakin membuat semua yang ada di auditorium kelaparan. Tidak lupa ada es teh manis sebagai minuman. Menu yang sungguh menggoda selera, apalagi perut memang sudah waktunya diisi.

Di depan auditorium, Reza, ketua panitia pelaksana OSPEK dan ketua BEM, mengucapkan terima kasih atas semua bantuan yang membuat acara OSPEK selama tiga hari ini berjalan lancar. Reza juga mengucapkan selamat kepada mahasiswa baru yang sudah resmi menjadi mahasiswa di Universitas Merva. Reza hanya berbicara singkat. Dia paham semua yang ada di dalam auditorium sudah berfokus ke makanan yang tersaji. Jadi, dia segera mengakhiri kata-katanya dan mempersilakan semuanya makan.

Tanpa menunggu perintah lagi semuanya langsung melahap makanan yang ada di hadapan mereka, termasuk para senior. Mereka bahkan duduk berbaur bersama juniornya. Tidak ada lagi batas antara senior dan Junior. Mereka sama, sama-sama mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Merva.

Gia yang duduk membelakangi Reza membalikkan badan menghadap ke makanan yang terhidang untuknya. Matanya menangkap sosok yang selama dua hari terakhir selalu menghantuinya. Di hadapannya duduk sang senior galak yang ganteng.

Gia yang tadinya akan langsung makan seperti yang lain, menghentikan niatnya. Tangannya mengambang di atas nasi gurih yang aromanya saja sudah membuat perutnya meronta-ronta.

"Kenapa? Itu nasi boleh dimakan lho," kata senior galak sambil tersenyum. Entah kenapa seharian ini aura membunuhnya lenyap. Bukannya bersikap galak, dia justru santai dan menyenangkan. Senyumnya bahkan nyaris nggak lenyap dari bibirnya.

"Eh, i-iya, Bang. Selamat makan," sahut Gia setelah sadar dari kagetnya.

Gia merasa tidak nyaman. Senior galak itu terus memperhatikan Gia menghabiskan makanannya. Gia merasa menjadi penjahat yang sedang diintai, tidak boleh ada gerakan yang luput sedikit pun. Makanan yang harusnya nikmat ini, malah menyiksa Gia. Berkali-kali dia minum untuk meredakan kegelisahan.

Tiba-tiba Gia tersedak makanannya, membuatnya batuk-batuk. Dengan cepat sang senior galak langsung memberikan segelas es teh miliknya kepada Gia. "Minum minum!" serunya panik.

Jessica yang duduk di samping Gia ikut panik. Dia menepuk-nepuk punggung Gia. "Telen, Gi!" serunya.

Gia pun langsung meminum dan menghabiskan es teh. Setelahnya, dia sadar kalau senior galak yang ganteng itu tidak punya minuman lagi. Sementara minumannya sendiri sudah habis setengah gelas, tidak pantas diberikan sebagai pengganti.

"Sorry, Bang, es tehnya abis." Gia meminta maaf.

"Nggak apa-apa, nanti bisa beli di kantin. Abisin makanannya! Gue keluar dulu," sahut sang senior galak memberi perintah, lalu berdiri dan pergi entah ke mana.

'Duh, bikin salah lagi, deh, gue. Ngambek kan itu makhluk galak satu,' runtuk Gia dalam hati. Matanya mengikuti sang senior galak yang keluar auditorium.

Setelah menghabiskan makanan yang dihidangkan spesial oleh senior, semuanya saling membantu membereskan bekas makanan, merapikan auditorium seperti semula. Senior dan junior sama-sama saling membantu, tanpa memikirkan status apa pun. Tidak butuh waktu lama, auditorium bersih tanpa noda. Sampah-sampah makanan sudah dibuang ke tempat sampah di luar auditorium. Lantainya pun sudah disapu dan dipel sampai bersih dan wangi.

Setelah berbasa-basi, Reza sang ketua pun membubarkan kegiatan OSPEK. Segera para pasukan hitam putih keluar auditorium, termasuk Gia. Gia berjalan keluar sambil memegang ponselnya, berusaha menelepon Ayah.

"Ayaaahhhh, Gia udah kelar, nih. Jemput sekarang juga, ya, nggak pakai lama. Badan Gia udah lengket, pengin mandi," kata Gia saat teleponnya dijawab Ayah.

"Nggak pakai teriak-teriak juga kali, Gi. Ya, udah. Ini ayah berangkat dari rumah," sahut Ayah.

"Ih, enak banget, sih, udah di rumah. Anaknya belum pulang bisa banget santai di rumah, ya," omel Gia, lalu duduk di bangku taman kampus. 

"Sekali-kalilah, biar bisa pacaran dulu sama Bunda. Masa iya diganggu kamu terus," kata ayah menggoda Gia.

"Bisa dong Gia punya adek kalau gitu?" Gia mengutarakan kembali keinginannya dari dulu.

"Ini jadi dijemput apa mau ngobrol aja, nih?" tanya Ayah mengingatkan niat awal Gia menelepon.

Gia kembali fokus ke tujuan semula. "Ah, iya. Jemput, dong, Ganteng. Nggak pakai lama, ya!" jawab Gia dengan suara centil menggoda.

"Siap, Tuan Putri," sahut Ayah, lalu mengakhiri panggilan.

Gia memasukkan ponselnya ke saku kemeja putih. Matanya menyapu sekeliling. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Kampus di malam hari tidak seseram bayangan Gia. Masih banyak mahasiswa di kampus. Entah apa yang mereka lakukan, Gia tidak paham. Yang pasti, Gia yakin dirinya akan berada dalam posisi mereka nanti. Lembur tugas sampai malam, misalnya.

"Belum pulang?" tanya sang senior galak yang tiba-tiba sudah duduk di hadapan Gia.

"Eh, Bang bikin kaget. Hobi banget, ya, ngagetin? Ini ada jantung di sini, lho. Kalau kaget terus, bisa jebol dia," cerocos Gia sambil menunjuk dadanya.

Si senior galak tergelak. "Nunggu jemputan lagi? Mobil belum beres emang? Rusak apanya, sih?" tanya senior galak. 

"Nanya satu-satu dong, Bang. Ujian aja pertanyaannya satu-satu, lho, ada nomornya. Kalau nggak tahu jawabannya bisa dilewati dulu, nunggu sontekan dari temen," sahut Gia seperti biasa, tidak jelas arah pembicaraannya. 

"Itu dari pada ngomel, buat jawab pertanyaan gue juga udah kelar kali," omel si senior galak sambil menggeleng, heran dengan dengan kelakuan Gia.

Gia meringis, memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi. "Oh, iya juga, ya. Terus masih butuh jawaban nggak, Bang?" tanya Gia dengan muka innocent.

"Nggak," jawab sang senior galak singkat.

"Dih, ngambek. Kalau ngambek, nanti gantengnya ilang, lho. Kalau gantengnya ilang, nanti nggak ada cewek yang suka, lho," ejek Gia.

"Kenapa jadi nggak ada cewek yang suka, deh?"

"Nih, ya, Bang, Gia kasih tau. Abang itu ganteng, tapi galaknya, astagfirullah, bisa bikin singa minder kali. Nah, kalau ngambek itu, bikin Abang nggak ganteng lagi. Mana ada cewek yang mau sama cowok galak dan nggak ganteng, deh? Gia mah ogah!" Gia mencoba menjelaskan pemikirannya.

"Jadi, gue ganteng, ya?" tanya senior galak sambil menaik turunkan kedua alisnya. Senyum tipis tercetak di bibirnya.

"Nggak ganteng lagi, kan, Abang udah ngambek tadi," ejek Gia lagi.

Tiba-tiba ponsel Gia bergetar. Ayah menelepon.

"Pamit, ya, Bang. Udah dijemput, nih," kata Gia, lalu berdiri, melambaikan tangan, dan bergegas pergi.

"Ati-ati, Gia," sahut sang senior galak sambil tersenyum memandang punggung Gia yang semakin menjauh.

Gia segera menghampiri mobil ayah yang berhenti di depan kampus FH. Dia mengetuk kaca mobil dengan kencang, minta dibukakan pintu. Setelah pintu terbuka, Gia masuk dan duduk di samping Ayah. Tanpa menunggu lama lagi, Ayah segera menjalankan mobil menembus jalanan.

Lalu lintas saat malam lebih lenggang dari pada di pagi hari, membuat perjalanan Gia dan Ayah ke rumah lancar tanpa terjebak macet. Sesampainya di rumah, Gia turun dari mobil, lalu menuju teras depan dan duduk di salah satu kursi. Gia melepas sepatu sneaker hitam yang digunakannya seharian. Sementara Ayah memasukkan mobilnya ke dalam garasi.

Mobil pajero sport putih berhenti di seberang jalan, di rumah depan yang sekarang sudah bersih dari rumput liar. Seorang pria turun, lalu membuka bagian belakang mobil dan menurunkan dua tas berukuran besar. 

Seorang anak lelaki ikut turun dari mobil dan berjalan pelan menuju ke belakang mobil. Mereka terlihat membicarakan sesuatu. Jarak yang lumayan jauh menghalangi Gia menangkap pembicaraan itu.

Sang pria tiba-tiba memandang ke arah rumah Gia dan menatap Gia yang juga sedang menatap ke arahnya. Pria tersebut lalu tersenyum.

Pria yang diyakini Gia adalah tetangga barunya itu menutup pintu belakang mobil. Dia menggandeng tangan anak lelakinya, lalu berjalan mendekat ke rumah Gia. Gia berdiri dan meletakkan sepatunya ke rak di samping pintu masuk. Ayah yang selesai memasukkan mobil ke garasi berdiri di samping Gia.

"Selamat malam," sapa tetangga baru Gia setelah sampai di teras rumah Gia.

"Selamat malam," sahut Ayah ramah dengan senyum terkembang.

"Perkenalkan, saya Restu dan ini anak saya Gavin." Pria itu memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangannya.

"Saya Hendra. Ini anak gadis saya, Gia," sahut Ayah sambil menyambut uluran tangan Restu.

Gia hanya diam memandang Gavin yang terus menunduk.

"Mulai hari ini kami resmi pindah kemari. Salam kenal dari kami. Maaf kami tidak membawakan apa-apa. Lain kali saya akan membawakan sesuatu sebagai salam perkenalan yang lebih pantas," kata Restu sungkan karena berkunjung tanpa membawa apa pun.

"Santai aja, nggak usah repot-repot. Kalau perlu bantuan, jangan sungkan-sungkan bilang, ya." Ayah menyambut perkenalan dengan ramah. "Ayo masuk dulu. Kita ngopi dulu," ajak ayah.

"Lain kali saja. Itu barang-barangnya belum sempat masuk rumah juga," tolak Restu sambil menunjuk barang-barang yang tergeletak di belakang mobilnya. "Kami pamit dulu," lanjutnya sambil tersenyum, lalu berbalik dan pergi.

Pupus sudah harapan Gia untuk mempunyai pacar lima langkah. Anak lelaki tetangganya ternyata baru berusia sepuluh tahun. Gia bukanlah seorang pedofil yang jatuh cinta pada seorang anak kecil. Tapi, Gia yang memang suka dengan anak-anak merasakan ada yang aneh dengan Gavin.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status